Experience … Expensive


Experience … Expensive

“Mmmm … Bunda.”

Yes, Kakak?”

“Mmmm … There’s something wrong with my scarf.”

Huh? What’s wrong with it?

“Mmmm … could you come over, please?

Saya sudah curiga, karena tahu ia sedang menyetrika seragam sekolahnya malam itu. Benar saja, scarfnya bolong kena mesin setrika panas!

Ya, salam! Padahal hari ini ia harus memakai scarf itu ke sekolah. Saya belum membelikan cadangannya karena berpikir tak perlu. Toh, hanya dipakai sekali dalam seminggu yaitu setiap hari Senin.

Sesungguhnya, sedia payung sebelum hujan adalah benar adanya. Sedia scarf cadangan sebelum satu-satunya scarf berlubang.

What did you do?”

“I don’t know. I just ironed, Bunda.”

“I’ve already told you that you should change the iron mode to silk. Because this scarf’s material is silk. Don’t you remember?”

“No I don’t. Sorry, Bunda.”

“Well, what can we do? Now I have to figure out how to clean this iron and you have to think how are you going to school tomorrow without your scarf.”

“Sorry, Bunda. Are you angry at me?”

“Why should I? It already happened. Learn from this mistake, okay? Next time listen to instructions delivered to you. If you are unsure, ask first. Okay, Kakak?”

“Okay, Bunda. I will ask the book shop tomorrow, I hope they sell the scarf.”

“Okay. I’ve cleaned the iron, you can continue to do your blouse. Be careful!”

Marahkah saya?

Saya memang dikenal sebagai ibu yang bawel, cerewet, dan gampang marah. Buat saya, sabar itu bukan perkara mudah. Bertahun-tahun saya belajar untuk sabar dan mengendalikan emosi. Karena gampang sekali melihat saya melotot dengan urat leher yang keluar semua. Dibanding melihat saya diam dan tetap tersenyum ketika ada sesuatu hal yang tidak saya sukai.

Semalam, saya dengan bangga menepuk pundak sendiri dan bilang, “I’m proud of you, Bunda!” Hahaha.

Ya, semalam saya sama sekali tidak marah. Saya duduk dengan Lara dan berbincang tentang scarfnya yang bolong. Ia tampak takut melihat reaksi saya. Tapi saya bukannya marah malah bilang kalau semua ini adalah proses belajar.

Pengalaman itu mahal, Nak karena ia adalah guru yang terbaik. Darinya kita tahu apa yang benar setelah melakukan suatu kesalahan. Belajar dari kesalahan untuk menjadi lebih baik. Itu yang penting, Nak.

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.