The Earth Of Mankind


The Earth Of Mankind

Wah! Ada film baru di Netflix. Judulnya berbahasa asing tapi aktornya tampak familiar.

Penasaran, saya pun memutarnya.

Bumi Manusia!

Film yang saya tunggu-tunggu sejak awal dirilis dulu. Bukan karena pemerannya Iqbal di Dilan yang lucu, tapi karena film ini adaptasi sebuah novel yang seru. Eeee … saya belum selesai sih membaca e-book nya. Mata tua saya menolak untuk menatap deretan katanya terlalu lama. Maklum, orang jaman baheula, yang lebih kuat membaca lembar demi lembar dibanding deretan kata pada layar.

Tidak biasanya lho, saya yang lebih tertarik dengan tampilan visual dibanding membaca baris demi baris kata, kali ini langsung mencari e-book novel aslinya. Karena film berdurasi 3 jam ini masih membuat saya kehausan akan cerita para tokoh di dalamnya.

Di dalam novel yang ditulis setahun sebelum saya lahir ini, Pramudya Ananta Toer menggambarkan suasana ketika Hindia Belanda menguasai tanah Jawa. Geram, sebal, marah, dan ikut merasakan pedihnya nasib Nyai Ontosoroh dan Minke yang kehilangan banyak hal hanya karena identitas mereka sebagai pribumi yang tertindas di tanah mereka sendiri.

Nyai Ontosoroh, mungkin salah satu karakter yang membuat saya berdecak kagum melihat sosoknya yang diperankan dengan sangat cerdas oleh Ine Febriyanti. Perempuan kampung bernama asli Sanikem, yang dijual sang ayah ketika berusia sangat muda kepada seorang lelaki Belanda pemilik perusahaan susu kaya di Wonokromo. Sanikem pun kemudian bergelar Nyai Ontosoroh. Julukan nyai diberikan kepada perempuan yang menjadi selir atau simpanan pada masa itu. Seperti Sanikem yang dibeli Herman Mellema sebagai selir, tanpa ikatan pernikahan resmi.

Sanikem muda yang tidak berpendidikan menjelma menjadi sosok perempuan kuat, tegas, pandai, dan menguasai banyak hal yang bagi saya justru adalah magnet di film ini. Lebih kuat dari sosok Minke yang buah pemikirannya tidak banyak diceritakan di film. Kerumitan jalan pikirannya secara detail tertuang di dalam novel aslinya. Tentu saja jika diceritakan semua, 3 jam tidak akan cukup mengadaptasinya dalam film.

Walau film ini berakhir sedih dengan kehilangan, perpisahan, bahkan kematian, banyak kesan saya dapatkan di akhir cerita. Jadi perempuan itu mesti kuat, harus rajin belajar untuk menguasai banyak hal. Perempuan juga harus berani menyatakan pendapat, dan punya pendirian. Walau Nyai Ontosoroh akhirnya gagal mempertahankan hak nya sebagai ibu. Ia tetap menunjukkan perjuangan membela harga dirinya hingga akhir, ketika akhirnya harus melepas sang putri pergi.

Hhhh … rasa syukur yang teramat besar terucap di sela isak tangis. Bersyukur saya berada di jaman yang sangat berbeda saat ini. Tidak terbayang jika saya hidup di masa itu sebagai seorang pribumi.

Maka di tengah pandemi yang mengharuskan saya stuck di rumah saja ini, saya tetap bersyukur. Karena masih terasa perihnya hati melihat Annelies dipaksa pergi meninggalkan sang mama yang menyayanginya sepenuh hati, hanya karena identitas diri. Tak apa lah saya menikmati hari-hari belakangan seperti ini, asal anak-anak tetap di sisi.

A must watch movie and a must read book it is!

Sumber foto: Wikipedia

Love, R

#WCR #ChallengeMenulis #RumahMediaGrup

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.