LOML


LOML

Jika teman-teman melihat saya beraktivitas, pasti semua akan berpikir, kok bisa sih? How? Bagaimana saya melakukan semua? Mengatur dan membagi waktu untuk melakukan hobi serta mengurus rumah tangga.

Belum lagi dari mana saya mendapat uang untuk menunjang semuanya? Hobi saya tidak murah, lho. Modalnya lumayan besar sementara saya hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak bekerja pula. Hanya sesekali mengerjakan pesanan katering rumahan saja.

Well, saya tidak melakukan semua sendiri. Saya punya support system penting dalam hidup. Begitu pentingnya sampai saya tidak rela menceritakan karena tidak ingin ada orang yang jatuh cinta padanya karena cerita saya.

Saya menyebutnya Suami. Ya, suami adalah support system terpenting dalam hidup saya saat ini.

Ia adalah orang pertama yang begitu paham bahwa sang istri bukanlah perempuan biasa. Biasa di rumah, biasa duduk diam sambil menonton tayangan televisi, biasa memerintah asisten, atau biasa meminta bantuan.

Sang istri adalah perempuan mandiri, yang terbiasa melakukan semua sendiri. Lengkap dengan kerasnya kepala ketika ada keinginan belum terpenuhi. Juga keingintahuan yang besar atas banyak hal, alias kepo sekali.

Saya bukan hanya istri yang bertugas menyiapkan makanan ketika ia pulang kerja, atau membereskan rumah tanpa kenal lelah. Saya adalah pasangan hidup yang ia letakkan sejajar dengan posisinya sebagai kepala rumah tangga. Saya adalah partner dalam cinta dan hidupnya.

Bagaimana ia memposisikan saya sejajar dengannya?

Berapa banyak suami yang begitu paham dan membiarkan sang istri mempelajari banyak hal selain hanya mengurusi dapur, sumur, dan kasur? Berapa banyak suami yang tidak membangunkan istrinya yang sudah ngorok ketika ia pulang malam? Berapa banyak suami yang tidak meminta disediakan makanan lengkap di meja dan dilayani bak raja?

Saya bisa bilang, tidak banyak tersisa. Beruntungnya saya, yang segelintir itu salah satunya menjadi milik saya. Beginilah ia menyejajarkan posisi saya sebagai istri, ibu, sekaligus teman hidup.

Ia, tidak pernah protes melihat saya menekuni beberapa hobi. Ia tidak pernah marah melihat saya membeli beberapa barang untuk menunjang semua kegiatan saya. Ia begitu mempercayakan urusan keuangan sepenuhnya pada saya. Tanpa pernah ribet dan ribut.

Amanah dan kepercayaan yang pada akhirnya dengan sepenuh hati saya pegang dan jaga baik-baik.

Ia juga tidak pernah membangunkan saya ketika pulang kerja dan mendapati saya sudah pulas terlelap. Lelaki baik hati ini tidak ingin tidur istrinya terganggu. Karena ia tahu saya pernah mengidap insomnia parah.

Ia hanya marah ketika saya lalai menjaga kesehatan karena terlalu lelah berkegiatan. Katanya, “kalau Bunda sakit, saya enggak tahu mesti melakukan apa.”

Ia menerima saya dengan segala kekurangan dan ketidaksempurnaan saya.

Walau tak banyak kata cinta terucap dan bunga diberikan, saya tahu ia adalah satu dari sedikit keputusan terbaik yang pernah saya buat selama ini.

Ia … cinta dalam hidup saya.

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.