Xiamen – The Journey (2)


Xiamen – The Journey (2)

Hari kedua Lana berada di Xiamen dan saya tidak tahu bagaimana harus menghubunginya. Karena gawai milik sang guru pendamping, sebagai satu-satunya alat komunikasi kami dengan anak-anak pun, kelihatannya belum berfungsi dengan normal. Pesan singkat yang saya kirim belum juga terlihat dibaca. Padahal saya sudah berjanji akan menghubungi Lana di malam hari, ketika ia sudah sampai di hotel.

Saya memang melarang Lana berangkat dengan membawa gawai miliknya. Saya ingin ia fokus menikmati setiap detik perjalanannya, bukan malah sibuk sendiri dengan gawai hingga tidak memperoleh pengalaman apapun.

Namun jangan ditanya bagaimana bingungnya saya. Ia belum pernah pergi sendiri sejauh ini dari saya tanpa satupun sarana komunikasi. Sebelum ia berangkat, saya banyak mencari informasi tentang negara yang akan dikunjunginya itu sambil mencari tahu bagaimana kami akan berkomunikasi.

China memang terkenal begitu membatasi masuknya alat komunikasi. Bahkan aplikasi seperti Whatsapp pun tidak bisa digunakan di sana. Itu sebabnya saya berpikir tidak perlu lah Lana membawa gawainya. Toh, saya bisa menghubungi hotel tempat ia menginap nantinya.

Hari ketiga Lana berada di Xiamen. Kegiatan mereka selama di sana memang sangat padat. Saya yang sudah sangat rindu pada putri saya, sudah mencoba bertahan selama 2 hari untuk tidak berusaha menghubunginya. Saya tidak ingin ia semakin rindu pulang ke rumah dan jadi sedih.

Saya benar-benar ingin ia belajar banyak dari perjalanan kali ini dan juga belajar untuk mengatasi masalah home sick nya sendiri. Saya hanya bisa kepo dan mencari tahu apa yang dilakukannya di sana melalui unggahan di akun Facebook resmi sekolahnya.

How I miss you so much, baby girl.

Akhirnya saya menyerah di hari ketiga itu, dan tanpa putus asa berusaha menghubungi sang guru untuk meminta nomor hotel dan kamar tempat Lana menginap. Apa yang terjadi selanjutnya, ternyata cukup membuat urat emosi saya keluar dengan sukses.

(Bersambung)

Sumber Foto: White Sands Primary School Official Facebook

rumahmediagrup/rereynilda

4 thoughts on “Xiamen – The Journey (2)

  1. Peluuuuk. Huhuhuhu kayak apa rasa hati teraduk2. Aku pernah mengalaminya. Tahun 2012, aku ditinggal berdua aja sama tyaga bayi usia 21 hari.suami liburan dari kantor ke Beijing. Dan blas ga bisa dihubungi.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.