Piece By Piece


Piece By Piece

“Ayo Yah ke hospital.”

“Enggak usah lah, ke klinik seberang rumah saja.”

“Kalau berobat ke klinik itu, paling juga dikasihnya paracetamol, Yah. Sudah 2 hari sakit kepala gitu memang enggak mau check? Udah cepet siap-siap, kita pergi ke hospital!”

“Malas lah.”

Puasa hari ke 2 di tahun 2013 itu nyatanya menjadi hari terberat dalam hidup kami.

Jika saja saya tidak memaksanya pergi ke rumah sakit untuk MRI hari itu … entahlah. Salah satu dari sekian banyak keputusan terbaik dalam hidup yang pernah saya buat. Sekaligus hari dimana saya berada di titik nadir. Hari dimana dunia saya tumbling down. Sang belahan jiwa terdiagnosa menderita Brain Aneurysm. Pembuluh darah di kepalanya pecah hingga tekanan darahnya kala itu mencapai 198/98. Tinggi sekali.

Dalam keadaan bingung dan shock berat, saya harus membuat banyak keputusan cepat. Membagi isi kepala antara ia dan anak-anak. Saya pun memacu kendaraan menjemput si sulung dan adiknya yang sekolah berjauhan sambil terus berpikir bagaimana besok mereka berangkat sekolah.

Dengan ragu saya menghubungi supir bis sekolah putri kedua saya, yang ternyata bersedia membantu mengantar dan menjemput Lana dengan senang hati. Alhamdulillah. Kakak ipar yang sedang bekerja pun untuk sementara menolong saya mengurus si bungsu yang baru berusia 2 tahun. Secepatnya saya juga menghubungi orang tua di Jakarta untuk datang membantu mengurus ketiga anak kami.

Terbata-bata dengan nafas sesak saya sampai di sekolah dan menemui kepala sekolah untuk meminta ijin menjemput anak-anak sebelum waktunya pulang karena kondisi sang ayah yang di luar perkiraan. Beruntung mereka memahami keadaan saya dan mengijinkan anak-anak untuk tinggal di rumah hingga segala urusan bisa saya tangani dengan baik.

Sesampainya di rumah, saya menyiapkan segala perlengkapan untuk suami selama ia dirawat di rumah sakit nanti. Juga memastikan bahwa persediaan makan serta segala kebutuhan anak-anak selama di rumah cukup, dan entah apalagi. Sampai lupa bahwa saya juga butuh baju ganti selama di rumah sakit. Ah … rasanya itu tak lagi penting.

Berlinang airmata, saya meninggalkan rumah dan memacu kendaraan menuju rumah sakit Mount Elizabeth yang letaknya di mana pun saya tak pernah tahu. Mengandalkan jasa GPS yang kerap hilang sinyalnya hingga saya harus kesasar dan beberapa kali hilang arah. Seperti pikiran dan hati saya yang juga sedang hilang, melayang entah kemana.

Setelah sampai di rumah sakit dalam keadaan tidak mampu berpikir logis, saya kembali dihadapkan pada keputusan penting menyangkut pembayaran serta bentuk tindakan operasi. Pilihan yang sama-sama berat apalagi harus saya putuskan sendiri. Padahal selama ini, segala keputusan dalam hidup selalu saya bicarakan berdua dengan suami.

Saya merasa tidak berdaya dan ingin menangis, namun saya harus bangkit. Saya harus kuat. Saya tidak boleh lemah dan terpuruk. Saya harus bangkit. Harus!

Di tengah kebingungan yang melanda, saya bersyukur Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang luar biasa baik dan sangat membantu hari itu. Mulai dari supir bis sekolah Lana hingga akhirnya saya berjumpa dengan Dr. Ernest Wang. Ia yang dengan lembut menghampiri saya dan mengajak saya berdiskusi mengenai besaran biaya yang kelak harus saya hadapi jika tetap memilih rumah sakit ternama itu. Semua berurusan dengan asuransi kesehatan suami yang … ah nanti saja saya ceritakan detilnya sebagai pelajaran untuk semua.

Dokter Wang akhirnya membantu saya mengurus perpindahan dari Mount Elizabeth ke Rumah Sakit Tan Tock Seng yang hanya berjarak dekat namun berbeda jauh dalam masalah biaya.

Suami pun segera dimasukkan ke ruang ICCU dan bersiap menghadapi open surgery, yang menjadi pilihan saya dari 2 pilihan yang sama-sama berat. Dua pilihan yang semua hanya memberikannya kesempatan hidup 10% saja, karena 90% nya adalah kemungkinan koma, hilang ingatan, atau lumpuh seumur hidup.

Pilihan yang sangat berat hingga saya bersikeras menemaninya dalam ruang ICCU walau dengan resiko harus tidur di lantai tanpa alas dalam ruangan yang begitu dingin. Karena peraturan melarang pasien ICCU ditemani dalam ruangan. Tak peduli. Saya akan terus berada di sisinya dan tidak akan pernah meninggalkannya sedetik pun.

Tidak lagi saya pedulikan dinginnya lantai yang hanya beralas sajadah tipis tanpa selimut hangat bahkan bantal empuk. Dinginnya begitu menusuk hingga ke tulang dan membuat saya menggigil kedinginan. Saya sudah tidak peduli.

