DENDAM (10)


DENDAM (10)

“Mampus kau, perempuan sial! Aku tidak pernah mencintaimu! Aku hanya ingin menjadi bagian dari keluargamu yang kaya raya sekaligus membalaskan dendam ibuku. Hahahaha! Puassssss! Arini. Arini. Mati, kamu!”

Sambil terkekeh, Indra memandang ke dalam sebuah sumur tua, di sudut taman rumah megah itu. Tangannya melemparkan sebuah palu berlumuran darah ke dalamnya.

Indra melepas kaos yang dipakainya pagi itu dan membuangnya ke dalam sumur. Tangannya membersihkan bercak darah yang berceceran dari dalam rumah hingga ke sudut taman dengan teliti. Ia tidak ingin meninggalkan jejak apa-apa di sana. Sambil bersiul kecil ia menuju ke arah dapur untuk mengambil gawainya.

“Kiara, kita menikah secepatnya, sebelum anak itu lahir.” Sambil tersenyum simpul, Indra menekan layar gawai yang bertetesan darah dari tangannya.

Rumah megah berwarna pastel itu nampak meriah. Hiasan bunga berwarna warni cerah menghiasi gerbang hingga ke setiap sudut rumah. Bahkan di sepanjang jalan daerah perumahan elit itu pun berderet-deret rangkaian bunga ucapan yang indah. Pertanda sang empunya rumah sedang mengadakan pesta meriah.

Deretan mobil besar hilir mudik mengantar pesanan makanan dengan jumlah yang wah. Beragam jenis olahan masakan untuk memanjakan lidah para tamu berdatangan silih berganti. Di dalamnya kesibukan pun tak kalah heboh. Para pegawai berseragam terlihat sibuk menata setiap sudut rumah. Ada pula yang sibuk menata meja prasmanan.

Sementara itu di dalam sebuah kamar tidur megah berwarna merah hati, Kiara duduk mematut diri. Gaun indahnya yang panjang hingga menyapu lantai tampak berkilat terkena cahaya lampu karena butiran kristal yang banyak menghiasi. Kiara tersenyum, ia cantik sekali.

“Sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Indra Dewabrata. Indra tidak boleh tahu, bahwa aku sebenarnya tidak hamil,” kilat di mata Kiara muncul seiring dengan segaris senyum di sudut bibirnya. Matanya menerawang mengingat sebuah kejadian.

“Astaga! Apa yang kulakukan di sini? Kiara?”

“Sudah, tidur lagi, Mas. Masih pagi. Kamu mabuk semalam.”

“Apakah … apakah aku menidurimu?”

“What do you think?”

Kiara mengerling manja ke arah Indra, kemudian bangun menuju toilet kamar hotel itu. Sekilas ia menatap wajah Indra yang nampak tertegun. Ada rasa cemburu di sudut hati gadis cantik itu. Mungkinkah Indra merasa bersalah pada sang istri? “Akan kusingkirkan perempuan mandul itu,” desis Kiara kala tetesan air membasahi rambut dan tubuhnya.

“Sudah siap, Nak?”

“Papi … how do I look?

You look gorgeous, Anakku. Sama seperti Mami dulu.”

“Papi, apakah Mami akan datang? Nanti ia mengamuk lagi.”

“Papi hanya mengirimkan pesan melalui Dokternya, Nak. Papi rasa, tak perlu lah membawa Mami datang ke rumah. Biar saja ia di sana menjalani perawatan.”

Mata lelaki tua yang masih tampak gagah itu mulai basah. Ia merasa lelah. Bhisma bukannya tidak ingin melihat sang istri mendampingi putri bungsu mereka di hari pernikahannya. Namun kondisi kejiwaan Shinta mengharuskannya menjalani perawatan di sebuah rumah sakit jiwa yang berada jauh di luar kota.

Bhisma mengecup kening sang putri dan mengatakan betapa ia mencintainya. Ia berharap Indra akan menjaga Kiara dan menggantikan tugasnya. Sekilas bayangan seorang wanita cantik berambut panjang dengan tutur kata lembut dan rasa cinta yang besar, muncul di benak Bhisma.

“Tega sekali kamu mas! Ini anakmu, kenapa ingin kau bunuh dia?” tangis perempuan itu masih lekat di ingatan Bhisma. Di hari terakhir mereka berbicara melalui sambungan gawai.

Sebuah ketukan di pintu kamar membuyarkan lamunan Bhisma. “Tuan, pak penghulu sudah datang. Tapi Tuan Indra belum juga sampai,” ujar Somat sang supir pribadi.

“Aduh! Kemana sih dia?” Kecemasan seketika muncul di wajah cantik Kiara. Ia meraih gawai di hadapannya dan mencoba menghubungi Indra.

“Mas, kamu di mana? Penghulu sudah datang, nih. Cepat datang, Mas.”

“Iya. Sebentar, Sayang. Aku sudah dalam perjalanan. Macet sekali, nih.”

“Orang tuamu sudah datang dari tadi. Kenapa lama sekali, sih?”

“Iyaaa. Sabar lah. Sebentar lagi aku sampai.”

Lelaki bermata teduh itu tersenyum dan mengusap sesuatu yang berada di dalam tuksedo berwarna hitam yang dipakainya. Tangannya menggenggam sebuah foto berwarna kekuningan yang telah lusuh termakan usia. Ia melirik dari dalam mobil hitam yang terparkir sedikit jauh dari rumah megah itu, sedari pagi.

“Sebentar lagi, Bu. Sebentar lagi akan kubayar semua penderitaanmu ….”

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.