The Journey (Makkah Al Mukaromah)


The Journey (Makkah Al Mukaromah)

Satu jam perjalanan dari kota Jeddah menuju Mekkah plus 8 jam perjalanan dari Singapura ke Jeddah ternyata tak cukup membuat semangat saya menurun. Kerinduan pada kota ini, begitu menguasai jiwa dan pikiran saya. Sesak, bahagia, haru, bersyukur, amazed … ahhh bercampur aduk menjadi satu.

Sesampainya di hotel, saya dan suami bergegas membersihkan diri. Tentu saja tanpa mengabaikan ketentuan-ketentuan dalam berihram yang kami lakukan di atas pesawat, ketika melintasi Miqot di Yalamlam.

Dengan degup jantung yang berdetak kencang, kami berjalan pelan menuju Masjidil Haram. Yang berjarak hanya sekitar 600 meter dari hotel tempat kami menginap. Suamiku mengenakan kain ihram putih bersih dan saya mengenakan abaya berwarna hitam hadiah dari seorang sahabat. Sahabat yang kusebut dalam setiap doaku untuk bisa segera datang dan mengunjungi tempat itu. Semoga.

Airmata terus mengalir sepanjang perjalanan menuju kesana di pukul 1 dini hari itu. Terlebih lagi, selama melakukan 7 putaran Tawaf. Ya Rabb, betapa rindunya hati ini mengunjungi rumahMu.

“Kembalikan kami bersama anak-anak dan keluarga ke tempat ini, lagi, dan lagi, ya Rabb Yang Maha Kasih. Pemilik sekalian alam beserta isinya.”

Tanpa putus, doa itu terus kupanjatkan sambil membayangkan paras mereka yang menangis dan bersedih ketika kami tinggalkan kemarin. Be strong kids. Kita akan bersama-sama kesini suatu hari nanti.

Tangisku kembali pecah ketika kami melakukan Sa’i. Membayangkan bagaimana perjuangan istri Nabi Ibrahim, Ibunda Hajar, ketika harus berjalan kaki seorang diri naik turun bukit antara Safa dan Marwah. Demi mencari air untuk sang putra yang masih bayi, Ismail, yang sedang kehausan. Saya, berjalan di dalam ruangan berpendingin, di atas lantai nyaman yang hanya lurus saja. Sementara Ibunda Hajar harus melalui jalan yang terjal dan berliku. Subhanallah perjuangan seorang ibu. Malu rasanya diri ini yang kerapkali mengeluh.

Selesai melakukan Sa’i, kami menanti saatnya Sholat Subuh. Penuh sesak setiap sudut Masjidil Haram, dari dalam hingga ke luar. Semua seakan berlomba melakukan ibadah di sana. Tentu saja. Jika ada pahala yang luar biasa besar, menanti kita.

Selesai melaksanakan sholat Subuh, saya mengantar suami melakukan Tahalul. Ia ingin mencukur habis rambutnya sebagai tanda ia telah mengakhiri ibadah umrohnya.

Alhamdulillah Ya Rabb!

“Fabbiayyialairobbikumatukadziban.”

Saya, menikmati setiap detiknya.

Saya, meresapi setiap lafaz doa.

Saya, menghirup bau harum rumah-Nya.

Saya, tak ingin melewati sedikitpun masa.

Maret 2019

(Bersambung)

Glossary:

Ihram: Larangan yang harus dipatuhi selama beribadah dimulai dengan berniat.

Miqat: Batas dimulainya ibadah umrah/haji.

Yalamlam: Jeddah

Tawaf: Mengelilingi Kabah dalam 7 kali putaran disertai niat ibadah.

Sa’i: Berjalan dari bukit Safa ke Marwah dan sebaliknya sebanyak 7 kali putaran. Berawal dari bukit Safa, berakhir di bukit Marwah.

Tahalul: Mencukur rambut sebagai tanda selesainya rangkaian ibadah.

(Source: “Menikmati Ibadah Umroh” Ustad Zaenal Satiawan, Lc. MA.)

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.