DENDAM – Selamat Tinggal, Aryan (8)


DENDAM – Selamat Tinggal, Aryan (8)

“Selamat sore, Om. Saya Indra. Indra Dewabrata.”

Lelaki paruh baya, yang mulutnya berbau alkohol itu, hanya bergumam tak jelas dan membalas genggaman tangan Indra seadanya. Lelaki bermata teduh yang memacari putri semata wayangnya dan sedang menatapnya tajam.

“Aku bukan tak tau siapa dirimu, lelaki keparat. Akan kubuat hidupmu menderita sama seperti bagaimana kau menghancurkan hidupku dulu dan membunuh Ibuku. Satu-satunya perempuan di dunia ini yang pernah aku cintai.”

Rinai hujan membasahi tanah pekuburan yang baru saja ditinggalkan Indra, Arini dan Aryan pagi itu. Arini tak henti menangisi kepergian sang Mama yang begitu menyesakkan dada. Ia bukan tidak membenci sang Papa yang begitu kejam. Walau setiap kali Aryan bertindak kasar pada dirinya dan mendiang Mama, kemudian berlutut dan meminta maaf, hati Arini yang lembut selalu luluh. Ia tetap membenci sang Papa dalam diam. Hatinya penuh dendam mengingat penderitaan sang Mama.

Beberapa tahun kemudian, pesta pernikahan Arini dan Indra diadakan secara besar-besaran. Bukan persoalan sulit bagi Aryan yang kaya raya untuk menghadiahi putri satu-satunya itu kemegahan. Ia yang awalnya menolak kehadiran Indra di sisi Arini, akhirnya menyerah dan menyetujui permintaan Arini untuk menikah dengan lelaki pilihannya itu. Lelaki bermata teduh yang membuat perasaan Aryan tak karuan setiap kali pandangan mereka bersirobok. Ada sesuatu pada lelaki itu, entah apa, yang mengusik batin Aryan.

Hingga pada suatu hari, ia menerima sebuah amplop berwarna merah hati di rumahnya. Matanya memerah dan tangan terkepal melihat deretan foto yang berada di dalam sampul berwarna itu. Giginya gemerutuk menahan amarah, kemudian ia meraih gawai dan menekan sebuah nomor.

“Kerjakan akhir Minggu ini dengan rapi. Jangan sampai ada orang lain mengetahui. Mengerti kau?”

“Bu Arini … Ini Dian. Aduh, Bu. Bu Arini ada di mana? Tolong datang ke rumah secepatnya, Bu. Tuan tiba-tiba kejang lalu pingsan! Tolong datang sekarang, Bu. Dian takut.”

Bergegas Arini memutar arah dan memacu kendaraannya siang itu. Seharusnya ia sedang dalam perjalanan menuju sebuah hotel terkenal, untuk mengikuti arisan sosialita bersama teman-teman cantiknya. Namun sambungan telepon Dian, sang asisten rumah tangga yang baru setahun mengabdi pada keluarganya, membatalkan rencana itu. Papa pingsan? Seumur hidup Arini, ia belum pernah melihat sang Papa sakit bahkan sampai pingsan.

“Papaaa! Papaaa! Astaga! Apa yang terjadi? Dian! Dian! Di mana kamu?”

Arini berteriak memanggil sang asisten rumah tangga yang tidak tampak batang hidungnya. Padahal ia baru saja menghubungi gawai Arini. Rumah megah itu nampak begitu lengang dan kosong sepeninggal sang Mama. Tidak terurus, karena Aryan memberhentikan semua asisten rumah tangga, dan hanya menghendaki kehadiran Dian di sana. Keputusan yang sempat membuat Arini heran, namun tanpa menaruh kecurigaan sedikit pun.

Secepatnya Arini menghubungi Indra yang sedang berada di luar kota. Namun setelah berkali-kali dicoba tidak juga berhasil. “Mungkin ia sedang rapat sehingga tidak bisa dihubungi,” gumam Arini sambil terisak. Ia kemudian memanggil Ambulans dan membawa sang Papa ke rumah sakit terdekat. Dalam perjalanan ia terus berusaha menghubungi gawai Indra dan Dian, sang asisten rumah tangga yang menghilang.

Jauh di sudut sebuah rumah makan sederhana, yang letaknya sangat terpencil dan berjarak ratusan kilometer dari Ibukota,

“Ini upah dan identitas barumu. Kurasa cukup untukmu memulai kehidupan baru. Sudah puas kau membalas dendammu? Dian?”

“Puas sekali, Tuan. Terima kasih sudah membantu saya keluar dari rumah itu. Satu tahun yang bak neraka di dalamnya. Semoga lelaki tua itu sudah mampus menelan sianida dalam kopinya. Tapi apakah mereka akan mengetahui, kalau saya yang menaruh racun di dalam kopi Tuan Aryan?”

“Tenang saja. Mereka akan mengira lelaki keparat itu meninggal karena sakit jantung. Kau tidak lupa membuang semua alat bukti jauh-jauh dan mengganti kopi dalam cangkirnya, kan?”

“Sudah, Tuan. Saya juga memakai sarung tangan seperti yang Tuan perintahkan.”

“Bagus. Sudah siapkan semua barang bawaan? Ini tiket pesawat milikmu. Pergi dan jangan kembali lagi ke kota itu. Ingat, namamu bukan lagi Dian.”

“Baik. Terima kasih, Tuan Indra. Dian sudah mati.”

Lelaki bermata teduh itu tersenyum dan melirik sekilas ke arah gawainya yang penuh dengan deretan sambungan tak terjawab dari Arini.

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.