Kacamata – Sebuah Kenangan


Kacamata – Sebuah Kenangan

“Bunda, I think I need to wear glasses.”

Suatu hari, putri kecil saya menyerahkan sebuah surat hasil pemeriksaan matanya dari sekolah. Ia ternyata harus memakai bantuan kacamata karena tidak bisa melihat ke arah papan tulis dengan jelas. Padahal saya sudah begitu berusaha menjaga indra penglihatan anak-anak agar tidak berkacamata seperti saya. Saya yang sudah memakainya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

Hari itu akhirnya kami pergi ke sebuah toko kacamata yang cukup terkenal. Kala mengantar kedua putri kecil saya, ingatan pun melayang jauh di hari ketika saya diantar mama pergi memeriksakan mata. Dulu sekali. Kalau tak salah waktu itu saya baru kelas 2 SMA. Saya ingat, mama mengantar saya pergi ke dokter spesialis mata di Rumah Sakit khusus anggota polisi di daerah Kramatjati.

Setelah menunggu beberapa saat, tibalah giliran saya masuk ke ruang dokter. Saya memang sudah berkacamata sejak duduk di bangku SD. Kacamata pertama saya adalah warisan dari salah satu adik mama. Kebetulan ukuran minus nya cocok untuk saya. Waktu itu sama sekali tidak pernah terpikir untuk memilih dan bergaya dengan bentuk bingkainya. Yang penting saya bisa melihat tulisan di papan hitam depan kelas saya dengan jelas. Itu saja sudah cukup.

“Coba sini saya cek kacamatanya. Berapa ukuran minus yang lama,” ujar sang dokter yang memeriksa saya. Lalu saya menyodorkan kacamata lungsuran berbentuk bulat, berbingkai plastik, dan berwarna coklat muda itu.

“Ih, kacamatanya kuno amat! Ganti dong yang bagusan. Masak masih muda kacamata macam nenek-nenek begini. Sana pergi ke optik sebelah cari yang baru dan bagus!”

Ha? Saya kaget. Jantung saya berdegup kencang dan mata saya berkaca-kaca mendengar ucapan sang dokter. Tapi saya hanya diam dan berusaha menahan airmata supaya tidak tumpah.

Dalam hati saya berkata, “Harga kacamata kan tidak murah, Dokter.” Tercekat, kata-kata itu hanya berhenti di ujung kerongkongan.

Hari itu juga di dalam hati saya berjanji, untuk tidak tumbuh dewasa menjadi seseorang yang begitu mudah melontarkan kata tanpa berpikir terlebih dahulu. Saya berjanji untuk berhati-hati dengan lisan. Saya bertekad tidak akan pernah menyakiti hati orang lain dengan apapun yang meluncur melalui lidah saya. Saya tidak ingin menyakiti dan membuat sedih orang lain dengan ucapan saya.

Seperti kesedihan yang saya rasakan di hari itu.

But I forgive you, Doc. Kalo Dokter nggak mengeluarkan kalimat seperti itu, mungkin saya nggak bakal punya pelajaran hidup.”

Saya pun keluar dari ruang pemeriksaan sambil gemetar, menunduk, dan menemui mama di ruang tunggu. Dalam diam saya hanya menyerahkan kertas hasil pemeriksaan dari sang dokter. Setelah melakukan pembayaran, biasanya mama akan mengajak saya makan siang di warung pinggir jalan sekitar rumah sakit. Tapi tidak.

Mama menggandeng saya belok ke arah toko kacamata. Saya tertegun.

“Sana pilih bingkai kacamata yang kamu mau, Nak.”

“Eh? Nggak usah, Ma. Aku pakai bingkai yang lama saja. Ganti lensanya saja karena minus ku bertambah.”

“Udah nggak apa-apa pilih saja yang baru. Itu kan kacamata lungsuran. Bingkai nya saja sudah mau patah.”

“Emang Mama ada uang?”

“Ada. Kan kemarin baru rias pengantin.”

“Makasih, Ma … aku pilih yang itu saja.”

Dengan gemetar dan sekuat tenaga menahan airmata, tangan saya menunjuk sebuah bingkai berwarna coklat tua yang harganya paling murah. Tanpa peduli dengan bentuk bingkainya, perhatian saya hanya tertuju pada label harga. Dua puluh lima ribu Rupiah. Mahal sekali, pikir saya waktu itu.

Sambil melihat Mama melakukan pembayaran di kasir, dalam hati saya berjanji, “Suatu hari nanti akan kuganti semua ini, Ma.”

Sambil tersenyum, ia menyerahkan kacamata baru yang saya sambut dengan penuh haru sambil menggenggam tangan kurusnya.

“Bunda. Bunda. Are you okay?” Ujar putri kecil saya yang sentuhan lembutnya di bahu, menyadarkan lamunan.

“Oh. I’m okay, Nak. Go and choose your frames. Look around and pick one that you like.”

“Choose for me please, Bunda. Anything that you think is okay.”

“Which one is the cheapest, Bunda? Come Kakak, let’s find the cheapest one.” Ujar Lana pada sang Kakak sambil melihat label harga dari beberapa deretan kacamata di toko itu.

Saya tersenyum, mengucap syukur dalam hati, dan mengelus kepala mereka yang tertutup jilbab sederhana. Tanpa mengetahui segala cerita usang dalam hidup saya pun, mereka sudah terbiasa mensyukuri apa yang ada dalam hidupnya.

Ingat ya, Nak. Selalu menghargai apapun yang kalian miliki. Banyak bersyukur dan bersikap baik lah pada semua orang. Termasuk berhati-hati dengan ucapan dan lisan yang terlontar.

You never know what kind of battle someone is facing or fighting. Be kind and watch your words.

rumahmediagrup/rereynilda

2 thoughts on “Kacamata – Sebuah Kenangan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.