Sahur


Sahur

Tahun ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Puasa di tengah karantina, memang maknyus rasanya. Puasa yang biasanya dilalui dengan ngabuburit dan jajan sesuka hati, berganti dengan berdiam diri dan makan di rumah sendiri.

Sehari sebelum puasa di tengah Circuit Breaker yang ditetapkan pemerintah setempat, saya sudah memastikan ketersediaan bahan makanan di dapur tanpa perlu menimbun berlebihan. Yang utama seperti beras, minyak goreng, telur, sayuran, sepaket ayam, daging, ikan, beres. Begitu juga dengan bahan makanan instan seperti mie, nugget, kulit prata, dan beberapa bumbu masakan, beres. Paling tidak untuk puasa seminggu pertama kami aman.

Hari pertama sahur saya membuat bubur ayam. Dengan pertimbangan, masih ada 2 kotak ayam ungkep yang sengaja saya buat untuk emergency. Ayam digoreng lalu disuwir, tinggal membuat bubur nasi, kuah soto, dan telur dadar yang diiris tipis. Beres.

Tanpa banyak protes, semua makan dengan lahap di hari pertama sahur. Walau Rayyan tidak terlalu suka makan bubur, namun ia menghabiskan makanan di hadapannya hingga licin tandas. Semoga bukan karena takut dengan beliak mata saya. Hahaha!

“Please, be grateful. When you are all trying to choose what you want to eat, there are so many people outside who’s longing to just eat a spoonful of rice or a piece of bread because there’s nothing they can eat. That’s the essence of fasting for us. Feel what they feel, and be grateful for whatever we have. So no complains, please.” Begitu selalu pesan saya pada anak-anak.

Sahur pertama kami di tengah pandemi.
Memang tidak mewah namun perut cukup terisi.
Bayangkan mereka yang puasa sepanjang hari.
Karena tidak ada apapun untuk memenuhi gizi.

Be grateful, Nak.
Jika kamu pikir hidupmu sulit, coba berada di sepatu orang lain.

Be kind.
Kita tidak pernah tahu bahkan merasakan kesulitan yang dilalui sebagian manusia di tempat dan belahan bumi yang lain.

Puasa bukan hanya urusan perut semata. Di dalamnya terkandung ajaran tentang kesabaran, cinta kasih pada sesama, dan kepekaan pada sekitar. Puasa juga seharusnya mengajarkan kita memiliki kemampuan untuk menahan diri sendiri tanpa kepongahan untuk minta dipahami secara berlebih.

Selamat berpuasa, sehat senantiasa.

Love, R

#rumahmediagrup #wcr #tantanganmenulis #rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.