DENDAM – Kiara (4)


DENDAM – Kiara (4)

“Pak Supir! Pak! Bangun! Tidur aja, nih!”

“Eh! Ya ampun, maaf, Non. Maaf, Somat ketiduran. Ade ape, Non?”

“Nih, kirimin suratnya lagi. Inget, lokasinya jangan sama kayak sebelumnya ya. Cari yang jauh, kalau perlu ke luar kota. Jangan ke kantor pos di ujung jalan juga!”

“Emang kenapa sih, Neng? Depan situ kan ada kotak pos. Jauh amat ngirimnya.”

“Jangan bawel! Pergi sana!”

Somat sang supir pun membawa mobilnya pelan untuk memenuhi perintah sang majikan. Walau benaknya dipenuhi banyak pertanyaan. Kotak surat letaknya hanya di depan rumah, bahkan kantor pos pusat letaknya hanya di ujung jalan saja. Namun sang majikan menyuruhnya pergi jauh sampai ke luar kota. Hanya untuk mengirimkan sebuah amplop berwarna merah hati. Aneh sekali.

Sementara itu di dalam rumah, Kiara duduk dan mendentingkan piano kesayangannya. Matanya berbinar dan bibirnya mengulum senyum. Ia tau, rencananya menghancurkan pernikahan Indra dan istrinya telah berhasil. Lelaki tampan yang begitu memikat hatinya itu, sebentar lagi akan menjadi miliknya. Asa yang begitu membutakan mata hatinya, hingga tanpa ragu mengirimkan sejumlah foto bukti perselingkuhannya dengan Indra. Suami Arini.

“Harapan ini bukan lagi ilusi. Aku akan memilikimu utuh, kekasihku. Tidak ada seorangpun bisa menghalangi keinginanku. Termasuk Papi,” dengan tajam Kiara melirik foto keluarga di depan piano besarnya. Keluarga yang tampak begitu penuh cinta dan harmonis, namun sebenarnya rapuh.

“Mas, siapa perempuan itu? Katakan padaku! Kalau kau macam-macam, ayahku tidak akan segan-segan menghabisimu, Mas! Jawab! Jawab, Mas!! Siapa perempuan itu?!”

Suara teriakan yang menggema di rumah besar itu, membuat sang gadis kecil berlari dan masuk ke dalam sebuah lemari. Lemari baju besar yang terletak di sudut kamarnya, yang berhiaskan barang-barang mewah berwarna merah hati. Gadis kecil itu mengunci lemari dengan gemetar, kedua tangan mungilnya kemudian menutup telinga. Ia tak sanggup mendengar makian, sumpah serapah, lemparan barang pecah belah, dan teriakan mengaduh dari sang Ayah.

“Papi kenapa tidak pernah membela diri ketika disakiti? Papi kan tinggi dan kuat, mengapa tidak pernah melawan Mami? Kiara takut melihat pertengkaran kalian setiap hari. Kiara mau ikut Oma saja!” tangis gadis kecil itu pecah. Ia memeluk sang Ayah yang menunduk sambil menahan perihnya darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

“Kiara akan paham kelak, mengapa Papi berdiam diri. Suatu hari nanti.”

“Kiara benci Mami! Kiara harap Mami cepat mati!”

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.