Xiamen – The Journey (1)


Xiamen – The Journey (1)

Suatu hari di awal Oktober 2018, Lana pulang dengan membawa sepucuk surat rekomendasi untuk sebuah tes wawancara. Jika lulus, ia akan menjadi salah satu peserta Immersion Programme ke Xiamen, China. Ini adalah program pertukaran budaya antar dua negara yang pesertanya adalah murid-murid Sekolah Dasar pilihan dari masing-masing Co-Curricular Activities. Lana terpilih dari ekskul Choir bersama seorang temannya. Menurut sang guru, ia memiliki leadership, jiwa kepemimpinan, dan kedewasaan yang lebih di antara teman-temannya yang lain.

I’m a proud mommy.

Lana bukan anak yang sulit tapi tidak juga mudah diselami. Kadang ia begitu moody dan mendadak bisa jutek berat. Saya dan ayahnya tidak pernah membiarkan sifatnya yang satu ini. Saya tidak mau ia tumbuh besar menjadi seseorang yang tidak ramah, selalu sinis, dan tidak menyenangkan. Sebenarnya kami lumayan cemas juga membayangkan bagaimana ia akan menghabiskan 6 hari di negara lain dengan teman-teman dan gurunya. Semoga saja tidak ada drama di sana.

Dua hari sebelum keberangkatan, saya menyuruhnya mempersiapkan barang bawaan dan menyimpannya di dalam koper. Proses pemilihan koper saja sudah membuat kami bersitegang. Ia ingin membawa koper kecil saja, padahal barang yang dibawanya lumayan banyak.

Saya yang paham karakternya, mengeluarkan dua jenis koper dari dalam gudang, berukuran sedang dan kecil. Saya ingin ia memutuskan sendiri apa yang harus dibawa. Karena jika saya yang serta merta memutuskan segala hal, ia akan menunjukkan ketidaksukaannya lewat bahasa tubuh dan raut wajah yang tidak menyenangkan. Untuk menghindari kemarahan saya karena melihat reaksinya, lebih baik saya biarkan ia mencari tahu dan memutuskan sendiri.

Akhirnya, setelah menyadari bahwa koper kecilnya tak mampu menyimpan seluruh barangnya, ia mulai cemberut. Udara di Xiamen memang sedang dingin dan berangin, hingga saya menyuruhnya membawa jaket tebal dan beberapa helai pakaian ekstra. Ia kembali menunjukkan sikap tak suka melalui bahasa tubuh dan mimik mukanya.

Saya lalu menutup pintu kamarnya dan mengajaknya bicara. “Adik, you are going overseas, to a place miles away from me. Imagine when it rains there and your clothes are soaking wet. Are you going to buy a new set of clothes or are you going to prepare for the worse?”

Ia pun menurut setelah dengan panjang lebar saya menceritakan bagaimana cara saya mempersiapkan diri setiap kali harus terbang jauh dulu. Pekerjaan saya sebagai seorang pramugari sebuah maskapai asing memang mengharuskan saya selalu siap sedia terbang ke mana saja. Hingga urusan koper, packing dan unpacking sudah menjadi hal yang sangat biasa, bahkan bisa saya kerjakan dengan begitu cepat.

Setelah bicara dan mengajaknya diskusi, ia pun memutuskan untuk membawa koper yang berukuran sedang. Saya lalu mengajarkannya cara menyusun barang dalam koper, cara mengunci dan membuka beserta troubleshoot nya. Ia juga harus mempersiapkan diri dan tahu apa yang harus diperbuat jika nantinya si koper bermasalah dan tidak ada orang lain yang bisa membantu. Harus belajar mandiri, Nak.

Beres? Beluuummmm. Di hari keberangkatan, lagi-lagi mimik mukanya menunjukkan ia sedang kesal.

You see, Bunda? All of my friends are carrying small luggage. And look at my big luggage.”

“No, Lana. Try to look at the other side. That girl is carrying a big luggage, bigger than yours. Does she look upset? No, she looks happy. If you wanted to start making a scene here, you don’t need to go. I don’t want you to bring along this kind of attitude and make other people uncomfortable to see your upset face.”

Ia pun terdiam dan melangkah menuju check in counter.

Lana … Lana. Saya pun menggelengkan kepala dan semakin cemas memikirkan mood nya yang sering tidak terkendali.

Banyak pesan saya berikan padanya. Terutama adalah untuk tidak lalai beribadah. Saya berharap ia selalu bersikap baik dan ramah. Jika ia kesal akan sesuatu hal atau pada seseorang, ia harus belajar menahan diri dan lisannya dari amarah.

Saya memang mengajarkan anak-anak untuk menjaga ucapan. Hold your comments. Stop, think, think again, then do.

Pikir dulu sebelum berucap agar tak ada hati yang tersakiti. Saya juga mengingatkannya untuk selalu tepat waktu, agar orang lain tidak harus menunggunya siap selama berjam-jam. Terakhir, saya berpesan padanya untuk menjaga diri dan sikap selama berada di negara lain, terutama ketika berinteraksi dengan orang banyak.

Have fun, Nak. Enjoy the journey! Be good, be kind.

(Bersambung)

Sumber Foto: White Sands Primary School Official Facebook

rumahmediagrup/rereynilda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.