Birthday Cake (Fail)


Birthday Cake (Fail)

Saya suka masak, namun membuat kue adalah sebuah perjuangan. Tidak terhitung berapa kali saya gagal mengeksekusi sebuah cake sederhana. Satu-satunya cake yang berhasil saya buat adalah cake berbahan dasar pisang. Itu pun setelah beberapa kali mengalami kegagalan.

Sayangnya, saya termasuk ibu yang sukanya repot. Saya selalu ingin membuatkan anak-anak kue ulang tahun sendiri, padahal enggak bisa. Hahahaha! Saya sampai mengikuti kursus membuat cake di satu tempat, saking inginnya mempersembahkan buatan tangan untuk keluarga di hari spesial.

Ulang tahun putra bungsu kemarin, saya sudah ber angan ingin membuat French Macarons yang akan saya susun membentuk sebuah tower. Mulailah saya menyiapkan bahan sesuai dengan takaran pada resep yang saya dapat dari kelas.

Di tengah pembuatan, tiba-tiba kertas contekan resep saya raib entah kemana. Saya mencari sekeliling dapur, dibantu 2 putri saya. Ya salam! Bagaimana nasib telur dalam mixer yang sedang berputar? Saya tentu saja tidak ingat lagi semua step walaupun ketika di kelas memasak saya sukses membuatnya.

Pasrah, saya akhirnya membuka sebuah tutorial memasak dari internet. Kok, beda ya? Hahaha! Terpaksa saya ikuti juga semua stepnya sambil mata ini terus berkeliling mencari si kertas resep yang hilang.

Macarons saya hampir selesai dibuat ketika putri saya berteriak sambil tertawa geli.

“Bunda! The paper is just here all the time! My goodness! It’s just next to you!”

Ya salam! Kertas yang hilang itu ternyata ada di atas dispenser air yang hanya terletak di sebelah saya berdiri dari tadi! Kok saya tidak melihatnya ya?

Anyways, beberapa saat kemudian, Macarons saya pun jadi. Hore! Kelihatannya sih berhasil. Si bungsu yang sedari tadi mengintip pun mencicipi Macarons buatan saya dengan penuh semangat. Sejurus kemudian raut wajahnya berubah.

“Bunda, please don’t be offended. But this doesn’t taste nice. It taste weird, unlike the one you made from your cooking class. Sorry.” Hiks! Jarang sekali hasil masakan saya dibilang tidak enak. Rasanya galau ternyata.

Kemudian saya pun coba mencicipi walau tidak terlalu suka jenis cake dengan rasa manis seperti ini. Well, si bungsu benar. Rasanya tidak enak sama sekali. Chewy seperti karet dan baunya aneh karena terlalu banyak tepung almond. Hahaha!!

“Sorry, Nak. Your birthday cake failed. Let me try another one.”

Saya tentu saja tidak menyerah begitu saja. Kembali saya membuka resep Paris Brest yang baru saya buat minggu lepas. Kali ini saya memastikan ia tidak hilang dari genggaman. Hahaha!

“Bunda! This is so yummy! Thank you for your effort in making a birthday cake for me. I love you so much!

Hore! Walaupun tidak sama persis dengan yang saya praktekkan di kelas hari itu, namun cake ini tidak gagal seperti si Macarons.

“Bunda, next time don’t put too much almond flour in your Macarons, okay?” Hahaha! Iya iya. Happy birthday, Son!

Gagal itu lebih baik daripada tidak pernah gagal karena tidak pernah mencoba. Jadi jangan takut gagal. Takut lah karena dalam hidupmu tidak pernah ada keberanian untuk mencoba! Semangat!

Much Love,

Reyn’s

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.