Mudik – Day 1


Mudik – Day 1

“Nak, kamu mau makan apa? Mama mau masak, nih.”

“Nggak usah, Ma. Aku mau jajan.”

Sate Padang menjadi kuliner awal mudik yang saya nikmati di rumah. Makanan kesukaan saya yang dibelikan Papa di gerobak dorong abang-abang dekat rumah. Jangan tanya rasanya. Maknyusss! Apalagi setelah lebih dari 4 jam saya berada di dalam mobil menuju rumah Eyang di Depok dari airport. Terbayar sudah penat dan bosannya menghadapi kemacetan ibukota.

Keesokan paginya giliran lontong sayur yang lewat di depan rumah menjadi santapan pagi saya. Berharga 10 ribu rupiah saja, saya sudah kenyang bukan kepalang. Ditambah segelas soda gembira yang dibelikan Mama dari warung bubur kacang hijau alias burjo depan rumah.

Baru saja semangkuk lontong sayur licin tandas, Mama kembali menyodorkan sepiring gorengan panas. Bagaimana mungkin saya bisa menolak gurih dan crunchy nya potongan bakwan, tahu isi, pisang, oncom, ubi, dan risoles kesukaan saya. Oh, my! Heaven!

Sudah? Belum! Papa saya yang sedari pagi keluar untuk bermain tenis tiba-tiba pulang membawa 4 gelas es doger. Padahal soda gembira saya belum lagi habis. Apa lagi … hajar, bleh!

Malam menjelang, tiba-tiba sebuah bunyi yang familiar di telinga pun lewat.

Ting … ting … ting!

“Bang! Sekoteng! Sini, Bang!”

How I love mudik!

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda

3 thoughts on “Mudik – Day 1

Leave a Reply to Rhea Ilham Nurjanah Cancel reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.