RECYCLED DECO


RECYCLED DECO

Recycled?

Yep! Semua media yang saya pakai ini adalah hasil daur ulang kanvas dan botol bekas.

Tiga kanvas yang saya pakai untuk membuat motif mandala ini adalah kanvas bekas. Satu milik saya yang hasil lukisnya kurang saya sukai karena agak berantakan, dua lainnya adalah milik Lara dan Rayyan yang setengah jadi. Merasa sayang melihat ketiganya teronggok tak berdaya di pojokan, saya pun mendaur ulang semuanya. Melapisi dengan acrylic paint warna hitam, membuat pola untuk bisa menyatukan tiga kanvas, lalu mulai menggunakan dotting tools untuk mewujudkan motif mandala bertema inner peace.

Tema yang cocok sekali untuk situasi saat ini yang serba tak menentu akibat pandemi. Tak bisa mudik, tak boleh berkunjung dengan bebas antar keluarga, juga menerima banyak berita duka yang mengiris jiwa.

Botol yang saya pakai itu hasil daur ulang juga dari YL Ningxia Red yang saya miliki banyak sekali di rumah. Seperti beberapa botol lain yang sudah saya lukis, kali ini saya membuat motif mandala bertema sama dengan lukisan pada di kanvas. Lumayan kan, untuk mengisi waktu selama berpuasa? Meski lebaran tak bisa saling mengunjungi dengan bebas, paling tidak saya punya home deco baru yang manis dan bikin gemas.

Mau belajar? Tunggu kelas offline “Craft Chain with Reyn” setelah Lebaran, ya. Sehat selalu semua!

Love,
Rere

Bukan KARTINI


Bukan KARTINI

“Mbak, kerja di mana?”
“Hmm … how do I put it in one word?”

I’m a wife and a mother.

Now let me elaborate that.

Sebagai seorang istri, tugasku adalah menjaga suami. Membuatnya sehat, sehingga jauh dari penyakit. Membuatnya nyaman, hingga ia betah berada di rumah yang bersih dan terawat. Menjaga asupan makanan, supaya sehat pencernaan. Memastikan semua pengeluaran, agar titik peluhnya tak melayang entah ke mana. Paling utama adalah menjaga martabat dan nama baiknya, dengan tidak berlaku sembarangan.

Sebagai seorang ibu, tugasku banyak bukan cuma itu. Aku adalah seorang juru rawat, yang harus sigap menangani segala penyakit yang datang menyerang. Aku adalah sang juru masak, yang harus memastikan semua isi perut kenyang. Aku adalah si ahli gizi, yang harus selalu menjaga kesehatan semua penghuni. Untuk itu aku harus menjadi seorang stockist, yang memantau ketersediaan bahan makanan, dari yang gurih hingga manis.

Aku juga menjadi tempat laudry, yang harus menjaga semua pakaian bersih dan wangi. Aku pastinya adalah seorang cleaning service, yang harus memastikan semua ruangan bersih tanpa kotoran atau bau amis.

Aku pun adalah seorang psikolog, yang bahunya harus siap menjadi tempat bersandar dari sebuah kekecewaan atau tangisan. Kadang aku juga jadi seorang plumber, yang berbekal peralatan sederhana, harus membetulkan pipa atau apa pun yang mampet. Oh, tempo-tempo aku juga harus siap menjadi sebuah ensiklopedia. Tempat semua orang bertanya di mana letak pakaian, siapa itu Tuhan, bagaimana bentuk gorgonian, atau bagaimana cara membetulkan mainan.

Kadang aku lupa rasanya menjadi seorang perempuan, yang lemah lembut dan selalu butuh perhatian. Hari-hariku sudah terlalu penuh untuk sekedar memikirkan. Sampai di hari spesial, aku justru sibuk dengan segunung cucian.

Jadi, bagaimana aku harus menjawab pertanyaan tentang pekerjaan, dalam satu kalimat sederhana? Jika setiap harinya, tugasku berubah tergantung keadaan. Padahal aku bukan perempuan hebat, tanpa deret gelar pendidikan, tanpa kartu nama dengan profesi menggiurkan, dan juga bukan sosok ternama. Seperti Kartini yang namanya harum, hingga selalu dikenang sepanjang kehidupan.

Namaku … hanya Bunda. Bunda saja.

Love,
Rere

Kantong Doraemon


Kantong Doraemon

“Mama kok mumet liat isi tas dan kopermu. Penuh sama kantong Doraemon. Opo ae iku isine?”
“Ih, aku yang mumet liat isi tas Mama. Semua campur aduk. Ini lho pake kantong-kantong jadi rapi.”

Begitulah mama, setiap kali melihat saya packing sewaktu masih bekerja dulu.

Beberapa kantong mungil dengan motif senada, menjadi isi koper serta tas tangan yang selalu saya bawa.

Dalam koper, kantong-kantong itu berisi baju bersih, baju kotor, jeroan alias daleman, juga sepatu ganti. Kantong lainnya berisi make up lengkap, pembersih muka dengan kapas dan segala peralatan perempuan, toiletries, obat-obatan, tissue baik kering, basah maupun untuk toilet. Ada lagi kantong untuk segala rupa kabel beserta charger juga power bank, plus assesoris dengan kantong-kantong kecil dalam sebuah kantong berukuran sedang. Kantong dalam kantong, alias kantong beranak. Oh, tak lupa kantong berisi minuman sachet, lalu kantong terpisah untuk cemilan.

Bayangkan, ada berapa banyak kantong dalam satu koper?

Bagaimana dengan isi tas tangan? Ya, sama juga walaupun lebih simple.

Ada kantong kecil berisi make up untuk touch up, kantong untuk tissue, dompet kecil untuk kartu, key pouch, dan kantong obat. Oh, satu lagi untuk printilan seperti minyak oles, sanitizer, dan lain-lain.

Buat saya, seperti ini lebih memudahkan untuk mencari barang yang diperlukan. Namun tidak begitu bagi sebagian, misalnya mama. Menurutnya, saya adalah manusia yang ribet. Hahahaha! Berbeda dengan saya si kantong Doraemon, isi tas mama hanya sebuah dompet, dan segala rupa barang bercampur aduk menjadi satu.

Biasanya, kalau saya yang disuruh mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dan tidak kunjung menemukan, akan saya jungkir balikkan saja seluruh isinya. Kok, mumet melihat segala macam barang bercampur amburadul. Setelah itu saya akan menata dengan rapi, lalu memasukkan beberapa kantong kecil di dalamnya. Tentu saja tak bertahan lama, karena esok hari, isinya kembali seperti semula.

“Pusing ah, Mama, liat banyak kantong. Malah kesuwen mbukak satu per satu.”

Ya, salam!

Kalau kamu, geng kantong Doraemon apa geng Mama?

Much Love,
Rere

Botol Bekas Jadi Vas


Botol Bekas Jadi Vas

“Banyak banget botol NXR.”

Saya memang peminum NingXia Red karena manfaatnya yang sangat baik untuk saya pribadi.

Saking seringnya beli, jadi botolnya pun menumpuk di gudang, karena bentuknya yang manis jadi dibuang sayang.

Sakit kepala yang hari ini menyerang, membuat saya butuh outlet yang harus bikin senang. Maka saya pun melihat sekililing rumah untuk mencari korban.

Voila! Botol-botol bekas, sudah berubah jadi deretan vas cantik, untuk deco di rumah.

Lumayan, kan?

Punya botol bekas? Recycle aja.

Love,
Rere

FLAWS


FLAWS

Ketika ingin mengatakan hal buruk tentang seseorang, ingat jika orang lain juga punya mulut untuk membicarakan keburukanmu.

Ketika ingin memfitnah seseorang, ingat jika orang lain juga punya mulut untuk mengabarkan cerita buruk tentangmu, dan ada telinga yang mendengar untuk menyebarkan tanpa ragu.

Ketika ingin melontarkan caci maki, ingat ada anak-anak yang membuntuti setiap polahmu dan mungkin akan tumbuh besar dengan mulut penuh makian sepertimu.

Jika ingin membalas perlakuan buruk dengan menjadi buruk, apa bedanya kita semua kalau begitu?

Nobody’s perfect, neither you. So, only judge when you have no flaws in you.

Love,
Rere

LISTEN TO UNDERSTAND


LISTEN TO UNDERSTAND

OOPSSS!

Rayyan! How many times Bunda told you to crack the egg in a bowl? Can you be very careful and stop acting smart? The bowl is just there!”

Meledak amarah saya melihat sebutir telur pecah dan meluncur jatuh ke atas selembar karpet yang saya letakkan di dapur. Ini bukan kejadian pertama kali.

Minggu lalu saya pun harus mencuci karpet karena Rayyan juga menjatuhkan sebutir telur ke atasnya. Kejadian ini tidak saya lihat sendiri, karena waktu itu sedang pergi. Begitu sampai di rumah, saya sudah membaui sesuatu yang amis. Ini pasti ada sesuatu yang tidak manis. Benar saja, saya melihat karpet di dapur basah. Meski awalnya tidak mengaku, lewat tatapan tajam Emak Suzana, akhirnya ia mengaku juga.

Pagi ini, baru saja saya mengajaknya bicara sebelum berangkat sekolah. Saya meminta maaf sudah membentaknya tadi pagi karena marah luar biasa. Ia juga saya ajak berdiskusi tentang “jatuh ke lubang yang sama” dan bagaimana cara menghindarinya.

Nak, ibarat hidup. Jika di ujung jalanmu ada sebuah lubang, kemungkinan untuk terperosok ke dalamnya sangat besar. Mungkin saat itu, pandanganmu tertutup rerumputan. Namun selanjutnya, apakah akan merelakan diri terperosok hingga kedua kalinya? Jangan ya, Nak. Itu fungsinya Yang Kuasa menganugerahi kita dengan susunan otak yang luar biasa.

Putar arahmu, ambil jalan lain, atau tutup lubang itu dengan sesuatu yang bisa kau gunakan untuk melangkah maju. Be smart don’t act smart.

“I’m sorry, Bunda.”
“Is it so hard for you to get a bowl? Is it so difficult for you to memorize what I’ve been telling you? I’m telling you things because I’m older than you. I was you age, too. So I know how careless you can be. Do you understand?”
“Understand,
Bunda. I’m sorry. I won’t do it again. I promise.”

Belajar dari kesalahan, Nak. Lalu ingat untuk tidak mengulanginya lagi. Jangan menganggap diri terlalu pintar hingga mengabaikan sekitar. Bertindak dengan cerdas dan hati-hati, bukan merasa diri terlalu cerdas hingga menutup telinga dan mata sampai hati mati.

Love,
Rere

Sincerity


Sincerity

“Don’t be someone many people avoid to be with.”

Selain mengajarkan tentang disiplin dan tanggung jawab, saya selalu mengingatkan anak-anak untuk bersikap baik pada siapapun.

Jangan jadi pribadi yang keberadaannya tidak disukai. Bukan berarti harus berubah menjadi seseorang yang bukan diri sendiri. Bukan juga berarti harus bersikap manis di depan namun bengis di belakang.

Tumbuhlah besar jadi manusia yang tulus dan baik pada sesama. Bagaimana caranya? Mudah namun tak mudah. Dengan menahan lisan maupun tulisan.

Mengapa saya dan suami menitikberatkan persoalan ini?

Kami tidak sedang mengajarkan anak-anak untuk bermuka dua. Kami mengenal masing-masing dari mereka, sehingga mengajarkan untuk merubah segala prilaku yang tak semestinya.

Si sulung, adalah anak yang manis. Meski ketika kecil tak bisa dipegang, ketika besar ia tumbuh pendiam. Saking pendiamnya, ia terbiasa menjawab dengan singkat.

“Kak, have you had your lunch yet?”
“No.”
“Where are you now?”
“Home.”

Jawaban singkat seperti ini bisa memunculkan anggapan tak sopan, meski ia tak bermaksud demikian. Mungkin saja suatu hari nanti ia menjadi seseorang yang tak disukai keberadaannya karena masalah attitude dan kesopanan.

“Ih, males gue kalo ada dia. Gak enak diajak ngomong, suka enggak sopan.”

Si tengah, ia mewarisi banyak sifat saya yang jutek, judes, pemikir, kadang terlalu lugas mengutarakan isi kepala. Padanya saya selalu ingatkan untuk berfikir dan berhati-hati sebelum bicara.

Pernah pada suatu hari saya menasihatinya ketika ia saya ajak bertemu dengan seseorang yang saya hormati sejak bangku sekolah. Mencoba untuk bersikap ramah, sang tamu mengajak si tengah bicara dan bertanya tentang bagaimana saya, ibunya, di rumah. Hanya bergurau saja, tak ada maksud untuk kepo atau apapun, karena ia sedang bercerita bagaimana saya ketika sekolah dulu. Si judes lalu berbisik dengan suara yang lumayan keras hingga bisa didengar banyak orang.

“Why does she need to know?”

Ya, salam! Dia berfikir orang lain tak memahami perkataannya itu. Sepulang dari pertemuan, saya mengajaknya bicara dan mengatakan bahwa ekpresi yang ia ungkapkan itu, sangat tidak saya sukai. Saya tak ingin kelak ia menjadi pribadi yang dihindari.

“Ah! Males gue kalo ada dia. Ngomongnya suka kasar.”

Atau,

“Ih! Males gue kalo ada dia. Ngomongnya nyinyir mulu!”

Si bungsu, yang kerap terlihat sok tau. Ia memang cerdas dan ingatannya sangat kuat. Hingga tiap kali ada pembicaraan, ia akan masuk dan berbagi pengetahuan. Saya paham maksudnya baik, hanya ingin berbagi saja. Namun lelaki kecil ini harus juga mengerti, bahwa seringkali apa yang kita pahami ternyata hanya seujung kuku jari dari orang lain. So don’t act smart. Bersikap rendah hati dan tidak boleh membanggakan diri, hingga kelak tak ada orang yang tidak menyukai.

“Ih! Males gue kalo ada dia. Suka sotoy dan sok iye!”

Jadilah lelaki yang tak banyak bicara, Nak. Seperti ayahmu. Namun penuh dedikasi, bertanggung jawab, dan baik hati. Itu baru lelaki sejati.

Putri-putri kecilku, kalian justru harus bicara. Berani speak up dan tidak boleh diam ketika tidak dihargai. Namun ingat, respect is earned. NOT given. Bersikap baik, penuh sopan santun, dan hormat pada sesama. Itu baru namanya perempuan yang bisa menjaga martabatnya.

Be kind and sincere.

Be so positive, that negative people don’t want to be around you.

Love, Rere

Grounded For Life


Grounded For Life

Pergi dari satu negara ke negara lain. Mengunjungi satu kota ke kota lain. Begitulah kami di masa muda menghabiskan hari.

Berpindah tempat tidur dari satu hotel ke hotel lain. Menghabiskan waktu di udara hampir setiap hari. Menikmati hidup tanpa perlu banyak berpikir hingga dahi berkerut.

Ketika tiba masanya harus berhenti dan menjejakkan kaki di daratan lagi, kami pun melakukannya dengan sepenuh hati.

Meski segala kemewahan serta kesenangan, berganti menjadi teriakan yang tanpa henti. Bak sebuah kaset rusak yang terdengar berulang kali. Begitulah kini kehidupan kami.

Hilang sudah segala hal tentang diri dan keinginan sendiri. Semua berganti menjadi harapan juga impian indah demi masa depan cerah, bersama anak-anak dan suami.

Meski begitu kami tak pernah berdiam diri. Menjalani hari dengan melakukan apa saja demi aktualisasi diri. Menjadi home baker, home caterer, meski harus pontang-panting mengurusi segala hal di rumah, kami tak pernah mengeluh apalagi menunduk pasrah.

Hidup harus terus berjalan, bukan? Inilah petualangan kami setelah tak lagi menaklukkan langit yang luas. Dari pramugari jadi babugari. Hahaha! Always be happy, Girls!

Love, Rere

UMPTN


UMPTN

Eits! Jamanku dulu memang namanya UMPTN, bukan susah sebut dan panjang bak kereta api seperti sekarang.

Silih berganti memandang cerita menyenangkan dari beberapa sahabat tentang berita kelulusan, membuat memoriku sedikit tertarik ke belakang.
Aku memang bukan lulusan UMPTN, karena masuk ke universitas impian dulu, melalui jalur PBUD. Jalur yang sudah sedemikian rupa dibentuk oleh papaku.

“Nanti SMA kamu ambil saja jurusan bahasa. Bakatmu di sana, bukan ilmu pasti dan matematika. Setelah itu jadilah juara di kelas, nanti bisa ikut PMDK. Siapa tahu bisa kuliah di UGM, fakultas sastra. Papa ingin sekali liat anak-anak kuliah di sana.”

