“Assalamualaikum, Eyang!”


“Assalamualaikum, Eyang!”

8 Juni 2018

“Jadi pulang enggak, Nak?”
“Mmmm … belum cari tiket Ma. Nanti dikabari ya.”
“Sekolah anak-anak sudah libur kan?”
“Iya. Tapi … mmmm … tiket mahal-mahal nih.”
“Ya sudah nanti kasih tau ya.”
“Okay Ma.”

12 Juni 2018

“Enggak jadi mudik ya Nak?”
“Doain ya Pa. Mmmm … masih liat tiket.”
“Ya sudah, nanti Papa jemput kalo jadi mudik.”
“Okay Boss!”

13 Juni 2018

“Yah, enggak jadi dateng ya Nak?”
“Nanti dikabari Ma. Doain ya. Lagi liat tiket.”
“Iya Nak. Sudah lama enggak mudik kan Lebaran ya.”
“Sepuluh tahun Ma.”
“Makanya. Semoga dapat ya tiketnya.”
“Mmmm … iya Ma. Doain lancar ya.”

14 Juni 2018 (Pagi)

“Ma, nanti malam ada paket datang. Tungguin ya.”
“Paket apa Nak?”
“Buat buka puasa.”
“Okay Nak. Terima kasih. Tiket gimana?”
“Masih liat-liat nih.”
Yawes.”

14 Juni 2018 (Waktu Magrib)

“Nak, paketnya sudah datang. Alhamdulillah. Enak banget! Terima kasih ya Nak. Kamu lagi apa?”


“Assalamualaikuuummmm! Eyaaaangggg!”

“Eh, Qishan kok kayak denger suara Abang Rayyan ya Eyang?”
“Bukan lah! Abang Rayyan kan di Singapura. Itu ada tamu, Pah coba liat itu siapa?”

Di depan pintu rumah, papa berdiri mematung dengan mulut terbuka dan wajah pucat pasi. Airmata mengalir dari kedua matanya yang mulai berkeriput.

“Ya Allah! Maaaaa! Sini cepat!”

“Assalamualaikum Eyang. Paket ke-dua nya dataaang!” Teriak saya dari gerbang rumah.

Tergopoh-gopoh mama saya keluar dari dalam rumah kemudian menangis bahagia. Sementara papa saya berdiri dengan gemetar.

“Lutut papa kayak mau copot! Dasar anak ini!”

Hahaha! Peace, Pa! Saya memeluknya sambil meminta maaf karena sudah berbohong dan tidak memberitahu seisi rumah bahwa saya dan anak-anak akan mudik di malam lebaran. Tapi kan saya jujur lho waktu bilang sedang lihat-lihat tiket. Saya memang sedang melihat tiket keberangkatan di tangan saya. Jadi enggak bohong kan? Hahaha!

Mudik Lebaran 2 tahun yang lalu membawa kesan bahagia hingga hari ini. Saya memang suka memberi kejutan kepada orangtua tercinta. Ini bukan yang pertama kali. Hahaha. Saya memang putri mereka yang nakal.

Sepuluh kali lebaran berlalu sebelum malam itu, saya lewati tanpa kesempatan bersimpuh di kaki mereka berdua. Hampa rasanya hidup. Terlebih lagi di awal masa saya menetap di negara ini. Sedih rasanya waktu itu, karena seringkali Lebaran bahkan saya lalui sendiri ketika suami harus bekerja. Sedihnya tahun ini kembali kami harus berjauhan karena wabah yang menyerang. Apa daya situasi mengharuskan kami hanya mampu saling melihat layar untuk mengucap sayang.

Sepuluh kali yang rasanya hampa itu akhirnya terobati ketika malam lebaran di tahun 2018 lalu, kami berhasil memberikan kejutan manis untuk para eyang di rumah.

“Ma … Pa! Paket makanannya datang nih plus serombongan pemudik dari negeri seberang!”

You don’t miss you water until the well runs dry. Cherish every moments and every person in your life. (Rere)

Love, R

#WCR #rumahmediagrup #tantanganmenulis #mudik

8 thoughts on ““Assalamualaikum, Eyang!”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.