Too Good To Be True … Not


Too Good To Be True … Not

Beberapa pembaca cerita saya mungkin beranggapan bahwa apa yang saya bagikan selama ini hanya fiksi. Bukan cerita sebenarnya alias khayalan seorang emak semata. Karena terdengar terlalu sempurna atau seringkali terlalu manis.

Banyak yang tidak tahu bahwa di balik semua cerita seru tentang putra putri saya, ada seorang istri yang beberapa kali mendapat teguran dari sang suami.

“Apa pasal pagi hari pekik-pekik macam Tarzan?”

“Tak boleh bicara biasa tak pakai urat, ya? Tengok macam nak putus.”

“Apa lagi, Bunda? Siapa marah-marah?”

“Mata beliak macam nak keluar, apa hal?”

Serta beberapa kalimat nan “syahdu dan merayu” darinya. Ia yang tanpa perlu melotot atau mengeluarkan teriakan akan langsung didengar tiga bocah di rumah. Ya. Ia tidak perlu mengeluarkan banyak effort setiap kali mengatakan sesuatu atau memberi perintah pada putra putrinya. Life is never fair. Huh!

Being a Mom is never easy indeed.

Saya bukannya sedang berhadapan dengan penumpang pesawat yang keras kepala, atau para klien shipment yang banyak maunya. Saya berhadapan dengan manusia-manusia kecil yang diamanahkan untuk keluar rumah dan terdidik dengan baik. Minimal tidak menyusahkan orang lain dan tidak membuat orang lain malas bertemu dengan mereka.

Just like a wet cement. Apapun cetakan yang saya letakkan di atasnya, akan membuat semen basah itu mengeras dan berbentuk tanpa bisa diubah dengan mudah. Kecuali tentu saja dihancurkan terlebih dahulu.

Semua tanggung jawab itu yang lalu memunculkan banyak kerutan di wajah dan rambut putih di kepala. But I’m happy.

Setidaknya hidup saya lebih berarti karena ada tiga pasang mata kecil yang bening sedang memperhatikan dan mengikuti segala tindak tanduk serta tingkah laku saya. Dan ada tiga pasang tangan mungil yang dengan tulus siap merengkuh ketika saya sedang berada di titik terendah dalam hidup.

Walaupun setiap pagi mereka harus mendengar teriakan yang lebih dahsyat daripada Tarzan di hutan rimba. Serta berulang seperti suara sebuah kaset rusak.

She is just trying to raise her children right. Equipped with knowledge, life skills, to make them a competent human being.

rumahmediagrup/rereynilda