Papaku memang luar biasa. Ia paham putri kecilnya tidak menyukai matematika. Padahal dulu, dirimya kerap menjadi sumber contekan ulangan semasa di bangku sekolah, saking pintarnya. Namun ia tidak memaksaku menjadi sepertinya.

Papaku memang sangat pengertian. Ia paham, putri kecilnya hanya tertarik dengan bahasa dan sastra, karena kerap melihatku menulis sebuah karya, dengan mesin tik tua miliknya. Karena itu ia tak pernah memaksaku belajar fisika dan kimia.

Papa … ia inspirasiku. Darinya aku tahu, masa depan harus direncanakan dan ditulis dengan tinta berwarna cetar. Namun ingat, tulislah dengan pintar. Memahami kemampuan, agar bisa maju tanpa gentar. Bukan mundur di tengah jalan karena bingung hingga gemetar.

Selamat untukmu semua! Nikmati masa muda dengan banyak menuntut ilmu. Buah manisnya kelak akan kalian nikmati selalu. Terima kasih jangan lupa, pada ayah dan ibu. Mereka yang membantu menuliskan tinta masa depanmu.

Selamat jadi mahasiswa baru!
Dariku, mahasiswi lama … tapi masih nampak seperti mahasiswi baru. 🤣

Love,
Rere

Daging Untuk Si Anti Daging


Daging Untuk Si Anti Daging

“What’s that, Bunda? Smells so yummy!”
“Come and try.”

Rayyan, bocah yang gampang-gampang susah makannya. Dia memang senang makan, tapi daging … sama sekali tak bakal tertelan. Mau berbentuk apapun itu, pasti hoek-hoek kalau ketemu daging-dagingan.

Hari ini saya membuat lasagna dengan isian yang ada saja di lemari pendingin. Minced meat atau daging cincang, wortel, frozen spinach, frozen hashbrown, dan sebungkus cheddar cheese saja yang saya temukan. Yah, bikin sajalah.

Bagaimana caranya?

  1. Lembaran lasagna direbus dalam air panas yang diberi sedikit minyak goreng. Masukkan satu per satu.
  2. Tumis bawang bombay, wortel yang dipotong dadu, lalu daging cincang. Tambahkan saus spaghetti, bubuk pala, pepper, bawang putih, parsley, oregano, gula, dan garam. Koreksi rasa.
  3. Masukkan sedikit susu cair.
  4. Siapin wadah yang sudah dioles butter, susun tumisan daging lalu taburi keju, kemudian tutup dengan lembaran lasagna di atasnya. Kemudian masukkan hashbrown yang sudah digoreng atau air fry dan sudah dihancurkan, taburi frozen spinach lalu keju. Tutup dengan lembaran lasagna dan ulangi lagi urutannya. Terakhir lembaran lasagna paling atas, lalu taburi keju juga oregano.
  5. Panggang deh, dalam oven yang sudah dipanaskan, dengan suhu 150 derajat selama 15 – 20 menit.

Voila! Si anti daging, sudah empat kali makan lasagna isi daging hari ini. Katanya, so yummy! 😁

Love, Rere

Nulis Lagi. Lagi Nulis


Nulis Lagi. Lagi Nulis

“Teman-teman, siapin naskah bertema parenting untuk latihan menulis setelah SBMB, ya. Saya kasih waktu tiga hari. Mmm, apa tiga jam, ya?”
“Alamak!”
“Oh no! Oh no! Oh no, no, no, no!”
“Bobok, ahh!”
“Duh! Nyesel gue buka grup.”
“Kak Rere, Margareth Thatcher-nya SBMB.”

Hahahaha!

Mereka boleh makjegagig menerima tantangan dari saya ini. Mereka boleh tidak percaya diri karena merasa tulisannya tidak secanggih Dee Lestari.

Keraguan mereka menyerahkan naskah ternyata manis berbuah. Silahkan baca sendiri cerita pendek para peserta pelatihan, di laman rumah media grup ini.

https://rumahmediagrup.com/ibuk/

https://rumahmediagrup.com/andai-mereka-tahu/

https://rumahmediagrup.com/marah-tanpa-amarah/

https://rumahmediagrup.com/sepatu-roda-dari-bapak/

https://rumahmediagrup.com/masker-cinta-rumah-harlyn/

https://rumahmediagrup.com/pejuang-subuh/

https://rumahmediagrup.com/liburan-ala-kami/

https://rumahmediagrup.com/karena-aku-perempuan/

https://rumahmediagrup.com/untukmu-anakku/

https://rumahmediagrup.com/scroll-tap-repeat/

https://rumahmediagrup.com/belajar-2/

Happy reading, peeps! Ayo, kita nulis lagi!

Love, Rere

https://rumahmediagrup.com/category/secangkir-kopi-hangat-emak-rere/

FAITH


FAITH

Semalam saya bermimpi membuka jendela di pagi hari.
Lalu melihat pemandangan gunung yang tinggi.
Udara yang segar, dengan hembus angin yang membuat tubuh bergetar.
Aroma pinus memanjakan hidung, membuat hati sendu menjadi hidup.

Apa daya ketika sadar, hanya nampak bangunan apartemen berjajar.
Bukan tak bersyukur meski jadi tepekur.
Hidup toh harus terus meluncur jika tak ingin jiwa menjadi hancur.

Be happy, Self. This shall pass.

Love,
Rere

LOVE YOURSELF


LOVE YOURSELF

Hai, Cantik!

Hari ini saya ingin berbagi tentang apa yang saya alami dalam enam tahun belakangan ini.

Haid saya berhenti enam tahun lalu, ketika menghadapi sebuah masalah yang lumayan melelahkan. Lahir dan batin.

Hidup sendiri sudah saya jalani sejak menginjak bangku kuliah di kampus biru tercinta. Kemudian bekerja di Jeddah, dan sekarang beranak 3 di Singapura. Jalan berliku tentu ada dan banyak sekali saya lalui. Namun persoalan dengan sebagian orang beberapa tahun silam, akibat salah persepsi, menjadi puncak kesabaran.

Saya depresi dan stress berat, apalagi hanya punya suami sebagai orang terdekat. I’m alone. Sendiri menghadapi semua hal dengan sisa kekuatan. Berusaha menyelesaikan secara langsung dengan menghadapi orang per orang, nyatanya blood is thicker than water. Cul de sac. Jalan saya buntu.

Lelah batin membawa saya pada perubahan tubuh. Saya berhenti menstruasi, padahal secara tanda pada badan, tidak ada symptom menopause dini. Awalnya saya makin stress, karena takut ada sesuatu yang serius terjadi. Kemudian saya menemui seorang gynae untuk memeriksakan diri.

Alhamdulillah. Tubuh saya hanya bereaksi karena terlalu depresi. Hingga dinding rahim menipis dan berakibat berhentinya menstruasi. Meski awalnya tak menerima kenyataan dan takut, namun saya bertekad harus terus maju menghadapi. Senyum lebar akhirnya terkembang dan berucap, terima kasih, Gusti. Saya jadi tak perlu repot pakai kontrasepsi lagi.

Apa yang bisa dipelajari dari cerita ini? Bagaimana saya bisa terlihat tenang? Di mata kebanyakan, bahkan nampak tak menyimpan dendam atau pernah melewati masalah berat. 😉

Cintai dirimu sendiri. Loving yourself is not selfish. Jauhi segala hal yang membuat nyeri. Jika harus berkonflik, hadapi dengan berani dan langsung melakukan komunikasi. Tak perlu sekuat tenaga menghindari, karena ia yang sejatinya memunculkan kekuatan diri.

Lalu accept then let go. Setelah menerima, biarkan ia pergi. Cukup disimpan di sudut hati untuk dilihat jika butuh kekuatan diri lagi. Pat yourself in the back dan bilang, “You did a great job, Self!”

Jangan lupa untuk selalu membuka hati pada segala nasihat atau pengingat yang datang dari sekitar. Legowo dan sumarah. Jalanmu pasti indah.

Have a great weekend, and always love yourself!

Love,
Rere

TALENAN HITAM


TALENAN HITAM

“Hitamnya chopping boardmu, Bunda.”
“Ih, iya. Ya, ampun! Baru sadar.”

***

Melengos wajah suami saya, kala melihat ulang tayangan video live yang biasa saya buat setiap pagi menjelang.

Hampir setiap hari, saya memang menayangkan video pembuatan camilan untuk anak-anak. Pagi itu saya tidak melihat lagi ulangannya seperti biasa, karena terlalu sibuk menyiapkan banyak hal di rumah. Sampai suami dan beberapa teman tertawa, melihat betapa hitamnya chopping board alias talenan yang saya pakai.

Saya benar-benar tidak menyadari noda hitam yang sudah bertanda, di talenan yang selama ini sudah berjasa. Ia yang menemani saya menyajikan masakan untuk semua kesayangan di rumah. Meski nampak hitam tapi saya selalu mencucinya bersih dengan air panas, lho. Ia menghitam entah karena apa, saya pun lupa.

Video itu lalu lumayan membuat saya merenung, dan berpikir dalam tentang kehidupan.

Begitu ya ternyata, kala melihat sesuatu dari sisi yang lainnya. Mungkin selama ini kita sendiri tak pernah melihat cacat cela pada diri sendiri, karena selalu sibuk mengomentari. Bereaksi pada segala hal yang bukan urusan pribadi. Mencibir bahkan bergunjing secara terbuka, tentang masalah orang lain. Masalah yang kita tak pernah tahu kebenarannya, bahkan kadang berasumsi semaunya. Tanpa kita sadari, mungkin diri ini juga menjadi bahan gunjingan, meski tak nampak di permukaan.

Talenan hitam yang baru saya lihat penampakannya melalui tayangan video di dinding hari itu, ibarat sebuah pengingat. Bahwa ada noda, cacat cela, atau kesalahan, yang baru nampak ketika pandangan berubah arah serta haluan.

Hmm … memang kadang butuh merubah pandangan atau mendengar komentar orang tentang diri kita, sebelum akhirnya sadar. Kamu, saya, kita … sama berdosanya. Sama bersalahnya, dan sama-sama punya noda dalam kehidupan.

Terima kasih, talenan hitam. Kalau bukan karenamu, mungkin diri ini tak pernah tahu betapa fokus pada perbaikan diri sendiri itu, yang paling penting dan perlu.

Namun maaf, dirimu terpaksa berakhir di bak sampah setelah cukup mengabdi sekian tahun di rumah. Ibarat noda pada perilaku yang harus diperbaiki setiap waktu, bahkan diubah dan dihilangkan bila perlu.

Maaf, talenan hitam, kedudukanmu di dapur berubah dengan dia yang baru. Seperti halnya attitude yang harus melewati jalan berliku sebelum akhirnya tahu, bahwa refleksi atas diri sendiri itu sangat perlu. Jangan sampai jari ini banyak menunjuk, tapi lupa untuk memperbaiki tingkah laku.

Don’t judge. You might know the names, but never the stories.

Love,
Rere

💔


💔

Bunda, do you know that my teacher talked about broken heart a few days ago?”
“Okay, what is it about?”
“It’s about how we deal with it. I mean, why? What’s the importance of talking about broken heart? So funny.”
“Well, in my opinion it’s as important as the talks about sex. Let me tell you something …”


Sambil tertawa geli, si sulung pernah bertanya pada saya, apa pentingnya pembicaraan tentang patah hati yang diterimanya di sekolah. Usianya memang sudah menjelang 15 tahun, tapi tingkahnya seringkali masih kekanak-kanakan. Sehingga pembicaraan tentang asmara, masih nampak lucu bahkan memalukan di matanya.

Saya lalu bercerita padanya tentang rasa sakit karena patah hati. Tak melulu rasa sakit akibat ulah lawan jenis, tapi mungkin terjadi antara dua sahabat dekat, bahkan anggota keluarga. Rasa sakit yang terasa sangat pedih, ketika harapan sudah terlanjur membumbung tinggi, pada seseorang yang sangat dekat di hati.

Tanpa disadari, luka karena patah hati bisa berdampak buruk pada diri. Seorang yang tadinya cemerlang di sekolah, bisa terpuruk bahkan mungkin gagal karena menolak sumarah. Menolak kenyataan bahwa ia telah gagal mempertahankan hubungan, padahal hati sudah diberikan.

Itu sebabnya pembicaraan tentang patah hati menjadi penting, Nak. Bagaimana hati mempersiapkan diri untuk disakiti. Rasa sakit itulah, yang membuat seseorang berdiri tegak menghadapi hari. Rasa yang tidak perlu ditolak kehadirannya, hanya butuh dinikmati. Menikmati sakit untuk tahu bagaimana mengatakan pada diri sendiri, “I respect me. I respect my feeling and I will deal with it myself.”

Ada banyak hal di dunia ini yang masih terbuka untuk kita pelajari. Tak ada satu jalan pun yang tak berkerikil atau berkelok. Pilihanmu hanya berhenti atau terus. Jika berhenti maka hidupmu berakhir di sini, jika terus, meski sakit, hidupmu akan terus maju.

***

Untukmu Young Girl, life must go on. Jika ia menghilang pergi, biarkan saja. Tak perlu lama meratap dan berharap. Raih semua cita, maju demi masa depan. Cinta milikmu akan datang pada saat yang menurut-Nya tepat, meski mungkin bukan tepat di mata manusia biasa.

Untukmu Mommy … saya memahami. Bahwa ketika anak-anak kita tersakiti, hasrat hati untuk melempar sebuah batu ulekan bekas mengulek sambel belacan, begitu membara. Saya paham rasanya. Tapi putrimu butuh ibu yang kuat dan bijaksana, bukan penuh angkara. Peluk saja ia dan katakan betapa dirimu mencintainya. Soal asmara akan datang pada saatnya. Menangislah sebentar, lalu bangkit dengan senyum mengembang. Hidup ini terlalu berharga hanya untuk memikirkan mereka yang telah menyakiti. Have a self respect and dignity, especially for your daughter. Dia yang pergi, biarkan saja tak perlu menahan atau memintanya kembali. Percayalah, ia tak cukup berharga untuk dipertahankan.

Untukmu sang Lelaki, tak semua orang paham apa maksud di hati. Berani memulai harus berani mengakhiri. Jangan berpikir segan, demi menghindari konflik dan air mata. Air mata pasti kering, namun hati yang bertanya-tanya akan meninggalkan lubang menganga. Berani mengambil hati, harus berani menjaganya agar tak pecah berkeping. Bertanggung jawablah sebagai lelaki yang menghargai kaum perempuan, karena kelak kau akan punya anak-anak perempuan. Mereka yang mungkin akan menangis di pangkuan, ketika sang kekasih pergi meninggalkan.

***

Wahai gadis muda, para perempuan. Tahanlah hasrat untuk terlalu berharap, kecuali siap dengan hati yang mungkin patah. Be strong, bangun dari tidurmu lalu melangkah maju. Hingga kelak bisa kau ajarkan putra putrimu, bagaimana menyikapi rasa sakit itu. Bagaimana ia dihadapi, bukan dihindari.

Stop seeking for happiness, in the heart of others. Happy International Women’s Day!

Love,
Rere

GRATISAN


GRATISAN

“Yah, ambil masker gratisan, yuk.”
“Enggak mau.”
“Ish!”


Secara berkala, pemerintah setempat memberikan kami semua, fasilitas masker yang bisa diambil gratis. Hanya butuh nomor IC atau KTP yang dimasukkan pada sebuah mesin, voila! Masker gratis pun siap meluncur untuk dipakai siapa pun.

Sayangnya, keriangan saya menerima barang gratisan ini kerap bertolak belakang dengan prinsip suami. Ia memang tidak pernah ikut menjadi seorang “kiasu” pada hampir semua hal. Berbeda dengan sang istri yang kerap heboh sendiri. Terutama jika ada kerumunan di sana-sini. 🤣

Padanya, “Biarkan mereka yang lebih membutuhkan mengambil bagian kita. Kita toh masih mampu membeli, meski bukan seorang yang hidup berlebih.”

Bangga, sih, saya padanya. Prinsip ini yang kemudian menjadi sebuah pengingat penting, untuk menekan keriangan saya, pada semua hal yang tidak terlalu saya butuhkan. Walaupun saya masih tetap bahagia mengejar barang gratisan, hingga saat ini. 🤣

Tentu saja dengan resiko menerima “roll eyes” dan muka melengos darinya, yang takjub dengan kegigihan saya. Hingga rela berkeliling mencari masker gratisan ini, contohnya.

“Ini bagus, Yah. Ukurannya besar, pas buatmu biar ganti-ganti.”
“Heleh! Ayah belikan Bunda masker seperti yang kemarin, ya?”
“Okay. Mahal?”
“Enggak.”
“Okay, deh.”

