Xiamen – The Journey (3)


Xiamen – The Journey (3)

Hari ketiga Lana berada di Xiamen, akhirnya saya berhasil mendapat nomor kamarnya dari seorang guru. Malam harinya, dengan semangat 45 saya menghubungi hotel tempat mereka menginap di negara itu. Yay! Langsung tersambung.

Dengan sopan saya pun bertanya, “Hello. Could you connect me to room number 8325, please? I would like to speak to my daughter, Lana. Thank you.” Dan suara di seberang sana pun menjawab dalam bahasa setempat yang saya sama sekali tidak paham. Saya hanya bisa menangkap, “No English.” Waduh!

Ia kemudian menutup sambungan telepon saya setelah bicara sesuatu dalam bahasa yang sama sekali tidak saya pahami. “Kurang asem banget ni orang maen tutup telpon aje!” Saya pun menggerutu dengan gemas.

Tidak menyerah, saya kembali menghubungi dan meminta untuk disambungkan ke kamar putri saya lagi. Kali ini saya mencoba berbicara dengan kata-kata yang lebih sederhana.

Hello. Room 8325, please. Do you understand numbers in English? 8 … 3 … 2 … 5?” Dengan pelan saya mengucapkan deretan angka satu persatu agar sang penerima telepon di seberang sana memahami. Mungkin ia tidak terlalu mendengar suara saya, begitu pikir saya berusaha menenangkan diri. Namun lagi-lagi sang penerima telepon di sana hanya mengatakan “No English,” sambil bergumam dalam bahasa setempat kemudian kembali menutup telpon.

Alamak! Sabaaar, Bunda … sabaaarrrr.

Untuk ketiga kalinya saya mencoba lagi dan baru saja berkata “Hello,” eh, telepon saya ditutup lagi.

Are you trying to test my patience?” Tangan saya mulai mengepal, urat-urat di leher mulai mengeras, dan tanduk saya pun mulai keluar.

Ke empat kalinya saya mencoba menelpon dan langsung bertanya, “Hello. Does anybody speak English? Anybody speak English there, please! I’m calling from Singapore! You know? S I N G A P O R E!”

Eeeehhhh, ditutup lagi telepon gue, Bok! Begitu terus sampai akhirnya di kali kelima, ia menjawab telepon saya yang sudah mulai kehilangan kesabaran dengan sebuah aplikasi penerjemah bahasa asing.

Astaga! Bener-bener deh orang ini! Hanya sederet kata dalam bahasa Inggris yang sangat sederhana pun ia juga tidak paham? Kesel!

Marah saya sudah mencapai puncak rasanya sewaktu putri sulung saya menghampiri dan dengan sedikit ragu menunjukkan sesuatu pada saya. Ia ternyata sedari tadi sedang mengunduh aplikasi penerjemah bahasa yang sama di gawainya.

Rupanya ia sebenarnya ingin membantu dan ikut bingung melihat saya yang sudah mulai marah. Sementara berbicara pada saya yang sedang emosi pun ia sedikit takut. Hahahaha!

You know what, Kakak? None of them speak English! Very simple English! My goodness!”

“Let’s use this application, Bunda. I’ve never tried this before but let’s just give it a try.”

Ok, lah … dengan menghela nafas saya menuruti kata-kata Lara. Tapi mungkin karena sedang marah jadi rasanya susah sekali menggunakan aplikasi itu. Hingga makin marah lah saya. Hahaha! Si bungsu, Rayyan pun datang menghampiri dan dengan pelan mengelus tangan saya.

Astagfirullah. Kenapa juga harus emosi seperti itu, ya. Bangkit dari sofa, saya pun meminum segelas air putih sambil mengucap istigfar berusaha menenangkan diri.

“Okay, Kak. Let’s try it again.”

Dengan tenang saya mencoba mengutak atik aplikasi baru itu hingga akhirnya sukses dan tahu bagaimana cara menggunakannya. Yaaaayy!! Sambil menarik nafas panjang dan mengucap Bismillah, saya kembali menekan nomor hotel. Ketika telepon diangkat, saya langsung menyodorkan suara yang terdengar dalam bahasa mereka dari aplikasi pada gawai milik Lara. Berhasil! Telpon terdengar disambungkan ke tujuan yaitu kamar hotel Lana.

“Hello. May I …” Tuutt tuutt! Lah! Telepon kamar ditutup! Aaarrghh! Why? Ya, Tuhan!

Menghela nafas panjang saya mencoba berpikir, mungkin anak-anak itu takut mengangkat telepon di kamar atau tanpa sengaja menutupnya. Gustii! Pingin jambak-jambak rambut rasanya.

Sabaaarr Bunda … sabaaarr.

Tanpa putus asa, saya menelepon hotel lagi dan langsung menyodorkan suara terjemahan pada gawai. Berhasil tersambung ke kamar Lana lagi dengan lebih cepat.

“Hello,” jawab suara dari seberang sana, mungkin teman sekamar Lana.

“Hello. May I speak to Lana, please? This is her mother.”

“Oh ok hold on, Aunty. Lanaaaaaaaa.”

“Hi, Bundaaaaa.”

Aaaaaahhhh … terobati sudah rindu ini. Terbalas semua kekesalan saya, setelah mendengar suaranya. Apalagi mengetahui bahwa ia baik-baik saja selama di sana.

Bahagia rasanya mendengar putri saya bercerita tentang bagaimana ia bertemu banyak teman baru serta mengunjungi banyak tempat yang indah. Alhamdulillah. Saya mengatakan betapa kami semua rindu padanya. Tak lupa juga mengingatkannya untuk rajin beribadah dan selalu menjaga sikap. Saya juga berjanji akan meneleponnya lagi di malam sebelum ia kembali pulang ke Singapura.

Kali ini, saya akan langsung mempersiapkan diri dengan aplikasi tercanggih!

(Bersambung)

Sumber Foto: White Sands Primary School Official Facebook Page

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.