DENDAM – Letnan Wisnu (6)


DENDAM – Letnan Wisnu (6)

“Siang, Letnan. Ini bocah lelaki yang Bapak lihat kemarin.”

“Terima kasih, Sersan Yudi. Kemari, Nak. Indra Dewabrata, betul namamu?”

Bocah lelaki tampan bertubuh tinggi kurus itu hanya menunduk. Sekilas Wisnu melihat kilat di matanya. Mata yang teduh namun penuh dengan kebencian dan cerita duka. Bocah yang dilihatnya duduk di sudut sebuah gedung pengadilan dengan tangan terkepal.

Perasaan hangat mengaliri hati Wisnu. Ibarat bertemu jodoh, hatinya mendadak tertambat pada sosok bocah lelaki itu. Ada perasaan tidak biasa ketika melihatnya. Perasaan yang tidak pernah ditemuinya ketika berulang kali mengunjungi beberapa Panti Asuhan.

Ya, Wisnu dan Amira, sang istri, yang telah dinikahinya selama 8 tahun lebih itu memang belum juga dikaruniai buah hati. Sang istri memang sudah divonis Dokter Kandungan tidak akan mampu memberikannya keturunan. Walaupun begitu, Wisnu tetap mencintai dan menyayangi Amira apa adanya. Sama seperti kali pertama mereka mengucap janji setia, untuk bersama sehidup semati walau apapun terjadi. Rasa cinta yang sama besar ketika matanya menatap sosok Indra yang kurus dan pucat, namun sorot matanya menandakan kecerdasan walau penuh dengan kepedihan.

Wisnu segera mengurus surat permintaan adopsi dan membawa Indra pulang ke rumahnya, yang disambut dengan tangan terbuka oleh Amira. Mereka menyekolahkan Indra di semua tempat terbaik. Tempat terbaik yang ternyata menumbuhkan kesedihan baru untuknya. Ia menjadi korban kekerasan di sekolahnya yang baru. Namun Wisnu tidak pernah mengetahui karena Indra begitu rapat menyimpan semua kepedihannya sendiri.

Sekolah tempat anak-anak dari banyak selebritas negeri itu, yang kerap menyakitinya baik secara fisik maupun verbal, nyatanya memacu kekuatan Indra. Ia tumbuh menjadi sosok yang mempesona karena kecerdasan dan ketampanan fisiknya. Tak sedikit siswa perempuan berusaha menarik perhatiannya. Bahkan seorang guru perempuan cantik yang masih muda namun sudah bersuami pun berusaha mendekatinya.

Ibu guru Sasa begitu rajin menawarkan Indra untuk mengikuti les tambahan, walau sebenarnya ia tidak membutuhkan. Indra yang selalu menjadi juara kelas dan kerap mengikuti kompetisi Matematika hingga ke lain kota. Ia sebenarnya jengah dengan perhatian yang diberikan Sasa padanya. Hingga suatu hari, sebuah kecupan lembut mendarat di pipi dan bibirnya, ketika mereka sedang berdua saja di rumah Indra untuk les tambahan sepulang sekolah.

“Besok siang kamu datang ke Hotel Citra di kota ini ya. Ini kartu namanya, dan ini uang untuk bekal. Kamu siap saja, Ibu akan mengirimkan taksi yang menjemputmu dari ujung jalan. Bilang saja pada orang tuamu, kamu akan belajar untuk Olimpiade mendatang. Paham?”

Pelan, Indra mengangguk. Hatinya berkecamuk masygul. Antara takut sekaligus menikmati desiran halus dari perhatian sang guru cantik.

“Taksimu sedang dalam perjalanan. Sudah siap? Ibu sudah menunggumu di kamar nomor 1254. Cepat, ya. Ada kejutan dan hadiah kecil untukmu.”

Indra menatap pesan singkat dari Sasa untuknya. Sebuah senyum sinis muncul dari sudut bibirnya, “Aku pun punya hadiah untukmu, Bu.”

Di dalam kamar bernomor 1254, Sasa sudah berganti pakaian dan membungkusnya dengan kimono cantik berwarna biru. Ia mengulaskan make up sedikit lebih tebal dari biasa, lengkap dengan wewangian mahal yang jarang dipakainya. Suaminya adalah lelaki kolot yang kuno. Ia melarang Sasa memperlihatkan lekuk tubuh dan wajah cantiknya. Parfum adalah hal yang sangat dibencinya. Parfum yang sengaja dibeli Sasa minggu lalu dan disimpannya di laci meja guru.

Ia juga harus berdandan ala perempuan desa dengan baju lebar dan sederhana. Kata cinta bahkan kemesraan adalah hal yang begitu jarang didapatnya dari sang suami. Lelaki berumur yang perjodohannya terpaksa diterima lantaran urusan hutang piutang keluarga.

Siang itu ia akan bertemu dengan Indra, murid lelaki yang begitu memikat hatinya. Bahkan membuatnya bergairah menjalani hari-hari yang sebelumnya begitu membosankan. Kekuasaan yang dimilikinya sebagai seorang guru, mampu membuat Indra melakukan apapun yang diminta Sasa. Dan hari itu, Sasa ingin melepas semua hasratnya yang terpendam pada sang murid tampan.

Sebuah ketukan di pintu menyadarkan lamunannya.

“Itu pasti Indra. Cepat sekali ia sampai,” gumam Sasa sambil sekali lagi menyemprotkan parfum mahal ke lengan dan lehernya.

“Hai, In … Lho? Ngapain kamu ke sini, Mas?”

“Apa yang sedang kamu lakukan, Sasa? Ternyata benar adanya berita yang selama ini kudengar. Kau memang perempuan nakal!”

Plak! Sebuah tamparan keras membuat tubuh Sasa limbung ke belakang dan ia terjatuh. Kepalanya membentur meja yang berada tepat di sebelah kanannya. Ia mengejang kemudian tidak sadarkan diri.

“Eh, Bu Sasa nggak masuk lho hari ini. Katanya ia koma dan berada di ICU. Denger-denger suaminya ditangkap polisi karena berusaha membunuh Bu Sasa.”

Telinga Indra berusaha menangkap bisik-bisik sang teman yang berada di depannya. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Mata teduhnya berkilat dengan tatapan tajam. Kilat yang nampak ketika ia menusukkan pisau bekas memotong ikan dulu, di punggung lelaki jahanam yang membunuh Ibu di depan matanya.

“Amran, istrimu sedang menunggu pelanggannya di Hotel Citra nomor 1254, jam 1 siang nanti.”

Sent.

“Indra, ayo kita sarapan, Nak. Katanya kamu akan pergi siang ini untuk belajar dengan Bu Sasa.”

“Nggak jadi, Pa. Bu Sasa pergi dengan suaminya nanti siang. Indra belajar di rumah saja,” teriak Indra, sambil tangannya membuang sim card yang baru saja dipakainya untuk mengirim sebuah pesan singkat.

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda

2 thoughts on “DENDAM – Letnan Wisnu (6)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.