Xiamen – The Journey (5)


Xiamen – The Journey (5)

Hari ke lima perjalanan Lana ke Xiamen, dan akhirnya ia akan kembali ke Singapura keesokan hari. Seperti janji saya padanya, malam hari sebelum kepulangannya, saya akan meneleponnya lagi. Kali ini tanpa banyak drama.

Mungkin staff hotel sudah siap-siap menerima telepon seorang emak yang kesal dan mengamuk beberapa hari sebelumnya karena tak seorangpun berbicara dalam Bahasa Inggris. Hahaha. Hari itu seorang staff perempuan menjawab telepon saya dengan baik, walau menggunakan bahasa Inggris yang sederhana dan seadanya.

Lumayan. Padahal saya sudah mempersiapkan aplikasi penerjemah, lho.

Hi, Bunda,” kata putri kecil tercinta di seberang sana.

Saya menanyakan kabarnya dan juga mengingatkannya untuk mengecek sekeliling kamar supaya tidak ada barang yang tertinggal. Namun, saya menangkap nada suaranya yang tidak bersemangat seperti biasa. Mungkin ia lelah karena banyaknya acaranya yang harus diikuti selama enam hari berada di Xiamen.

Ya, jadwalnya memang padat sekali selama di sana. Ia bersama rombongan, mengunjungi Jimei School Village dan ikut berpartisipasi dalam ajang Sport’s Day yang mereka adakan. Selain itu ia juga diajak berkeliling dan mengunjungi banyak tempat yang seru dan keren. Mencicipi masakan khas setempat, belajar seni kaligrafi China, belajar tarian Ciemo Ciemo yang unik di Xiamen Yingcai School, bahkan mengenakan pakaian tradisional suku Hakka. Seru sekali melihat unggahan para guru di laman resmi sekolah.

Pagi itu akhirnya saya akan kembali bertemu dengan Lana setelah berpisah selama enam hari lamanya. Excited sekali saya. Tapi kemudian saya ingat bagaimana nada suara Lana ketika dihubungi semalam. Saya berusaha mengerti dan hanya menunggunya dari kejauhan. Mungkin ia tidak mau terlihat seperti anak kecil yang melonjak kegirangan ketika melihat ibunya. Atau mungkin saya yang tidak mau atau tidak siap melihat perubahan mimik mukanya yang mungkin tidak senang melihat saya. Entahlah. Saya hanya ingin mengamati dulu dari kejauhan.

Ia pun akhirnya muncul dan saya hanya memperhatikan dari balik kaca ruang penjemputan. Wah, sigap sekali ia mengangkat koper besarnya. Begitu sigap, kuat, dan sangat cekatan.

Ia pun melihat saya dan melambaikan tangan dengan senyum lebar. Ah, lega rasanya melihat mood nya sedang baik. Hahaha! Saya mengambil sedikit jarak dari kerumunan para orang tua yang juga sedang heboh menjemput anak-anaknya hari itu. Saya melihat Lana keluar pintu dan matanya berkeliling mencari keberadaan saya.

“Bunda! I miss you so much. You know I got stomach ache when I was in Xiamen?”

“Hi, Sayang. I miss you more, Nak. What happened? Why did you get stomach ache?”

“I don’t know, maybe because I felt homesick. I miss you so much, Bunda.”

Kami pun saling berpelukan erat. Ia juga memeluk kakak dan adiknya, yang ikut menjemput, dengan senyum bahagia. Saya menangkap beberapa perubahan positif hari itu. Lana berubah menjadi sangat dewasa dan cekatan. Mengurusi kopernya kala harus turun naik tangga, dan tidak memperbolehkan saya atau sang kakak membantunya. Kami pun duduk sebentar di sebuah restoran cepat saji yang berada di sana.

“What do you want to eat, Nak?”

“Anything, Bunda. Anything that’s not expensive. I don’t want you to spend your money here.”

Ah, so thoughtful! Sambil tersenyum ia mengeluarkan beberapa barang dari dalam tasnya.

“I bought you this keychain, Bunda. This is one of Unesco’s world herritage sites, The Yongding Hakka Tulou. I bought another keychain for ayah. I bought some books for kakak, Nadia my bestfriend, and myself. And I bought a surprise egg for Rayyan.”

“Wahhh thank you, Nak. I love my keychain! It’s so lovely!”

“Yayy! I got a surprise egg! Thank you, Kakak Lana. I love you!”

“Thanks, Lana. I love the book.”

Kami semua pun tersenyum bahagia menerima buah tangan darinya. Walaupun saya pernah berpesan agar ia menghabiskan uang jajan yang saya berikan, untuk keperluannya sendiri selama di sana. Ternyata ia malah membelikan kami semua oleh-oleh dan justru menahan diri untuk membeli sebuah boneka khas Xiamen yang berharga sedikit mahal. Walau semua temannya membawa boneka itu pulang sebagai kenang-kenangan dari tempat yang mereka kunjungi selama 6 hari itu.

Saya merasakan kehangatan dalam hati. Putri kecil yang sehari-hari galak dan jutek ini, ternyata pandai mengatur keuangan dan tidak tergoda untuk ikut membeli sesuatu yang menurutnya tidak perlu. Ia malah memikirkan kami semua, anggota keluarganya. Bangga sekali padamu, Nak.

Sesampainya di rumah ia mengeluarkan dompet dan menyerahkan sejumlah uang pada saya.

These are all the money that I have left, Bunda. And I kept all the receipts of things that I have bought. Thank you, Bunda.”

“Why didn’t you spend all your money to buy souveniers for your friends and yourself?”

“It’s okay, Bunda. I’ve spent enough. You can keep it or exchange it to Singapore Dollar again. I don’t want you to spend a lot on me. Thank you, Bunda.”

I’m a proud Mommy.

Welcome back home, baby girl!

(Tamat)

rumahmediagrup/rereynilda