Mudik – Day 3


Mudik – Day 3

“Kak, do you want to follow me today?”

“Where are we going, Bunda?”

“Hair salon.”

“But I don’t want to cut my hair.”

“Kakak, nanti rambutnya tumbuh lagi tak?”

***

Mudik tidak selalu membuat semua orang bahagia. Pulang ke rumah Eyang biasanya membuat 2 bocah perempuan deg-deg an. Ahhh, bunda pasti akan membawa ke sebuah salon untuk memotong rambut dan mereka tidak menyukainya.

Dulu mungkin mereka hanya akan diam dan menuruti semua perintah saya. Setelah beranjak remaja mereka mulai bisa protes dan mengajukan keberatan. Alasannya, mereka ingin mempertahankan rambut panjangnya.

Dulu juga mungkin saya hanya akan membeliakkan mata dan berkata, “Don’t argue. Just do it.” Namun sekarang saya tidak bisa lagi egois dan memerintah mereka tanpa penjelasan panjang kali lebar.

Saya lalu mengajak mereka berdiskusi. Seperti yang biasa saya lakukan sejak mereka beranjak dewasa. Karena saya juga tidak ingin sekedar memaksakan kehendak kemudian mendapati perubahan wajah mereka yang lalu akan membuat saya marah. Saya memang tidak suka melihat orang cemberut karena akan makin membuat saya marah.

Saya menjelaskan bahwa mudik adalah kesempatan kami merawat rambut dengan pelayanan yang baik tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Saya juga bertanya mengapa mereka keberatan dan melakukan beberapa open-ended questions. Sampai akhirnya mereka bersedia dengan perjanjian bahwa rambut mereka tidak akan dipotong terlalu pendek.

“So? Do you like your new hair?”

“Yes, Bunda. I like it.”

“Is it too short?”

“Nope. It’s just nice.”

“Do you believe that your hair will grow longer after this?”

“Yes, I do.”

“Do you enjoy the massage?”

“I do. Although it’s a bit hard for me.”

“Why didn’t you say to the kakak? You can ask her to be softer, you know.”

“It’s okay, Bunda. I tried to enjoy it.”

“I thought you were okay with the massage. I didn’t even see you squint.”

“I’m okay.”

Saya lega melihatnya tersenyum bahagia melihat potongan rambut barunya. Saya juga bangga ia begitu kuat dan mampu melihat sesuatu dari sisi yang lain. Pijatan keras yang ia dapat hari itu, dihadapinya dengan santai tanpa mengeluh malah berusaha dinikmatinya.

Ini bukan semata persoalan gunting rambut dan pijatan selama creambath. Ini adalah cara saya berkomunikasi dengan para remaja. Ini juga cara saya menahan diri dari sekedar memaksakan kehendak tanpa mendengar kemudian menjelaskan sampai mereka mengerti dan paham. Ini juga salah satu cara saya menghindari emosi yang muncul hanya karena melihat perubahan mimik pada anak-anak.

Ini adalah cara saya dan anak-anak belajar untuk mendengar sebelum berujar.

The biggest communication problem is when we simply listen to reply. We do not listen to understand.

I listen then I understand.

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.