Gagap Bahasa


Gagap Bahasa

Februari ini, genap 14 tahun sudah saya tinggal di negara multirasial ini. Banyak suka duka saya lalui. Walaupun lebih banyak suka dan bahagia dibandingkan duka. Iya, lah. Di mana pun asalkan suami dan anak-anak di sisi, nothing else matter. Caelah!

Saya mencintai negara ini seperti cinta saya pada negeri kelahiran. Hidup begitu tenang dan tenteram. Berinteraksi dengan beragam budaya, suku, ras, dan agama menjadi hal yang sangat menyenangkan. Satu-satunya kendala di masa awal tinggal di sini adalah bahasa.

Ya. Saya sempat terkaget-kaget mendengar bagaimana penduduk setempat berbicara, terutama mereka yang berusia lanjut. Bahasa Inggris yang tidak sesuai dengan aturan baku, bercampur dengan dialek salah satu etnis yang menghasilkan bahasa baru yaitu Singlish.

Saya mengalami gagap bahasa.

Suatu hari saya pergi ke sebuah kedai untuk membeli tepung. Karena bingung mencari di mana tepung itu berada, saya pun bertanya pada sang penjaga toko. Seorang aunty yang ramah dan berusia sekitar 50 tahunan lebih.

“Hi Aunty. Do you have plain flour?”

“Huh? Plain flower? We don’t sell flower here, le.”

Lah? Kok kembang? Saya tanya tepung, kenapa jadi kembang?

“Oh no no no. I’m not looking for flower. I want to buy flour. Do you know? For baking. Flour. Plain flour?”

“Aiyo! Flower no have here. You go market there got flower.”

Duilah, ini orang. Saya itu mau cari tepung, dari tadi kembang-kembang saja!

“Aunty, I want to buy flour. F L O U R. For baking. Do you know? White? Powder?”

“Aiyaaa! You want vla ah? Why tell me flower flower? Come come I show you the vla rack.”

Lah? Kenapa jadi vla? Saya minta flour alias tepung tapi dia mau ngasih vla. Emangnya mau bikin puding? Tapi saya ikuti saja ia berjalan masuk menuju sebuah rak.

“Nah. This one plain vla. Correct anot?”

“Ah, yes. This one. Plain flour.”

“Aiyoooo! It’s vla lah not flower!”

Ya salam! Sejak kapan cara mengucapkan flour berubah jadi vla? Tepok jidat bener ini.

Gagap bahasa kedua saya alami lagi. Di kesempatan itu saya sedang berjalan dengan Lara yang baru berusia 2 tahun dan bertemu dengan seorang aunty (lagi).

“Hello geger … so cute, ah! Come Aunty give orange. Come geger!”

Geger? Ngapain si aunty ngomongin geger? Ada apa sih di punggung saya? Sambil berusaha mengecek apakah ada sesuatu menempel di punggung. Sambil berpikir, dari mana ia tahu bahasa Jawa. Karena geger dalam bahasa Jawa berarti punggung.

“Comeee gegeerrr. Come here!”

Ih, geger lagi. Apaan sih ini aunty? Karena penasaran, saya pun menghampirinya.

“Yes, Aunty?”

“Come, Mommy, Aunty give these oranges to geger.” Katanya sambil menyodorkan dua buah jeruk pada Lara.

“Ahh so cute you geger. Happy New Year to you!”

Jadi, GEGER itu maksudnya GIRL? Ya salam!

“Thank you, Aunty. Happy New Year!”

“Bye, geger.”

Hahahaha! Geger … geger! Emak sampai keder!

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.