Ikat. Sana. Ikat. Sini


Ikat. Sana. Ikat. Sini

Lebaran kali ini mungkin tidak akan sama seperti tahun kemarin.

Mungkin tidak akan terlihat pemandangan serombongan orang hilir mudik mengenakan baju berwarna seragam, berkunjung ke rumah sanak saudara. Mungkin tidak akan ada deretan toples kaca berisi kue manis khas lebaran yang menggugah selera. Mungkin. Tapi mungkin juga tidak.

Di tengah suasana yang serba tidak pasti ini semangat ber hari raya saya tetap membara di hati. Berharap bumi ini sesegera mungkin sehat kembali. Anggap saja ia sedang melakukan pembersihan diri seperti puasa kami.

Semangat itu yang membuat saya melirik gulungan temali di atas meja putih. Tempat saya banyak menelurkan kreasi. Kreatifitas yang tidak pernah saya biarkan mati. Malah semakin dipupuk dengan banyak belajar lagi. Saya ingin membuat sesuatu untuk menyambut lebaran nanti.

Ikat sana, ikat sini, tali temali berputar hingga jadi lah beberapa coaster cantik berwarna putih susu, sebagai hiasan meja kaca di ruang tamu. Beberapa untuk gelas minum atau toples cemilan, dan sebuah yang besar untuk entah apapun itu. Nanti saya pikir dulu, kalau lebaran jadi menerima tamu.

Jangan murung karena tebaran virus yang menganggu. Wajah yang merengut hanya akan membuat hilang manismu. Buatlah sesuatu untuk mengisi hari-harimu. Karena hidup harus tetap maju meskipun hanya di rumah melulu. Semangat dan tetap berkarya selalu. Buka mata dan cari tahu apa yang bisa dijadikan sesuatu yang baru.

Saya belum akan berhenti membuat ini dan itu. Bagaimana dengan kamu?

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda

Aku Pinjam Suamimu


Aku Pinjam Suamimu

[Sayang … Mas tunggu di Bandara, ya. Mas mau ajak kamu ke Pulau Derawan. Kita akan bersenang-senang. Jangan lupa bawa lingerie warna hitam dan motif loreng, yang kemarin Mas beliin. Uuhh … pasti kamu seksi banget pake itu. Love you, udah gak sabar pengen bobok sama kamu.]

Satu pesan masuk ke gawai yang berada di meja rias. Kuusap layar benda pipih itu untuk membaca pesannya. Lengkungan bulan sabit terbit di bibirku. Kupercepat merias wajahku dan segera memesan taksi online.


Lelaki tampan berbadan tegap dan berhidung mancung yang tidur disampingku adalah suami teman di dunia mayaku. Sudah lama aku memperhatikan apapun yang diunggah olehnya. Semua yang dia unggah membuat aku … iri dan ingin merebutnya. Jika dia bisa bahagia, maka aku juga bisa bahagia bersama suaminya.

Hanya butuh waktu satu bulan untuk mendekati lelaki berambut model pomade ini. Awalnya, dia menjual mahal tapi saat dipertemuan keenam, dia begitu murah.

Bahagia? Ya, aku bahagia. Baru kali ini aku mendapatkan sugar daddy yang … luarbiasa. Baik penampilan, attitude, kekayaan dan juga … urusan ranjang.

Kalau ada yang bilang aku tak punya hati. Akan aku jawab, mereka yang memposting kemesraan dengan suami dan menjajakan kebaikan suami di sosmed juga tak punya hati. Mereka tak tahu betapa bahayanya jika meng-uplode itu semua. Karena banyak wanita kesepian dan butuh figur seorang lelaki yang family man mengintai.

“Sayang … kamu luar biasa. Nanti aku transfer untuk kebutuhan kamu ya. Kita main sekali lagi, ya.”

Tak cukup sekali, dua kali atau tiga kali jika aku dan dia bertemu. Malam ini kututup dengan memuaskannya sekali lagi. Tak lupa kuabadikan saat dia sedang mencumbuku. Lalu aku kirim ke seseorang.

“Kamu pernah bahagia dengan dia. Saat ini, aku pinjam suamimu agar aku juga merasakan kebahagian sepertimu.”

#rumahmediagrup #tantanganmenulis #deesarahma #wcr

Susah? Senengin Aja!


Susah? Senengin Aja!

