DENA – Hitam Putih Perempuan


DENA – Hitam Putih Perempuan

“Maaaa, mana jaketku? Udah telat nih!”
“Maaaa, tadi aku taro kacamata di meja kok hilang?”
“Maaaa, tolong setrika baju Papa yg ini dulu dong. Enggak mau ah pakai yang udah disetrika itu.”

Dena, sedari pagi sudah bangun. Dengan gerakan super cepat ia menyiapkan sarapan, bekal ke sekolah kedua anak kembarnya, serta bekal suami ke kantor. Ya, mereka semua malas pergi ke kantin hingga meminta Dena menyiapkan bekal untuk makan di siang hari.

Dena melakukan semuanya dengan tulus hati. Walau hidupnya berubah 360 derajat sejak memutuskan berhenti dari pekerjaan terdahulunya. Di masa muda, Dena adalah seorang awak kabin sebuah maskapai internasional. Penampilannya selalu glamour dan memikat. Sepatu berhak tinggi, tas tangan bermerk mahal, make up cantik, serta keluar masuk pusat perbelanjaan terkenal adalah kesehariannya.

Bertemu dengan Raka, yang kemudian menjadi suaminya, benar-benar merubah sudut pandang Dena tentang kehidupan. Ia rela berhenti dari pekerjaan yang membawanya keliling dunia dan bergelimang harta. Tak lagi dipedulikannya semua harta dunia. Apalagi selepas menikah, ia mengandung anak kembar lelaki dan perempuan. Tora dan Tiara, semakin melengkapi hidupnya.

Hidup yang kemudian ternyata membuatnya berubah. Dena tidak lagi mempedulikan dirinya sendiri. Hidupnya adalah melulu tentang Raka, Tora, dan Tiara saja.

Raka bukanlah lelaki yang romantis. Ia tidak pernah mengingat hari lahir Dena yang dulu selalu dirayakan dengan meriah. Jangankan hadiah, seikat bunga pun rasanya hanya diterima Dena di tahun pertama pernikahan mereka. Dena berusaha memahami dan tidak ingin merusak janjinya untuk tulus mengabdi pada keluarga. Ia ingin menjadi ibu dan istri yang terbaik bagi keluarga.

Kemarin ia bertemu dengan 4 sahabatnya, Dira, Tari, Lili, dan Liana. Berbeda dengan Dena, mereka ber 4 adalah para pengusaha terkenal dan sosialita cantik yang kerap menghabiskan waktu di sebuah kafe. Dena yang paling sering menolak acara kumpul-kumpul itu. Ia kehilangan rasa percaya diri yang dulu begitu penuh ia miliki.

“Dena! Bajumu enggak banget sih! Emang si Raka enggak pernah beliin kamu baju baru? Tiap ketemu itu saja yang kamu pakai!”

Dira, memang selalu outspoken karena menganggap Dena sudah seperti saudara sendiri. Tanpa sadar ia menorehkan luka di hati Dena. Gaji Raka memang tidak akan cukup memenuhi gaya hidup seorang istri pengusaha terkenal seperti Dira. Namun ia adalah teman yang baik. Dira hanya khawatir melihat perubahan pada diri Dena, sang sahabat.

Pagi itu perasaan Dena memang sedang tidak karuan. Ia merasa semakin tidak dianggap di rumahnya sendiri. Kedua anak kembarnya hanya mencari ketika mereka butuh bantuan sang mama untuk mencari barang yang hilang. Sementara Raka hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak dipedulikannya Dena yang kerepotan membersihkan rumah sendiri atau ketika ia harus mondar-mandir mengantar kedua anaknya ke tempat belajar yang berbeda. Padahal ia masih harus pulang lalu memasak makanan untuk semua.

Dena terlalu lelah. Ia menolak berpikir bahwa ia tidak bahagia. Ia takut mengungkapkan isi hatinya karena tidak ingin ada keributan di rumah. Ia tidak ingin dianggap istri yang tak tahu bersyukur. Ia tak ingin menjadi contoh ibu yang banyak mengeluh. Ia ingin terlihat sebagai perempuan yang kuat dan mampu menyelesaikan segala hal sendiri. Ia lupa, dirinya juga seorang manusia, bukan robot yang tanpa rasa.

Berbicara dengan 4 sahabatnya tidak juga mengisi ruang kosong di hatinya. Dira selalu sibuk menceritakan tentang hidupnya yang sempurna. Suami tampan yang kaya raya dan putri tunggalnya yang manis dan pintar. Tari, juga sibuk bercerita tentang bisnisnya yang tersebar di mana-mana dan keluarganya yang sangat harmonis. Lili, adalah sahabatnya yang selalu penuh keberuntungan sejak dulu. Ia juga tidak lagi bekerja sama seperti Dena. Namun suaminya sangat baik dan romantis. Lili selalu diajak berlibur ke luar negeri dan dilimpahi banyak materi. Liana? Sang pengusaha terkenal, yang meskipun hidup sendirian namun tidak nampak kesepian karena kesibukan yang sangat padat.

