Jujur Berbuah Mujur


Jujur Berbuah Mujur

Pada suatu hari Toby, seorang anak kelinci mungil yang cerdas, berjalan kaki sendiri pulang dari sekolahnya. Ia memang harus pulang sedikit lebih lambat, karena pergi ke perpustakaan untuk mencari sebuah buku.

Beberapa langkah keluar dari gerbang sekolah, ia melihat sebuah benda berwarna hitam di jalan. Penasaran, ia pun menghampiri benda itu.

Wah! Dompet!

Sambil menengok sekeliling, ia mencari sang pemilik dompet. Tapi suasana di depan sekolah begitu sepi dan tidak ada satu orang pun yang nampak. Perlahan Toby membuka dompet itu dan nampak di dalamnya berlembar-lembar uang.

“Hmmm. Kebetulan aku sedang lapar. Mungkin kalau aku pakai uang ini sedikit, enggak apa-apa ya? Aku juga bisa membeli mainan yang kemarin aku lihat di toko dekat rumah. Atauuu, aku bisa pergi main games di TinyZone. Atauuuu … wahh! Aku bisa beli macam-macam, nih!”

Pikiran Toby pun melayang jauh, membayangkan kesenangan yang bisa ia dapat dari uang sebanyak itu. Ketika kemudian, sekelebat bayangan wajah Emak muncul.

“Tapi kan … Emak selalu bilang padaku untuk menjadi anak yang jujur. Tidak boleh berbohong dan tidak mengambil barang yang bukan milikku. Ahhh, bingung! Kalau aku ambil uang ini dan Emak tahu pasti ia sedih, atau mungkin marah. Hiyyyyyy ngeri aku membayangkan mata besar Emak melotot ketika marah.”

Tubuh kecil Toby gemetar dan pikirannya pun terbelah. Antara keinginan untuk jajan dengan menjadi jujur. Seperti yang kerap diajarkan sang Emak.

“Aku memang lapar sih, tapi Emak pasti sudah memasak makanan kesukaanku, sup wortel di rumah, dan masakan Emak sangat lezat. Aku juga ingin sekali membeli mainan, tapi kamarku sudah penuh dengan segala jenis mainan. Emak pernah bilang, kalau aku sudah besar dan tidak perlu mainan lagi. Kalau bermain online games, Bapak kan sudah mengizinkan aku bermain di komputer miliknya, walaupun hanya di ujung Minggu.”

Sambil duduk di bangku sebuah taman, Toby sibuk dengan pergulatan batinnya. Menimbang-nimbang keputusan apa yang akan diambil.

“Hmm … jadi, sebenarnya aku tak butuh apa-apa lagi. Lebih baik aku menjadi anak yang jujur dan membuat Emak dan Bapak bangga. Baiklah, aku cari alamat pemilik dompet ini saja lah. Kalau dekat aku antar, kalau jauh nanti aku minta Bapak yang mengantarkannya.”

Akhirnya Toby memutuskan untuk mengembalikan dompet itu. Ia kembali membuka dan mencari kartu identitas sang pemilik dompet untuk melihat alamatnya.

“Wah! Ternyata dekat sekali rumahnya dari sini,” ujar Toby. Dengan cepat ia berjalan mencari alamat sang pemilik dompet.

Sampailah ia di depan sebuah rumah bercat hijau. Di halaman depannya, ia melihat seorang bapak sedang menunduk seperti mencari sesuatu.

“Selamat siang, Pak.” Ujar Toby.

“Siang, Nak. Ada apa ya?” Tanya sang bapak kelinci yang berkacamata.

“Apakah ini rumah Bapak Keenan?”

“Iya betul. Saya Keenan. Ada apa ya, Nak? Ayo masuk sini. Kamu teman anak saya, ya?”

“Oh, bukan Pak. Saya Toby, murid sekolah depan sana. Tadi waktu berjalan pulang di dekat gerbang sekolah, saya menemukan dompet ini. Ada nama Bapak di dalamnya. Apakah ini milik Bapak?” Toby menyodorkan dompet hitam itu.

“Wahhhh! Betul sekali, Nak! Dari tadi saya kebingungan mencari dompet ini sepulang dari menjemput anak saya di sekolah. Terima kasih ya, Nak Toby. Kamu anak yang jujur. Orang tuamu pasti bangga padamu.”

“Wah, sama-sama Pak. Saya juga senang bisa membantu Bapak menemukan dompet ini. Baiklah, saya permisi dulu ya Pak.” Toby mengulurkan tangannya untuk menyalami sang bapak.

“Baik, Nak Toby. Salam saya untuk orang tuamu ya.” Ujar Pak Keenan sambil menepuk pundak Toby.

“Toby!!”

Tiba-tiba Toby mendengar seseorang memanggil namanya. Ia pun menoleh ke kiri dan kanan, mencari asal suara itu.

Seorang anak lelaki tampak berdiri di depan pintu rumah Pak Keenan.

“Lho, Ryan? Ini rumahmu?” Tanya Toby dengan heran.

“Hai, Toby. Ada perlu apa kesini, Bro?” Tanya Ryan sambil berjalan menghampiri Toby.

“Lho, kamu kenal dengan Toby, Nak?” Tanya Pak Keenan pada anak lelaki itu.

“Ini Toby, Yah. Teman baruku di kelas. Ia baru beberapa bulan pindah ke sekolahku. Ya kan, Toby?”

“Eh, iya, Ryan. Kamu juga yang pertama kali mengajakku bermain sepakbola di sekolah. Bapak Keenan ini ayahmu?”

“Iya. Oh, ini tadi aku menemukan kotak makan dengan namamu di kantin sekolah. Mungkin terjatuh, ya?” Kata Ryan sambil menyodorkan sebuah kotak makan berwarna hijau bekalku dari Emak.

“Waduh! Aku pasti tidak sengaja menjatuhkannya tadi. Terima kasih, Ryan! Kalau Emak tahu kotak makan Tapirwer ku hilang, bisa kena jewer aku! Nanti makin panjang telinga ini. Terima kasih, ya. Aku pamit pulang dulu. Permisi Pak Keenan.”

“Hati-hati Toby.”

Toby pun berlari secepat kilat pulang ke rumah, sambil mengucap syukur bahwa akhirnya ia memilih untuk jujur.

Untuuuung! Kalau tidak jujur tadi, kotak makan Tapirwer kesayangan Emak mungkin bisa jadi hilang. Phew! Mujuuuurrr!

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.