Kehilangan

Malam ini sangat berbeda. Salat tarawih pertama di rumah dengan anak-anak saja dan tanpa suami. Sudah beberapa bulan ini suami tinggal di RS bersama teman sejawat lainnya untuk menangani pasien yang terserang Covid-19.

[Selamat salat terawih, Hon. Maaf ramadan tahun ini aku gak bisa menemanimu. Jaga kesehatan ya, Hon. Aku titip anak-anak. Doakan aku cepat sehat ya, Hon. Biar bisa berkumpul sama kamu dan anak-anak lagi. Salam kecup untukmu dan anak-anak. Love you.]

Setitik bening terjun begitu saja di kedua pipiku. Ya … terakhir kami bertemu dua minggu lalu. Bertemu dibatasi oleh jarak. Tak ada kecupan mesra dan pelukan hangat. Hanya tatapan sendu yang berkaca-kaca karena dibalut rindu yang menggebu.

Dua hari setelah pertemuan singkat itu, aku mendapat kabar dari rekan sejawat jika suamiku positif Covid-19. Hatiku retak. Jiwaku koyak. Menerima kenyataan ini.

Buru-buru kuhapus air mata yang meleleh di pipi dengan punggung tanganku. Tak ingin ketiga anakku melihat aku menangis. Aku harus kuat untuk mereka. Setelah hatiku tenang, kubalas pesan darinya. Memberi support dan perhatian agar dia merasa tak sendiri.

Selepas azan subuh berkumandang, aku mendapat telepon dari RS. Firasatku tak enak dengan telepon kali ini. Jantungku berdegup dengan kencang dan tanganku gemetar. Susah payah aku memegang ponsel itu. Setelah kupencet panel berwarna hijau, terdengar suara dari sebrang sana.

Satu kalimat yang dilontarkannya, berhasil meluluhlantakkan duniaku. Dunia anak-anak. Kristal bening yang tadinya menggenang, mulai luruh satu persatu membasahi pipi.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun,” ucapku lirih di tengah isakan.

Di hari pertama puasa, aku harus kehilangan kesayanganku. Aku sangat sayang dia, tapi Tuhan lebih sayang. Memilikinya adalah kado terindah yang Tuhan berikan. Namun, saat ini sudah waktunya hadiahku diambil kembali.

Mungkin Tuhan ingin melihatku berjuang membesarkan anak-anak. Mungkin Tuhan ini menjadikan kejadian hari ini pelajaran untuk anak-anakku agar tetap kuat dan sabar. Menjadikan pelajaran untuk orang-orang agar lebih menghargai dan menghormati suami. Karena … umur tak ada yang tahu.

Selamat jalan, Sayang. Semoga husnulkhatimah. Aku dan anak-anak ikhlas. Sampai bertemu di surga-Nya kelak.

#rumahmediagrup #tantanganmenulis #deesarahma #wrc

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: