Bahagia Si Tukang Sampah


Bahagia Si Tukang Sampah

Bunda, did you throw all of my stuffs?”

“Which one?”

“Those in my bag.”

“Yes, I did.”

“Why? Do you know how long I spent to make them?”

“You mean those sampah?”

“Those are not sampah. Those are my stuffs, Bunda!”

“Those are just torn papers and broken stationaries! I kept all your important papers and some stuffs on your table. But YOU ARE NOT bringing them to school.”

“But … but, Bundaaa.”

“No buts!”

Si bujang kecil pun berangkat sekolah dengan cemberut. Tapi sebentar saja ia sudah riang kembali ketika saya melambaikan tangan seperti biasa, dari jendela lantai 5 kediaman kami.

Saya jadi ketawa sendiri mengingat masa kecil puluhan tahun yang lalu. Kira-kira seumur Rayyan, saya sudah dikenal sebagai si tukang sampah di rumah. Julukan yang disematkan Papa dan Mama, yang kerap kesal melihat kelakuan saya.

Mereka tahu, saya akan membawa sekantong plastik “sampah” hasil memulung sepulang dari sekolah. Kotak-kotak bekas yang menurut saya lucu, atau bunga dan dedaunan kering, bahkan ranting patah dan botol bekas tak ketinggalan saya bawa pulang. Apapun yang menurut saya lucu. Hahaha.

Terdidik dengan disiplin tinggi, kebiasaan berhemat, dan serba teratur, membuat imajinasi saya berkembang liar sejak kecil. Saya yang tidak bisa dengan mudah meminta mainan pada orang tua dulu, mengalihkan perhatian pada barang-barang bekas. Sampai Mama harus ngomel setiap hari melihat tumpukan sampah harta karun saya di meja belajar. Persis dengan apa yang saya lakukan pagi tadi pada Rayyan. Maaf ya, Ma. I feel you now. Hahahaha!

Tumpukan sampah saya itu kemudian menjadi bermacam bentuk mainan. Kotak-kotak bekas yang kemudian saya bentuk menjadi laci-laci kecil untuk menyimpan asesoris dan juga saya atur berdasarkan warna, bentuk dan kegunaan. Lainnya, saya jadikan maket rumah sederhana, lengkap dengan sofa, meja, dan tempat tidur untuk boneka-boneka kertas saya. Botol bekas saya tempel guntingan kain dan memakainya untuk vas bunga atau tempat menaruh pensil. Macam-macam bentuk tercipta dari gunungan sampah di rumah.

Kebiasaan itu terus saya lakukan hingga menginjak bangku kuliah. Bersama seorang teman, kami membuat kerajinan tangan berbahan kertas daur ulang dan bunga kering. Bentuk-bentuk seperti kotak pensil, buku catatan kecil, atau bingkai foto dulu lumayan laku kami jual ke mana saja. Keuntungannya masuk kantong, untuk uang jajan tambahan. Lumayan.

Keterbatasan biaya hidup ketika kuliah dulu, juga membuat saya terbiasa mendaur ulang baju-baju yang hanya sedikit sekali saya punya. Kalau bosan dengan satu baju, saya akan mengubahnya menjadi sesuatu yang baru hanya bermodal jahitan tangan. Rapi lho, jahitan tangan saya. Ihik!

Saya memang tidak pernah berusaha membatasi urat-urat kreativitas dalam diri. Bahkan selalu mengasah dan mencoba membuat apa saja sendiri. Dan ketika melihat barang-barang buatan tangan kita berada di rumah bahkan dipakai orang lain itu rasanya maknyus! Bahagia, senang, bangga, seperti dapat undian berhadiah.

Hari ini saya membuat sebuah bros yang bahannya dari “sampah” tutup botol minuman bekas, sedikit kain perca sisa jaman dulu, dan gulungan kawat berwarna emas. Kelihatan nggak barang bekasnya? Lumayan, bisa dipakai putri-putri cantik yang berkerudung di rumah. Daripada beli, kan?

Jadi, sudah berkreasi apa hari ini, Moms? Lakukan apa saja yang kita suka dengan cinta. Karena cinta akan selalu membuat kita bahagia, walau dalam keadaan apa.

Kita semua pasti bisa!

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.