Cerita tentang sang mantan … teman sekamar kemarin memunculkan beberapa opini dari banyak sisi. Terima kasih ya teman-teman. Jangan khawatir, saya tidak berteman dengannya di sosial media. Rasanya juga ia tidak memiliki aktifitas apapun di dunia maya.

Amaaan. Eh!

Mungkin salah satu yang membuat gemas adalah cerita tentang kontradiktifnya ia, ketika marah mendengar suara derit pintu tapi memutar musik dengan keras, ketika saya sedang melaksanakan ibadah, tanpa ragu. Kenapa saya bisa sesabar itu? Kalau orang lain mungkin sudah marah karena merasa terganggu. Mungkin juga beberapa merasa saya terlalu mengalah dan lugu. Ah … senangnya punya teman yang begitu peduli, aylapyu!

Waktu itu saya tidak marah padanya, tidak juga menegurnya. Kenapa? Saya merasa, sholat saya seharusnya bisa khusyuk bagaimanapun keadaan di sekitar saya. Be it musik yang berdentum keras, orang yang mondar-mandir di hadapan, atau mungkin suara mereka yang sedang bercakap-cakap dengan volume tinggi.

Ya, memang sesederhana itu saja alasan saya.

Sama hal nya ketika sedang berpuasa, saya juga tidak lebay meminta orang lain paham dan bertenggang rasa. Yang puasa saya, kenapa orang lain harus ikut menanggungnya? Ini juga yang saya ajarkan pada anak-anak yang pernah bercerita tentang bagaimana mereka melihat teman lain, yang tidak berpuasa, meneguk minuman dingin di hadapan mereka yang sedang berpuasa.

Saya sedang mengajarkan anak-anak untuk tidak jadi manusia yang rese, mengharap orang lain selalu memahami situasi mereka, dan menjadi marah ketika sekitar tidak menunjukkan dukungan.

Hidup itu jadi sulit ketika kita memperlakukannya dengan sulit.
Hidup akan menjadi susah ketika kita menyusahkan sekitar, atau susah ketika melihat orang lain tidak susah.

Bersamaan dengan cara saya membuang semua hal yang negatif, saya juga belajar buat lebih mendengar dari banyak sisi. Seperti bagaimana saya mendengar segala keluh kesah Salwa tentang roomate nya dulu. Saya bahkan juga membuka diri dan telinga dengan segala aturan darinya sebagai pemilik kamar terdahulu. Tanpa perlu menyusahkan diri untuk berdebat, saya mengambil percakapan itu untuk kemudian menganalisa dan mengambil kesimpulan, bagaimana harus menghadapi seseorang yang lumayan ajaib sepertinya.

Susah? Senengin aja!

Saya hanya ingin kehidupan yang damai, demi kesehatan mental saya sendiri. Pekerjaan saya dulu yang mengharuskan interaksi dengan banyak pribadi ajaib bahkan menyebalkan, rasanya sudah cukup membuat saya banyak emosi.

Percayalah, hidup akan jauh lebih menyenangkan ketika kita fokus pada perbaikan diri, dengan membuka telinga lebar agar hati tak sampai mati. Bayangkan susahnya hidup mereka yang berpikir semua orang salah, cuma gue yang bener dan baik hati. Capek, ih!

Love, R

#WCR #tantanganmenulis #rumahmediagrup #rereynilda

Sahur


Sahur

Tahun ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Puasa di tengah karantina, memang maknyus rasanya. Puasa yang biasanya dilalui dengan ngabuburit dan jajan sesuka hati, berganti dengan berdiam diri dan makan di rumah sendiri.

Sehari sebelum puasa di tengah Circuit Breaker yang ditetapkan pemerintah setempat, saya sudah memastikan ketersediaan bahan makanan di dapur tanpa perlu menimbun berlebihan. Yang utama seperti beras, minyak goreng, telur, sayuran, sepaket ayam, daging, ikan, beres. Begitu juga dengan bahan makanan instan seperti mie, nugget, kulit prata, dan beberapa bumbu masakan, beres. Paling tidak untuk puasa seminggu pertama kami aman.

Hari pertama sahur saya membuat bubur ayam. Dengan pertimbangan, masih ada 2 kotak ayam ungkep yang sengaja saya buat untuk emergency. Ayam digoreng lalu disuwir, tinggal membuat bubur nasi, kuah soto, dan telur dadar yang diiris tipis. Beres.

