Love Yourself – (Bukan) Layangan Putus


Love Yourself – (Bukan) Layangan Putus

“Siapakah yang terpenting dalam hidupmu?”

Rasanya hampir semua akan menjawab, Tuhanku, orang tuaku, anak-anakku, pasanganku, mereka yang menyayangiku, dan lain lain.

Sementara bagi saya, SAYA adalah yang terpenting dalam hidup.

Mungkin bagi kebanyakan orang saya akan dianggap egois. Hanya memikirkan diri sendiri hingga menganggap diri sendiri penting, lebih dari orang lain. Atau mungkin dianggap egosentris, bahwa segalanya adalah tentang aku, saya dan diri ini saja.

Banyak yang tidak sadar, bahwa menganggap diri sendiri penting adalah PENTING. Karena bisa memahami mengapa diri sendiri bisa menjadi penting, adalah syarat utama untuk bisa menganggap orang lain ternyata juga penting. Bingung? Jangan.

Diri sendiri akan menjadi penting manakala kita menghormati dan menghargainya. Menghormati dengan menjaga tubuh sebaik-baiknya. Caranya? Mengolah raga dan mengolah jiwa.

Bertebaran rasanya pusat-pusat kebugaran untukmu yang berkantong tebal. Tanpa kantong tebal tentunya banyak cara. Tidak sedikit yang juga mengunggahnya di situs-situs internet. Mengolah raga tentu butuh kemauan dan bukan kemalasan. Karena ada banyak jalan menuju Roma, maka ada banyak cara menuju kebugaran raga.

Mengolah jiwa adalah hal kedua yang sangat penting jika ingin menghargai diri sendiri. Caranya? Sangat mudah. Berlapang dada dengan keikhlasan, berbesar hati walau tanpa senyum kemenangan, menghindari prasangka, dan menjauhi keributan tanpa ujung pangkal. Semua ini akan memunculkan acceptance over denial. Tahap penerimaan atas segala yang pernah terjadi tanpa berusaha sekuat tenaga menolaknya.

Bagaimana kita tahu cara menghormati dan menghargai orang lain, jika pada diri sendiri kita lalai dan tidak pernah berusaha menghargai. Bagaimana kita bisa menganggap orang lain penting, ketika kesehatan diri sendiri bukan hal yang genting. Bagaimana kita mampu menyayangi orang lain, ketika kebahagiaan diri sendiri pun harus tergantung pada orang lain?

Ibarat menggenggam sebuah layang-layang dengan erat. Begitu eratnya hingga kita menyakiti diri sendiri dan memunculkan bilur-bilur luka pada kulit. Hingga ketika sang layang-layang putus dan terbang pergi, luka pada batin akan semakin menjadi. Kadang sampai melupakan genggaman tangan-tangan mungil yang mengharap kekuatan pada sang sandaran jiwa yaitu diri kita ini.

Untukmu yang tengah menangisi genggaman tangan yang tak cukup kuat hingga layanganmu putus dan terbang pergi. Bangkit dan terbang lebih tinggi, bersama tangan-tangan kecil yang menggenggam tanganmu dan berharap berjalan bersamamu hingga akhir waktu.

Untukmu yang sedang berusaha menggenggam layangan dengan sekuat tenaga, lindungi dirimu. Jangan sampai bilur-bilurnya melukai tanpa kotak obat di sampingmu. Pakailah sarung tangan tebal berwarna cerah yang tersimpan di sudut lemari baju. Bersiaplah melihat layanganmu terbang jauh, namun asa pada tatapan mata kecil di hadapanmu tidak perlu ikut jatuh dan rapuh.

Cintai jiwamu, hargai ragamu, cari dan temukan bahagiamu. Karena dirimu … luar biasa penting untuk mereka.

Make yourself a priority. It’s not selfish. It’s necessary.

Much Love,

Reyn’s Drain

4 thoughts on “Love Yourself – (Bukan) Layangan Putus

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.