Mudik – Day 2


Mudik – Day 2

“Anterin gue ke Asemka, yuk.”

“Asemka aja?”

“Iya.”

“Okay.”

Hari kedua kedatangan saya di Jakarta dan seorang sahabat bersedia membawa saya mengunjungi sentra bahan baku asesoris yang cukup terkenal. Asemka. Rencananya saya hanya akan mengunjungi satu toko saja di sana. Kelihatannya toko itu sangat lengkap dan saya bisa menemukan semua yang saya butuhkan di sana.

Hari Minggu pagi, sang sahabat menjemput saya dari rumah kemudian mengajak saya mencoba moda transportasi baru di Jakarta. Mass Rapid Transit atau MRT yang baru beroperasi di beberapa lokasi.

Kami naik dari Stasiun Fatmawati menuju Blok M. Lho? Kok Blok M? Ya. Di tengah perjalanan, saya tiba-tiba mengubah tujuan dengan semena-mena. Hahahaha! Saya ingin turun di Blok M sekaligus melihat lokasi klinik tempat saya membuat janji untuk bertemu dengan seorang dokter.

“Ayo, Blok M nih. Turun kita.”

“Eh, bisa nggak kalo kita ke Tanah Abang aja?”

“Haaahhh? Katanya tadi ke Blok M?”

“Ya nggak apa-apa lah. Kita explore. Hahaha!”

Sahabat saya itu pun menepuk dahi karena harus meladeni kegirangan saya sehingga secara mendadak berganti-ganti tujuan. Kasihan dia. Hahahaha!

Akhirnya kami turun di sebuah stasiun dan menaiki kereta api menuju Tanah Abang. Di tengah perjalanan tiba-tiba saya berpikir untuk berganti haluan (lagi).

“Eh, ke Kota Tua, yuk.”

“Haaaaa?? Tanah Abang aja belum sampai udah mau ganti ke Kota Tua? Pingsan gue!”

“Ih, jangan dong. Deket nggak Tanah Abang ke Kota Tua?”

“Jauh lah!”

“Oh, okay. Kita ke Tanah Abang aja deh. Ke Monas bisa nggak?”

“Yasalam!”

Hahahaha!

Saya mungkin terlalu excited hingga kepala ini begitu penuh dengan rencana. Saya bahkan lupa kalau kami belum makan sedari pagi.

Akhirnya setelah sedikit mengomeli itinerary saya yang amburadul, kami akhirnya berhenti di Tanah Abang. Saya yang sudah puluhan tahun tidak pernah lagi menginjakkan kaki di sana pun begitu terpukau melihat banyaknya pemandangan indah di sekeliling.

“Murah-murah amat!”

“Jangan kalap, deh!”

“Iya nggak. Cuma liat-liat aja, kok,” Dan saya keluar dari pasar Tanah Abang dengan menenteng 4 buah plastik besar berisi beragam barang. Sahabat saya pun kembali menepuk dahi.

Setelah puas berkeliling 1 sudut Tanah Abang, kami meneruskan perjalanan menuju Asemka setelah saya berjanji untuk tidak kalap lagi. Namun janji tinggallah janji.

“This is my playground!” Teriak saya histeris. Dan saya keluar dari sana membawa 2 bungkus besar bahan baku asesoris yang beratnya lumayan membuat bahu saya sakit. Tapi saya bahagia! Walau sahabat saya kembali menepuk dahi. Hahaha!

Sepulangnya dari Asemka, kami turun di stasiun Lenteng Agung kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan sebuah angkot tua, menuju destinasi berikutnya. Warung bakso.

“Abis ini kita ke ITC, yuk?”

“Astaga! Emang nggak capek?”

Nggak lah!”

“Stress gue liat itinerary lu!”

Hahahaha!

How I love mudik!

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda