LIFE – A Lifetime Learning


LIFE – A Lifetime Learning

Rayyan, have you fold your clothes yet?”

“I’ve done the underpants but I don’t know how to fold my shirts, Bunda.”

Kakak, could you teach him, please? I need to cook.”

“But I can’t fold my shirt only, Bunda.”

“That’s why you have to learn and Kakak will teach you.”

“But I can’t do it. I don’t know how.”

“Nobody knows anything instantly, Rayyan. We start from zero then we learn to know something. Now pay attention and do it!”

Kalau semua manusia lahir terus mendadak pintar, kita nggak bakal tahu kata belajar, Nak. Itu gunanya kita dianugerahi otak oleh Yang Kuasa. Untuk mencari tahu semua hal yang kita tidak tahu. Itulah sejatinya hidup.

Belajar dan belajar terus.

Percaya nggak, kalau dulu saya sama sekali nggak bisa masak dan nggak pernah ke dapur. Saya lebih memilih pekerjaan membereskan dan menata rumah ketimbang masuk ke dapur. Saya payah sekali dengan urusan ini.

Saking payahnya, sampai Eyang Mama nggak pernah sama sekali meminta pendapat saya soal rasa masakan. Beliau selalu menyuruh adik lelaki saya untuk mencicipi masakan. Taste bud saya memang dulu payah. Saya hanya tahu rasa masakan enak, dan enak sekali. Hahaha!

Bukan hanya tidak bisa mencicipi masakan, masak nasi juga saya tidak bisa. Jangan bayangkan seperti jaman sekarang. Dulu saya harus meneliti butir demi butir beras sebelum dicuci. Ribet! Maklum, sebagai keluarga Brimob yang serba kekurangan, saya sekeluarga hanya pasrah menerima beras bagian yang penuh kutu dan kerikil. Asal bisa makan nasi saja, we’re fine. Alhamdulillah. Allah Is Great.

Saya mulai melirik dapur ketika harus tinggal sendiri di Yogyakarta semasa kuliah, kemudian di Jeddah selama bekerja di sana. Masa-masa ini yang membawa saya melongok ke arah dapur beserta printilannya. Apalagi kemudian setelah menikah dan tinggal di Singapura, saya juga harus masuk dapur untuk menyiapkan makanan bagi keluarga. Kalau ada abang jajanan lewat depan rumah, mungkin saya tidak tertarik masuk dapur.

Perjalanan saya memasak kemudian berlanjut ketika seorang teman yang tinggal dekat dengan apartemen kami dulu, mencari jasa katering harian. Walau sibuk mengurus anak yang masih kecil-kecil, saya menyanggupi permintaannya untuk menyediakan makanan selama beberapa minggu.

Jatuh bangun dan belajar dari kesalahan, terus saya lakukan selama berkecimpung di bisnis kuliner rumahan ini. Melakukan kesalahan, sudah tidak bisa terhitung banyaknya. Maklum, semua harus saya kerjakan sendiri dan belajar secara otodidak.

Mungkin sudah sekitar 7 tahun lamanya saya menyediakan jasa katering rumahan di bawah bendera Dapoer Ranayan ini. Suka dukanya? Banyak sekali. Tapi semua duka rasanya tidak sebanding dengan suka yang saya dapat selama ini.

Melihat pelanggan tersenyum dan menyukai hasil karya saya rasanya tidak terbalas oleh apapun. Segala penat dan letih tubuh hilang tanpa bekas. Terima kasih untuk semua pelanggan setia saya, yang hingga hari ini masih terus menggunakan jasa saya untuk memasak.

Jadi siapa bilang kita tidak bisa? Kita mampu jika berpikir kita bisa. Kuncinya hanya belajar, berusaha, dan tidak mudah menyerah jika kegagalan menghadang.

If you think you can, you will.

If I can, then you can too.

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.