DENDAM – Indra (3)


DENDAM – Indra (3)

“Selamat siang, Pak. Saya Indra.”

“Silahkan duduk.”

Lelaki muda itu menatap tajam nama yang tersemat di kayu cendana berukiran indah itu tanpa berkedip. Dengan tersenyum, ia memberanikan diri menatap lawan bicara di hadapannya. Seorang lelaki paruh baya berwajah tampan, berperawakan atletis, walau rambutnya sudah berwarna keperakan. Cocok sekali dengan namanya yang terdengar begitu gagah. Bhisma Subrata.

Setelah berjabat tangan, sang pemimpin perusahaan karismatik itu pun mengucapkan selamat padanya.

“Selamat bekerja saudara Indra Dewabrata. Semoga Anda bisa bekerja dengan baik di perusahaan ini.”

Indra menjabat tangan boss barunya dengan erat. Ada rasa yang tidak biasa begitu menggeliat. Sekilas nelangsa namun bercampur kesumat. Bayangan-bayangan masa lalu berkelebatan di kepalanya. Rumah sempit, pintu kamar bobrok, lampu temaram, meja belajar kayu, dan pisau berlumuran darah. Bayangan yang kerap menghantui dan mengganggu tidurnya hingga di hari itu.

“Permisi, Pak. Pak. Maaf, Pak Indra.”

“Eh, maaf. Ada apa, Nis?”

“Ada telpon dari Ibu.”

“Oh, baik. Terima kasih.”

Lamunan Indra terputus, ketika sang sekretaris bertampang lugu itu mengetuk pintu ruangannya. Ruang kerja berlabel CEO yang sudah ditempatinya selama beberapa tahun belakangan ini.

“Hai, Sayang. Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” terdengar suara manja sang istri di ujung sana. Indra menjawab dengan singkat pertanyaan istrinya dan berdalih ia akan menghadiri meeting dengan koleganya sebentar lagi. Malas berlama-lama bicara dengannya. Batin Indra berbisik pelan.

“Aku mau pergi arisan ke Singapura ya, Sayang. Sebentar saja. Malam nanti aku sudah kembali.” Begitu selalu komunikasi antara mereka terjalin. Indra yang sibuk di kantor, dan sang istri yang sibuk dengan segudang kegiatan, khas sosialita kota metropolitan.

Arini, memang sangat cantik. Ia bak bunga yang aromanya begitu menawan, dan mekar dengan sempurna sejak dulu. Berwarna indah hingga menjadi magnet luar biasa bagi para kumbang di kampus. Indra berhasil menjadi satu-satunya kumbang yang beruntung mempersuntingnya. Walau ia tidak pernah benar-benar mencintai Arini.

Hati Indra begitu dipenuhi dendam kesumat sepeninggal Suci. Sang Ibu yang mati dalam pelukannya, ketika usianya baru menginjak 12. Usia yang seharusnya dilaluinya dengan keceriaan khas anak-anak. Usia yang justru membesarkan dirinya menjadi seorang lelaki pendiam dan tidak punya cinta. Hatinya begitu keras dan dingin. Namun lelaki itu yang dipilih Arini menemani hidupnya yang juga sunyi.

“Hai, Mas ganteng. Makan siang, yuk. Kamu free, nggak?”

Pesan singkat yang masuk ke gawainya siang itu membuatnya bungah. Kiara Subrata. Gadis cantik yang masih berstatus mahasiswi semester akhir, putri bungsu Bhisma Subrata, yang begitu menawan dan rajin mengajaknya kencan. Secepatnya ia membereskan meja kerja untuk menemui gadis lincah itu.

Setibanya di restoran mahal itu, mata Indra berputar mencari keberadaan sang gadis cantik. Kiara nampak begitu bersinar di antara para pengunjung restoran yang lain. Senyumnya yang sumringah begitu mudah terlihat bahkan dari jarak jauh. Melihat kehadiran Indra, gadis cantik itu menghampiri dan memeluknya tanpa canggung. “Aku kangen,” ucapnya sambil berbisik.

“Mas, aku ingin bicara. Ada kabar penting ingin kusampaikan, tapi sebelumnya jawab dengan jujur, siapa Kiara itu?”

Indra menatap tajam sang istri yang dengan berlinang airmata melemparkan sebuah amplop berwarna merah hati. Pelan, Indra membuka isinya dan mendapati beberapa foto di dalamnya.

Foto sebuah alat test pack bergaris dua, foto ia dan seorang perempuan berdiri di depan meja sebuah klinik kandungan, serta foto ia tengah tertidur pulas di samping Kiara. Foto yang ia bahkan tidak tahu kapan pernah diambil Kiara. Pacar gelapnya yang baru saja mengabarkan dengan riang hasil test packnya beberapa hari yang lalu.

Arini marah besar, apalagi melihat sang suami yang hanya diam dan tampak tenang. Dalam keadaan murka, ia melemparkan cangkir putih berisi kopi yang belum sempat diminumnya ke arah sang suami. Indra mengelak, kemudian menangkap lengan Arini.

Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Arini. Ia begitu terkejut. Bayangan sang Ayah yang menampar pipi Ibunya dulu pun berkelebatan. Indra, sama seperti sang Ayah, bukan baru saja menyakitinya. Sering sekali. Namun cintanya yang begitu besar mengalahkan segala sakit yang ada. Hari itu, Indra begitu beringas.

“Aku tidak pernah mencintaimu!” adalah kalimat terakhir yang didengar Arini, sebelum sebuah palu besar menghantam perutnya, yang berisi janin. Janin yang mereka nantikan selama beberapa tahun sejak Indra mengucapkan janji suci. Janin yang ikut terkubur bersamanya di dalam sebuah sumur tua di sudut rumah megahnya.

“Kiara, kita menikah secepatnya, sebelum anak itu lahir.” Sambil tersenyum simpul, Indra menekan layar gawainya yang bertetesan darah dari tangannya. Di ujung sana, Kiara tersenyum lebar. Di hadapannya tersebar beberapa lembar foto yang sebagian sudah masuk ke dalam sebuah amplop, berwarna merah hati.

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.