Tanpa banyak protes, semua makan dengan lahap di hari pertama sahur. Walau Rayyan tidak terlalu suka makan bubur, namun ia menghabiskan makanan di hadapannya hingga licin tandas. Semoga bukan karena takut dengan beliak mata saya. Hahaha!

“Please, be grateful. When you are all trying to choose what you want to eat, there are so many people outside who’s longing to just eat a spoonful of rice or a piece of bread because there’s nothing they can eat. That’s the essence of fasting for us. Feel what they feel, and be grateful for whatever we have. So no complains, please.” Begitu selalu pesan saya pada anak-anak.

Sahur pertama kami di tengah pandemi.
Memang tidak mewah namun perut cukup terisi.
Bayangkan mereka yang puasa sepanjang hari.
Karena tidak ada apapun untuk memenuhi gizi.

Be grateful, Nak.
Jika kamu pikir hidupmu sulit, coba berada di sepatu orang lain.

Be kind.
Kita tidak pernah tahu bahkan merasakan kesulitan yang dilalui sebagian manusia di tempat dan belahan bumi yang lain.

Puasa bukan hanya urusan perut semata. Di dalamnya terkandung ajaran tentang kesabaran, cinta kasih pada sesama, dan kepekaan pada sekitar. Puasa juga seharusnya mengajarkan kita memiliki kemampuan untuk menahan diri sendiri tanpa kepongahan untuk minta dipahami secara berlebih.

Selamat berpuasa, sehat senantiasa.

Love, R

#rumahmediagrup #wcr #tantanganmenulis #rereynilda

Teror part 1 Oleh Deesa Rahma


Teror
Part 1
Deesa Rahma

Khusus kos putri. Tulisan itu tercetak jelas di gerbang rumah berlantai dua. Terlihat sedikit seram. Dengan halaman besar dan taman kecil yang ditumbuhi pohon mangga beserta bunga rumput warna warni.

Sore ini aku pindah kos. Kerena esok hari pertama aku mulai bekerja di rumah sakit baru. Jarak kosku yang lama jauh dari tempat kerja baruku. Jadi, dengan sangat terpaksa, aku mencari tempat kos baru.

“Ini kunci kamar kosmu. Sudah bisa ditempati, karena sudah dibersihkan oleh Bibi. Kalo mau dipel lagi, silakan. Maaf mungkin agak lembab, karena sudah dua tahun tak berpenghuni,” ujar Ibu kos panjang lebar. Aku hanya mengangguk sambil menerima kunci yang disodorkannya.

“Oh, iya, peraturan di sini sangat ketat. Setiap penghuni kos, wajib jaga kebersihan kamar kos dan lingkungan kos. Pulang malam paling telat jam sepuluh. Jika memang harus pulang larut, beritahu saya atau Bibi. Tidak boleh bawa laki-laki ke kos ini, kalo diantar cukup sampai depan gerbang aja. Ketahuan bawa laki-laki masuk, saya usir kamu,” lanjutnya.

“Baik, Bu.”

“Oke saya pergi. Oh ya, untuk uang kos, kamu bayar nanti aja setelah kamu menempati kamarnya selama seminggu. Dirasa betah silakan lanjut, kalau gak betah silakan pergi dan tak usah bayar.”

Aku sedikit terkejut. Karena baru kali ini ada kos-kosan yang bisa uji coba dulu. Di sini ada 20 kamar, hampir semua terisi. Tersisa kamar yang akan aku tempati. Kamar nomer tiga belas.

Ada apa dengan kamar ini, sampai tak ada yang ingin menempati?

Bersambung ….

#rumahmediagrup #tantanganmenulis #deesarahma #wcr

S U S A H


S U S A H

Waktu masih bekerja sebagai awak kabin dulu, saya berbagi kamar dengan teman sejawat yang bukan sebangsa. Namanya Salwa, berkebangsaan Maroko.

Bagaimana cara saya beradaptasi? Mudah? Absolutely not. Sama sekali tidak. Susah!

Salwa adalah jenis perempuan yang lumayan sulit. Sulit berbagi, sulit untuk dipahami, dan sulit untuk memahami orang lain. Saya juga tidak berusaha mengulik latar belakang kehidupannya yang mungkin menjadi salah satu sumber perilakunya.