Meskipun bahagia akhirnya punya masker gratisan, namun rejeki jangan pernah ditolak, Gaes!

Love,
Rere

Emak MoDisAn
(Modal Diskon dan Gratisan)

BELIEVE


BELIEVE

“I feel really stressed out, Bunda. Express is hard. School is hard. I get headaches and I’m super sleepy even sometimes after sleeping around 10. I’m not sure how much longer I can cope with it … I’m sorry, Bunda. I’ll try harder.”

Begitu sebagian dari pesan singkat yang saya terima kemarin. Lana, putri kedua saya mengirimkannya di sela masa istirahat sebelum kegiatan ekskulnya dimulai. Pesan singkat tak singkat, yang cukup membuat saya mundur untuk berpikir.

Saya menelaah kata demi kata yang dikirimkannya itu. Berpikir ulang apakah tepat keputusan saya mendorongnya mengambil tawaran untuk masuk kelas akselerasi, atau express stream namanya di sini. Ia juga mengeluh bahwa pada saat yang bersamaan dengan musim ujian di sekolah, madrasah tempatnya belajar agama juga mengadakan ujian.

Saya merasa ia hanya takut menghadapinya. Ia takut gagal. Apalagi setelah 1 mata pelajarannya di sekolah, mendapat nilai yang tidak sesuai harapan. Padahal ia merasa mampu.

Ia lalu bertanya apakah ia bisa belajar pada saya saja tentang Islam, hingga tak perlu datang dan belajar di kelas madrasah. Hmm … ilmu saya sangat tak cukup untuk membekalinya dengan pengetahuan tentang agama. Saya pun masih terus belajar. Itu sebabnya saya mengirimnya belajar ke madrasah, dengan harapan ilmu yang mereka dapat bisa menjadi pegangan dalam hidup kelak.

Sepulangnya dari sekolah, kami mulai berbicara dari hati ke hati. Setelah mendapat banyak pencerahan dari sang ayah, tiba giliran saya berbicara padanya. Sebelum mulai, saya memeluknya dan berkata betapa bangganya kami semua pada segala pencapaiannya di sekolah selama ini.

Sambil mengusap lembut kepalanya, saya mengatakan bahwa saya paham ketakutannya menghadapi ujian. Ia takut karena memang tidak mempersiapkan diri dengan baik, hingga tak punya kepercayaan diri yang cukup. Namun hidup sejatinya berisi penuh ujian, Nak. Jika satu ujian saja membuatmu mundur bahkan sebelum mencoba, bagaimana kamu akan menjalani hidup kelak? Hidup yang pasti akan semakin tidak mudah.

Gagal itu biasa, yang tidak biasa adalah tidak pernah gagal … karena tidak pernah berani mencoba.

Saya mengajaknya untuk mengurai masalah dan mencoba fokus satu per satu untuk menyelesaikan dengan segala kemampuan. Ia saya ajarkan untuk percaya pada kemampuan dirinya sendiri.

If you think you can, you will. If you think you can’t, you won’t.

Ingat, Nak. Ujian itu harus ada, untuk melihat batas kemampuan kita. Kemampuan yang kita dapat melalui proses belajar yang tanpa henti, hingga kelak tiba di ujung hari. Belajar yang harus membuat kita semakin merunduk, bukan mendongak pongah. Bak ilmu padi yang kerap menjadi nasihat.

Jangan mundur menghadapi ujian yang ada di depanmu. Maju dengan berani, percaya pada diri sendiri. Bekali diri, dan jangan pernah menyerah meski hanya sekali.

Pembicaraan pun kami tutup dengan pelukan hangat serta janji, bahwa ia akan mencoba lebih keras menghadapi semua ujian di hadapan. Kerjakan satu per satu, jangan menumpuknya dan hanya pergi berlalu. Selesaikan tugasmu, manfaatkan setiap detik hidupmu.

If you believe in yourself, anything is possible.

Love,
Rere

SewAdorableYou


SewAdorableYou

S.A.Y adalah project remaking old clothes yang selalu saya buat setiap kali mood menjahit datang.

Sudah menumpuk jeans lama milik suami yang sudah tidak dipakai, dan sedang menanti sentuhan. Hari ini saya bertekad akan mulai satu demi project ini lagi. Kasihan “Si Abang” sampai berdebu tak pernah kena sentuh.

Semangat saya yang berkobar rupanya mendapat ujian. Si Abang ngadat. Benang yang harusnya melekat erat pada jarum mesin, kerap terlepas. Belum lagi lampu yang berkedip-kedip genit, kemudian byar pet mati tanpa permisi. Ah, Abang … ngambek rupanya.

Beruntung dua celana milik si dia berhasil saya selesaikan.

Celana hitam, saya padukan dengan rok plisket berwana maroon, milik saya jaman dahulu kala. Terinspirasi dari rok cantik milik Nagita Slavina yang berharga fantastis. Saya juga punya lho, Mbak Gigi. Sedangkan celana hijau, saya tambahkan hiasan ruffles di bagian depan sebagai pemanis. Lumayan, kan?

Jadi, punya baju atau celana yang sudah bosan dengan model yang itu-itu saja? Remake, yuk. Lumayan … ngirit. 😉

Love,
Rere

Hey, You!


Hey, You!

Kamu … sudah selesai belum dengan dirimu utuh?
Kamu … sudah selesai belum berdamai dengan kemarahan yang terpendam?
Kamu … sudah selesai belum dengan proses menerima segala kelemahan, tanpa berusaha sekuat tenaga untuk kelihatan kuat?

Kalau belum, berdamai dulu dengan dirimu, deh.
Hingga tak perlu selalu menanggapi banyak hal dengan amarah.
Hingga tak perlu menjadi “sour” seperti jeruk kecut atau kaku bak kanebo kering pada orang lain.
Hingga tak perlu melihat banyak hal dengan hati penuh prasangka.

Kamu … coba peluk dirimu sendiri dulu.
Kamu … coba bilang, “Aku mengerti kemarahan dan kesedihanku. Aku menerima dan akan menghadapi segala rasanya, tanpa harus repot berlari untuk menghindar.”

Kalau sudah, welcome back!

Love,
Rere

GIRL GUIDE


GIRL GUIDE

Adik, have you prepared your school stuffs?”
“I did,
Bunda. I’m sewing my Girl Guide uniform stuffs now.”
“Whoa! Can you do it?”
“Yea. It’s not perfect but yea, I can do it.”
Pinterr.”

Girl Guide, adalah kegiatan ekstra kurikuler yang dipilih putri saya nomor 2 ini.

Meski awalnya sang kakak meragukan kemampuannya beradaptasi dengan peraturan, sang adik mampu membuktikan. Walau penuh keengganan dan kerap “mecucu” menceritakan polah para senior, ia terbukti mampu menekan ego yang kerap ngeloyor.

Bangga sih, melihatnya semangat mempersiapkan seragam meski kembali mecucu ketika sang bunda hendak mengambil gambar. Hahaha! Ia tak tahu betapa setiap jepretan akan menjadi sisi manis sebuah kenangan.

Oh ya, Girl Guide adalah sebutan untuk Pramuka bagi murid tingkat sekolah menengah atau Secondary di Singapura. Untuk murid sekolah dasar sebutannya adalah Brownies. Mungkin karena mereka masih imut, manis, dan kinyis-kinyis.

Saya sendiri dulu adalah seorang Pramuka semasa bersekolah di SDN TUGU V. Dengan penuh semangat dulu saya belajar tali temali, baris berbaris, dan bermacam keahlian lainnya. I love being Pramuka.

“Then, what did you do yesterday?”
“We made Maggi.”
“Huh? Ah, you’re an expert already.”
“Yeah, but I didn’t eat. I just watched my juniors ate their noodles.”

Pelajaran penting bagi seorang GG: mampu menjahit dan memasak, minimal mie instan. Good job, Adik!

Love,
Rere

Pangeran (Ayam) Kodok


Pangeran (Ayam) Kodok

Rasa aslinya? Saya belum pernah coba sama sekali.

Tak terhitung berapa banyak video tutorialnya saya sudah tonton dan selalu berpikir, susah sekali membuat makanan satu ini.

Sudahlah namanya ajaib, tutorialnya susah setengah mati, hingga berpikir untuk membuatnya saja … saya sudah malas sekali.

Ulang tahun suami mengubah segala pandangan tentang si kodok. Memang setiap ada kemauan, di situ akan muncul jalan.

Memanfaatkan ketertarikan akan kerajinan tangan, saya mulai mengolah si kodok dengan penuh ketelatenan.

Bayangkan saja, hidangan satu ini tu seperti orang kurang kerjaan.

Si ayam calon kodok, dikuliti dengan hati-hati. Sesudah itu si kulit tanpa isi harus diisi kembali, bahkan dijahit hingga semua bersatu tak bisa kabur tanpa permisi. Hmm … kurang kerjaan, kan?

Dikuliti, diisi, dijahit.

Si kentang yang bukan potato couch pun begitu juga. Setelah direbus, isinya dikeruk hingga melompong. Sesudah itu, kerukan kosong itu diisi kembali seperti semula. Iseng banget, kan? Ngapain coba dari awal dikeruk-keruk. Emang kurang kerjaan betul!

Oh, tapi moto hidup saya kan, kalau ada jalan yang susah, kenapa ambil yang mudah? Hahaha!

Jadi, inilah produk baru Dapoer Ranayan dengan rasa yang mungkin tidak original. Berhubung sang bakul belum pernah mencobanya langsung. Namun, jangan bingung. Verdictnya saya dapat dari si dia yang awalnya meringis melihat si ayam berpose bak kodok nanggung.

Dibeli olesan bak foundation tebal.

“Ihhh ayam seekor? Kan tahu Ayah enggak suka.”
“Coba duluu!”
“Oh, lain ya isinya? Wah! Sedap! Enak banget ini!”

Senyum dan hidung sang bakul pun mengembang. Project perdana si kodok berhasil membuat si dia senang. Bahkan, meski deg-degan mengirimnya pada kakak tersayang, komentar yang datang pun nyatanya membuat girang. Ahh, ai laff you pangeran ayam … eh kodok sayang!

Kamu, kamu, enggak pingin nyoba?

Love,
Rere

STOP, THINK, REFLECT


STOP, THINK, REFLECT

“You know, Kak. When I attend zoom meeting with Rayyan’s form teacher, do you know what she said?”
“What is it,
Bunda?”
“She greeted me and
Rayyan only.”
“Hmm … you didn’t find it insulting?”
“Why should I think so?”
“I don’t know. Maybe she always picks on him because you know …
Rayyan can be very naughty at school.”
“I know. I talked to the teacher a lot, but I didn’t find it insulting though. Okay, explain how do you see an insult to me.”

***

Sabtu pagi itu, saya mengajak si sulung berkeliling mengantar pesanan buku pada beberapa pembeli. Tujuan saya ada dua, yaitu saya ingin ia melihat bagaimana ibunya tetap aktif melakukan banyak pekerjaan, mesti tak lagi bekerja kantoran. Kedua, saya ingin sepanjang perjalanan mengajaknya ngobrol tentang apa saja dalam kehidupan. Seperti biasanya.

Pembicaraan menjadi menarik ketika ia menganggap, sapaan yang diberikan sang wali kelas hanya pada saya dan Rayyan hari itu, berkategori penghinaan atau semacam sindiran halus. Ia bercerita bagaimana ia pernah melihat beberapa orang tua siswa yang datang ke sekolah untuk marah-marah karena merasa tersinggung, padahal kesalahan ada pada siswa tersebut.

Ia heran kenapa saya tidak marah, terutama jika sang guru menghubungi saya untuk menceritakan sesuatu hal tentang Rayyan. Ia juga heran mengapa saya justru seringkali menghukum Rayyan karena perbuatannya yang saya anggap keliru. Menurutnya, orang tua lain mungkin akan balik menyerang sang guru.

Saya tersenyum lalu bercerita bagaimana dulu saya selalu menanggapi kritik dan saran dengan kemarahan. Tanpa butuh mendengar dan memahami, saya akan bereaksi keras dan menjadi super defensive. Saya sangat mudah tersinggung, dan menganggap orang lain membenci saya melalui kritikannya.

Pengalaman-pengalaman itu yang membuat pemahaman saya tentang feedback kini berubah. Instead of being defensive dan mendengar hanya untuk mencari celah bantahan, saya justru kini memilih untuk melakukan banyak refleksi diri.

Berhenti dan menahan diri untuk berkomentar, berpikir untuk melihat dari sudut pandang lain, lalu mendengar untuk memahami lebih dalam. Feedback yang masuk pada saya, membuat saya menatap cermin dan melihat “kesalahan” atau “alpa” yang mungkin saya buat tanpa sadar. Dalam hal ini lewat kesalahan yang dilakukan Rayyan di sekolah.

Lalu, instead of menjawab untuk membela diri, saya diam dan berjanji akan berubah lebih baik lagi jika saya memang benar melakukan kesalahan. Saya kan tidak bisa melihat, bagaimana diri ini bertingkah laku, di mata orang lain. Jadi opini, saran, feedback, yang diberikan dengan cara baik dan santun, pasti akan saya dengar dengan baik.

Tentu saja yang disampaikan bukan dengan tujuan untuk menyerang di hadapan publik. Itu sih, anggap saja mereka baru datang dari hutan rimba dan tidak bisa berkomunikasi dengan baik, layaknya manusia yang berakal sehat.

I stop and listen to understand, not reply. Pemahaman yang saya peroleh lalu menjadi bahan untuk berfleksi. Jika saya salah maka saya harus berubah. Begitu juga yang saya ajarkan di rumah. Tak perlu mengeraskan kepala demi sebuah ego diri. Embracing yourself, tak melulu berarti keras hati, kan? 😉

Love,
Rere

You Are Loved!


You Are Loved!

“Bunda, I don’t like my new class.

Tersentak, hati saya seperti tersayat-sayat membaca pesan singkatnya pagi itu.

Jika ia ada di hadapan saya, sudah pasti saya akan merengkuhnya dalam pelukan erat dan mengatakan betapa saya bangga padanya.

Gadis kecil ini memang tumbuh dalam situasi yang tidak mudah. Mengalami beberapa perundungan sejak di bangku sekolah dasar, hanya karena perbedaan warna kulit yang lebih gelap dari sang kakak. Kisahnya seperti cermin yang memantulkan bayangan serupa dengan yang saya alami ketika seusianya dulu.

Ia juga mewarisi sifat saya yang judes dan jutek, meski ia tumbuh lebih berani. Pengalaman membesar menjadi remaja putri bersifat introvert dan penakut, membuat saya banyak membesarkan hati ketiga anak di rumah. Saya mendidik mereka supaya berani menghadapi dunia. Meski kadang kejudesan putri saya ini agak mengkhawatirkan. Hahaha!

Jangan terkejut jika bertemu dan ia akan dengan lugas mengutarakan pendapatnya atas sesuatu. Maaf, kalau ia jadi terdengar terlalu jujur. Saya hanya ingin anak-anak terbiasa mengutarakan isi hati tanpa banyak memendam, tentu saja dengan beberapa syarat yang hingga hari ini mereka terus pelajari tanpa jeda. Termasuk saya.

Saya tidak ingin mereka tumbuh sebagai orang-orang dewasa yang penuh prasangka akibat banyak memendam rasa. Itu sebabnya kala pesan singkat ini terkirim, saya menyikapi dengan hati-hati, karena tidak ingin terjebak dalam situasi penuh melodramatik.

Seiring dengan nasihat untuk melihat situasi dengan tegar diri, saya juga ingin ia tahu bahwa ia dicintai. Saya anjurkan ia untuk bersabar dan memberi waktu pada teman-temannya untuk mengenal lebih dekat.

Yet, segala perubahan yang terjadi di awal tahun ini rupanya seiring dengan berita penuh berkah. Meski sempat merasa sendirian, tak membuatnya surut melangkah dan tetap berprestasi dengan sumringah. Alhamdulillah! Congrats, Adik!

Tetap lah menjadi dirimu, meski kadang harus melangkah pergi sendiri dari kerumun. Berjalan lah maju tanpa ragu, namun ingat untuk selalu merunduk. Menerima nasihat yang datang dari segala arah, dengan lapang dada. Menjadi kuat dan tidak banyak berprasangka.

You are loved, Sayang!

Love, Rere.

Daster … oh … daster


Daster … oh … daster

Bahasan yang menarik karena menyangkut hajat hidup para perempuan. Hahaha!

Saya akhirnya paham dari mana asal usul pembahasan tentang daster yang seliweran di beranda kemarin.

Si Embak Quinn enggak sepenuhnya salah. Buat saya, ia hanya menghimbau para perempuan supaya memiliki self love. Self love bukan selfish ya, teman-teman perempuan terkasih.

Self love itu mencintai diri sendiri, bukan lantas menjadi egosentris, tapi merawat dan bertanggung jawab akan keberadaannya di dunia ini.

Embak Quinn hanya punya 1 kesalahan kecil, yaitu menyinggung soal daster. Baju sejuta umat perempuan, kebanggaan mereka semua. Pokoknya urusan daster, jangan coba-coba nyolek, deh. Tak kurang seorang selebritis cantik sekelas Sarwendah pun kerap menjadi contoh, karena sering terlihat mondar mandir berdaster ria. Tapi … sini ekeh bilangin. Doi mulus, Cint! Putih, mancung, langsing, rambut terawat. Jadi mau pake daster bolong pun enggak ada yang ilfil. Hahaha!

Saya pernah ada di fase males mengurusi diri sendiri, waktu hamil anak 1. Berpikiran bahwa, “ah gue udah laku ini,” menjadi pembenaran saya tampil kumut-kumut. Sampai suatu hari suami saya yang menegur dan minta saya kembali memperhatikan diri sendiri, seperti ketika ia pertama kali bertemu saya berseragam pramugari. Menurutnya saya nampak pucat sekali.

Saya termenung, dan lalu berpikir. Iya, sih. Jika bukan saya yang menghargai diri sendiri, lalu siapa lagi? Bukankah respect is earned, and not given? 😉

Saya pribadi memang bukan pemakai daster, bukan karena merasa diri elegan nan menawan. Eeeaaa. Saya memang bukan pemakai dress panjang juga. Buat saya, ribet. Tidak leluasa bergerak, padahal saya harus petakilan bak tarsan perempuan sehari-harinya. Alasan ke 2 adalah, saya menjadi abai dengan bentuk badan karena sudah nyaman berbaju gombrong bahkan bolong di banyak tempat.

Percayalah, baju-baju besar akan membuat kita tidak menyadari, betapa banyak lemak sudah tertimbun di sana-sini. Saya tidak mengatakan big is not beautiful. Buat saya yang petakilan ini, bobot tubuh yang berat akan membuat saya makin malas bergerak dan cenderung melambat. Sementara saya tak suka bergerak lelet jumelet.

Jadi, ambil bagian baik dari kata si Embak Quinn itu untuk perbaikan diri saja. Walaupun tidak perlu lantas berubah artificial, seperti berusaha keras agar nampak elegan tapi malah berujung menggelikan. Tetap lah menjadi diri sendiri dengan beberapa perbaikan untuk menunjukkan betapa kita mencintai tubuh dan jiwa yang sekian tahun bersama kita. Tanpa sadar bahkan kita dzolimi dan lupa bahwa ia juga butuh dirawat setiap hari.

Merawat dengan tujuan untuk menunjukkan respect pada diri sendiri, dan mengubah beberapa hal menjadi baik agar orang lain juga respect melihat kita. Meskipun 24/7 hanya di rumah saja, seperti saya.

Jangan alergi mendengar perempuan lain mengatakan hal-hal baik untuk perbaikan. Ambil yang baik, buang yang buruk. Jangan kelamaan menyimpan hal buruk, karena akan nampak di raut wajah kita, juga perilaku.

Jadi, mari berubah lebih baik dan semakin menghargai diri sendiri. Pakai lah dastermu lagi, asal ingat untuk selalu terbuka pada hal apapun yang membawa perbaikan diri.

Up up away! For a better me … and you!

Love, Rere

Mount Faber – Singapore Out And About


Mount Faber – Singapore Out And About

Hari ini perjalanan kami dimulai dari Harbour Front. Setelah memarkir kendaraan di tempat biasanya para pelancong datang dari Batam, kami menyusuri jalan menuju sebuah tempat parkir luas.

Siapa mengira di balik sebuah pohon besar yang ada di sana, ada jalur menuju ke hutan belantara.

Tempat pertama yang kami datangi adalah sebuah bunker. Iya, bunker yang kemungkinan menjadi tempat penyimpanan amunisi dan makanan selama Perang Dunia II. Meski agak spooky, namun seru sekali. Membayangkan berada di sana ketika desing peluru bersautan di atas kepala. Jangan lupa membawa sebuah senter atau torch light karena kondisi bunker yang gelap gulita.

Dengan tinggi hanya sekitar 1m dengan luas hanya 2,5m di bagian dalam, bunker ini cocok sih jadi setting cerita horor. Haha! Oh, jangan kaget jika di dalamnya nanti bertemu dengan bermacam hewan. Saya hampir pingsan ketika di depan saya melintas seekor kadal berukuran cukup besar. Hahaha!

In the bunker
Seah Im Bunker

Bak cerita dalam film petualangan, kami lalu melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalan setapak yang kebanyakan naik dengan kemiringan hingga 60 derajat. Warbyasak!

Tiba di atas, kami menyusuri jalan utama yang lumayan besar hingga sampai di sebuah rumah bernomor 11 di Keppel Hill.

Tak banyak cerita bisa saya temukan tentang keberadaan rumah yang konon dibangun pada abad 19 selama masa kolonial. Sayangnya bangunan besar ini lalu tidak terawat dan ditutup untuk umum oleh pemerintah setempat.

Kemudian kami menuju sebuah tempat yang dulu digunakan sebagai tempat penampungan air hujan bernama Keppel Hill Reservoir. Selama masa pendudukan Jepang, konon tempat ini juga digunakan sebagai kolam renang. Hal itu ditandai dengan adanya sebuah tangga sebagai tanjakan untuk diving seperti yang biasa ada di kolam renang.

Undak-undakan di pinggir kolam

Ingat, jangan coba-coba untuk menceburkan diri ya. Konon di masa kolonialisme, di tempat ini pernah ada kejadian tenggelamnya 2 orang tentara Inggris dan seorang penduduk lokal,

Pemandangannya memang breathtaking. Hingga rasanya tak percaya, di tengah kota metropolitan seperti Singapura, ada sebuah hutan dengan kolam seperti ini.

Kemudian kami berjalan lagi dan menemukan sebuah monumen bertulisan Kanji yang dikenal bernama The Japanesse Tomb. Entah apa arti tulisan yang tertera pada monumen batu itu. Konon ini adalah tomb dari Ekasa Komoto, seorang naval engineer asal Jepang. (Sumber: Wikipedia)

Perjalanan kami menyusuri hutan kemudian berakhir di puncak Mount Faber. Bak berdiri di sebuah negeri yang berada di atas awan, kami disuguhkan pemandangan yang sangat menawan. Dengan Sentosa di sebelah kiri, dan sebuah bangunan unik berjuluk The Reflection di sisi kanan.

https://www.facebook.com/reynilda.hendryatie/videos/10224562176428951/?d=n

Kemudian saya menemukan sesuatu yang sangat menarik yaitu The Wishing Bell. Sekilas nampak seperti deretan padlocks yang ada di Pon Des Art, the lock bridge in Paris. Namun bukan kunci yang banyak tergantung di sana, melainkan deretan lonceng imut yang konon diibaratkan sebagai tanda cinta. Cinta yang diabadikan dalam sebuah lonceng, bertuliskan nama pasangan atau doa, yang diharapkan bisa langgeng bahkan setinggi Mount Faber. Awww, so sweet!

Loncengnya bisa dibeli di sana, berharga sekitar $4 lebih saja.

Kemudian kami menuruni bukit untuk menuju ke tempat lain. Oh, sangat mengerikan. Saya sudah berpikir akan meluncur dari atas bukit dan sukses “ngglundung” ke bawah. Hahaha!

Lihat lah betapa strugglingnya saya berusaha turun dengan sepatu yang tidak memadai untuk itu.

Perjalanan berlanjut hingga kami tiba di Kent Ridge Park. Sebagai bagian dari Southern Ridges yang menghubungkan 3 parks melalui jembatan dan jalan yang saling menyambung.

Sebuah pohon berumur ratusan tahun yang terdapat di Kent Ridge Park

Kemudian kami tiba di sebuah area yang dulunya berfungsi sebagai tempat pemakaman umat Muslim. Saat ini area itu sudah ditutup namun beberapa nisan masih bisa ditemukan di sana.

… daaan saya mulai lelah. Hahaha!

Enter at your own risk!

Akhirnya perjalanan kami hari ini berakhir. Meski kaki mulai terasa pegal akibat turun naik bukit terjal, namun saya merasa senang. Berjalan dan menyusuri banyak tempat seru seperti ini, benar-benar membuat hati ini semakin mensyukuri hidup. Indah sekali karunia Ilahi!

Hooray for today!

Saya pun pulang dengan perasaan riang. Tentu saja bukan dengan menaiki si sapu terbang. Hahaha!

Up up away … to 2022.

Begitu lah petualangan saya hari ini. Tunggu cerita saya menyusuri sisi lain dari Singapura selanjutnya, ya.

Photo courtesy of Mak Hany & Dya.

Love, Rere

The Little Thing ​


The Little Thing

“Bunda, why didn’t you wave at me from the window like always?”

Dengan suara parau seperti menahan tangis, bocah lelaki itu menghubungi saya lewat sambungan telepon sekolahnya pagi tadi.

Saya pun kaget, tidak mengira bahwa keterlambatan kami berdua membuka jendela untuk melambaikan tangan , begitu berarti untuknya. Sampai ia harus menghubungi saya melalui telepon sekolah.

Entah apa yang ia katakan pada penjaga counter kantor pusat, tempat telepon itu berada. Mungkin dengan bilang, ada sesuatu yang penting hingga ia harus menghubungi saya secepatnya. Hahaha! Padahal hanya gara-gara lambaian tangan ayah dan bundanya, yang tadi pagi terlambat membuka jendela.

Saya pun segera meminta maaf dan menjelaskan bahwa setelah ia keluar rumah, saya bergegas membuka catatan untuk membayar tagihan bulanan. Sementara sang ayah sedang kebingungan mencari dompetnya yang entah ia simpan di mana. Begitu sadar, ia segera membuka jendela namun sang putra tercinta sudah berjalan masuk ke gerbang sekolah. Hanya sekian detik saja mungkin kami terlambat melihatmu dari lantai atas.

Ahh … Rayyan. Lembut sekali hatimu, hingga sepasang lambaian tangan saja bisa membuatmu sendu. Jangan tanya bagaimana menyesalnya ayah karena terlambat membuka jendela untuk melihatmu. Bunda sih, seperti biasa, pikun dan lupa selalu.

Jadi inget eyang papa kalau urusan seperti ini. Papa yang selalu menitikkan airmata terhadap segala pencapaian putri kecilnya dalam hidup, even the very smallest thing. Hal manis yang membuat sang putri tumbuh percaya diri karena tahu ia dicintai.

Enjoy the little things in life. One day you will look back and realize they were BIG things … for it is the little thing that matter the most.

Love, Rere

Pisang Tanda Sayang


Pisang Tanda Sayang

Hmm … back to school berarti kembali klutekan di dapur nyiapin bekal para krucils sekolah.

Capek, kah, saya? Enggak, tuh.

Saya justru menikmati harus bangun lebih pagi demi membuat makanan kecil yang akan mereka bawa pergi. Saya juga menikmati setiap proses ketika memikirkan bentuk, dan jenis snack untuk anak-anak. Bener, lho. Suwertekewerkewer!

Meskipun tidak melulu fancy, karena saya cuma membuat apa saja yang saya punya di lemari es. Bahan dasarnya, ya … biasanya paling roti. Tinggal mikir mau diisi apa atau dibentuk seperti apa supaya nampak cantik dan menarik.

Padahal mending ngasih duit jajan kan, ya? Gampang, enggak ribet.

Hmm … Dua anak sekolah menengah sih, tetap saya kasih “sangu” $20 untuk seminggu. Sementara Rayyan, hanya boleh jajan di kantin sekolah setiap hari Rabu, sesuai jadwal ekskul. Walaupun saya membekali LL dengan duit jajan, saya tetap membuatkan mereka makanan kecil, lho.

Saya hanya ingin, kelak mereka mengingat semua sentuhan cinta yang saya ungkapkan tak melulu lewat kata. Meski hanya sebuah kotak makan berisi cemilan sederhana, saya ingin mereka merasakan kehadiran saya, di mana pun mereka berada.

Pagi ini, cinta itu terwakili lewat bentuk KW dari pisang molen. Pisang kepok berbalut kulit pastry sebagai tanda cinta, yang beratnya lebih dari segepok. Semoga hari ini saya dapet cipok. 💋

Cihuy!

Love, Rere.

Tumpeng Bikin Seneng


Tumpeng Bikin Seneng

Masih ingat tumpeng mini yang waktu itu saya buat?

Padahal setelah hari itu, saya tobat bikin tumpeng, lho. Makannya 5 menit, menghiasnya bikin pinggang sakit.

Ternyata tobat saya tobat sambel. Cuma sesaat. Hahaha!

Pagi ini bukan lagi tumpeng mini saya buat, tapi tumpeng gede. Hahaha! Meski sudah mengatakan pada mamak pemesan yang kece berat, bahwa karena short notice, saya akan membuat tumpeng sederhana saja. Ternyata … saya tak tahan juga melihatnya terlalu biasa. Padahal hanya punya 1 hari persiapan saja.

Meski tak memberikan deretan pagar cantik, atau bentuk basket seperti sebelumnya, kali ini tumpeng saya penuh dengan bunga. Bak sebuah taman mini di sudut rumah yang asri. Penuh warna-warni, yang memikat hati. Semoga menu yang tersaji memikat lidah juga ya, ibu-ibu baik hati.

Terima kasih sudah memaksa saya membuat tumpeng lagi. Hahaha!

Love, Rere

SEX Education


SEX Education

Bunda, can you sign this consent paper?”
“Okay. Let me see.”

Di hadapan saya terpampang 2 lembar kertas permohonan ijin untuk anak-anak mengikuti kelas pendidikan seks.

Sebelum membubuhkan tanda tangan, saya baca kata demi kata dengan seksama. Ini persoalan penting bagi saya. Sekolah pun tidak memaksa, karenanya memberikan 2 lembar surat ijin berisi pernyataan ya atau tidak.

Di lembar tidak memberikan ijin, saya membaca beberapa alasan yang harus diberikan para orang tua. Di antaranya ada religious reason. Keren. Berarti concern beberapa orang tua benar-benar diperhatikan. Tidak dipaksa, tidak perlu anjuran, semua betul-betul terserah orang tua.

Anak-anak sudah pernah mendapat pendidikan ini ketika di Sekolah Dasar dulu. Meskipun saya yakin, bagi mereka hanya angin lalu. Belum mengerti juga pasti tentang ini itu.

Sambil memegang sebuah pena, saya bertanya pada kedua putri saya yang sudah beranjak dewasa. Tentang bagaimana pandangan mereka soal pendidikan seks ini. Mata mereka terbelalak lalu tertawa terbahak-bahak sambil mengatakan, mereka tidak tahu. Mungkin malu atau segan mendengar hal itu.

“Let me tell you something about being an adult …”

Lalu mulai lah saya bercerita kenapa seorang perempuan memiliki anugrah yang datang setiap bulan. Saya mengajak mereka ber-flashback, mengenang masa-masa ketika mereka kecil dulu. Saya, si pramugari yang tadinya hanya tahu shopping, having fun, dan jalan-jalan saja, mendadak harus berjibaku ketika memutuskan menjadi seorang ibu.

Mereka masih ingat bagaimana saya mengurus sendiri 3 buah hati di rumah, mengelola rumah tangga hanya berdua sang ayah, bahkan masih sempat menerima order makanan. Saya menceritakan pada mereka segala mimpi yang saya punya ketika remaja, dan mengapa baru di usia hampir 30 saya memutuskan untuk menikah. Tentu saja dengan resiko, harus mengakhiri karir saya yang begitu fancy dan menyenangkan.

Saya mengajak mereka membayangkan ketika harus mengandung dan mengurusi anak di usia belasan karena suatu “kecelakaan”. Saya juga memberitahu mereka bagaimana jalan pintas yang terpaksa ditempuh seorang remaja demi menghilangkan “benih” yang muncul karena sebuah kebodohan.

Kemudian saya bertanya tentang mimpi-mimpi mereka di masa depan, dan bagaimana mereka harus memiliki pengetahuan yang memadai demi mencapainya. Setelah yakin bahwa mereka mengerti jika masalah seks bukan lah sesuatu yang lucu jika salah pengertian, saya baru membubuhkan tanda tangan.

Di kolom bertuliskan setuju, dan memberi ijin pada mereka berdua untuk mengikuti kelas itu. Belajar dan kenal tanggung jawab ya, Nak. Tanggung jawab pada diri sendiri yang utama.

“In order to grow, you have to give it a go.”

Love, Rere

Sang Pemenang


Sang Pemenang

Hei, bintang-bintang tampak cemerlang!
Bulan pun punya panggung untuk pamer ketampanan.
Di bawahnya, kerlap-kerlip lampu jalanan menggemaskan.
Ini adalah singa yang sama, yang kini ditatapnya dari jendela kantor lantai dua puluh enam.
Namun kini matanya justru memilih terpejam, ditariknya nafas panjang, hatinya sungguh merasa kepenuhan.

***

Tulisan kontributor satu ini memang membuat saya kagum, sejak pertama kali menerima naskahnya. Tak nampak layaknya seseorang yang baru menulis, seperti katanya dengan penuh rendah hati.

Gaya bahasa yang manis, berhias rima cantik, dan runtut dalam penyusunan, membuat saya mantap memilih naskah ini.

… daaannnn …

Ini lah naskah terbaik, antologi “Rumah Kedua”, event perdana NuBar area Luar Negeri yang berjudul “Bloom Where You Are Planted”.

Congrats Fransiska Defi! Semoga menjadi semangat untuk terus berkarya dalam menorehkan deretan aksara untuk kebaikan.

Terima kasih untuk semua kontributor Rumah Kedua. Para perempuan hebat, yang di sela-sela kesibukan hariannya, mampu berkomitmen, dan menyelesaikan tugas dengan baik tanpa banyak huru-hara.

Event perdana ini adalah bukti bahwa kami mampu menghasilkan sebuah karya. Meskipun bergelar ibu rumah tangga yang 24/7 di rumah saja.

Congrats! Untuk kita semua … para pemenang.

Love,
Rere

Serpihan Hati


Serpihan Hati

Hai, apa kabar semua?

Awal tahun ini lumayan kelabu untuk saya pribadi. Semoga tidak untukmu semua di sini.

Dimulai dengan berita masuknya papa ke rumah sakit karena terkena Covid 19. Sesuatu yang kami semua sebenarnya heran, karena beliau adalah seorang kakek berusia 70 yang sangat bugar. Olahraga tak pernah ditinggalkan dan sangat menjaga asupan makanan. Meski terbilang bandel karena kebiasaan sholat di masjid tak bisa ia tinggalkan. Meski disiplin pada protokol kesehatan.

Ala kulli haal. Semua sudah menjadi ketentuan Sang Empunya Dunia.

Kabar duka selanjutnya, datang dari seorang kakak ipar, yang buat saya, sudah seperti pengganti mama yang jauh di Jakarta. Sang putra sulung, kebanggaan kami semua, berpulang di usia yang sangat muda. Padahal almarhum baru saja merilis sebuah single bertajuk “Fly High”. Rasanya tidak percaya meski kami semua harus ikhlas menerima. Hanya doa selalu terpanjat untuknya, semoga Allah menerangi kubur dan jalannya menuju surga.

Dua berita ini membuat pertahanan saya lumayan jebol, hingga segala hal buruk yang pernah terjadi beberapa tahun belakangan, muncul tanpa bisa dicegah.

Perseteruan, fitnah keji, dan segala hal tidak menyenangkan yang selama ini saya buang serta hindari, muncul tanpa basa basi. Basi!

Meskipun cuek, berusaha memahami dan tidak mengingkari, saya tetap sakit hati. Tumbuh menjadi seorang perempuan yang belajar untuk tidak menyimpan segala hal dalam hati, dan membuat tangan yang terkepal ini harus tersembunyi, membuat saya bingung sendiri. Tidak bisa dengan lugas semua saya habisi, demi tidak menyimpan dendam dalam hati, rupanya butuh lebih dari sekedar berdamai dengan diri sendiri.

Ternyata, proses berdamai itu butuh latihan setiap hari, tanpa jeda sama sekali. Tidak mengingkari rupanya kurang cukup membuat saya memahami perlakuan beberapa orang dari masa lalu, yang sangat membuat kesal dan keki.

Pelajaran hidup yang saya dapat dari suami untuk ikhlas dan sabar, rupanya tidak cukup terpatri dalam hati. Tapi saya belajar satu hal penting, untuk tidak melayani mereka yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Semoga mereka tidak memancing kepalan yang setengah mati saya sembunyikan ini.

As for me, saya akan mulai tahun yang sendu ini dengan lembaran demi lembaran buku yang baru lagi. Semua hal buruk yang pernah dan masih berlangsung hingga saat ini, akan jadi salah satu cerita yang ada di sudut perpustakaan hati. Tidak perlu saya robek dan bakar habis serpihannya, hanya butuh disimpan untuk menjadi senjata menghadapi esok hari.

“Oy! Gue masih berdiri dengan tegak di sini! Ape lo ape lo!”

Have a great day ahead!
Love, Rere.

COMPASSION


COMPASSION

“Why are you laughing at me?”

Begitu tanya saya pada Lana ketika ia menertawakan saya yang hampir salah masuk lift. Bukan hanya salah lift, kacamata yang bertengger di atas kepala pun meluncur jatuh ke lantai. Saya memang nampak seperti seorang yang telah berusia lanjut hari itu.

“Let me tell you something …”

Mendengarnya tertawa, saya spontan menatap dengan tajam.

Lalu meluncur lah sederet kalimat bernada ketidaksukaan saya pada perilakunya saat itu. Bukan hanya pada Lana, tapi juga pada sang kakak yang ikut tertawa.

Saya memang tidak suka anak-anak menertawai orang lain yang sedang tertimpa kesulitan. Be it jatuh, atau melakukan sebuah kesalahan.

“You shouldn’t laugh! Help out if you can.”

Daripada menertawakan, bukan kah lebih baik menolong? Siapa yang bisa memastikan, bahwa suatu hari nanti kejadian yang sama akan menimpa kita? Mungkin tiba-tiba kita terpeleset makgedabruk, jatuh di tengah keramaian, atau melakukan kesalahan tanpa sengaja.

Menunduk, mereka pun meminta maaf pada saya.

Ingat ya, Nak. Kita ini cuma manusia biasa, tempatnya salah dan khilaf. Kita bukan super heroes yang tak pernah salah, atau ahli nujum yang bisa meramal masa depan. Bayangkan, betapa sedihnya ketika kelak kita jatuh terperosok dalam sebuah lubang, dan tidak ada seorang pun mengulurkan bantuan.

Banyak tertawa memang membuat bahagia, tapi menertawakan orang lain yang sedang tertimpa kesulitan itu sangat menyebalkan.

Paling tidak bagi bunda, Nak. Jangan menganggap diri lebih sempurna dan baik dari orang lain hingga menertawakan jadi kebiasaan. Itu saja.

“Be like me, Kak. I’m very kind you know. I like to help people. Right, Bunda?”

Ya, enggak pake pamer juga kalik, Toooong.

Love,
Rere

Tulis Yang Manis


Tulis Yang Manis

“Oy! Mana setoran?”

Begitu seorang sahabat yang bertugas menjaga mading alias majalah dinding sekolah, menyapa saya pagi itu. Hmm … mungkin sekitar tahun 1992-1993.

Penuh senyum, saya serahkan 2 lembar pantun konyol, hasil ketak-ketik saya semalam, menggunakan mesin tik tua milik papa. Tentu saja saya begitu percaya diri, karena menggunakan nama samaran. Saya tidak tumbuh dewasa menjadi anak yang terlalu berani menampakkan diri. Sampai tulisan sendiri, tak mampu saya mencantumkan nama asli.

Biasanya di jam istirahat, saya akan sengaja berdiri di depan mading untuk memperhatikan reaksi siswa dan siswi. Beberapa memang rajin melihat isi mading, yang berubah hampir setiap hari. Kebanyakan tertawa ngakak melihat isi pantun saya yang kocak.

“Ini sih bener banget!” ujar seorang senior sambil tertawa, menatap pantun berisi curhat saya tentang ujian yang bikin kepala sakit luar biasa.

Menulis memang sudah jadi bagian dalam hidup ini. Anggap saja katarsis dari kebiasaan saya yang suka meringis dan ngomong sendiri. Tentu saja bertambahnya usia membuat gaya menulis saya banyak berubah. Dua pelajaran penting dalam menulis, awalnya saya dapat dari 2 orang mentor berkumis tipis.

Pelajaran pertama, saya dapat dari seseorang yang dengan baik hati menjapri dan berbagi hal penting dalam menulis.

“Menulis harus berisi, namun tidak bertujuan untuk menyerang orang lain.”

Darinya saya belajar untuk menulis karena ingin berbagi, bukan untuk menyerang atau mengkritisi. Meski terselubung, diajarkannya saya untuk menahan semua itu. Menulis dengan hati, bukan untuk puja dan puji. Bukan pula untuk menyerang si anu atau ini.

You know who you are, Kak, yang segala ilmunya saya terapkan hingga hari ini. Thank you, You!

Pelajaran kedua adalah tentang memotong tulisan. Meski kritik ini awalnya melemahkan hati, karena berbanding terbalik dengan pelajaran pertama yang saya dapati. Dengan kalimat keras, menurut saya, sang mentor berkata bahwa kalimat saya membuatnya susah bernafas.

Awalnya saya ke-GR-an mengira ia susah bernafas karena tercekat. Rupanya, ia literally susah bernafas, membaca kalimat yang begitu panjang tanpa potongan. Hahaha!

“Jangan baper!” ujar saya kepada hati serta otak yang sempat lemah dan hampir menyerah. Dengan segera, kalimat panjang itu saya potong menjadi beberapa bagian. Jadi kalian sekarang bisa benar-benar tercekat karena cerita saya yang memikat, bukan karena asma yang kumat.

Meski mengikuti beberapa tantangan menulis, saya bahkan tak pernah berfikir untuk menjadi yang terbaik. Saya hanya menulis dengan hati, untuk berbagi hal baik, atau menyimpan ilmu yang masih sedikit di dinding, sebagai pembatas diri. Agar tak perlu menyerang ke sana kemari, dan fokus saja pada cerita yang berisi.

Menulis benar-benar membuat saya banyak merubah diri. Tidak lagi sinis, namun berganti senyum manis. Tidak lagi memandang banyak hal dari sisi kritis namun lebih melankolis. Sesekali berubah mistis namun tetap bikin mringis.

Itu saja, sih. Selamat menikmati hari Minggu yang manis, dengan keluarga yang banyak mringis.

Love, Rere.

Cinta … Tanpa Suara


Cinta … Tanpa Suara

“Remember … you all must take care of Bunda, just like how she took care of you since you are small. Don’t make Bunda angry all the time, and remind her to drink water when I’m not around.”

Lamat terdengar suara lembut namun tegas itu dari pinggir tempat tidur dimana aku terbaring lemah hari itu. Sakit kepala dahsyat yang kualami pasca dirawat memang datang tanpa isyarat.

Dua hari terbaring tak berdaya memang membuatku bak mati rasa. Membuka mata saja rasanya seperti dalam kepala ada bunyi meriam berdentum tanpa jeda.

Ia … yang kudengar suaranya dalam tidur yang tak nyenyak, memang tak pernah kuceritakan dengan congkak. Tentu saja bukan karena tak cinta, tapi rasanya tak rela jika semua jadi ikut jatuh cinta.

Ia … memang tak banyak bersuara, pun tak suka dilihat banyak mata. Ia juga bukan sang pengobral cinta, namun segala ucapannya terdengar seperti obat paling manjur sedunia.

Ia … yang dulu memperjuangkan cinta, hingga rela mengarungi samudera. Tak dihiraukannya berapa besaran hanya demi bertukar sapa.

“Cinta harus diperjuangkan,” katanya.

Perjuangan yang hingga hari ini tanpa lelah ia tunjukkan. Merelakan seluruh harinya berkutat dengan pekerjaan, demi menghidupi kami semua. Tanpa lelah, tanpa pamrih, tanpa pernah berkeluh kesah.

Hidup baginya adalah keluarga. Hidup baginya adalah mengatakan cinta meski tanpa suara.

Untukmu … yang tercinta.
Yang tak pernah ingin kuberitakan ceritanya.
Karena tak ingin pada dunia, ku berbagi cinta.
Cinta yang meski tak bersuara.
Namun karenamu hidupku … sempurna.

Love, Rere

Sumber Foto: WAG

BEING INDEPENDENT


BEING INDEPENDENT

Sembunyi-sembunyi kupandangi si bungsu yang sedang menyiapkan makan malamnya sendiri.

Memasukkan olahan ayam ke dalam airfryer, menyendok nasi dari dalam periuk, daaaan menumpahkannya ke lantai dapur. Dengan cepat diletakkannya pinggan ke atas meja makan, lalu mengambil tissue dapur untuk mengangkat butiran nasi yang jatuh. Kemudian diraihnya vacuum cleaner untuk membersihkan sisa nasi yang bertebaran.

Semua dilakukannya sendiri dengan cepat. Mungkin takut bunda galaknya keburu membeliakkan mata sambil “bernyanyi” dengan suara nyaringnya.

Saya bukannya marah, malah tertawa geli. Saya memang sedang menjaga supaya sakit kepala dahsyat yang sudah 2 kali saya alami kemarin tak datang lagi. Saya tak boleh banyak mendhelik dan marah hari ini. Jadi, meskipun “getem-getem” saya hanya tepok jidat sambil meringis.

Bocah lelaki berusia 9 tahun itu memang sudah mandiri luar biasa. Kemandirian yang kerap diprotes eyang mama.

“Kasihan, masih kecil kok disuruh nyiapin makan sendiri,” begitu selalu katanya setiap kali memprotes “kekejaman” saya mendidik anak-anak.

Saya, cukup mrenges saja.

“Emang, dulu Mama enggak begitu? Malah lebih parah. Aku kemah pertama kali pas umur Rayyan gini, juga nyari barang sendiri, lho. Enggak minta tolong, dan enggak ada yang nawarin buat nolong.”

Hahaha! Eyang mama mungkin lupa betapa kerasnya ia dan papa mendidik saya dulu. Sebagai anak perempuan pertama, saya sama sekali tak bisa bermanja-manja. Meskipun membesar dengan seorang ART di rumah, segelas air pun belum pernah saya minta darinya. Saya justru harus membantu pekerjaan bibik tanpa bisa prembik-prembik.

Tenang, Rayyan.

Kelak ketika dewasa nanti, kamu pasti baru manggut-manggut sambil tersenyum simpul. Melihat beberapa teman lelakimu yang bahkan menyiapkan makannya sendiri pun tak mampu. Sementara kamu sedang asyik menggoreng masakan favoritmu, atau mungkin dengan cekatan membantu istrimu di dapur.

Kemandirian itu tak bisa dalam semalam dipelajari. Tak bisa mendadak masuk ke otak dan hati. Semua butuh waktu dan kebiasaan sejak dini. Semua butuh ibu yang nampak kejam sekali.

Seperti kejamnya eyang mama di mata bunda kecil dulu. Minta air minum pada bibik di rumah pun tercekat kelu. Malah disuruh ambil sapu dan ikut bantu-bantu.

Biar lah bunda nampak bengis kali ini. Buah manisnya akan kamu petik nanti. Janji, jangan buat susah hidup orang lain dengan tergantung pada siapa pun. Lebih baik membantu daripada minta dibantu.

Selamat Hari Ibu untukku, eyang mama, dan semua ibu yang hari ini nampak “kejam” di mata umum. Tugas kami berat, menyandang gelar yang tersemat demi menghasilkan generasi yang hebat. Generasi mandiri yang cerdas, berani, dan mampu survive menghadapi hidup yang kejam ini.

Love,
Rere

Teman Bahagia


Teman Bahagia

“Takkan pernah terlintas ‘tuk tinggalkan kamu, jauh darimu … kasihku.”

Sebaris awal lagu milik Jaz ini membuat saya sedikit merenungi acara mudik yang kerap saya lewati hanya dengan anak-anak saja selama ini. Liburan keluarga (tidak sekeluarga) yang jarang sekali saya lalui bersama suami karena sibuk dengan pekerjaannya.

Saya berusaha memaklumi. Sebagaimana ia yang juga berusaha memaklumi ketika terpaksa harus rela berpisah dengan anak-anak dan istrinya untuk waktu yang biasanya lumayan lama.

Perjalanan mudik saya dulu kerap kali mengundang kernyitan dahi beberapa orang. Menurut mereka, saya tidak seharusnya meninggalkan suami begitu lama. Saya seharusnya 24 jam, 7 hari dalam seminggu berada di sampingnya. Saya tidak seharusnya pergi tanpa didampingi olehnya.

Mereka mungkin lupa, saya juga manusia biasa.

