Entrepreneurship – There’s Always The First Time


Entrepreneurship – There’s Always The First Time

Lara, Lana … come here, please.”

“Yes, Bunda?”

“Look. What do you think of these keychains?”

“Oh my! So pretty! Did you make them?”

“Yep. You know what, how about you sell these keychains to your friends?”

“Yay! I want!”

Mulai lah saya mengajarkan mereka menghitung harga. Dimulai dari modal, biaya pembuatan, dan berapa keuntungan yang diharapkan. Saya juga mengajarkan mereka untuk menitikberatkan selling point kepada para pembeli. Bahwa ini adalah handmade bukan buatan masal dari satu pabrik, sehingga semua memiliki bentuk yang berbeda-beda, dan dibuat dari bunga asli yang dikeringkan bukan plastik. Kecuali satu set gantungan kunci yang bandulnya berbentuk sama.

Akhirnya kami bersepakat dengan satu harga dan mereka segera mempromosikan barang dagangannya melalui media Whatsapp Group. Kebetulan saya membuat banyak gantungan kunci berbahan resin dan bunga kering kemarin.

Mulailah mereka sibuk menerima pesanan dari beberapa temannya. Saya lalu mempersiapkan packaging dan mereka mencatat semua pesanan beserta jumlah uang yang harus dikumpulkan.

Saya mengharuskan mereka mengembalikan modal dan biaya pembuatan pada saya. Jadi mereka harus mencari keuntungan sendiri, berapapun jumlah yang dirasa pas.

Bunda, this is my list of buyers, and the amount of money they have to pay.”

“Lho? Kok jadi murah harganya, Dek?”

“I let them bargain because some of them only have a little amount of money, Bunda. I don’t have the heart to ask more. Sorry, Bunda. I think I’m bad at selling.”

“Ahhh … you’re very kind , Nak. It’s okay, there’s always the first time. Next time, please stick to the price that we have already discussed. You can give discount if they bought a lot. But it’s okay, I will low the price for your school friends. Thank you, Sayang.”

“Sorry, Bunda.”

“No worries. You did a great job!”

“Thank you. Oh, I got more buyers, Bunda! Yay!”

Lana … Lana. Beruntung sekali calon pembeli kalau penjualnya berhati baik sepertimu. Bisa-bisa malah dikasih gratis.

Jadi inget Mama saya, sewaktu ia masih memiliki usaha salon di rumah. Saking baik hati dan tidak teganya, ia memperbolehkan pelanggannya membayar jasa mengeriting rambut dengan seplastik jambu air. Jambu air, Bok!

Ia bahkan selalu memberikan potongan harga pada pelanggan yang menurutnya tampak susah. “Kasihan ah, kayaknya mukanya lagi susah.” Hahahaha! Mama … Mama.

Bunda, eeee … can I give my friend eeee … one free keychain for her sister?”

Ya, salaam. Kapan untungnya jualan kalo begini, Deeekkk.

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.