Teror – Part 2


Teror

Sepeninggalan ibu kos, aku bergegas memasukkan kunci di lubang pintu. Belum sepenuhnya terbuka, kurasakan tepukan tepat di bahu kananku. Aku tengok ke arah tepukan, kosong. Tak ada siapa-siapa. Lalu, aku lanjutkan lagi memutar kunci tersebut. Setelah itu, kubuka pintu perlahan dan baru setengah terbuka, kurasakan sentuhan dingin di bahu kiriku.

Tiba-tiba badanku menegang. Takut-takut kutengok ke arah kiri. Aku menahan napasku dan memejamkan mata saat menengok ke asal sentuhan. Semoga yang di belakang orang benaran.

“Hai!” Suara perempuan menyapa yang merambat ke pendengaranku. Kucoba membuka mata untuk melihatnya. Alhamdulillah. Kuembuskan napas dengan pelan.

“Penghuni baru?” tanyanya lagi dengan ramah. Aku hanya mengangguk sambil mengamati perempuan dihadapanku ini. Dari pakaian yang dipakai, dia seorang perawat sepertiku.

“Gue Leni. Kamar gue di kamar nomer 15, masih satu baris sama lu. Semoga betah ya di kamar ini. Oke salam kenal ya ….”

“Sasa.”

“Salam kenal Sasa. Kasih tau gue kalo pas lu bangun tidur ada yang nemenin disamping.”

Hah? Tadi dia bilang apa? Ah, paling dia hanya menakutiku saja. Sebelum kuberucap, Leni sudah berjalan ke arah kamar kosnya.

“Kamar yang lu tempatin horor, Sa.” Suara Leni lagi saat sedang membuka kunci.

Aku tak menghiraukan perkataan Leni. Berusaha acuh. Seberapa horornya sih kamar ini? Kunyalakan saklar lampu yang di dekat pintu, lalu kugeret koper besar yang kubawa.

“Jangan didengerin.” Aku terlonjak kaget saat ada suara tepat di belakangku. Kutengok, ada seorang wanita dengan pakaian putih lusuh dan rambut panjang yang … berantakan.

“Bikin kaget aja!” sentakku. Dia hanya terkikik geli. Ketawanya bikin semua bulu kudukku meremang. “Ka-kamu penghuni sini juga?” lanjutku terbata.

Dia masih terdiam, tak menjawab pertanyaanku. Kupandangi wajahnya yang muram, manik mata yang ….

Wait! Manusia normal tak seperti itu iris matanya. Kugeleng-gelengkan kepalaku untuk mengusir pemikiran yang tak masuk akal. Dia hanya mengangguk dan menunjuk ke dalam kamarku.

Keningku mengernyit dan tak sadar telah menjatuhkan ponsel dari genggaman. Getaran dari benda pipih yang terjatuh, mengembalikanku dari keterkejutan. Buru-buru kuambil. Saat berjongkok, kedua netraku tertumbuk pada ….

Bersambung.

#rumahmediagrup #tantanganmenulis #deesarahma #wrc #Teror

4 thoughts on “Teror – Part 2

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.