Keesokan harinya, operasi pembedahan kepala pun dimulai dan berlangsung sekitar 5 jam. Beruntung hari itu orang tua saya sudah datang dan menjadi support system terbesar yang saya butuhkan. Mama dengan cekatan mengambil alih semua urusan rumah dan anak-anak. Papa juga bersedia mengantar dan menjemput kedua cucunya dari sekolah. Terima kasih Ma, Pa.

Lima jam operasi, detik demi detiknya terasa begitu lambat. Hingga operasi selesai dan sesaat setelahnya, ia pun sadar dan mulai memberontak. Kepalan tangannya mulai meninju kiri dan kanan sambil mengeluh tangannya sakit. Ia heran kenapa kepalanya penuh dengan selang. Ketakutan akan kondisi pasca operasi yang beresiko hilang ingatan pun muncul dalam benak saya. Ia mulai berubah.

Kekasih hati yang biasanya begitu sabar, menjadi sangat pemarah. Ia yang juga selalu menciumku kemudian menjauhi, karena bau yang katanya asing. Ini lah 90% itu. Ingatannya hilang, Tuhan.

Sepuluh hari menjalani perawatan di rumah sakit benar-benar menguras tenaga dan jiwa. Setiap pagi setelah mengantar anak-anak sekolah, saya bergegas menuju ke rumah sakit dan mengurusinya hingga hampir tengah malam. Dalam keadaan lelah saya harus memacu kendaraan kembali ke rumah. Rasanya diri ini sudah berada di ujung lelah hingga ingin berteriak. Saya rindu pada anak-anak setelah berhari-hari tidak bisa bercengkrama seperti biasa.

Belum lagi lelah hati menghadapi kemarahannya setiap saat. Ia memang sudah berubah. Saya pun hampir menyerah, jika tidak ingat ia dan anak-anak butuh saya yang kuat. Saya harus bangkit dan berdiri tegak. Saya harus sabar. Harus.

Tahun demi tahun berlalu dan semua pun kembali normal. Sujud syukurku pada Sang Maha Pemilik Hidup dan Mati. Sang belahan hati kini sembuh total dan hanya menyisakan bekas operasi panjang di dahi kanan serta sebuah klip di dalam kepalanya untuk menutup pembuluh darah yang pecah. Namun ia kini telah kembali seperti dulu. Lelaki baik hati yang sabar dan penyayang seperti ketika pertama kali saya mengenalnya.

“Kenapa ya saya bisa selamat hari itu? Sampai dokter pun heran dan bilang betapa beruntungnya saya bisa selamat dari lubang kematian.”

“Mungkin bekalmu belum cukup untuk menghadapNya, Sayang. Allah memberikanmu kesempatan lagi untuk memperbaikinya sampai tiba saatnya nanti.”

Apa yang bisa diambil dari cerita saya ini?

1. Jangan abaikan sekecil apapun alarm tubuh. Cepat periksa ke dokter dan minta pemeriksaan melalui MRI atau CT Scan terutama yang berhubungan dengan sakit di bagian kepala. Bergerak cepat sebelum terlambat. Jangan abai, jangan lalai. Jangan juga berusaha menyembuhkan dengan pengobatan alternatif. Cari informasi secepatnya mengenai dokter bedah syaraf yang terbaik.

2. Asuransi yang begitu penuh dengan polemik terbukti sangat membantu. Ingat. Choose the best insurance untuk sang kepala rumah tangga. Suami saya yang begitu baik, memilihkan asuransi terbaik hanya untuk anak dan istrinya saja, bukan untuknya sendiri. Ia lupa bahwa ia lah sang pencari nafkah tunggal dalam keluarga. Jika ada suatu hal terjadi padanya, maka masalah biaya akan menjadi begitu runyam untuk saya istrinya. So, choose the best one. I mean it.

3. Buang jauh segala kebiasaan buruk demi kesehatan. Jauhi stress, beban pekerjaan yang menumpuk, kurang olahraga, dan makanan yang tidak terjaga. Kurangi juga konsumsi makanan yang mengandung pengawet.

4. Untukmu para istri jika hal seperti ini terjadi, tetap tenang dan berfikir sistematis akan sangat membantu dalam memutuskan sesuatu. Ingat selalu untuk banyak bersabar. Sabar manakala pasca operasi, pasangan akan banyak berubah. Selalu berdoa dan banyak berserah diri akan sangat membantu kesehatan juga hati.

Piece by Piece by Kelly Clarkson yang saya nyanyikan ini ditulis berdasarkan kesedihannya ditinggalkan sang ayah kala berusia 6 tahun. Sama halnya dengan usia si sulung yang baru menginjak 7 tahun, sementara sang adik berusia 6, dan 2 tahun, ketika sang ayah harus berjuang di meja operasi. Saya membayangkan kesedihan yang mungkin juga dirasakan anak-anak hari itu jika sang ayah tidak berhasil melalui operasinya, dan jika sang bunda memilih untuk menyerah.

Dalam lagu sendu ini, Kelly Clarkson akhirnya menemukan kembali semua yang hilang dalam hidupnya setelah bertemu sang suami dan memiliki anak. Seperti cerita saya 7 tahun yang lalu. Tentang asa yang masih ada di titik nadir perjalanan, dan tentang keberanian untuk akhirnya bangkit dari keterpurukan.

Be strong now because things will get better. It might start with stormy weather but it can’t rain forever.

Love, Reyn

4 thoughts on “Piece By Piece

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.