Mudik – Selamat Makan, Suami! (1)


Mudik – Selamat Makan, Suami! (1)

Libur telah tiba … libur telah tiba … hore … hore … hore!

Akhir tahun jadwal libur sekolah berarti jadwal saya mudik ke rumah Eyang. Berarti jadwal saya juga beristirahat dari rutinitas rumah tangga. Rutinitas yang sebenarnya sudah tidak terlalu menghabiskan waktu karena anak-anak yang beranjak besar dan sangat membantu saya di rumah.

Nevertheless, mudik adalah jadwal saya menikmati hari dengan bantuan asisten rumah tangga yang ada di rumah Eyang. Lumayan, bisa lah berlagak jadi nyonya sebentar. Hahaha!

Mudik juga adalah jadwal saya mencicipi beragam kuliner, memanjakan diri dengan spa, atau merawat kulit dan rambut di salon. Mudik juga jadwal saya bertemu dengan beberapa sahabat yang selama ini jauh di mata namun selalu dekat di hati. Caelah!

Nah, hari-hari menjelang mudik biasanya saya akan menyusun beberapa rencana kegiatan. Jangan pikir sebagai ibu rumah tangga saya terbebas dari jadwal dan rencana, ya. Lembar demi lembar kalender di kamar saya penuh dengan tulisan, lho. Mulai dari kegiatan dan jadwal sekolah para bocah selama setahun, pesanan katering, hingga rencana menjelang mudik. Saya memang biasa teratur. Semua harus terjadwal dan tersusun.

Beberapa hari sebelum berangkat mudik saya mulai mengatur jadwal untuk berbelanja oleh-oleh, packing barang bawaan, membereskan rumah, serta mempersiapkan makanan untuk suami yang tidak ikut serta. Meskipun tidak pernah rewel soal makanan, tapi ia juga bukan orang yang suka jajan dan membeli makanan dari luar. Ia lebih suka masakan rumah atau makan di rumah. Tidak perlu menu yang beraneka ragam, karena lidahnya juga tidak sembarang cocok dengan bermacam rasa masakan.

Akhirnya pagi sebelum berangkat ke airport, saya mempersiapkan beberapa jenis masakan dan meletakkannya dalam beberapa kotak penyimpanan lalu kemudian dibekukan. Jika ingin makan, ia tinggal memanaskan saja di dalam microwave. Kemudian memanggang roti sebagai pengganti nasi. Beres.

Jadi, saya bisa berangkat mudik dengan tenang karena mengetahui bahwa suami saya tetap terjaga makannya. Paling tidak untuk dua minggu ke depan. Kalau nanti masakan ini habis, tinggal goreng telur atau membuat mie instan bisa kan, Suami?

Mari kita mudik!

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.