Manusia yang butuh waktu untuk sekedar menikmati do nothing days. Manusia yang sesekali butuh merawat diri from head to toe ke sebuah tempat perawatan kecantikan. Manusia yang juga butuh bersosialisasi dengan orang lain, terutama para sahabat untuk sekedar bertukar cerita dan berbagi rasa.

Suami saya sebenarnya yang justru meminta saya untuk pergi berlibur dengan anak-anak. Ia tahu, saya juga butuh membahagiakan diri sendiri.

Apakah artinya selama ini saya tidak bahagia?

Saya sangat bahagia. Bahagia yang datang dari rasa syukur atas apa yang telah saya lalui dan miliki hingga hari ini. Namun ibarat sebuah gawai, saya juga butuh charging. Butuh sekedar keluar sebentar dari rutinitas, dan menikmati hidup sebagai seorang individu.

Saya butuh ruang.

Memutuskan untuk mengabdikan diri sebagai seorang ibu dan istri, pastinya kehidupan saya berubah 180 derajat dari sebelumnya. Namun saya juga tidak ingin merampas hak sebagai seorang manusia. Saya juga berhak menikmati hari tanpa kerutan di dahi. Caranya? Pergi berlibur selama beberapa hari, bertemu orang tua dan sahabat baik, sudah cukup melegakan hati.

Terima kasih suamiku, karena sudah menempatkan istrimu di sisi bukan di belakang. Terima kasih karena sudah mengingatku sebagai seorang yang masih memiliki hak untuk bahagia. Terima kasih karena menyetujui pemahamanku, bahwa happy wife bermakna happy home. Terima kasih karena bersedia menjalani hari bersama sebagai sepasang “teman” bahagia.

“Percaya aku takkan kemana mana, setia akan ku jaga. Kita teman bahagia.”

Dedicated to my soulmate.

Soulmate aren’t just lovers. They are happy team mates!

Love, Rere

SEBELAS … LIMA BELAS … SELAMANYA


SEBELAS … LIMA BELAS … SELAMANYA

Thank you, ya, kornetnya waktu itu. Enak, deh! Aku suka,” kataku melalui sambungan telpon.
“Kornet? Kornet apa, ya?” tanyanya dengan nada kebingungan.
“Kornet, masak enggak tau? Itu lho, daging ancur dalam kaleng yang kamu bawain waktu itu.”
“Ancur itu … hancur, ya? Kornet saya belum paham … kaleng apa lagi, ya?”
“Ihhhh! Gimana, sih! Kornet, ya … kornet, lah! Kaleng masak enggak ngerti juga, sih!”
“Spell … please.”
C O R N E D Beef. Kornet.”
“Oooh, –Korndbeef. Bukan kornet, laaaah.”
“Orang Indonesia bilangnya kornet! Pokoknya kornet!” kataku mulai kesal.
“Terus, kal … kal tadi apa?”
“Kaleng? Tempatnya kornet!” jawabku dengan ketus.
So, kaleng is tin?”
“Iya! Kalengnya kornet!”
Kornd.”
“Kornet! Pokoknya kornet!”
“Ih! Kan saya bilang yang betul.”
“Biarin! Udah, ah! Aku mau berangkat kerja. Pokoknya tetep kornet! Bye!” kataku menutup telepon dengan marah.

Kami memang beda. Bukan hanya beda bahasa, namun juga karakter. Ia yang pendiam, dan aku yang tidak bisa diam. Ia yang sabar, aku yang tidak sabaran. Ia yang selalu mengalah, aku si “degil” yang tak pernah mau kalah, apalagi mengaku salah.

Setidaknya ini semua sudah tergambar lewat komunikasi fail antara kami berdua. Bahkan di minggu-minggu awal setelah kami berkenalan di dunia maya, lalu bertatap muka di dunia nyata.

Masalah kornet … errr –kornd– ini, hanya salah satu contoh kecil, yang setelah kami pikir ternyata lumayan bikin nyengir. Hahaha!

Sebelas tahun sesudah September 2005, kami yang awalnya berdua menjadi berlima. Dua putri, dan seorang putra melengkapi kehidupan. Keluarga kecil yang ramainya bak pasar malam. Tentu saja bukan tanpa kerikil dan aral.

Namun beda itu tak setengah mati berusaha kami samakan. Biarkan saja ia ada, kami hanya butuh banyak pemahaman. Seperti ia yang paham bagaimana saya mengucapkan kornet, bukan –kornd-. Saya juga belajar memahami bahwa ia tak kenal apa itu kaleng. Sedari kecil ia hanya tahu “tin“.

Apakah beda itu lantas menjadikan kami semakin jauh berjarak? Tentu saja tidak. Lalu, bagaimana cara kami menjaganya supaya tetap utuh meski tak bersuara penuh?

Beda itu jadi kekuatan kami mengajarkan anak-anak tentang warna pelangi. Dengan semburat yang tak sama, ia tetap indah dipandang mata. Mungkin jika pelangi tak berwarna-warni, ia tak akan menghiasi bumi hingga nampak berseri.

Lima belas tahun sudah hingga hari ini, dan beda itu tetap ada di sini. Saya, tidak berubah menjadi dia. Dia, tidak berubah menjadi saya. Kami tetap membawa warna sendiri, namun saling melengkapi. Hingga ketika hujan menghampiri, pelangi siap menghiasi.

Jika ia sedang menjadi api, saya akan berusaha menjadi air yang menyejukkan panas hati. Begitu pula sebaliknya. Maka, biarkan saja beda itu ada.

Untuk sebelas, lima belas … hingga selamanya.

Love, Rere

Dedicated untuk Mbak Emmy Herlina dan suami tercinta, di sebelas tahun kebersamaan. Semoga selalu mencinta di atas segala beda, hingga menuju surga bersama. Sebelas … hingga lima belas … bersama selamanya.

http://parapecintaliterasi.com

PLAGIAT


PLAGIAT

“Anya … Anya … to —”
“Ah! Diam!”

Anya bergeming. Tak diindahkannya suara lirih yang memanggil-manggil namanya.

“Diam kau, Lastri!”
“Oy! Ngomong sendiri! Udah gila, lu? Pulang, Nyet! Gue pulang duluan, ya. Awas digondol wewe gombel, lu!”
“Berisik! Pergi sana! Gue selesai sebentar lagi. Besok harus presentasi, dan gue harus berhasil.”

Menghela nafas, Nayla pun beranjak meninggalkan Anya sendiri, di ruang kantor yang hanya tinggal mereka berdua. Memandang sekeliling dengan bergidik, Nayla memilih menuruni anak tangga ketimbang memasuki lift. Suasana kantor memang belakangan agak berbeda hingga kerap membuat bulu kuduknya berdiri.

Keesokan harinya, dengan cemerlang Anya membawakan hasil pekerjaannya di hadapan para pimpinan. Tak dihiraukannya teguran Nayla yang menganggap ia seperti lupa daratan. Matanya menghitam dan tubuhnya kurus seperti kurang makan.

Anya hanya menjawab dengan senyum mengembang, “yang penting aku sukses, bukan?”

“Anya … Anya ….”
Shut it, Lastri!”

Suara itu lagi! Sial betul si Lastri ini! Tak henti-hentinya berbisik lirih di telingaku.


Anya dan Lastri, dua sahabat yang begitu terkenal di kampus dulu. Anya yang cantik dan terkenal sebagai seorang selebgram, sebutan untuk mereka yang akun Instagramnya diikuti puluhan ribu penggemar. Lastri, gadis desa yang berhasil masuk ke universitas bergengsi itu sebagai penerima beasiswa. Ia sangat cerdas, namun berbeda 180 derajat, penampilannya agak kuno bahkan kampungan. Setidaknya, begitu cibiran yang diterimanya setiap kali ia berjalan tanpa mendongakkan kepala di samping Anya.

Saling melengkapi, begitu jawab Anya tiap kali ditanya, bagaimana mereka bisa bersahabat karib. Tentu saja, karena Anya memang tidak terlalu pintar. Ia hanya pandai menebar pesona. Lastri, adalah pelengkap hidupnya, alias, sang pembuat pekerjaan rumah, dan hampir semua project di kampusnya.

Lastri yang lugu, tak sadar ia diperalat. Kekagumannya pada Anya membutakan mata dan telinga. Tak dihiraukannya cibiran dan pandangan sinis yang hanya dijawabnya dengan senyum manis.

“Anya adalah sahabat terbaikku,” begitu selalu ujarnya.

Ia baru terkesiap sadar ketika pada suatu hari, dilihatnya Anya menyadur hasil tulisan untuk karya ilmiahnya. Tulisan yang akan diserahkan Lastri sebagai syarat meneruskan pendidikan pasca sarjananya.

“A … Anya, kenapa … kenapa kau menyalin semua tulisanku? Aku … aku bisa membantumu menulisnya juga dengan materi yang berbeda.”

Ragu-ragu Lastri bertanya pada sang sahabat yang kemudian menatapnya tajam dengan mata memerah seperti kurang tidur.

“Diam kau, Lastri! Jika kau berani bersuara, akan kuhabisi kau beserta seluruh keluargamu!”

Lastri menunduk kelu, airmatanya tumpah tak terbendung. Terbayang wajah renta ibu, yang sudah bertahun-tahun bertahan hidup dari bantuan Anya, dan sang kekasih yang sudah berumur.

Karya ilmiah itu yang kemudian membuat Lastri menjadi tertuduh. Ia kini berlabel plagiator. Namun ia tak mampu membela diri dan hanya memendam segala kesedihan sendiri. Kesedihan yang makin menjadi, setelah ibu tutup usia secara mendadak. Hilang sudah penopang hidup dan segala kekuatan hidupnya.

Lastri dimasukkan ke sebuah rumah sakit jiwa … oleh Anya, sahabatnya sendiri.

“Kasihan Lastri, aku tak tahu mengapa ia sampai hati. Mencuri karya sahabatnya sendiri,” ungkap Anya penuh kesedihan di sebuah tayangan televisi.

Tak seorang pun melihat senyumnya yang licik di balik kamera TV.

Sementara Lastri, ia mulai depresi. Masa depan cerah yang tergambar di hadapannya musnah dalam hitungan hari. Ia tak lagi berpikir jernih, matanya terus mematung memandang sebotol penuh obat penenang.

Anya semakin berjaya. Namun hidupnya dihantui bayangan Lastri, sang sahabat yang dikhianati. Hingga pada suatu hari ia ditemukan tak sadarkan diri, oleh sang sugar daddy.

“Anya mengalami kelelahan kronis dan sekarang dalam kondisi koma,” ujar dokter yang menerimanya di ruang gawat darurat.

Di dalam ruang ICU, Nayla memandang Anya dengan penuh pilu. Meski mereka tak begitu dekat, namun Anya adalah rekan sekerja. Walau tak pernah dihiraukan, namun Nayla kerap mengingatkan Anya untuk berhenti bekerja terlalu berat.

“Anya … kau dengar suaraku?” ujar Nayla pelan sambil menggenggam tangan kurus itu.

Dilihatnya airmata Anya mengalir dari sudut pipinya, tanda ia masih bereaksi meski dalam diam.

Sepeninggal Nayla, Anya terbaring sendiri. Pelan kesadarannya pulih dan matanya terbuka sedikit. Nampak di hadapannya seseorang berpakaian bak suster rumah sakit, sedang tersenyum manis.

“La … Lastri? Kau … kau kah itu?” ucap Anya dalam hati, sambil memandang ngeri.

Tergambar hari ketika ia menyerahkan sebotol obat ke tangan Lastri, yang diakuinya untuk menenangkan diri. Berharap sang sahabat menenggaknya habis untuk mengakhiri hidup, yang diakuinya sudah mati.

Tak sepatah kata terucap, hanya sebuah garis lurus di layar ECG pertanda sang pasien telah pergi. Suster Astri pun melangkah ke luar ruangan, dengan senyum terkembang.

“Telah kubalaskan dendammu adik kembarku. Tenanglah sekarang di peraduan abadimu.”

(Tamat)

Don’t steal, be original, and proud of your own thing. (Rere)

PAPA


PAPA

“Nanti pas penjurusan pilih saja kelas bahasa, Nak. Terus kuliah di Sastra Inggris UGM, lewat jalur PMDK. Papa lihat minat dan kemampuanmu ada di sana. Papa yakin kamu pasti bisa.”

Papa … canggih, kan?

Baru saja sang putri kecil menginjak bangku kelas 1 SMA, ia sudah begitu memandang jauh ke depan. Benar-benar seorang visioner.

Ia yang selalu mengajariku untuk memiliki keingintahuan akan banyak hal. Memperluas pergaulan, meski sang putri kecil sangat pemalu, dan tidak punya kepercayaan diri sama sekali. Papa tidak peduli. Baginya lebih baik mencoba meski gagal, daripada tidak berusaha sama sekali.

Disuruhnya aku belajar ini itu, dan ikut berbagai komunitas, meski hanya duduk di barisan paling belakang sambil menunduk kaku. Diajarinya aku banyak hal, dan diperkenalkannya pada dunia melalui tayangan berita dan surat kabar.

Papa memang ajaib. Di saat orang tua lain tak menginginkan anak-anak mereka memilih jurusan bahasa di SMA, karena dianggap kelas terbuang, ia justru sebaliknya. Kemampuan sang putri terhadap mata pelajaran bahasa asing, membuat visinya ke depan menjadi jelas. Ia tahu sang putri memang tidak berminat pada mata pelajaran lain. Hebatnya … ia tidak memaksakan kehendaknya sendiri.

Dengan penuh senyum, hari itu kusodorkan sebuah surat berisi diterimanya aku melalui jalur prestasi untuk menjadi mahasiswa di kampus impiannya. Meski akhirnya ia justru jatuh sakit karena khawatir ditinggalkan sang putri jauh ke kota lain, aku tahu ia bangga padaku.

Ia tak tahu betapa bangga aku memanggilnya PAPA. Toga yang kudapat 4 tahun setelah hari itu, kupersembahkan hanya untuknya. Sang visioner yang tidak pernah memaksa, namun selalu penuh dengan semangat dan harapan. Ia tak pernah lelah mendukung hingga membuatku yakin akan berbagai pilihan dalam hidup.

Universitas Gadjah Mada yang sudah 71 tahun berdiri tegak, akan selalu menjadi pengingat. Bahwa tugas orang tua bukan memaksakan kehendak namun harus mengarahkan.

Terima kasih, Pa. What would I do without your full encouragement. Things that built my self esteem grow bigger and bigger. Things that made me who I am now.

Dirgahayu ke-71 UGM tercinta. Semoga selalu jaya dan tetap menjadi pilihan utama.

Love, Rere

TUMBANG


TUMBANG

“Astagfirullah!”

Begitu pekik saya di hari Kamis siang itu, setelah mengunyah sepotong prata yang dibuat si sulung.

Kunyahan pertama tiba-tiba saja membuat bagian wajah sebelah kiri saya kaku hingga tak lagi bisa mengunyah dengan baik. Saya merasa syaraf di bagian itu seperti putus, kulit menebal, dan pipi saya terasa membengkak, hingga tak lagi bisa membuka mulut dengan leluasa.

Kepanikan segera menyerang apalagi ketika menatap pantulan wajah di cermin. Tak seperti biasanya yang kerap berlaku santai, saya seketika panik. Seluruh tubuh seperti kaku, tangan gemetar, jantung berdegup kencang.

Ketiga anak saya pun ikut panik melihat ibunya terpekik di depan cermin sambil menangis. Ya, saya yang kuat bak besi baja ini, hari itu menangis terisak di hadapan mereka.

Saya bukan sedih karena kesakitan atau takut melihat wajah yang bentuknya jadi tak karuan. Bayangan di kepala saya sudah macam-macam. Bell’s palsy, stroke, hingga membayangkan apa yang akan terjadi pada anak-anak kalau ternyata saya tak mampu lagi berfungsi sebagai seorang ibu. Dalam keadaan panik, saya sedikit bersyukur, untuuung saja saya sudah selesai mengurus pembelian buku dan seragam sekolah semua anak pagi itu.

Setelah mandi dalam keadaan gemetar, saya bergegas menghubungi suami yang menyarankan untuk pergi ke rumah sakit. Ia melarang saya membawa kendaraan sendiri, dan dengan perasaan tak karuan saya mengajak putri sulung pergi.

Sesampainya di unit A&E, saya segera ditangani. Dokter yang berjaga hari itu segera memanggil seorang spesialis ENT karena curiga saya menderita kelainan tiroid.

Ingat status tentang mata saya yang disangka dokter berhubungan dengan tiroid? Nah, hari itu lah akhirnya saya dirujuk untuk opname karena dokter khawatir bengkak yang saya alami akan semakin parah jika tak ditangani dengan cepat.

