DENDAM (11)


DENDAM (11)

DORRRRRR!!!

Nyalak pistol itu menggema seiring dengan terkulainya lelaki paruh baya bertubuh gagah itu dalam pelukan sang calon menantu. Senyumnya yang mengembang bahagia kala menyambut lelaki tampan bertuksedo itu dalam pelukannya, seketika luruh. Tubuhnya mengejang dan pelukannya melemah.

Bhisma tercengang, kaget dan tidak percaya. Matanya bersirobok dengan tatapan teduh penuh kilat dendam dari Indra, yang mulai disayanginya. Indra yang mengingatkannya pada seseorang yang dulu pernah mengisi relung hatinya. Seseorang yang terpaksa pergi, membawa cinta dan janin dalam perutnya yang tak berdosa, atas nama harta dan kekuasaan.

“Suci … aku anak Suci. Perempuan yang kau hempas hidupnya hingga ia mati. Mungkin kau sudah lupa, tapi janin yang hendak kau bunuh itu kini ada di hadapanmu. Akan kuhancurkan hidupmu seperti kau menghancurkan hidup kami. Mati kau, Ayah!”

“Cari, Ayah … mu. Maafkan I … bu,” terbata-bata ia bersuara hingga akhirnya kepala perempuan cantik itu terkulai, di lengan bocah lelaki yang gerahamnya gemerutuk menahan amarah.

Tangannya menggenggam sepucuk kartu nama yang sudah lusuh dan kini berlumuran darah.

BHISMA SUBRATA. Nama yang tertera di sana.

“Aku akan menghabisimu lelaki keparat!”

“Papiiiiiiiii!!! Massss!!! What’s wrong with you! Ya, Tuhan! Maaaassssss!!”

Kiara berlari menuju gerbang rumah megah itu, tanpa menghiraukan gaun pengantin cantiknya yang robek terkena sesuatu. Tangisnya tumpah tak terbendung menyaksikan pemandangan menyesakkan di hadapannya. Make up di wajah cantiknya luntur berganti dengan warna warni berbaur yang membuat kelu.

Lengannya merengkuh tubuh sang Ayah yang lemah terjatuh. Tangannya memegang dada yang berlumuran darah. Pandangannya melemah namun mulutnya terbata seperti ingin mengatakan sesuatu.

“Maaf … kan Pa … pi, Nak. Papi ber … dosa pada … In … dra. Dia … adalah … kakak … mu. Maaf … kan Pa … pi.”

“Papiii, jangan pergi. Bertahan, Pi. Kiara tak punya siapa-siapa lagi. Bertahan, Pi. Please. Kiara mohon. Tolooonggg! Ambulans! Cepattt! Toloooonggg! Papiiiiiiiii! Papiiiiii!”

Tangis Kiara begitu menyayat hati. Ia memeluk sang Ayah erat sekali walau gaun cantiknya yang berwarna putih bersih berubah menjadi merah darah. Kiara mengalihkan pandangan ke arah Indra. Lelaki yang begitu dicintainya, hingga ia mampu melakukan apa saja untuk mendapatkannya.

Pandangannya bersirobok dengan kilat penuh dendam. “Pembunuh!” Desisnya sambil menatap netra Indra dengan tajam. “Pembunuh!!!!!!”

Wisnu yang datang lebih dahulu ke rumah megah bersama Amira istrinya itu, menatap semua kejadian yang berlangsung begitu cepat di hadapannya dengan tidak percaya. Matanya terbeliak. Putra angkat kesayangannya yang pagi itu nampak tampan dan bahagia menyongsong hari pernikahannya, berdiri mematung sambil memegang sebuah pistol.

Refleks, sebagai seorang pensiunan Jendral Polisi, ia berlari menghampiri dan mengunci tangan sang putra, dengan perasaan berkecamuk. Hatinya hancur melihat Indra membunuh sang Ayah kandung dengan tangan dingin. Ingatannya melayang di hari ia melihat seorang bocah lelaki kurus bermata teduh namun penuh dengan kilat kemarahan.

“Siang, Letnan Wisnu. Ini bocah lelaki yang Letnan lihat kemarin.”

“Terima kasih, Sersan Yudi. Kemari, Nak. Indra Dewabrata, betul namamu?”