Dena memandang kedua anak kembarnya yang sedang sarapan, lalu melihat ke arah Raka yang tampak necis dalam balutan pakaian kerja. Ia sedang menyesap kopinya sambil membaca koran. Dena lalu melangkah ke dalam kamar dan melihat pantulannya sendiri ke arah cermin. Rambutnya yang penuh uban, berantakan, wajah pucat dan penuh garis halus, serta sebuah daster lusuh melengkapi penampilannya setiap hari. Tak seorang pun menyadari perubahan sikap Dena yang semakin diam tanpa suara di rumah.

Bulir bening mengalir di pipinya. “Apa yang terjadi padaku?” bisik Dena pelan.

“Maaaa, kita berangkat ya.”
“Iya Nak. Pa, Mama mau mandi ya.”
“Bye, Ma.”

Dena memandang ke lantai bawah sambil melihat mobil Raka meninggalkan rumah. “Mereka tidak membutuhkanku lagi, tidak mencintaiku,” gumam Dena pelan.

“Mamaaaa aku ada tugas sekolah ya. Jangan diganggu.”
“Ma, Tora belajar bareng temen di kafe Cinta ya.”
“Ma, Papa ada rapat. Pulang lambat. Enggak usah ditungguin.”

Dena menenggak butir pil terakhirnya lalu tubuhnya mengejang, dan mulutnya merintih pelan sambil mengeluarkan busa. Matanya terpejam perlahan, ia merasa tenang.

Hitam Putih Perempuan
ReReynilda

Human – Christina Perri (Cover)

KINDNESS


KINDNESS

Bunda, when will I be able to work?”
“When you’re above 14 years old you can do some part time jobs during school holiday.”
“I can’t wait! Well of course I will still pursue my dream to be an engineer.”
“Why are you so eager to work?”
“So I can give you money that I earn
Bunda.”
“That’s sweet.”

Nak, janji saja bahwa kamu kelak jadi manusia yang banyak kawan bukan cuma bikin sawan.

Jadi manusia yang kehadirannya bikin seneng bukan senep.

Jadi manusia yang keberadaannya dirindukan bukan pingin disingkirkan.

Jadi manusia bukan butuh sekedar pintar Nak tapi juga harus baik hati dan punya empati.

Jangan jahat sama orang, kalau enggak mau kelak dijahatin.

Jangan sombong, dalam sekedip mata nasib kita bisa dibalik Sang Pencipta.

Jadi lah besar tanpa mengecilkan sesama.

Itu saja.

Love, Bunda.

Refleksi. Manusia. Refleksi


Refleksi. Manusia. Refleksi

Refleksi
Satu kata sederhana
Terlalu sederhana hingga banyak orang lupa
Lalu memilih untuk sekedar menunjuk muka
Tentu saja selain mengarah ke dirinya
Lebih mudah, karena tak butuh kaca

Refleksi
Nyatanya tidak benar-benar sederhana
Melihat kelam dalam diri menjadi tak mudah
Mengakuinya ada, jadi tak biasa
Padahal kelam itu yang membuat dewasa
Hingga mampu memahami segala

Refleksi
Butuh diam dari banyak berulah
Butuh dengar dari sering berujar
Butuh berhenti dari menunjuk jari
Lalu mulai melihat ke dalam diri

Refleksi hanya butuh berani
Berani mengakui kelamnya diri

Refleksi hanya butuh berhenti
Berhenti melihat ke arah lain

Refleksi hanya butuh konsentrasi
Konsentrasi mengisi lubang kosong dalam hati

Refleksi bukan semula jadi
Ia butuh dilatih hingga ujung waktu sendiri

Refleksi
Membuat manusia kembali sejati
Sejatinya manusia
Bukan Tuhan bagi sesama

“The more reflective you are, the more humane you are.”

Love, Rere

Masjid Sultan – Singapore Out And About


Masjid Sultan – Singapore Out And About

Siapa tak kenal dengan bangunan bersejarah satu ini?

Sultan Mosque atau Masjid Sultan. Dipakai sebagai tempat peribadatan secara resmi pada tahun 1929. Mengambil nama Sultan Hussain yang mendirikan masjid ini sekitar tahun 1824, di samping istananya yang berlokasi di daerah Kampong Gelam. Bangunan ini lalu diabadikan sebagai monumen nasional pada tahun 1975. (Wikipedia)

Terdiri dari 2 lantai, yang bagian atasnya adalah tempat khusus beribadah kaum perempuan. Sementara tempat berwudhu dan kamar kecil ada di sisi sebelah kanannya.

Oh ya, jangan harap bisa melangkah masuk ke dalamnya jika anda tidak memakai pakaian yang rapi dan sopan. Namun jangan khawatir, para penjaga yang duduk di tangga masuk masjid telah menyediakan sarung atau abaya yang bisa anda pinjam dan kenakan jika ingin mengunjungi bagian dalam masjid.