Selanjutnya saya melakukan serangkaian tes mulai dari CT Scan hingga tes darah. Hari itu untuk pertama kalinya, tekanan darah saya naik tinggi hingga ke 174/100. Padahal biasanya tensi saya hanya di angka 100/70 atau di bawah itu.

Hari itu saya baru paham bagaimana bentuk anxiety. Ya, saya terkena anxiety attack yang berakibat tekanan darah saya naik. Tubuh saya juga sedikit limbung dan sempoyongan, mungkin juga karena dari pagi belum sempat makan. Rasanya trauma membuka mulut mengingat wajah yang tiba-tiba membengkak setelah mencoba mengunyah prata.

Setelah mengurus ruangan dan menunggu kedatangan suami, saya segera dimasukkan ke kamar dan menerima infus pertama. Diagnosa dokter, berdasarkan rekaman ct scan, saya terkena Salivary Gland Infection. Infeksi kelenjar ludah.

Penyebabnya adalah virus. Meski dokter juga tak dapat memastikan bagaimana saya bisa terkena virus ini. Beruntung infeksi ini belum dimasuki puss atau nanah. Jika itu yang terjadi maka saya harus menjalani operasi. Ngeri, membayangkan sayatan yang bisa saja saya lalui. Alhamdulillah. Saya cepat mendapat pertolongan dari yang ahli.

Infus antibiotik dan glucose pun saya dapatkan sejak Kamis. Bengkak di wajah saya memang tidak sakit, namun begitu saya coba untuk mengunyah makanan yang sedikit keras, rasanya membuat meringis hingga saya menangis. Sakitnya begitu membuat frustasi karena ngilu dan aneh sekali.

Lambat namun pasti, bengkak di wajah pun mulai kempes. Hingga sore hari ini saya bisa pulang ke rumah lagi. Pesan dokter hanya agar saya menghabiskan antibiotik dan mengubah kebiasaan buruk kurang minum air putih.

Satu hal yang membuat hati saya pedih melebihi rasa perih di wajah hari itu adalah, berkaca-kacanya mata indah Lara, si sulung. Ia mengira saya sakit akibat food poisoning dari prata yang ia buat untuk saya di pagi hari Kamis itu.

“I was shocked and also panicked, Bunda. I got goosebumps, thinking that I might poison you from the prata I made in the morning. I was just trying to be nice, but end up with my mother being hospitalized.”

Oalah, Nak.

Thank you for all your kind well wishes, teman-teman. Stay healthy and always happy, karena meski sekuat baja bisa tumbang juga.

Love Life, Rere.

LUKA


LUKA

Aku tak tahu mengapa umak memberiku nama Luka.

Luka saja, tanpa awal atau akhir kata.

Menurut orang-orang kampung sini, aku dilahirkan tanpa bapak sewaktu umak pergi bekerja ke luar negeri. Usia umak baru 17 tahun ketika itu. Sedang mekar-mekarnya anak gadis, kata mereka.

Umak yang cantik dan pintar terpaksa berhenti sekolah dan harus bekerja keras, demi membayar hutang kedua orangtuanya. Kakek dan nenek yang tak pernah kutahu sosoknya.

“Terbakar dalam rumah sewaktu perampok menyatroni mereka di pagi buta,” kata Pak Saman tetangga desa.

Waktu itu umak sudah berangkat ke luar negeri, dan menjadi buah bibir di kampung. Bagaimana tidak … baru beberapa bulan umak pergi, rumah kakek dan nenek sudah naik tinggi. Keramik cantik menghiasi lantai, mengganti alas tanah yang sebelumnya tiap pagi berhias tai. Ya, kotoran ayam milik tetangga, yang kandangnya ada di sebelah rumah.

Umak juga mengirim sebuah kendaraan mewah, sebagai pengganti becak yang selalu dikayuh kakek keliling desa sebelah. Dibangunkannya sebuah toko megah, untuk nenek yang biasanya berjualan tempe di pasar basah. Tentu saja, semua tetangga memandang gerah. Termasuk komplotan pencuri yang sudah terkenal namanya di pusat kota, geng bramacorah.

Kebakaran rumah umak di desa menjadi akhir kisah hidup dan ceritanya di sana. Umak yang anak tunggal, mengubur semua mimpi dan harapannya bersamaan dengan terkuburnya jasad kakek dan nenek menjadi abu, di rumah kebanggaan mereka yang berujung pilu.

Tak ada seorang pun tahu apa yang terjadi pada umak setelah itu. Hanya kabar burung beredar di kampung, umak bukan hanya bekerja sebagai pembantu. Ia adalah simpanan seorang tauke berharta menggunung. Banyak yang kagum, lebih banyak yang mencibir dengan sinis, biasa lah sesama kaum. Mungkin mereka iri dan dalam hati kecil ingin berjaya seperti umak, yang diam-diam mereka kagumi.

Semua berubah di hari umak kembali. Dengan tubuh kurus kering, umak kembali ke kampung membawa seorang bayi dalam bengkung. Seisi kampung gempar, bisik-bisik semakin tak terbendung liar.

Dengan sisa gemerincing koin di saku, umak menepi di sebuah rumah berpagar bambu. Entah rumah siapa, umak pun tak tahu. Gubuk berhantu, kata Pak Saman dulu.

Umakku tak takut hantu. Ia lebih takut melihat mulut-mulut yang menggerutu. Istri-istri yang takut suaminya jatuh hati, gadis-gadis yang takut kekasihnya berpaling pergi. Padahal umak kembali tanpa penampilan bak gadis ting-ting. Umak kembali membawa sakit, di hati dan diri. Karena di gendongannya ada bayi lelaki yang harus diurus sendiri.

Umak … umak.

Malang sekali nasibmu berakhir. Kataku sambil menatap hembusan asap rokok beraroma tajam … sembari membetulkan gincu berwarna merah terang. Untuk pelanggan lain yang segera datang.

(Tamat)

Love, Rere

Bibi TitiTeliti


Bibi TitiTeliti

Bagi saya, tidak ada satu pun hal yang tidak penting. Semua penting, dan harus diperhatikan dengan teliti.

Memang saya jadi terkesan cerewet dan bawelnya “ndak lumrah“. Hanya karena menolak anggapan, ahhh … gitu aja serius amat.

Tak kurang satu dua sahabat atau keluarga yang bahkan segan membantu saya mengerjakan sesuatu. Takut saya marahi ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Tentu saja ekspektasi saya sendiri. Hihihi!

Bahkan ini juga yang menyebabkan saya tidak mau memakai jasa seorang part timer untuk membantu membersihkan rumah. Setelah dulu pernah kapok melihat hasil kerjanya yang akhirnya saya ulangi demi mendapat hasil yang saya maui.

Seremeh pekerjaan menjemur baju pun bisa jadi akan saya ulangi jika mata ini berbulu melihatnya tidak tertata rapi. Begitu akhirnya saya melatih anak-anak di rumah untuk melakukannya dengan teliti. Searah, sekelompok, dan tentunya tidak berkerut seperti wajah yang merengut.

Hal yang nampak sepele, seperti membungkus peralatan makan plastik untuk pesanan esok pun, saya lakukan dengan sepenuh hati. Berapa pun jumlahnya.

Mungkin karena saya orang yang melihat sesuatu dari pandangan pertama. First impression must be impressed. Bukan untuk menghakimi, hanya semata menikmati karunia penglihatan dari Sang Illahi.

Sendok garpunya jadi cakep kan, Cint? 😉

Namun apakah saya selalu seteliti ini? Enggak juga. Beberapa kali saya pernah melakukan kecerobohan, walau sangat jarang. Salah satu kisahnya akan saya ceritakan nanti di antologi terbaru, hingga kalian bisa tertawa melihat bibi tititeliti tak selalu teliti.

Love Life, Rere

Hmmm ….


Hmmm ….

Semakin banyak melihat
Semakin banyak kelucuan tersemat
Rasanya kumerindu banyak saat
Ketika semua begitu sederhana tanpa sekat

Dunia ini panggung sandiwara memang
Tempat beragam topeng terpampang
Bahkan senyuman ternyata tak melulu riang
Kegundahan pun tak selalu bak airmata tergenang

Susahnya karena terlalu banyak melihat
Rasanya ingin sekali terbang bak kilat
Tak perlu nampak meski hanya sekelebat
Ahhh … mata sudah terpejam, telinga berdesing cepat

Bosanku sudah di ujung hari
Meski pergi bukan kehendak diri
Lucu yang manis masih jadi penghibur hati
Meski kadang terlalu manis bikin sakit gigi

Mungkin harus berhenti pakai hati
Hingga berlalu tak sulit lagi
Hanya ingin menghargai hari
Yang makin cepat berganti


Entah bila semua akan berhenti detaknya … di panggung ini.

Love Life,
Rere

Compassion & Self Reflection


Compassion & Self Reflection

“You know what, Bunda? One day I will go up to our neighbour and tell them that they are very noisy.”
“You mean the neighbour upstairs?”
“Yes. They always make annoying sounds. Children running everywhere, footsteps, very noisy! I can’t sleep you know!”
“Halah! Before you do that, make sure you didn’t make our neighbour downstairs feel the same way, too. You are very annoying most of the time, you know? When you watch TV, you always jump around and stomp your feet. Don’t you think they feel the same way, too?”

Makcep!

Rayyan … Rayyan.

Inget ya, Nak. Kita ini memang paling mudah melihat cacat, cela, dan segala kekurangan orang lain.

Bak kuman yang begitu kecilnya di seberang lautan, namun bisa nampak … padahal ada gajah segede gaban di depan mata yang tak nampak.

Protes sesekali memang perlu, tak salah. Tapi sebelum melayangkannya pada orang lain, “dheloken jithokmu dhewe sek, cah bagus.” Lihat kekurangan diri sendiri dulu. Kita begitu enggak sama orang lain? Kalau iya, ya jangan protes ketika mendapat perlakuan yang sama dari orang lainnya.

Lha wong kamu sendiri yo gedubrakan tur pencilakan di rumah, sampai harus selalu diingetin buat duduk anteng, kok ndadak protes² barang.

“You have anything to say?”
“Mmm … no,
Bunda. I promise I won’t do that again … but I can still talk to our neighbour upstairs, right?”
“Hilih! Gayamu!”

If your compassion does not include yourself, buy a new mirror. (Rere)

Love Life, Rere

DUA BEDA


DUA BEDA

Pagi tadi saya tertarik menyimak postingan seorang sahabat perempuan, yang sering saya baca insightnya seputar dunia perempuan.

Saya bertemu suami di usia yang sudah tidak muda lagi. Terhitung telat untuk ukuran kerabat dekat. Karena di saat saya masih sibuk keluyuran, ugal-ugalan, dan seneng-seneng sendiri, beberapa teman perempuan sudah menyenandungkan nina bobo buat sang buah hati.

Saya bahkan sempat tidak tertarik sama sekali buat menjadi seorang istri. Justru lebih tertarik menjadi ibu tanpa perlu terikat dalam sebuah lembaga pernikahan yang rumit. Sampai akhirnya saya bertemu seorang lelaki.

Laki-laki bertinggi 182cm (lumayan buat perbaikan keturunan) yang berjarak ribuan mil jauhnya waktu itu. Ia tak pernah surut langkah untuk membina komunikasi dengan saya. Perempuan mungil yang hanya dilihat fotonya dari sebuah sosial media. Meski harus terbelalak setiap kali tagihan ponsel sampai ke tangannya.

Psstttt! Jaman dulu belom ada kamera jahanam, ye. Tapi eh tapi … si perempuan juga belom ketemu panci, pampers, apalagi pakek ngosrek toilet. Jadi memang aslik kinclong dan kecenya. Duluuuu. Hahaha!

Anyways, sembilan bulan berkomunikasi tanpa jeda sampai saya dijuluki Miss Ring-Ring, saking enggak pernah lepas ponsel dari telinga. Apa saja yang kami bicarakan, sih? Banyak. Saya kerap memunculkan sebuah contoh kasus yang umum, sambil mencari tahu bagaimana sikapnya akan hal tersebut.

Tentu saja belum sampai pada pembicaraan yang terlalu mendalam, seperti pemilihan alat kontrasepsi. Hahaha! Saya sendiri juga masih bloon, kepikiran buat bertanya pun tidak. Lagipula, kami baru saja saling mengenal. Bisa makjegagig dia kalau tiba-tiba diajak diskusi seputar KB.

Anyways, dalam masa sembilan bulan itu hanya 5 kali saja kami bertemu secara langsung. Lima kali yang membawa saya pada sebuah ketetapan hati, setelah “memaksanya” memilih. Mau berhubungan serius, atau sekedar iseng tanpa tujuan hidup.

Ya, saya emang tukang maksa. 🤣

September kemarin, lima belas tahun sudah perjalanan kami, dan pastinya sangat tidak mudah. Beda budaya, beda latar belakang, beda didikan, beda kebiasaan, bahkan beda bahasa juga sering jadi kendala.

Beruntung saya bukan perempuan yang “diam”. Jika ada masalah mengganjal, saya akan bertanya meski kadang berujung diem-dieman. Biar saja, yang penting tidak ada masalah disembunyikan karena berhasil menemukan satu titik yang sama.

Meski saya terhitung keras kepala dan enggak bisa dilarang, saya tetap meminta ijinnya setiap kali ingin melakukan sesuatu. Be it menimba ilmu, sekedar nongkrong tak tentu, atau jalan dengan temen yang itu-itu. Saya mengharuskan diri untuk minta ijin selalu.

Beruntung, laki-laki itu bukan tipe ribet. Tak selalu mengangguk setuju, kadang ia juga melarang meski saya harus paham alasannya dulu. Di awal tahun pernikahan, sih, saya masih ndableg. Dilarang enggak bakal mempan. Sekarang saya lebih manutan, karena merasa larangannya memang untuk menjaga saya … yang sudah vintage nan langka ini. Susah nemunya lagi.

Jadi, enggak ada patokan untukmu tahu apakah ia lelaki yang tepat atau bukan, untuk menjadi pasangan seumur hidup. Hanya pengalaman. Pengalaman mengenal banyak lawan jenis disertai rangkaian “interogasi” terselubung. Selanjutnya, percaya lah pada instinct dan gut feeling.

Untukmu yang sedang gundah, jangan takut membuat pilihan dengan membuka seluruh panca indra. Don’t be blinded, karena waktu tidak bisa diputar ulang.

Kalau terlanjur sayang meski ternyata tak menemukan kecocokan, gimana? Selama tidak ada kekerasan, verbally maupun physically, banyak-banyak lah komunikasi. Sounds clichè tapi sangat penting dilakoni.

Jangan jadi perempuan yang “pendiam”. Stand up, speak out. Karena hanya dengan “tidak diam”, YOU can change anything.

Love Life,
ReRe

Kamu Dan Kenangan – Maudy Ayunda (Cover)

Being Brave


Being Brave

“Maaf, Cik, tengah cuci bilik toilet, kah? Baju saya jemur jadi basah semua.”

Kemarin seorang tetangga, dari lantai 3 bangunan apartemen kami, mengetuk pintu rumah. Ia ingin tahu apakah kami sedang membersihkan toilet sampai airnya keluar jendela, hingga membasahi deretan baju yang sedang dijemurnya.

Kami tinggal di lantai 5, dan jendela toilet menghadap tepat ke arah tempat kami semua biasa menggantung galah jemuran. Herannya, hari itu saya tidak sedang ngosrek toilet. Lagian saya tidak pernah membersihkan jendela dengan menyemprotkan banyak air. Biasanya hanya saya lap saja.

Setelah suami saya selidiki ternyata jendela toilet memang terbuka dan … basah! Jadi benar lah ada orang yang menyemprotkan air lewat jendela.

Hmmm … siapa pelakunya, ya?

Ya, siapa lagi kalau bukan Rayyan.

Rayyan … memang tak selalu manis. Ia kadang “teramat manis” sampai membuat kami semua kesal dan meringis. Menurut pengakuannya, ia iseng saja menyemprotkan air melalui jendela toilet ketika sedang BAB. Gustiiiii! 🤦🏻‍♀️ Ia tidak mengerti bahwa di luar sana ada deretan baju sedang dijemur.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, ia akhirnya turun ke lantai 3, dan menemui sang pemilik baju itu. Didampingi kedua kakaknya, ia meminta maaf karena tanpa sadar melakukan hal yang merugikan orang lain.

“I’m so sorry, it was ME who sprayed the water through our toilet window. I didn’t realize that I’d wet your clothes. I’m so sorry.”
“Well, though I have to wash my clothes again, but it’s okay. Thanks for telling me this.”
“I won’t do it again. I’m sorry.”

