Pulau Ubin


Pulau Ubin

“Pulau Ubin itu bagian dari Singapura ya?”

“Iya.”

“Oh, jadi enggak perlu passport kan, ya”?

Ya mana saya tahu kalau Pulau Ubin yang terkenal itu masih bagian dari Singapura. Lha begitu sampai sana, gawai saya menerima notifikasi roaming dari negara tetangga, kok. Hahaha.

Kemarin saya dan beberapa teman dari Geng Jalan-jalan mengunjungi sebuah pulau kecil seluas 1000 hektar lebih di sisi timur laut Singapura. Namanya Pulau Ubin. Kenapa ubin? Saya pun tidak tahu pasti, karena pulau ini tidak berbentuk seperti ubin melainkan menyerupai bentuk sebuah bumerang.

Untuk mencapainya kami harus menaiki sebuah boat dari Changi Village terminal dan butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di sana.

Biayanya tergantung dari berapa penumpang yang naik, karena harus memenuhi kuota 10 orang per trip, dan kami membayar $3 untuk keberangkatan.

Hore! Sudah sampai! Saya sudah membayangkan akan berjalan kaki menyusuri semua sudut pulau ini. Namun ternyata, kami pergi ke tempat penyewaan sepeda. Ya, salam! Saya terakhir kali menggowes sepeda ketika sekolah dasar dulu. Beberapa kali sih mengelilingi pantai East Coast dengan sepeda, tapi hanya berjarak dekat. Tangan saya sudah gemetar memegang handle sepeda, dan tubuh ini saya rasanya sudah terlalu berlemak untuk mengayuhnya lama-lama.

Tapi, kemon lah! Siapa takut? Mari kita nggowes lagi di Pulau Ubin! Oh ya, biaya sewa sepeda ini $7 dari jam 8 hingga 6 petang.

Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan cantik ala tahun 1960 an dengan rumah panggung dan perkampungan penduduk. Pemandangan yang sudah tidak nampak lagi di tengah kota Singapura.

Banyak sudut menarik di pulau ini, termasuk sebuah rumah berbentuk agak menyeramkan buatan tahun 1930 an bernama Chek Jawa. Konon katanya dulu bangunan bernomor 1 ini adalah sebuah villa tempat peristirahatan. Sekarang bangunan unik ini berfungsi sebagai pusat informasi bagi para pengunjung pulau.

Dari rumah ini bisa kita lihat pemandangan Pulau Sekudu dan daratan Singapura. Mesmerizing. Betah rasanya berlama-lama duduk memandang lautan lepas di hadapan saya.

Hari beranjak siang dan kami menutup perjalanan ini dengan menyusuri sudut berpasir putih, hutan dengan pohon-pohon besar dan tinggi, juga mangrove alias hutan bakau. Kami bahkan sempat melihat seekor monitor lizard di sana. Juga beberapa monyet dan seekor ular.

Awalnya saya begitu kegirangan melihat jalur yang turun karena kaki ini sudah lelah rasanya mengayuh sepeda. Asik! Bisa santai tanpa perlu mengayuh pedal sepeda, nih!

GUBRAK!

Apa daya, saya ternyata tidak mampu mengendalikan sepeda di jalur yang awalnya menyenangkan itu. Saya tersungkur dengan sukses ke semak-semak berduri dengan sepeda menindih badan. Ya, salam!

Beruntung tidak ada luka pada kulit. Saya bahkan tidak menyadari memar yang muncul di lengan jika saja si bungsu tidak menjerit melihatnya ketika saya sampai di rumah.

“Bunda! What happen to you? Oh my God! Are you okay? Come, I massage your arm.”

Ah, so sweet of you Rayyan. Ini oleh-oleh Pulau Ubin, Nak. Kapan-kapan kita ke sana, ya. Enggak usah bawa sepeda. Hahaha!

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.