Jatiluhur Tempat Libur


Jatiluhur Tempat Libur

I love the blue and green of Indonesia.

Melihat lokasi ini waktu menyusuri sekitar waduk Jatiluhur menggunakan boat kemarin, dan saya tertegun.

This is so beautiful! Serasa berada di sebuah tempat indah di Eropa ketika musim dingin datang. Ini Indonesia, lho. Tepatnya di Purwakarta, Jawa Barat.

Saya juga jadi ingat keluarga para Trolls di film Frozen ketika melihat kumpulan batu-batu besar ini. Juga sedikit berkhayal, batu-batu cantik itu akan bergulung, kemudian berdiri, dan menyapa kami dengan, “Hai.” Hahahaha!

Siapa mengira bahwa ketika air pasang, batu-batu ini akan bersembunyi di bawah danau. Pantas saja ketika kami berjalan menuju boat yang terparkir di dermaga, tanah yang kami injak begitu lunak. Saya yang sedikit salsep alias salah sepatu, terpaksa meringis melihat sepatu putih saya tertutup lumpur. Sebalnya lagi, bukannya turut prihatin atas nasib sang emak, para bocah malah tertawa geli melihat saya sibuk menghindari lumpur dan mencari injakan keras, demi menyelamatkan si sepatu.

To make it worse, Rayyan yang setengah berlari menghampiri untuk membantu memegang tangan saya, malah menginjaknya dan meninggalkan jejak lumpur besar di bagian atas sepatu putih itu. Jadilah saya sedikit memarahinya hanya karena sepatu putih saya jadi semakin kotor. Kemarahan yang kemudian saya sesali. Ia kan hanya ingin membantu saya yang hampir terpeleset jatuh. Maaf ya, Nak.

Jadi ingat ya, jika anda berencana ingin menaiki perahu ini, jangan salah sepatu seperti saya. Pakailah sepatu berwarna gelap, jadi kalau lumpur mengotorinya, anda tidak meringis kesal seperti saya kemarin.

Perahu bermotor yang kami sewa itu berharga Rp 35.000 per orang. Setiap perahu harus bermuatan maksimal 10 orang. Karena kami hanya berlima saja, maka saya tetap harus membayar sewa perahu Rp 350.000. Not bad. Karena keseruan yang kami dapat, tidak terganti harganya.

Mang Jeje sang pengemudi, membawa kami menyusuri sekitar waduk. Melihat sebuah pulau kecil tempat para nelayan atau mereka yang punya hobi memancing, sedang teklak-tekluk menanti umpan kailnya dicaplok para ikan yang seliweran di sekitar mereka. Kemudian kami juga dibawa melihat kampung para nelayan, barisan tambak ikan, restoran apung, dan lain lain.

Waduk yang seumur-umur baru saya lihat bentuknya kemarin itu, ternyata tidak membosankan seperti bayangan saya sebelumnya. Saya sih mau kalau diajak ke tempat ini lagi.

Bunda! Look! There’s a garbage truck throwing trash into the lake! Oh my God! Are they throwing trash here?”

Saya, yang baru beberapa hari lalu menulis sebuah artikel tentang bagaimana Singapura mengolah sampah, mendadak makjegagig! Emosi sudah di ubun-ubun dan bersiap menyemprot sang supir truk ketika kami melintas. Untung saya sempat menanyakan pada Mang Jeje apakah benar truk itu membuang sampahnya di lokasi waduk.

“Itu teh truk ikan, Neng. Nanti teh dibawa ka Jakarta buat dijual.”

Ealah. Maaf pak supir truk. Gara-gara Rayyan, hampir saja kalian kena semprot. Untung prinsip saya masih sama. Malu bertanya, sesat di truk pengantar ikan.

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.