DENDAM – Arini (1)


DENDAM – Arini (1)

“Mas! Mas! Eh! Mas!”

“Arini ….”

“Lho! Mas! Aku di sini! Kok malah dilewatin, sih!”

“Arini … Arini.”

Lelaki yang sedang bergumam sambil mondar mandir itu hanya melewati Arini. Perempuan paruh baya berambut lurus dan bertubuh kurus, yang duduk mematung. Ia memanggil dan melambaikan tangan pada lelaki yang dipanggilnya Mas itu.

Arini heran sekali melihat Indra, suaminya, seperti tidak menyadari kehadirannya di sana. Padahal sudah coba dipanggilnya sedari tadi. Indra tampak aneh. Kelakuannya tidak biasa hari itu.

Indra dan Arini, pasangan Raja dan Ratu Kampus. Kisah cinta mereka bak Romeo dan Juliet yang sangat romantis. Siapa sih di kampus yang tidak kenal mereka dulu. Ganteng dan cantik, keturunan keluarga terpandang dan berada, yang kemana-mana selalu berdua.

Setelah lulus kuliah mereka menikah dan pestanya pun dibuat 3 hari 3 malam. Dihadiri oleh seluruh pejabat dan orang terkenal di negeri ini. Bahkan sebuah stasiun televisi swasta pun sampai menyiarkannya secara langsung.

Arini cantik sekali hari itu. Tubuh langsingnya berbalut gaun putih nan panjang berhiaskan permata mewah. Indra tampak gagah berbalut tuxedo keluaran sebuah butik ternama, tempat para pesohor negeri biasa singgah. Sungguh pasangan yang sangat mampu membuat iri siapapun yang memandang.

Kehidupan mereka nampak sempurna di mata semua. Indra yang seorang CEO di sebuah perusahaan asing, dan Arini sang sosialita dengan kegiatan yang tak kalah padat. Walau mereka belum dikaruniai keturunan, kebahagiaan nampak tergambar di wajah mereka, bagi pandangan orang lain.

Kebahagiaan yang nyatanya semu untuk Indra.

Indra, sang lelaki tampan yang tampak begitu mencintai Arini, nyatanya adalah seorang lelaki dengan kejiwaaan yang terganggu. Ia kerap menyiksa Arini tanpa sepengetahuan siapapun. Walau sesudahnya ia akan bersujud meminta maaf pada Arini dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Arini yang begitu mencintai Indra, menerima saja semua perlakuan buruk sang suami. Toh di masa kecilnya, ia juga kerap menerima perlakuan buruk sang ayah, yang membesarkannya seorang diri. Ibu Arini meninggal dunia tanpa sebab yang pasti. Kabar burung yang beredar di luar, ia meninggal karena disiksa suaminya sendiri. Ayah Arini.

Hari itu, perut Arini baru saja menerima tinju sang suami. Tinju yang membuatnya tak mampu berdiri lagi dan hanya duduk diam di atas bangku taman rumahnya yang mewah dan sangat luas. Di hadapannya, Indra tampak mondar mandir sambil memegang sebuah palu berukuran lumayan besar. Arini kembali memanggil sang suami sambil menangis. Tangannya menggenggam sebuah amplop berwarna merah muda.

“Mas, ada apa, sih? Aku di sini, lho. Dari tadi kamu panggil-panggil aku, padahal aku di sini. Mas, aku maafkan semua perlakuanmu padaku. Asal kamu tetap di sini mencintaiku. Tapi aku tak mau berbagi dengan wanita lain. Aku ingin kamu menjadi milikku seutuhnya. Mas, berjanjilah padaku untuk tidak berhubungan dengan perempuan itu lagi. Berjanjilah, Mas! Aku tadi mau bilang, aku sedang mengandung buah cinta kita, tapi kamu malah memukulku. Mas! Mas! Denger nggak, sih?”

“Mampus kau, perempuan sial! Aku tidak pernah mencintaimu! Aku hanya ingin membalaskan dendam ibuku. Hahahaha! Puassssss! Arini … Arini. Mati kamu!” terkekeh-kekeh, Indra memandang ke dalam sebuah sumur tua di sudut taman rumah megah itu, sambil membuang palu berlumuran darah ke dalamnya.

“Mas ….”

“Selamat tinggal, Arini.”

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda

One thought on “DENDAM – Arini (1)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.