Sebenarnya ia baik, paling tidak untuk saya. Hanya saja karakternya memang ajaib dalam beberapa hal. Misalnya, ia melarang saya untuk mengganggunya ketika tidur. Bahkan derit pintu yang terbuka pun bisa membuatnya marah dan ngomel seharian. Tapiiiiii, ia dengan cueknya akan memutar kaset lagu Arab kesukaannya dengan keras tanpa peduli bahwa saya sedang melakukan ibadah.

Ia melarang kami, teman seapartemennya yang semua WNI, untuk membuka pintu dapur ketika sedang memasak. Bau, katanya. Padahal kalau dia sibuk di dapur, kami tidak keberatan dan tidak ada yang protes dengan bau masakannya. Hahaha!

Ia juga kerap bercerita tentang bagaimana teman sekamarnya dulu selalu bergosip dan menceritakan hal buruk tentang dirinya. Padahal saya juga tidak kenal dengan si mantan teman.

Banyak lagi suka duka saya lalui selama tinggal di asrama khusus untuk awak kabin itu bersama Salwa. Namun pelajaran apa yang bisa saya petik darinya?

Jangan jadi orang yang susah dan nyusahin orang.
Jangan jadi orang yang ribet dan ngeribetin orang.
Jangan jadi orang yang terlalu mikirin apa kata orang, karena bisa jadi orang itu sebenarnya sama sekali tak punya waktu untuk memikirkan segala polah kita.

Jangan terlalu repot memikirkan semua hal yang bukan urusan kita. Sibuk saja sama perbaikan pribadi biar banyak disayangi.

Untuk para ibu, fokus saja dengan bagaimana mengarahkan karakter anak sebagai bekal hidupnya kelak ketika harus tinggal berjauhan dengan kita. Sehingga mereka kelak tidak perlu tumbuh menjadi manusia yang susah bin sulit seperti mantan teman kamar saya.

Untuk para bapak, sibuk saja membangun bonding dengan anak-anak di rumah, agar mereka tidak kekurangan kasih sayang dan melampiaskan kekosongan hatinya di luar.

Be kind, be true to yourself, and be genuine.

Love, R

PIHU … Nasibmu


PIHU … Nasibmu

Pihu adalah sebuah film bergenre thriller yang dirilis pada tahun 2018. Sudah lama saya penasaran ingin menonton. Tapi lagi-lagi saya terlalu takut. Selain takut pada cerita Suzana, saya juga luar biasa penakut menonton film yang diperankan oleh anak-anak.

Saya takut mereka terluka. Saya takut melihat mereka sakit. Saya takut melihat mereka sedih. Saya memang penakut sekaligus cengeng.

Ketika film ini dirilis dan memenangkan penghargaan di beberapa ajang bergengsi, saya luar biasa penasaran. Terlebih lagi film ini diadaptasi dari cerita sebenarnya tentang seorang anak yang kisah dan beritanya pernah menghiasi layar televisi lokal sekitar tahun 2014.

Tidak banyak aktor dan aktris di film ini. Hanya seorang bocah berusia 2 tahun bernama Pihu dan sang ibu yang terbaring di atas tempat tidur … dalam keadaan meninggal. Pihu tidak menyadari sang ibu sudah pergi dan meninggalkannya di rumah itu sendiri.

Pesta ulang tahun meriah Pihu malam sebelumnya, ternyata berujung tragis. Ia terjebak di rumah itu sendirian dengan jasad sang ibu. Ayahnya diceritakan sedang melakukan perjalanan dinas ke kota lain. Pihu benar-benar sendiri.

Miris dan ndredeg hati saya melihat ia mengurus dirinya sendiri. Pergi ke toilet, menggosok gigi, sambil memanggil-manggil sang ibu yang dari tangannya jatuh sebuah botol kecil berisi beberapa butir obat berwarna putih. Pihu yang kelaparan pun turun ke dapur untuk mencari makan.

Ia menemukan sink yang airnya mengalir dan tidak mampu meraih tap untuk menutupnya. Ia membuka lemari pendingin dan nyaris terkunci di dalamnya. Jemarinya yang kecil pun lincah menyalakan kompor namun tidak tahu bagaimana harus mematikan. Ia bahkan nyaris meminum cairan pembersih lantai yang nampak seperti susu murni yang biasa ia minum.

