Miracle In Cell No. 7


Miracle In Cell No. 7

Film berbahasa Turki ini adalah adaptasi dari sebuah film Korea yang dirilis pada tahun 2013. Sang sutradara, Mehmet Ada Öztekin merilisnya kembali di tahun 2019.

Bertema keluarga, film ini menceritakan kisah seorang anak perempuan bernama Ova dan sang ayah yang memiliki keterbelakangan mental bernama Memo. Mereka tinggal bersama sang nenek, Fatma, yang telah berusia lanjut di sebuah desa di atas bukit. Memo adalah seorang penggembala kambing.

Keterbelakangan mental Memo kerap dijadikan olok-olok oleh sekitarnya. Hingga Ova sang putri juga kerap menerima perundungan di sekolahnya. Namun ia sangat menyayangi sang ayah dan menganggap Memo seperti layaknya seseorang yang normal.

Pada suatu hari, Ova menginginkan sebuah tas bergambar karakter animasi yang sedang populer di sana. Memo pun berusaha keras untuk mampu membelikan putrinya tas berharga mahal berwarna merah muda itu. Tas mungil yang kemudian menjadi awal petaka kehidupan mereka.

Ya, ia didakwa membunuh putri seorang Letnan yang pernah memukulnya karena Memo berusaha meraih tas impian Ova yang dibeli dan dipakai oleh gadis kecil itu. Memo marah dan kecewa karena ia telah berusaha keras mengumpulkan uang untuk membeli tas itu.

Memo lalu ditangkap, kemudian dipukuli dengan bengis, dan dipaksa mengaku telah membunuh putri sang Letnan. Padahal sang gadis kecil terjatuh ke dalam sungai ketika ia mengajak Memo bermain dengan iming-iming akan diberi tas impian Ova. Memo lalu ditahan dan harus menghadapi dakwaan pembunuhan yang berakibat ia akan menerima hukuman gantung.

Kemudian ia dimasukkan ke sel nomor 7 dengan hadiah pukulan bertubi dari para penghuni sel yang melihatnya sebagai seorang pembunuh anak kecil. Namun kemudian keajaiban justru terjadi di dalam sel sejak kehadiran Memo dan pada hari ketika Ova diselundupkan masuk ke dalam sel oleh teman-teman Memo. Di sini lah cerita bergulir tentang bagaimana para penghuni sel bisa berada di dalamnya.

Ova berhasil membuka cerita tentang mereka melalui pertanyaan sakit apakah mereka semua, karena berpikir sang ayah sedang dirawat di sebuah rumah sakit, bukan di dalam penjara. Di dalam sel itu Ova menemui seorang pembunuh, penipu, penculik, bahkan seorang lelaki paruh baya yang kerap menatap lekat sebuah keratan di dinding. Hanya Ova yang bisa melihat bahwa keratan di dinding itu berbentuk sebuah pohon.

Ya, lelaki itu menguburkan putrinya hidup-hidup di bawah sebuah pohon besar di hari pernikahannya karena ego nya sebagai seorang lelaki. Kelak pria berwajah sedih ini yang akan menolong Memo dan Ova keluar dari penderitaannya.

Malangnya, di saat Memo dan Ova menjadi sepasang keajaiban di dalam sel, sang nenek justru pergi meninggalkan mereka berdua karena serangan jantung ketika mendapati Ova pergi tanpa pamit untuk menemui sang ayah dengan cara diselundupkan hari itu.

Ova kini sebatang kara, karena sang nenek yang selama ini melindunginya sudah pergi ke alam baka, sementara sang ayah tengah menghitung hari menghadapi kematiaannya di tiang gantungan yang bak neraka.

Berurai airmata dan dada sesak, itu yang saya rasakan melihat film ini. Aahhh … kalian harus nonton! Saya tidak sanggup menceritakannya dengan detil. Bahkan hingga akhir dari film ini, saya tetap dibuat terpana dan terkejut karena tidak mengira sama sekali ujung dari cerita Memo dan Ova.

Selesai menonton film yang menyesakkan dada ini saya jadi berpikir tentang kehidupan. Apa sih esensi hidup itu? Apa sih yang kita cari dan kejar dalam hidup? Hidup ini untuk apa dan untuk siapa?

Saya jadi bersyukur walau dalam hidup tidak selalu bertemu jalan lurus. Kadang terjal dan berliku, penuh airmata dan juga kesedihan. Jika Memo dengan keterbatasannya masih mampu tersenyum dan menjadi keajaiban untuk sekitar, bagaimana hal nya dengan kita yang dianugerahi raga yang sempurna ini?

Dari Memo saya belajar untuk selalu berbaik hati pada sekitar, karena kita tidak pernah tahu apa yang orang lain lalui dalam hidupnya. Kebaikan itu sifatnya menular. Seperti Memo yang selalu menganggap semua orang baik hingga ia mendapat balasan dalam hidup yang juga baik.

Be kind. Walau hidup kadang nampak tak adil dan berat sebelah bagi sebagian. Semoga hidup yang saya jalani ini bisa bermanfaat untuk sekitar walau dengan segala keterbatasan. Seperti Memo dan Ova yang mengajarkan tentang banyak sekali kebaikan di tengah kesusahan.

Life … the struggle we are in today, will be our strength tomorrow.

Sumber foto: http://www.bing.com

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.