Compassion – Welas Asih


Compassion – Welas Asih

“Ouch!”

“What happened, Bunda?”

“My wrist. Very painful.”

“Oh no! Maybe your muscle sprain?”

“Really? What is muscle sprain, Rayyan?”

“It happens everytime you’re lifting heavy stuffs or doing something continously.”

“Wow! How do you know this?”

“It’s in my science book. Come I help massage your wrist. I hope you’re feeling better, Bunda.”

“Thank you, Sayang.”

“You’re welcome.”

Mengajar adalah hal yang tidak mudah. Paling tidak bagi saya. Saya paling malas mengajarkan sesuatu pada orang lain. It takes time and so boring! Karena itu salam hormat untuk para pengajar, instruktur, dan semua guru. Kalian hebat!

Nevertheless, sejak menjalani peran sebagai seorang Ibu, saya berusaha keras melawan rasa malas mengajar itu. Anak-anak yang diamanahkan pada kami, adalah PR saya di sisa usia. Pekerjaan rumah yang tiada henti saya hadapi dengan proses pengajaran day by day, melalui serangkaian cerita tentang kesalahan, dan kesalahan.

Jangan tanya, bagaimana saya harus berubah fungsi bak kaset rusak di rumah. Mengajarkan hal yang sama berulang kali dan berulang hari. Herannya, saya sangat menikmati.

Compassion adalah hal yang sering kami dengungkan di rumah, selain masalah disiplin dan tanggung jawab. Welas asih dan kepekaan pada sekitar, yang akan menjadi bekal anak-anak ketika mereka tumbuh dewasa dan menjalani hidup sendiri.

Welas asih yang mengajarkan anak-anak untuk bersikap baik pada orang lain tanpa memandang siapa atau bagaimana mereka. Welas asih yang juga menumbuhkan empati pada keadaan orang lain. Welas asih yang menjauhkan pikiran bahwa mereka lebih pintar atau lebih segalanya dari orang lain.

Kepekaan dan welas asih yang pagi tadi ditunjukkan putra bungsu saya ketika melihat sang ibu meringis kesakitan. Ia yang baru selesai mandi segera menghampiri dan memijat tangan saya dengan lembut. Saking lembutnya sampai tidak terasa apa-apa, sih. Hahaha!

It’s the thought that counts, Son.

Terima kasih, Nak. Rasanya tangan ini sembuh terkena sentuhan lembut dan empatimu. Semoga kelak kau tumbuh dewasa menjadi lelaki yang baik hati dan memiliki welas asih pada sekitar, seperti Ayahmu.

Be Kind And Humble … Always.

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.