PIHU … Nasibmu


PIHU … Nasibmu

Pihu adalah sebuah film bergenre thriller yang dirilis pada tahun 2018. Sudah lama saya penasaran ingin menonton. Tapi lagi-lagi saya terlalu takut. Selain takut pada cerita Suzana, saya juga luar biasa penakut menonton film yang diperankan oleh anak-anak.

Saya takut mereka terluka. Saya takut melihat mereka sakit. Saya takut melihat mereka sedih. Saya memang penakut sekaligus cengeng.

Ketika film ini dirilis dan memenangkan penghargaan di beberapa ajang bergengsi, saya luar biasa penasaran. Terlebih lagi film ini diadaptasi dari cerita sebenarnya tentang seorang anak yang kisah dan beritanya pernah menghiasi layar televisi lokal sekitar tahun 2014.

Tidak banyak aktor dan aktris di film ini. Hanya seorang bocah berusia 2 tahun bernama Pihu dan sang ibu yang terbaring di atas tempat tidur … dalam keadaan meninggal. Pihu tidak menyadari sang ibu sudah pergi dan meninggalkannya di rumah itu sendiri.

Pesta ulang tahun meriah Pihu malam sebelumnya, ternyata berujung tragis. Ia terjebak di rumah itu sendirian dengan jasad sang ibu. Ayahnya diceritakan sedang melakukan perjalanan dinas ke kota lain. Pihu benar-benar sendiri.

Miris dan ndredeg hati saya melihat ia mengurus dirinya sendiri. Pergi ke toilet, menggosok gigi, sambil memanggil-manggil sang ibu yang dari tangannya jatuh sebuah botol kecil berisi beberapa butir obat berwarna putih. Pihu yang kelaparan pun turun ke dapur untuk mencari makan.

Ia menemukan sink yang airnya mengalir dan tidak mampu meraih tap untuk menutupnya. Ia membuka lemari pendingin dan nyaris terkunci di dalamnya. Jemarinya yang kecil pun lincah menyalakan kompor namun tidak tahu bagaimana harus mematikan. Ia bahkan nyaris meminum cairan pembersih lantai yang nampak seperti susu murni yang biasa ia minum.

Darn! This is crazy! Jantung saya rasanya berhenti berdetak! Berdesis saya bahkan memberitahunya dari tempat saya duduk, “Be careful Pihu! Electricity! You’re gonna get electrocuted! Oh my God! Get away from the balcony! Gosh! Where are your neighbours?”

Sejak menjadi seorang ibu hati saya memang mudah ciut! Ya Tuhan. Tidak mengenakkan sekali rasa ini!

Banyak tema hendak diangkat oleh sang sutradara di film ini. Menarik melihat sosok Pihu menjadi sentral, sementara tokoh lain hanya berupa suara atau bayangan. Beberapa titik fokus seperti botol obat yang berserakan, tanda-tanda merah pada wajah dan lengan sang ibu yang terbaring kaku, menjadi inti dari cerita ini. Selain perjuangan Pihu sebagai seorang bocah berusia 2 tahun yang harus mempertahankan hidup sendiri.

Jalan cerita dan kejadian yang melatarbelakangi penderitaan Pihu digambarkan lewat dialog yang terjadi melalui sambungan telpon. Menarik kan?

Pihu … semoga tidak ada anak kecil yang bernasib sepertimu. Memiliki ibu yang tidak pikir panjang dulu. Karena emosi yang begitu menggebu. Walau bisa dipahami ini adalah klimaks dari segala amarah yang hanya mendapat jawaban semu.

Bagaimana akhir cerita Pihu? Nonton sendiri ya. Saya tidak mau jadi spoiler. Pesan saya hanya satu, bersiaplah jantungmu terpacu. Apa mungkin hanya saya saja yang lebay akut?

Love, R

Sumber foto: Google

#rumahmediagrup #tantanganmenulis #rereynilda

7 thoughts on “PIHU … Nasibmu

  1. Ibunya depresi mbak Rere…otak yang depresi sulit untuk mikir panjang. Yang ada dipikirannnya hanya dorongan/bisikan bunuh diri karena memang merasa tidak berharga sedari kecil.dipicu perlakuan suami yg terkesan sedang tidak menghargai istri.(buru2 dan banyak kerjaan kantor)

    Aku sangat bersyukur Tuhan melindungi dan menjagaku, Tyaga dan Jehan saat LDRan sm suami dan tak ada 1 pun manusia dewasa dirumah. Sehingga tyaga jehan tidak sampai bernasib seperti pihu. Krn aku masih diberi nyali untuk pikir panjang😇😇

    Liked by 1 person

    • Itu dia. Satu sisi aku ngomel kenapa si ibu pikirannya pendek bgt, tp di sisi lain berusaha paham penderitaannya. Thank God dirimu berhasil keluar dari depresi itu ya Mbak.

      Like

      • Iya Mbak…alhamdulillah luar biasa bisa keluar dari lubang depresi.ga enak banget rasanya depresi.mohon2 sama Tuhan, jangan sampai deh seketurunan ngalamin lagi.cukup smp di aku aja.

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.