Rumput Tetangga Lebih Hijau?


Rumput Tetangga Lebih Hijau?

“Bermula dari titik awal … setelahnya tidak akan kembali”.

Sebaris kata ini terlontar dari bibir seorang pembaca kartu Tarot di film berjudul “Rumput Tetangga”. Film bergenre komedi yang diperankan Titi Kamal, Raffi Ahmad, Donita, dan lain lain, yang saya tonton kemarin.

Film bertema komedi yang justru sukses membuat saya berlinang air mata, dan membawanya hingga ke hati. Lebay? Tonton sendiri, dan lihat apa yang terjadi.

Mengapa film ini begitu membekas di hati saya? Tokoh Kirana yang diperankan Titi Kamal seperti sebuah “tamparan” untuk saya. Ia adalah seorang ibu rumah tangga beranak 2. Sehari-hari hidupnya hanya dipakai untuk mengurus 2 buah hati dan suaminya saja. Walau saya sedikit heran, kenapa ia begitu rempong padahal anaknya hanya 2. Hahaha!

Anyways, Kirana dulunya adalah seorang murid berprestasi. Ia ketua OSIS, juara kelas dan sekolah, kuliah di sebuah Universitas ternama, dan dipercaya kelak akan menjadi seorang wanita karir berjabatan tinggi. Nyatanya, ia “hanya” menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga saja.

Pertemuan dengan seorang pembaca kartu Tarot di malam reuni sekolah, mengantarkannya pada ungkapan penyesalan tentang hidupnya sekarang. Ia ternyata masih memendam keinginan menjadi seorang wanita karir yang sukses, seperti sahabatnya Diana, yang diperankan oleh Donita.

Namun ketika keinginannya terwujud, dan ia bertukar peran dengan sosok Diana, apa yang terjadi kemudian? Nonton sendiri, ya. Saya tidak mau jadi spoiler. Hahaha!

Apa yang membuat saya menangis adalah, saya pernah punya penyesalan ketika karir saya hanya berakhir sebagai seorang ibu rumah tangga saja. Pekerjaan yang tidak mudah, tidak bergaji hanya “bergajih” 🤣, sehari-hari hanya berteman para panci, pampers, dan berseragam daster kumal. Saya yang dulu selalu berdandan cantik, dan menghabiskan hari hanya dengan belanja atau nongkrong cantik, harus rela beralih profesi yang tidak ringan.

Saya bukannya tidak pernah iri sekarang, melihat teman-teman pramugari berkeliling negara, menenteng tas belanjaan, berpindah hotel mewah, dan berswa foto cantik. Seperti layaknya kehidupan saya dulu.

Namun, maukah saya menukar itu semua jika punya kesempatan? No, thank you. Saya tidak akan mau menukar semua yang saya punya sekarang dengan apapun itu. Apalagi yang hanya bersifat kesenangan sementara dan semu.

Saya bahagia, and that what matters the most.

Sebagai ibu rumah tangga, 24 jam dalam seminggu, saya banyak memiliki waktu luang. Apalagi ketika semua sudah beranjak dewasa, tidak serepot ketika mereka kecil dulu. Untuk mengisi waktu luang saat ini, saya banyak menambah ilmu dan keahlian.

Kebetulan saya tidak terlalu suka nongkrong menghabiskan waktu di luar rumah. Sesekali boleh lah, walau saya lebih suka menghabiskan waktu dengan para sahabat di rumah saya sendiri. Daripada uang jajan saya hanya berakhir di meja arisan atau cafe terkenal, saya lebih baik mengalokasikannya untuk sesuatu yang berguna. Misalnya, dengan mengikuti kelas membuat kue, atau menghasilkan beberapa bentuk kerajinan tangan.

Saya juga masih memasak pesanan beberapa teman dan menjalankan usaha katering rumahan. Apa saja akan saya lakukan untuk sekedar menghindari kebosanan dan kemalasan diri. Tapi bagaimana saya bisa bosan menjadi ibu rumah tangga, sih? Kalau setiap hari ada pelukan dan kata cinta dari 4 kesayangan saya di rumah? Sesuatu yang tidak akan saya temukan di luar sana.