Darn! This is crazy! Jantung saya rasanya berhenti berdetak! Berdesis saya bahkan memberitahunya dari tempat saya duduk, “Be careful Pihu! Electricity! You’re gonna get electrocuted! Oh my God! Get away from the balcony! Gosh! Where are your neighbours?”

Sejak menjadi seorang ibu hati saya memang mudah ciut! Ya Tuhan. Tidak mengenakkan sekali rasa ini!

Banyak tema hendak diangkat oleh sang sutradara di film ini. Menarik melihat sosok Pihu menjadi sentral, sementara tokoh lain hanya berupa suara atau bayangan. Beberapa titik fokus seperti botol obat yang berserakan, tanda-tanda merah pada wajah dan lengan sang ibu yang terbaring kaku, menjadi inti dari cerita ini. Selain perjuangan Pihu sebagai seorang bocah berusia 2 tahun yang harus mempertahankan hidup sendiri.

Jalan cerita dan kejadian yang melatarbelakangi penderitaan Pihu digambarkan lewat dialog yang terjadi melalui sambungan telpon. Menarik kan?

Pihu … semoga tidak ada anak kecil yang bernasib sepertimu. Memiliki ibu yang tidak pikir panjang dulu. Karena emosi yang begitu menggebu. Walau bisa dipahami ini adalah klimaks dari segala amarah yang hanya mendapat jawaban semu.

Bagaimana akhir cerita Pihu? Nonton sendiri ya. Saya tidak mau jadi spoiler. Pesan saya hanya satu, bersiaplah jantungmu terpacu. Apa mungkin hanya saya saja yang lebay akut?

Love, R

Sumber foto: Google

#rumahmediagrup #tantanganmenulis #rereynilda

Ramadhan Day 1


Ramadhan Day 1

“Bunda, can we sleep now?”
“Nope. One of you sweep the floor, one of you wash the dishes, Rayyan throw the rubbish.”
“That’s it?”
“Nope. You have to bathe first and after that you have options to choose. Sleep first then wake up at 12 noon to finish your school assignments or do your work first then sleep after Dzuhur.”
“Can we sleep first?”
“Okay. I’ll wake you up after my tahsin class finish then.”

After one hour.

“Why are you two still talking? I thought you said you want to sleep? And Rayyan why are you still playing with your toys? I thought you said you were sleepy too?”
“We can’t sleep yet.”
“Okay, wake up and do your school works now.”
“But … but.”
“No buts! I gave you options, you have made your choices but you didn’t do. What time is it now? You have responsibilities to do. So wake up now and finish your works.”

Semua pun njenggirat bangun dan mulai mengerjakan tugas sekolahnya.

Puasa bukan berarti bisa seharian bermalas-malasan nak. Kewajiban tetap kewajiban. Tugas sekolah tetap kewajiban yang harus kalian kerjakan dengan tuntas. Tugas bunda mengingatkan, mendampingi, dan mengajarkan hikmah dibalik puasa.

Puasa bukan hanya tentang tidak makan dan tidak minum. Bukan juga tentang tidur seharian dan tidak melakukan apapun. Puasa tidak seharusnya menjadikan kalian lemah dan lemas seharian. Puasa seharusnya mengajarkan kalian arti kesabaran dan being grateful. Bersyukur atas semua berkah yang dilimpahkan pada dirimu.

Nevertheless, puasa tahun ini nyatanya adalah ujian kesabaran yang cukup tinggi buat saya. Sejak wabah merebak tugas saya bertambah, karena pagi hari harus mendampingi Rayyan mengerjakan tugas sekolah yang tidak sedikit jumlahnya. Namanya bocah. Disuruh mengerjakan tugas, katanya ngantuk. Diberi keleluasaan tidur, malah main. Disuruh duduk depan laptop, mendadak lemas dan ngantuk lagi.

Ya, salam! Apa sih maunya?

Rasanya ingin meneguk secangkir kopi hangat sebagai penenang jiwa. Eh, puasa! Saya pasang masker saja lah. Sebagai penahan diri untuk tidak ngomel selama puasa.

Sabar bunda … sabar.