Kami sedang mengajarkan Rayyan artinya berani. Bukan sekedar berani menghadapi kesulitan, namun juga berani mengakui kesalahan, dan berani meminta maaf. Hal mendasar dalam pendidikan di rumah, yang saya dan suami tekankan sejak mereka kecil.

Jangan segan meminta maaf dan mengakui kesalahan. Be humble and have courage.

Well, begini lah romantikanya tinggal di rumah susun. Meskipun saya tidak mengenal tetangga atas maupun bawah, saya bahkan selalu mengingatkan anak-anak untuk menjaga sikap. Misalnya dengan tidak berjalan kaki di dalam rumah bak gajah dengan bobot yang berat, atau terlalu ribut hingga membuat tetangga di sekitar pusing kepala.

Apalagi jika membuat mereka harus mencuci ulang baju yang basah kuyup karena ulah iseng Rayyan ini, contohnya.

“I’m sorry, Bunda. I’m sorry, Ayah.”
“Do 10 times push up!”
“Haaa? But … but ….”
“No buts!”

Love Life,
Rere

N G A M U K


N G A M U K

Well, setelah marah kemarin, lantas apa yang saya kerjakan untuk meredamnya?

Gampang.

Saya membeli es krim kegemaran, yang biasanya saya tahan untuk membeli karena harganya yang bagi saya mahal. Biasanya saya berpikir, “sayang, ah. Mending buat beli fresh milk anak-anak.” Hari itu, saya memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan.

Kemudian, saya meninggalkan anak-anak di sebuah restoran fast food sebagai treat untuk mereka. Saya jarang sekali membawa anak-anak jajan di luar dan lebih suka memasakkan hidangan kegemaran mereka di rumah. Selagi meninggalkan mereka menikmati “jajan mevvahnya”, saya melangkah masuk ke sebuah gerai baju.

Sudah beberapa hari saya eyeing sehelai cardigan bermotif lucu. Tadinya saya hanya menghela nafas panjang melihat deretan angka di sana. Biasanya lagi-lagi saya berpikir, sayang, ah. Mending buat beli groceries.

Hari itu, saya memasukkan cardigan cantik itu dalam keranjang belanjaan. Sambil terus menikmati pemandangan baju-baju cantik di sekitarnya.

“Oh well, I’ll take this, too. Ah this one too, lah.”

Saya bertekad akan menghadiahi diri sendiri dengan sejumlah angka hari itu. Asikkkk! Baju baru!

“Wow! You went shopping, Bunda?”
“Yep. It’s a reward that I deserve, right?”
“I give you my salary later,
Bunda. So you can buy whatever you want.”
“Okay,
Rayyan. I’ll keep that in mind. Make sure you keep your promise.”

Kemudian kami pun mulai tertawa bahagia lagi.

Tentu saja ini bukan satu-satunya cara saya meluapkan amarah. Jika setiap kali marah saya belanja, mungkin tak akan ada beras dan makanan di rumah jadinya.

Kadang saya melampiaskannya dengan ngamuk dan mengubah interior rumah. Bak Supergirl setengah tua, saya mampu memindahkan sebuah tempat tidur berukuran besar dan berat … sendirian. Kemudian memanjat apapun untuk membereskan gudang. Setelah itu semua penghuni akan dengan terpaksa ikut membereskan rumah dan kamar masing-masing, sambil bersungut-sungut kesal.

Saya … tinggal berkacak pinggang dan memerintah ini itu bak seorang mandor bangunan.

Sweet revenge, ain’t it? *smirk*

Be happy, Moms.
Supaya tak ada lubang dalam hatimu, untuk membuat orang lain tidak bahagia sepertimu hari itu.

Happy Moms, Happy Homes, kan? *winks*

Love Life,
Rere

Photo Credit: Suryatmaning Hany

SuperBunda

M A R A H


M A R A H

“Did you bring pencil case, Rayyan?”
“Eeee … no,
Bunda. I forgot.”
“Astagfirullah!”

Sepagian ini saya sudah marah tentang banyak hal di rumah. Marah as in … marah. Bukan hanya pada Rayyan, namun semua penghuni rumah.

Ketika marah, saya memang akan meluapkan segala hal tanpa ragu. Begitu lah saya … and it’s humane, Moms.

Tak perlu berusaha keras menutupi segala perasaanmu demi menjadi contoh terbaik untuk anak-anak.

Just be you.

Well, saya memang bukan contoh ilmu parenting yang baik, karena ketika marah, saya akan menunjukkan bahwa saya sedang marah. Tentu saja marah karena suatu hal, bukan marah tanpa alasan. Setelah selesai meluapkan kemarahan, saya biasanya mengajak anak-anak untuk bicara. Bertukar pikiran mengenai sebab dan alasannya, lalu saling meminta maaf.

Mereka harus tahu bahwa ibunya sama seperti mereka semua … bukan robot. Ibunya juga seorang manusia dengan hati, dengan mood yang sesekali swing ke sana kemari. Dengan raga yang juga bisa merasa lelah sekali, kadang juga bisa bosan atas rutinitas sehari-hari.

Tidak perlu berusaha keras menutupi itu semua, Moms, Ladies. Karena semakin keras usaha kita menutupi kemarahan itu dan bersikap seolah ia tidak pernah ada, semakin banyak hal tanpa sadar akan kita hancurkan. Misalnya, dengan meluapkannya melalui deretan kata di sosial media instead of dealing with it. Percayalah, bukan solusi yang kalian dapat kecuali persoalan baru … atau mungkin bahan gosip terbaru. 🥴

So, deal with your anger. Face it, luapkan bukan tuliskan, lalu cari cara untuk membuatmu tersenyum kembali.

Shopping baju baru mungkin? 😉

Love Life,
Rere

TIMEOUT


TIMEOUT

“Everybody in your room now.”
“Whyyyyyyy?”
“I need to do some works.”
“I’ll turn the volume down, Bunda.”
“Nope. I want a quiet place. Go inside now, please.”
“Guys! Give
Bunda some time.”

Begitu lah perintah saya pada anak-anak ketika sedang mengerjakan sesuatu. As simple as membuat tulisan sederhana ini.

Biasanya saya akan meminta waktu untuk sekedar duduk dan menulis dalam suasana yang sepi. Akibatnya semua harus masuk kamar dan meninggalkan saya di luar dengan tenang. Entah untuk menulis atau melakukan terapi tapping.

Suami saya adalah support system paling besar dalam hal ini. Berpikir bahwa ia bakal ribut atau protes, alih-alih ia sendiri yang memerintah anak-anak untuk masuk kamar dan membiarkan saya menyelesaikan pekerjaan, seremeh apapun itu.

Moms, sesekali kita butuh waktu sendiri. Sekian jam dari 24/7 merelakan tubuh dan pikiran terfokus pada rumah tangga, rasanya tidak akan menjadikan kita ibu yang buruk karena merasa egois.

Menghadiahi diri untuk memikirkannya selama beberapa saat, adalah tanda bahwa kita mencintai tubuh ini. Dengan tidak memperlakukannya bak sedang kerja rodi, karena tubuh ini bukan terbuat dari besi yang selalu tahan banting.

Dirimu butuh juga diperhatikan, dan disayang sebagaimana caramu memperlakukan sekitar. Bagaimana sih kita bisa mencintai orang lain jika pada jiwa dan raga yang bertahun-tahun dipakai bekerja tanpa henti saja, kita tidak bisa.

Pastikan kita memiliki waktu untuk diri sendiri, Moms! Karena jiwa yang bahagia datang dari raga yang sehat. Kesehatan yang tumbuh dari kesadaran untuk mencintai diri sendiri dan itu bukan tanda dirimu egois. Percayalah, ibu yang bahagia akan membuat seisi rumah bahagia.

Love yourself is not selfish!

Love Life,
Rere.

Rumput Tetangga Lebih Hijau?


Rumput Tetangga Lebih Hijau? “Bermula dari titik awal … setelahnya tidak akan kembali”. Sebaris kata ini terlontar dari bibir seorang pembaca kartu Tarot di film berjudul “Rumput Tetangga”. Film bergenre komedi yang diperankan Titi Kamal, Raffi Ahmad, Donita, dan lain lain, yang saya tonton kemarin. Film bertema komedi yang justru sukses membuat saya berlinang air […]

KEBAYA


KEBAYA

Hari Kartini selalu membawa ingatanku di masa SD dulu, kelas empat kalau tak salah waktu itu.

Si itik buruk rupa, yang meskipun prestasi akademisnya membanggakan, namun selalu kalah karena rupa dan penampilan. Penampilan fisik waktu itu memang membuatku kerap jadi korban perundungan.

Hari Kartini di tahun 80-an itu, adalah kali pertamaku berani maju ke depan. Mama yang “memaksa” putri kecilnya yang gak punya kepercayaan diri ini, buat tampil berani.

“Aku enggak bisa lenggak-lenggok depan orang, Ma. Aku kan enggak cakep.”
“Kata siapa anak Mama enggak cakep? Yang penting nanti jalan saja seperti biasa. Senyum lebar seperti kalau kamu ketawa di rumah.”
“Tapi kan, gigiku gede-gede, jarang lagi, trus warnanya juga enggak putih. Malu, Ma.”
“Ayo ah, berani. Anak Mama pasti bisa.”

Akhirnya dengan terpaksa kuturuti keinginan mama buat mengikuti sebuah lomba keluwesan. Sebenarnya di kelas satu aku pernah ikut berkebaya juga, namun hanya pawai bukan lomba. Pengalaman pertama yang traumatis, karena semua orang tertawa melihat sanggul di kepalaku, yang bak helm kebesaran abis.

Pagi itu, hari Kartini sekitar tahun 1985. Kupakai sanggul yang dibuat mama di salon kecil miliknya, dan baju kebaya warna merah warisan mama di masa muda, yang dikecilkan malam sebelumnya. Dengan wajah kemerahan menahan gugup, kupasang senyum lebar meski jantung kencang berdegup. Dari sudut mata kulihat wajah-wajah sinis yang menertawakan. Pasti mereka berpikir, tak mungkinlah si itik buruk rupa ini yang menang.

Upacara bendera hari Senin berikutnya, rupanya ada pengumuman. Takjub, namaku yang terpilih jadi pemenang lomba keluwesan. Kubenamkan wajah di balik topi merah putih dalam-dalam, ketika maju menerima hadiah kemenangan. Lagi-lagi beberapa mata memandang sinis dan berbisik tidak senang. Bagaimana mungkin si itik buruk rupa yang jadi pemenang.

Hari Kartini mungkin hanya nampak soal kebaya dan kebaya saja bagi sebagian. Tak banyak yang paham apa artinya bagi beberapa orang. Termasuk diri ini yang dulu selalu merasa jadi korban. Hari Kartini bikin perempuan kecil itu sadar, dia bukan sekedar itik buruk rupa yang tak pernah akan jadi orang.

Kartinian bukan sekedar kebayaan. Kartinian membuat para perempuan berpikir dengan sadar, “Gue harus merasa nyaman.” Mau kebayaan atau dasteran, yang penting punya kebisaan dan prestasi membanggakan. Jadi ibu Kartini tak perlu melihat kebaya sebagai sebuah penderitaan. Nantilah suatu saat di alam lain, asumsi ini akan kutanyakan. Tapi mohon, jangan cepat-cepat didoakan.

Love,
Ibunya Rayyan (Bukan Ibu Kartini)

Then And Now


Then And Now

“Do you have a boyfriend, Kak?”

Begitu tanya suami saya semalam, ketika kami berlima sedang berbuka puasa.

Pertanyaan ringan yang membuat kedua putri saya makjegagig, njenggirat. Sambil saling memandang, mereka berdua tertawa girang.

“Apelah Ayah ni,” jawab si tengah menjadi juru bicara sang kakak yang tak mampu berkata-kata.

Saya tersenyum simpul. Rasanya baru saja kemarin, mereka berdua memakai tas punggung bertali yang terkait pada kedua lengan saya, supaya kedua balita pecicilan itu tak bisa berlarian. Rasanya baru kemarin saya menggendong Rayyan, mendorong Lana dalam keretanya, dan menggandeng tangan mungil Lara, turun naik kendaraan umum ke mana-mana.

Sekarang saya harus siap jika suatu hari nanti, ada lelaki muda mengantar mereka berdua pulang ke rumah. Meski tak ingin membayangkan, namun cepat atau lambat saat itu pasti akan datang.

Sang ayah hanya tidak ingin putri-putri kecilnya nanti terkaget-kaget manakala mendapat surat cinta dari seseorang. Walaupun saya tahu, ia akan menjaga mereka berdua sekuat tenaganya.

“Bunda, do you know the feeling of being neglected by your crush?”

Hadeh! Kalau yang satu ini, tak perlu ditanya tentang urusan cinta. Rasanya ia cuma butuh dijitak dan dijewer saja.

Love, Rere

Senandung Cinta


Senandung Cinta

Siapa tak pernah merasakan cinta. Mungkin hanya mereka yang tak bernyawa, atau pernah merasakan kepedihan.

Cinta, yang kadang menjadi inspirasi sebuah alunan. Diramu dengan musik yang indah hingga menjadi sebuah kasidah.

If You’re Not The One, mungkin pernah membuat seseorang berkata sial! Namun senandung selawas Seroja, nyatanya mampu membuat sebuah kisah sedih berubah menjadi senandung penuh kasih.

Bagaimana dengan kisah yang lain? Tentu saja semua begitu mengaduk perasaan dan batin.

Someone’s Watching Over Me, mungkin yang paling mampu mengobrak-abrik tatanan hati. Hati yang begitu penuh cinta, namun dihancurkan dalam sekejap mata. Hingga semua harapan luluh lantak, tak bersisa.

Selamat untukmu! Deretan aksara yang tertuang qdarimu, mampu membuatku merenung. Bahwa perjalanan hidup memang sangat berliku. Meski sulit namun hidup harus terus bergerak, dari sebuah ruang sempit … bernama sakit.

Terima kasih untuk 20 penulis yang bersedia berbagi senandung cinta kasihnya. Para perempuan hebat, dan lelaki luar biasa.

Salam hangat,
Rere
(Nubar Area Luar Negeri)

Hitam Putih Perempuan


Hitam Putih Perempuan

Perempuan.

Selalu punya cerita mengejutkan. Isi hatinya tak mudah dicari jawabnya. Semua tertuang dalam 21 cerita yang sangat menghangatkan.

Perempuan yang bermetamorfosa, ada lalu tiada, menghadapi kepingan puzzle kehidupan, hingga kembali menjadi manusia purba.

Sebuah kacamata milik seorang mama, ternyata berisi kenangan penuh duka lara. Namun ia membentuk sebuah jiwa, menjadi tegar menghadapi dunia. Meski kadang butuh tiga sahabat, atau seseorang yang sekedar duduk to keep me company silently, through the rain. Serta deretan kisah lain yang begitu menawan.

Surat Untuk Diriku Yang Dulu, nyatanya paling mencuri hatiku. Kisah manis penuh kesederhanaan, yang mampu membuat siapa pun yang membacanya, larut melangut.

Selamat hey kamu! Deretan aksaramu mewakili pengembaraan seorang perempuan, yang sedang mencari jati diri di tengah sebuah kerinduan. Bahwa ada hitam, dan putih di setiap perjalanan.

Peluk penuh cinta untuk 20 perempuan hebat yang bersedia berbagi rasa. Sebagai ibu, emak, anak perempuan, maupun sahabat bagi sesama.

Salam hangat,
Rere

D.I.Y FASHION


D.I.Y FASHION

Hmm … D.I.Y?

Yes! Do It Yourself.

Siapa bilang untuk jadi fashionable butuh modal besar?
Siapa bilang untuk jadi fashionista butuh branded stuffs atau designer clothes?

Be your own design artist, Gengs!

Buka lemari, cari baju yang sudah kekecilan, atau malah kebesaran, atau yang sudah tidak terpakai karena sesuatu hal.

Cari inspirasi dari internet yang bejibun dibagi, buka Pinterest untuk ide seru, dan cari video tutorial yang kamu mau.

Saya memang bukan penjahit betulan, karena hanya belajar secara otodidak. Menjahit baju baru nyatanya memang kurang menarik hati saya. Mendhedeldhuwel baju lama yang dijadikan baru rasanya lebih menarik kalbu. Caelah!

Apa saja D.I.Y Fashion yang pernah saya buat? Semoga menjadi inspirasi ya, Gengs!

Yuk, buka lemarimu dan bikin sesuatu yang lama jadi baru!

Love,
Rere & SewAdorableYou!

PS: Ini hanya sebagian kecil hasil oprekan tangan saya mendhedeldhuwel baju lama. Ada beberapa baju yang kemudian berubah bentuk menjadi tas bertali, atau lunch bag tempat anak-anak menyimpan kotak makan.