Comment – Perlu? Tidak Perlu?


Comment – Perlu? Tidak Perlu?

Suatu hari Rayyan, putra bungsu saya, pulang dari sekolah dengan wajah cemberut. Ia tampak marah.

“Bunda, my friends made fun of my name again!”

“Huh? What happened?”

“Oliver & Jared. They made fun of my name, and I don’t like it.”

Ternyata sang teman mengolok-olok namanya. Ia memang marah sekali jika ada orang yang memanggilnya dengan sebutan lain.

“What did they say? How did they call you?”

“Jared called me Rayyan Syed, which is not a correct one. Oliver called me Fart Fart Rayyan Man Alibaba Chicken Man! I’m so angry!”

Saya kembang kempis menahan tawa mendengarnya. Inhale … exhale. Saya tidak boleh tertawa. Saya tidak boleh menjatuhkan harga dirinya dan menganggap ini lelucon di hadapannya.

“Did you do anything to them before that?”

“I didn’t do anything, Bunda. I didn’t even talk to them.”

Sebelum bertanya lebih lanjut, saya memastikan bahwa bukan putra saya yang memulai semua. Namanya juga anak-anak, kadang mereka tidak sadar bahwa tingkah lakunya mungkin membuat orang lain kesal dan marah.

“Then what did you say to them?”

“I told them to stop, and if they do it again I’m going to tell my teacher.”

“And what did they say?”

“They stopped.”

“Good. Now, can you do the same to other people?”

“No, Bunda because it’s not good. I might hurt other people’s feeling. I might make other people sad.”

“Good boy. Are you still angry at them?”

“I don’t want to be their friends anymore.”

“Don’t be like that. Don’t hold grudges. Okay?”

“Okay, Bunda.

Saya memang tidak pernah mengajarkan anak-anak untuk memberikan sebutan yang tidak baik pada orang lain. Termasuk mengganti nama mereka dengan sebutan yang tidak semestinya. Saya bahkan bisa marah jika anak-anak melabeli teman-temannya berdasarkan warna kulit, ras, ataupun agama.

Namun saya juga selalu meminta mereka untuk tidak terlalu lebay menanggapi guyonan orang lain. Santai saja. Yang penting bukan kita yang memulai. Walau begitu, tetap lah berani untuk mengutarakan keberatan secara langsung. Daripada memendam amarah dalam hati, lebih baik ungkapkan saja.

Kita semua sama, Nak. Sesama manusia, ciptaan Yang Maha Kuasa. Walau kita diciptakan berbeda, jangan sampai kita saling menyakiti dan merendahkan. Jaga selalu lisan yang bisa membawa kesedihan. Mari kita saling menyebar nilai positif dan cinta. Mari kita belajar menahan mulut dan jari, karena tidak semua hal butuh kita komentari.

Semoga saya dan kita semua, mampu menahan lisan dan tulisan. Seperti Rayyan yang sedang belajar menahan diri dari menyakiti orang lain melalui lisannya.

rumahmediagrup/rereynilda

One thought on “Comment – Perlu? Tidak Perlu?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.