Priceless!

Jadi, jangan berpikir bahwa menjadi ibu rumah tangga itu lantas harus membuat kita stuck di rumah saja. Lakukan sesuatu, Moms. Kembangkan dirimu bukan hanya ukuran baju 🤣, belajar banyak hal baru, dan bahagiakan dirimu. Karena saya percaya, ibu yang bahagia akan membuat seisi rumah bahagia. Trust me.

Berikut ini adalah beberapa cara saya menyiasati kejenuhan:

1. Ikuti kelas-kelas pengembangan diri.

Tidak selalu harus hal yang kita sukai. Sesekali keluarlah dari zona nyaman dan ambil semua tantangan. Bagi saya yang tidak suka membuat kue, mengikuti kelas baking walau dengan susah payah, ternyata cukup membuat bahagia. Enggak perlu muluk ingin menjual hasil karya, cukup dengan bisa membuatkan cake ulang tahun untuk yang tercinta sendiri saja.

2. Menggali kemampuan pribadi dan memiliki hobi

Tidak melulu kemampuan atau hobi yang telah kita kuasai, tapi bisa dengan mencoba banyak hal baru tanpa kecuali. Jangan menutup diri dan yakin lah bahwa kita mampu dan bisa. A hobby a day, keeps the wrinkle away, lho. 🤣

3. Berkumpul dengan teman yang seru

Tidak perlu harus memaksa diri untuk ikutan jadi sosialita sejati. Karena teman yang seru bisa diajak berdiskusi tentang segala sesuatu, tanpa perlu menghabiskan uang untuk sekedar nongkrong yang tidak perlu.

4. Delegasi tugas

Mengajarkan anak-anak untuk akrab dengan pekerjaan rumah memang melelahkan. Namun hasilnya kelak akan manis, ketika raga sudah tidak lagi muda dan melemah. Bantuan semua penghuni rumah untuk sang Ibu akan menjadi samgat berarti. Alah bisa karena biasa. Life skills ini kelak akan berguna untuk mereka.

5. Me Time

Miliki lah sedikit me time. Saya biasanya akan duduk sekitar 1-2 jam untuk meneguk secangkir kopi hangat setelah semua keluar rumah. Kadang saya habiskan waktu sendiri itu untuk membaca buku, mengerjakan soal latihan pelajaran online, menulis, atau sekedar membaca postingan di sosial media. Yang bagus saya baca dengan teliti, yang kurang menyenangkan akan saya lewati, karena saya tidak ingin merusak mood di pagi hari.

6. Self respect

Berkutat dengan urusan rumah tangga, tidak harus merubah jati diri. Saya tetap seorang individu yang harus menghargai diri sendiri. Bagaimana caranya? Memperhatikan penampilan, kesehatan, dan kecantikan itu wajib. Jika kita tahu cara menghargai diri sendiri, kita pasti akan paham bagaimana menghargai orang lain. Jangan malas berdandan, ini nasihat ibu saya.

7. Be Happy

Ini wajib. Bagaimana caranya? Saya tidak akan mengerjakan sesuatu hal yang membuat saya bersungut-sungut atau marah. Ini memang PR terberat saya. Suami saya yang rajin mengingatkan, kalau penat tak perlu dikerjakan. Kalau sambil marah, sebaiknya tinggalkan. Lumayan kan, kerut di wajah tidak perlu tebal bertambah. Hahaha!

So Moms jika dirimu bahagia, yakinlah bahwa rumput tetangga kemudian akan terlihat biasa saja. Karena ternyata rumput di rumah kita jauh lebih rimbun, sehat, dan hijau. Rumputmu ternyata tidak sehijau rumputku, tetangga.

I’m proud of many things happened in my life, but nothing beats being a Mother.

Much Love,

Reyn

2 thoughts on “Rumput Tetangga Lebih Hijau?

Leave a Reply to arsdiani Cancel reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.