DENDAM – Marini (7)


DENDAM – Marini (7)

“Mas, rasanya anak kita akan segera lahir. Aku sudah dalam perjalanan ke rumah sakit. Tolong datang secepatnya, Mas.”

Sent.

Marini berjalan tertatih menuju mobil yang membawanya ke rumah sakit. Sebentar lagi, bayi mungil yang selama 9 bulan menemaninya akan lahir. Airmata tak henti mengalir di pipi tirus Marini. Bukan airmata bahagia, namun nelangsa.

Perkawinan yang diharapkan manis rupanya berujung pahit. Aryan, lelaki tampan dengan tutur kata sopan yang dulu dikenalnya ternyata tak lebih dari seorang lelaki yang kejam. Ia kerap menyiksa dan menyakiti Marini.

Tak banyak yang tahu bahwa ternyata Aryan adalah seorang sado masokis. Yaitu kelainan seksual dimana seseorang akan menyakiti pasangannya sebelum berhubungan badan. Setelah puas melampiaskan hasratnya, ia akan bersujud dan meminta maaf hingga hati sang istri luluh kembali. Marini menyimpan rapat rahasia ini dari siapapun, termasuk sang Ayah.

Dari luar mereka tampak seperti pasangan yang saling mencinta. Tidak terhitung banyaknya istri tetangga sekitar yang iri melihat kemesraan yang selalu mereka pertontonkan. Walau sehari-hari mereka hanya melihat Marini di halaman depan rumahnya saja, ketika sang suami hendak berangkat kerja. Dengan penuh cinta, Aryan akan memeluk sang istri erat kemudian mengecup lembut dahi dan bibir Marini. Ia tampak seperti suami idaman di mata semua orang.

Mereka tidak mengetahui penderitaan yang dialami Marini setiap malam. Karena ketika wajah dan tubuhnya penuh dengan lebam bahkan luka sayatan, ia akan bersembunyi di dalam rumah. Aryan akan mengatakan bahwa istrinya sedang tidak enak badan, kepada tetangga sekitar yang menanyakan keberadaan Marini.

“Halo, selamat malam Ibu Marini. Kami dari kepolisian ingin mengabarkan bahwa Saudara Aryan, suami Ibu berada di Rumah Sakit Puri setelah mengalami luka tusukan benda tajam. Ia kami temukan tergeletak di rumah seorang pramuria bernama Suci. Maaf, kami tahu Ibu baru saja melahirkan. Kami terpaksa harus mengabarkan berita ini secepatnya. Dan ….”

Kalimat berikutnya yang didengar Marini hanyalah dengungan tanpa arti. Ia menangis, hatinya sakit melebihi rasanya sakit pada tubuh setelah melahirkan. Aryan memang bukan sosok suami yang baik, namun Marini tetap mencintainya. Karena itu ia memilih bertahan dalam penderitaan yang menyiksa hidupnya. Bahkan ketika ia harus berjuang antara hidup mati melahirkan sang buah hati, sendiri. Marini tetap berusaha tegar.

“Mama, Arini pulang. Mama di mana? Ma….”

“Hai, Sayang. Bagaimana ujianmu, Nak?”

“Mama kenapa? Pucat sekali. Badan Mama hangat seperti demam. Dahi Mama juga lebam. Papa pukul lagi, ya?”

Dua puluh dua tahun berlalu, bayi mungil yang dilahirkan Marini tumbuh besar menjadi gadis yang sangat cantik. Arini, sang kembang kampus yang begitu memikat hati. Marini memang tidak pernah terlihat menangis di hadapan sang putri. Ia mencoba tegar karena tidak ingin Arini membenci sang Papa. Siang itu, setelah memeluk Arini ia terkulai lemas dan jatuh dalam pelukan sang putri tercinta.

“Mama! Ya, Tuhan! Pak Edi! Bibik! Tolong! Mama pingsan! Mamaaaaa!”

Arini meraung melihat tubuh sang Mama yang terkulai lemas. Dengan gemetar ia menelpon ambulans yang kemudian datang dan membawa mereka ke Rumah Sakit.

“Pa, Papa di mana? Mama ada di ICU. Tadi siang mendadak pingsan. Cepat datang, Pa.”

Berulang kali Arini mencoba menghubungi sang Papa, namun selalu tidak tersambung. Hingga akhirnya ia mengirim sebuah pesan singkat. Airmatanya terus mengalir hingga seorang lelaki tampan bermata teduh datang menghampiri dan memeluknya.

“Sayang, aku takut kehilangan Mama.”

“Sabar ya, Sayang. Semoga Mama kembali sehat. Aku akan selalu di sini menemanimu.”

Arini menangis tergugu dalam pelukan lelaki tampan yang membelai rambutnya dengan lembut itu.

“Arini! Siapa ini? Mana, Mamamu?”

“Papa! Kemana saja, sih? Bau alkohol lagi! Dari tadi Arini coba menghubungi, tapi gawai Papa mati. Ini Indra, pacar Arini yang ingin bertemu Papa sejak minggu lalu tapi Papa selalu sibuk.”

“Hmmm. Siapa namamu?”

“Selamat sore, Om. Saya Indra. Indra Dewabrata.”

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.