Rayyan The Strongest


Rayyan The Strongest

“Madam, we have to make blood test to check whether your son got dengue.”

Saya tertegun lama sekali ….

Bagaimana saya harus membuat Rayyan tidak meronta kala lengannya harus ditusuk jarum. Lantas, diambil darahnya … dalam kondisinya yang lemah karena demam tinggi yang tak juga turun. Bahkan setelah saya berikan obat penurun panas dan juga memandikan untuk menurunkan suhu badannya.

Saya hanya punya waktu setengah hari untuk berpikir cepat dan mencari cara untuk mengatakan hal ini, pada seorang anak berusia empat tahun.

“Mmm … Rayyan, how old are you?”

“Four years old, Bunda.”

“Wow! Such a big number. Are you a strong boy?”

“Yes I am. Look at my muscle, Bunda.”

“Yes! That’s cool. Mmmm … do you want to have super power?”

“Yesss! I want to have super power!”

“Are you sure? But to get the super power you have to be even stronger you know?”

“I can, Bunda. I will be stronger!”

“Okay. Now listen, later a super nurse will insert something into your skin. You will see red liquid coming out. That red liquid is the super power you are going to get. Are you ready?”

“Yesssss, Bunda. I’m ready!”

“Are you a strong boy?”

“Yes, I am!”

“I will hold you when super power is transferred, okay?”

“Okay, Bunda!”

Dengan menggenggam tangannya, kami berjalan menuju ruang pengambilan darah dan duduk di sebuah kursi. Sementara beberapa suster mempersiapkan peralatan. Mereka mengatakan bahwa akan ada dua orang suster yang memegang Rayyan supaya ia tidak memberontak. Dengan tersenyum saya menjawab,

“It’s ok, Nurse. Let me hold him. He is a good boy and he’s ready to get the super power.”

Mereka semua tertawa walaupun terlihat tidak yakin.

“Okay Boy, are you ready?” Tanya sang suster.

“Are you ready for your super power, Rayyan?”

“Yes, Bunda.”

“I love you.”

“I love you more, Bunda.”

“Do you want to see or do you want to close your eyes?”

“I want to see.”

“Okay. I’m so proud of you.”

Ia tersenyum.

Saya berdoa dalam hati semoga ia tidak segera sadar bahwa ia akan merasakan sakit. Proses pengambilan darah pun dimulai. Sepanjang proses saya terus mengajaknya bicara tentang para super heroes yang biasa kami tonton di televisi.

Ajaib. Dengan berani ia melihat semua proses pengambilan darah … dan tidak menangis sama sekali dalam pelukan saya.

Apa yang saya lakukan sebenarnya hanya semacam sugesti pada Rayyan, untuk mengalihkan rasa sakitnya dengan menghindari kata suntikan, sakit, darah, dan takut. Terutama dalam situasi, yang bagi bocah seusianya, lumayan mengerikan dan berpotensi memunculkan stress.

“Wow! You are such a great mother, Madam! That was incredible. He is our first little patient that’s not crying and kicking during blood test! You are such a brave mother! I love how you handle him. Such a great way to calm him down.”

“No I’m not brave. My son is.”

“Yes! You are very brave too, Boy!”

“Thank you. Am I powerful now, Bunda?”

“Yes you are, Nak. The most powerful and the strongest,” ujar saya sambil tersenyum.

Ah, bahagianya saya.

Setelah bertahun-tahun menjadi seorang Ibu, ternyata saya baru menyadari … saya punya bakat menjadi pemain sinetron.

rumahmediagrup/rereynilda

One thought on “Rayyan The Strongest

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.