Fitri, Sebuah Refleksi


Fitri, Sebuah Refleksi

“Aji ning rogo menungso iku soko busono, Nak,” ujar mama pada suatu hari. Ia menerima wejangan ini dari almarhumah ibunya, nenek saya, kemudian meneruskannya pada saya.

Harga diri seorang manusia itu dilihat dari bagaimana caranya berpakaian. Secara harfiah maksudnya adalah bagaimana seseorang membungkus tubuh sekaligus mematut diri. Metafora atau makna yang terkandung di dalamnya adalah bagaimana manusia itu mampu menempatkan diri dengan baik, pantas, dan sewajarnya, bak pepatah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Hingga seharusnya setiap kita berhati-hati dengan nilai dan kepantasan, karena dari situ lah manusia bisa dihargai keberadaannya.

Respect is earned, not given y’all.

“Aji ning diri soko lathi,” adalah kalimat baru, meski tidak terbaru, yang saya dengar dari lagu Lathi unggahan kemarin.

Harga diri seorang manusia itu dilihat dari lidahnya. Menarik melihat bagaimana tutur bahasa seseorang mampu menunjukkan karakter serta caranya memandang sesuatu hal.

Ada yang terbiasa bergurau hingga setiap kata yang terlontar membuat banyak orang terpingkal. Ada pula mereka yang seringkali sinis hingga lidah terbiasa mencaci atau berbicara tentang keburukan atas banyak hal. Ada lagi yang lebih memilih diam dan membatasi setiap ucapan.

Menarik kan?

Menjadi menarik justru karena membuat saya kepo dan ingin tahu latar belakang kehidupan yang membentuk karakter seseorang. Banyak yang dalam hidupnya nampak bahagia ternyata terbentuk dari gempuran kerikil tajam yang dengan kuat dihadapinya. Sebaliknya, banyak yang seringkali terlihat marah ternyata karena ada sesuatu hal yang tidak mampu diselesaikan atau dihadapi. Sehingga melontarkan kekesalan adalah salah satu jalan menghadapi perasaan kecewa yang menghantui.

Saya lalu merenung, jika Lebaran adalah hari yang fitri dimana seseorang dianggap bak selembar kertas putih dengan istilah ‘kembali suci’, seharusnya masa lalu adalah sebuah refleksi. Tentang bagaimana menjaga raga agar tidak salah menempatkan diri, dan bagaimana menjaga hati agar tidak tergelincir karena lidah yang seringkali berucap tanpa berpikir.

Berat sekali ternyata makna Eidl Fitr. Padahal manusia adalah tempatnya salah dan alpa, namun kertas putih itu harus tetap terjaga. Siapa tahu tahun depan tidak bisa kembali menjadi selembar kertas putih lagi, dan justru menghadapi ujung hari dengan kertas penuh noda berhias tinta hitam pekat, pertanda gelapnya hati.

Naudzubillah.

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #TemaLebaran #Lebaran #RumahMediaGrup #Rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.