Love, R

#rumahmediagrup #tantanganmenulis #rereynilda #ramadhan

Jenang Grendul Mama


Jenang Grendul Mama

Ma, kangen deh makan jenang grendul tiap buka puasa dulu.
Aku mau bikin tapi hasilnya tidak sama dengan bikinanmu.
Tadinya sangat berharap bisa melewati Ramadhan ini bersamamu.
Apa daya kita terpaksa melaluinya berjauhan dulu.

Dua Ramadhan yang lalu beruntung sekali bisa kita lewati sebagai sebuah keluarga yang utuh.
Aku tahu sejak di bangku kuliah putri kecilmu ini sudah melesat pergi jauh.
Apalagi ketika pilihannya untuk bekerja membawanya ratusan mil jauhnya darimu.
Menikah pun dipilihnya lelaki dari negara seberang pulaumu.

Ma, aku rindu.

Rindu menikmati penganan buka puasa hasil tanganmu.
Takjil yang manis bak senyummu.
Nasi dan lauk pauk sederhana yang mengenyangkan dahagaku.
Tawa candamu yang selalu membuat perutku kaku.
Obrolan seru tentang ini itu.
Kadang hal-hal receh yang enggak puguh.

Aku rindu.

Ma, jika wabah ini kelak berlalu, tunggu aku pulang ke rumahmu.
Membawa sejuta rindu tentang dirimu.
Membawa perut kosong yang rindu masakan khas Ramadhan mu.
Membawa tenggorokan yang clegak-cleguk membayangkan jenang grendulmu.

Sehat selalu ya Ma.
Kita bisa melalui ini semua dengan selamat bersama.
Walau aku di sini dan kau di sana.
Langit yang kita pandang toh tetap sama. Kenangan akan jenang grendulmu bahkan tetap terasa di ujung lidah.

Selamat berpuasa Ma, semoga 30 hari yang indah terlalui dengan sukacita.
Walau kita tidak bertatap muka dan bertukar pandang.

Untukmu semua, cintai keluarga dan sekitar yang utama.
Karena terpisah jarak dan waktu itu sedih rasanya.
Bumi ini, biar ia membersihkan diri seutuhnya. Sudah terlalu lama ia menderita karena tangan-tangan manusia yang tinggal di dalamnya.

Love, Reyn

reynsdrain

#TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Ramadhan #Rereynilda

Secangkir Kopi Hangat Emak (The Promise)


Secangkir Kopi Hangat Emak
(The Promise)

“Can we make a promise before we sleep?”
“Okay,
Bunda.”
“I promise to be more patient while assisting you with your school assignments.”
“Yay!”
“But you have to promise me to be obedient and focus more on your school works.”
“Okay,
Bunda. I promise.”
“I’m not getting any younger,
Rayyan. I’m getting older and when I lose my temper, I suddenly got headache.”
“Come I massage you head.”
“Can you promise me first?”
“I promise,
Bunda. I’ll concentrate more on my works tomorrow so you will not get headache. Come I massage you now.”
“Thank you,
Nak. I love you.”
“I love you too,
Bunda. Please don’t get sick.”
“Then keep your promise.”
“Okay.”

Malam ini saya mengajarkan Rayyan artinya bertenggang rasa. Tepo seliro pada ibunya, yang sekarang harus mendampinginya belajar setiap hari.

Saya juga menunjukkan padanya bagaimana saya berusaha untuk berdamai dengan keadaan akhir-akhir ini. Pagi saya yang biasanya tenang, sekarang terpaksa harus menerima pekerjaan tambahan sebagai seorang guru. Ia memang belum bisa dilepas sendiri ketika mengerjakan tugas sekolahnya secara online, dan ini yang membuat saya sering hilang kesabaran. Terutama ketika melihatnya terlalu santai dan bermalas-malasan.

Saya berjanji padanya untuk lebih sabar dan pada saat yang bersamaan saya ingin ia juga berjanji untuk tidak memancing emosi saya. Ia harus tahu, it takes two to tango. Saya tidak bisa melalui semuanya sendiri. Ia harus ikut serta menjaga kesehatan psikis ibunya.

Moms, berhenti menganggap diri harus berkorban demi apapun. Belajar untuk melibatkan mereka yang tercinta demi menjaga kesehatan mentalmu. Lakukan apapun yang tidak membuatmu kehilangan kebahagiaan. Pengorbanan tidak harus berarti perampasan kebahagiaan.

Happy mom, happy home. Remember that.

Love, R

#challengemenulis #rumahmediagrup #rereynilda