“Yang Penting Pakai, Bunda.”


“Yang Penting Pakai, Bunda.”

“Rayyan! Lana! Hurry up! Don’t you know what time it is? It’s almost 7 o’clock and none of you had breakfast yet! My goodness!”

Yah, begitulah saya pagi tadi. Sinus yang melanda sejak kemarin rupanya semakin menjadi pagi ini. Akibatnya saya terlambat bangun dan alhasil semua pun ikut terlambat bangun.

Entahlah, saya sudah mengusahakan segala cara agar anak-anak bangun sendiri di pagi hari. You name it. Segala cara yang saya coba hanya berhasil dalam hitungan minggu saja. Setelah itu mereka akan kembali menunggu sang bunda berteriak seperti Tarzan di hutan rimba.

Walau seringkali kesal dan berakibat naiknya kadar emosi sang bunda di pagi hari, sebenarnya dalam hati saya tertawa. Walau dengan mata melotot dan bibir mengeluarkan rentetan perintah berbau bentakan, saya diam-diam tersenyum simpul. Tentu saja tanpa mereka ketahui. Bisa hilang marwah saya di hadapan anak-anak kalau mereka tahu ibunya cekikikan di belakang mereka.

Saya merasa mereka hanya sedang berusaha memasukkan kebiasaan mengomel sang bunda ke dalam minda. Hingga suatu saat kelak mereka tinggal memutarnya bak piringan hitam, tentang saya dan segala omelan di pagi buta. Mereka sebenarnya paham apa yang harus dilakukan di pagi hari. Tanpa perlu lagi melihat papan jadwal harian yang sudah berubah bentuk menjadi hiasan dinding. Mereka benar-benar hanya ingin mendengar teriakan saya, yang mungkin suatu hari kelak mereka rindukan.

Namun apa jadinya, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 7.15 pagi. Mereka seharusnya sudah keluar rumah untuk berangkat sekolah. Saya sekali lagi harus berteriak untuk mengingatkan barang-barang mereka agar tidak tertinggal.

Tergopoh-gopoh Rayyan, putra bungsu saya, masuk ke kamar untuk mengambil sesuatu. Hingga sang kakak harus berteriak memanggil namanya.

“Rayyan! Hurry up! It’s almost time to go!

Okay … okay. I’m taking my socks and putting it on now.

Saya yang sedang melotot dan bersiap menghemburkan omelan pamungkas mendadak tercengang melihatnya keluar kamar.

What are you wearing, Rayyan? Why are you wearing a different pair of socks?

It’s okay, Bunda. I will fold it down. Nobody will know that I’m wearing a different pair of socks. Chillax. As long as I’m wearing socks, right?”

Wes sak karepmu, Le.”

“Bye, Bunda. Love You!”

Speechless.

Much Love,

Reyn’s Drain

6 thoughts on ““Yang Penting Pakai, Bunda.”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.