Bocah lelaki tampan bertubuh tinggi kurus itu hanya menunduk. Sekilas Kapten Wisnu melihat kilat di matanya. Mata yang teduh namun penuh dengan kebencian dan cerita duka. Bocah yang dilihatnya duduk di sudut sebuah gedung pengadilan dengan tangan terkepal.

Bocah lelaki itu yang kemudian tumbuh dewasa dan menjadi kebanggaannya, karena kecerdasannya di atas rata-rata. Bocah lelaki yang disayangi bak anak kandung sendiri. Lelaki bermata teduh yang ternyata adalah putra Bhisma Subrata, sang calon besan kaya raya yang terkenal. Lelaki tampan bertuksedo itu kini sedang berdiri mematung di hadapannya dengan pistol di tangan.

“Kenapa kau lakukan ini, Nak? Dia ayahmu. Kenapa kau lakukan ini?” bisik Wisnu terbata-bata sambil tangannya pelan meraih sepucuk pistol dari tangan Indra.

Indra menyerah tanpa perlawanan. “Aku harus membalaskan dendam Ibuku,” desisnya menatap tajam sang Ayah angkat. “Ia menghancurkan hidup kami. Karena lelaki ini, Ibu menjadi seorang pelacur untuk menghidupiku. Ia lelaki kejam yang tidak pantas hidup. Hahahahaha! Mati kau … Papi!”

Wajah tampan Indra berubah mengerikan. Mata teduhnya melotot, bibirnya tersenyum sinis. Ia tidak melawan ketika beberapa orang petugas polisi menyergapnya hingga tersungkur ke tanah dan memborgol tangannya. Pandangannya beralih ke wajah Kiara yang lekat menatapnya sedari tadi sambil memeluk jasad sang Ayah.

“Kiara … Kiara. Puas kau? Puas kau menghancurkan rumah tanggaku? Semoga anakmu kelak lahir cacat! Karena hubungan sedarah dari tipu muslihatmu! Hahahaha!!”

Kiara bergeming dan hanya menatap lelaki yang tersungkur di hadapannya itu. Matanya menerawang mengingat surat bersampul merah hati yang dikirimkannya ke rumah Arini.

Setelah berhasil melumpuhkan Indra, para petugas membawanya menuju ke mobil Polisi yang terparkir di hadapan gerbang megah itu.

DORRRRR!

Nyalak pistol kembali terdengar menggema seiring dengan ambruknya tubuh Indra ke tanah. Sang penembak misterius bertopeng pun melesat dengan motornya, meninggalkan semua yang sedang terpaku. Beberapa petugas kemudian mengejarnya yang begitu cepat hilang dari pandangan.

“Indraaaaaaa! Ya, Tuhan! Cobaan apa lagi ini? Anakku!!! Masss! Cepat panggil ambulans! Indraaaa! Indra anakku!” Amira berteriak histeris memanggil nama sang putra kesayangan. Ia merangsek masuk di antara para petugas Polisi, kemudian memeluk tubuh Indra yang bersimbah darah. “Mama … maaf. Maaf … kan … aku.”

“Ayo, Nona, kita mandi dulu. Nanti kita mandikan bayimu juga, ya?” Suster Ana memanggil lembut seorang gadis berambut gimbal, yang duduk mematung di sudut ruangan. Sudah berhari-hari gadis itu duduk diam di sana sambil menggendong sebuah boneka lusuh. Baunya sudah tidak karuan, karena ia tidak mau mandi, bahkan membuang kotorannya di mana saja.

Para suster yang menjaga kamar sang gadis, harus memakai masker penutup mulut karena tidak tahan dengan bau menyengat yang ada di kamar sempit itu. Dokter memutuskan akan menyeret paksa dan memandikannya pagi itu.

Suster Ana, yang bergiliran menjaga sang pasien pagi itu, menatap sekeliling kamar yang temaram melalui pintu kaca dengan perasaan tidak nyaman. Ia seperti melihat sesuatu. Ketika pandangannya bersirobok dengan tatapan tajam sang pasien, ia melihat bayangan seorang perempuan berbaju putih dan berambut panjang sedang menyisiri rambut gimbal gadis itu.

… Kiara namanya.

(TAMAT)

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.