Attitude


Attitude

Pagi tadi, saya menghadiri acara pembagian nilai ujian akhir di sekolah Lana. Setelah mengawalinya dengan beberapa kata sambutan, tiba saatnya para wali kelas membagikan buku rapot dan lembar nilai masing-masing murid.

Saya hanya duduk di deretan bangku para orang tua dan mengamati putri saya dari jauh, ketika sang guru bergantian memanggil satu persatu murid dan membagikan nilai hasil ujian akhir. Sementara sebagian orang tua yang lain merangsek maju mendekati anak-anak mereka. Saya bukannya tidak penasaran dan ingin tahu nilai yang didapat Lana. Namun saya menahan diri untuk tidak ikut bergerombol ke depan. Lagipula nama Lana pun belum lagi disebut. Sabar saja lah.

Ketika saya melihatnya sudah di barisan terdepan, saya pun menghampiri untuk mengucapkan terima kasih pada para guru atas bimbingan mereka selama ini.

“Good job, Lana. Keep up the good work. I’m so proud of you.” kata sang guru sambil menjabat tangan Lana dan menepuk bahunya. Lana mengangguk dengan sopan seraya mengucapkan terima kasih, kemudian berjalan ke arah tempat duduk bersama saya. Saya mengucapkan selamat, memeluk, dan mengecup keningnya. Hasil ujian akhirnya sangat memuaskan.

Kami lalu bertemu dengan seorang temannya yang menangis tersedu-sedu. Saya menghampiri murid perempuan itu dan bertanya, “What’s wrong, Dear?” sambil mengusap lembut bahunya. Ia tidak menjawab, seperti tidak peduli, karena juga tidak menatap saya. Ia melihat ke arah Lana dan berkata, “I couldn’t get 200. I only got 190,” begitu ujarnya sambil menangis.

Lana yang sedang menepuk-nepuk punggungnya pun mengerutkan dahi sambil berkata, “One ninety is good you know. You should be happy. Why do you cry? You’ve already done a great job.”

Saya memandang Lana sambil tersenyum bangga. I think I raise her right.

Dalam perjalanan pulang, saya mengajaknya singgah ke sebuah pusat perbelanjaan. Dengan suara pelan, ia bertanya pada saya apakah ia boleh membeli sesuatu. Saya menjawab, tentu saja, karena memang sedang berpikir untuk memberi hadiah atas prestasinya.

Lana berkata bahwa sebenarnya sudah lama ia ingin membeli sebuah jaket bergambar karakter anime kesukaannya, namun ia segan memintanya pada saya.

“Why didn’t you ask me earlier, Nak? We’re leaving tomorrow and the jacket is a pre order item.”

“I didn’t want you to spend money, although I really like it. Sorry, Bunda.”

Ia tidak pernah sama sekali meminta saya membelikannya sesuatu. Ia selalu menolak jika saya ingin berbelanja untuknya. Apa yang dikatakannya pada saya begitu menyejukkan hati. Caranya berpikir dan bagaimana ia memandang sesuatu hal, begitu membuat saya bangga.

I’m a proud Mother.

Semoga saya membesarkannya dengan baik. Hingga ia kelak menjadi manusia dewasa yang kecerdasan akademisnya beriringan dengan kebaikan hati dan perilakunya.

Semoga.

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.