DENDAM – Aryan (5)


DENDAM – Aryan (5)

“Aku terima nikahnya Marini Binti Susilo dengan mas kawin yang tersebut tunai.”

“Sah. Alhamdulillah.”

Marini memandang sang mempelai laki-laki yang hari itu resmi menjadi suaminya. Lelaki tampan bermata coklat terang yang baru saja dikenalnya dalam tiga bulan. Lelaki yang dengan mantap dan berani, meminangnya di hadapan sang Ayah.

Hidup Marini berubah begitu bahagia sejak mengenal lelaki itu, Aryan Buana. Pewaris tahta kerajaan bisnis Buana Grup, yang dikenalnya lewat seorang teman. Aryan dikenal sebagai seorang Don Juan. Hampir semua sosialita cantik ibukota pernah bergantian menjadi kekasihnya. Namun belum pernah ada yang begitu memikat hatinya seperti Marini.

Marini, gadis sederhana yang sangat lembut. Tutur katanya begitu halus dan sangat santun. Ia putri seorang kyai dari sebuah desa di tanah Pasundan. Seperti umumnya gadis yang berasal dari sana, Marini memang sangat cantik. Kulitnya putih bersih, berhidung lancip, dan tinggi semampai. Rambut indahnya tertutup hijab di kesehariannya. Kesantunan yang membuat Aryan begitu tertegun ketika menatapnya pertama kali dulu.

Sama tertegunnya ketika malam itu mereka habiskan berdua untuk pertama kali sebagai sepasang suami istri. Marini sangat bahagia. Ia percaya sang suami adalah lelaki setia. Seperti sang Ayah yang terus mencintai Ibunya hingga di akhir waktu ketika beliau meninggal dunia semasa Marini kecil dulu. Marini memang tumbuh tanpa kasih sayang sang Ibu. Bertemu dengan Aryan bak oase di padang pasir yang menyejukkan dahaganya. Dahaga akan kasih sayang dan pelukan seseorang.

“Mas, kamu di mana? Kontraksi ku semakin sering. Aku nggak kuat lagi. Kamu pulang jam berapa, Mas?”

Tertatih-tatih Marini berjalan ke dalam kamar dengan perutnya yang semakin membesar. Hanya dalam hitungan hari, putri pertamanya dengan Aryan akan lahir. Bayi kecil yang mereka nantikan setelah 3 tahun masa pernikahan.

Malam itu, Marini merasakan kontraksi yang sangat hebat. Aryan sering sekali meninggalkannya karena harus melakukan perjalanan bisnis hingga berhari-hari. Kadang juga menghabiskan waktunya dengan meeting di sana sini seperti malam itu. Marini baru saja menghubungi gawai Aryan yang tidak aktif, hingga ia terpaksa mengirimkan pesan singkat.

Ia pun bergegas pergi ke rumah sakit dengan hanya diantar sang supir pribadi.

“Mas, rasanya anak kita akan segera lahir. Aku sudah dalam perjalanan ke rumah sakit. Tolong datang secepatnya, Mas.”

Sementara itu di sebuah rumah kecil yang tidak terawat, jauh di sudut dusun terpencil kota itu.

“Kau jangan berani-berani melayani lelaki lain lagi ya! Kau milikku. Dan hanya boleh melayaniku! Mengerti kau?”

Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi seorang perempuan cantik. Hingga ia jatuh dan terpelanting ke sudut kamar sempit. Perempuan itu berteriak meminta tolong dan meminta lelaki itu berhenti memukulnya. Permintaan yang membuat lelaki dengan mulut berbau alkohol itu semakin gelap mata. Ia meninju pelipis perempuan malang itu hingga darah segar mengalir di dahi dan bibirnya.

“Dengar kau, Suci? Kau milikku! Hanya milikku selamanya!”

“Setannn! Mati kau!”

Kalimat itu yang didengar Aryan untuk terakhir kali. Sebelum ia jatuh tersungkur karena punggungnya dihujani pisau oleh seseorang. Ia jatuh kemudian tidak sadarkan diri dan tidak sempat mengenali siapa pelakunya. Hingga laporan polisi membawanya ke hadapan Hakim dan para Jaksa pagi itu.

Senyum licik Aryan membuat seorang bocah lelaki yang selalu menatapnya dengan tajam itu mengepalkan tangannya. Bocah lelaki yang kemudian dipelihara negara karena sang Ibu meninggal dunia setelah Hakim memutuskan ia bersalah. Sidik jari Suci, sang Ibu, ditemukan pada pisau berlumuran darah yang dipakai menusuk punggung Aryan.

Sehari sebelumnya, dengan duduk di kursi roda, Aryan menemui sang Hakim dan menyodorkan sebuah kardus besar berisi tumpukan lembaran mata uang asing. Seseorang melaporkan kekerasan fisik yang dilakukannya pada Suci, sang pramuria, hingga ia tewas setelah kepalanya dibenturkan ke dinding oleh Aryan.

“Bisa diatur kan, Yang Mulia? Reputasi saya bisa hancur karena laporan ini. Begitu juga dengan Anda jika tidak bersedia menerima ‘hadiah’ dari saya ini.”

“Jangan khawatir Tuan Aryan. Semua bisa diatur.”

Terkekeh-kekeh Sang Hakim berkepala plontos itu, membuka kardus besar di hadapannya dan menatap isinya dengan mata berbinar.

Power doesn’t corrupt people.

People corrupt power. (William Gaddis)

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.