Untuk memanjakan perut, terdapat banyak sekali restoran dan cafe di bagian luar bangunan megah ini. Mulai dari kuliner khas warga Melayu, Lebanesse, Arabs, Moroccans, India, hingga rumah makan Padang pun juga tersebar di sekitarnya. Tak ketinggalan toko-toko roti yang wanginya semerbak pun sangat menggoda untuk didatangi. Ingin membawa buah tangan untuk keluarga di rumah? Para penjaja suvenir khas negara ini pun bisa disambangi di bagian luar masjid.

Jangan lupa, segala perlengkapan umrah dan haji juga bisa didapat di sekitar bangunan ini. Harganya? Lumayan masih terjangkau lah.

Oh, jangan lupa berfoto ya. Ini adalah salah satu tempat dengan spot foto terbaik di negara ini. Pokoknya Instagrammable deh! Caelah!

Photo credit: Mila Photography

(Bersambung)

Love, Rere

Haji Lane – Singapore Out & About


Haji Lane – Singapore Out & About

Terletak di antara gang sempit, kawasan ini memang terkenal sebagai salah satu spot foto yang instagrammable. Caelah!

Siapa mengira, bahwa di antara tahun 1800-1960an, toko-toko yang berjejer di kiri kanan itu adalah pondok tempat para jemaah haji menginap, dalam perjalanan menuju Mekkah. Demi menghemat uang saku, mereka akan berjualan apa saja yang penting laku. Dari sini lah nama Haji Lane didapat kawasan ini.

Kurun waktu 1960-1970an, tempat ini kemudian terkenal sebagai tempat belanja penduduk Melayu yang hidup kekurangan. Mereka bisa mendapat banyak barang berharga murah di sini.

Beda sekali dengan sekarang ya. Setelah menjadi salah satu spot berfoto para turis, sebuah henna sederhana yang dilukis di atas tangan bisa berharga $15-$25. Padahal cuma gambar setangkai bunga sederhana. Oh, well.

Di tempat ini bisa ditemukan banyak sekali cafe, tempat makan termasuk rumah makan Padang. Tidak ketinggalan tempat belanja barang-barang khas Turki seperti lampu-lampu cantik dan karpet indah. Pastinya beragam kain-kain cantik dengan harga yang lumayan bikin dompet mlipir cantik. Mencari wewangian atau oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah? Juga ada di sini.

Oh ya, selain Sari Ratu sebagai tujuan mengisi perut dengan cita rasa khas Indonesia, Kampung Gelam Cafe adalah salah satu tempat yang bisa dijadikan alternatif untuk menyicipi kuliner khas Melayu. Menu seperti lontong, mee siam, mee rebusnya maknyussss! Harganya pun ramah di kantong. Ada pula kuliner khas Swedia seperti Fika Cafe, atau masakan khas timur tengah. Semua berjejer rapi demi memanjakan lidah.

Photo credit: Mila Photography

(Bersambung)

Love, Rere

Mencari Ilham


Mencari Ilham

Menulis cerpen butuh mood dan bakat? Ah, itu hanya mitos belaka. Menulis itu butuh ilham.

Ya, seperti sebuah ilham yang kami dapat ketika pelatihan kemarin. Bahwa menulis cerpen adalah semudah makan semangkuk bakso pedas yang panas nan menggemaskan. Ilham yang ini adalah sang founder Rumah Media Grup. Entah karena beliau begitu hobi makan bakso atau memang semudah itu kah menulis sebuah cerita pendek?

Bagi para pemula, 3 cara mudah ini bisa diterapkan untuk awal menulis sebuah cerita pendek.

1. Sisihkan waktu

Sebuah cerita pendek bermuatan antara 1000 hingga 2000 kata saja. Maka menyisihkan 10-20 jam waktu kita untuk mencari ilham rasanya cukup.

2. Mencari ide

Kadang sebuah ilham muncul di mana saja dan kapan saja. Jangan sia-siakan ide yang muncul tiba-tiba itu. Sesegera mungkin catat di dalam sebuah buku saku, sebelum ia melayang dan pergi jauh.

3. Tentukan gaya

Mulailah dengan bersikap jujur sejak awal menulis. Tidak perlu berusaha meniru gaya seseorang dan berusaha keras menjadi orang lain. Be true to yourself.

Setelah 3 tahap awal ini berhasil dilakukan, pelatihan bersama Pak Ilham kemarin juga memberikan pencerahan berupa tips menulis cerpen. Apa saja tips yang sangat berguna itu?

1. Tema

Pilihlah tema yang memang dikuasai oleh penulis dan dirasa nyaman dengan diri sendiri. Karena dengan menguasai sebuah tema berarti penulis telah memiliki pengalaman dan tentunya telah mengumpulkan banyak informasi. Hal ini akan membuat cerita mudah diolah agar pembaca dapat memetik hikmah atau pelajaran di dalamnya.

2. Penokohan

Menentukan tokoh selanjutnya menjadi hal utama setelah tema. Hendaknya fokus hanya pada 1 hingga 3 tokoh saja dalam setiap cerita. Penokohan ini juga harus mempertimbangkan nama, sifat atau karakter masing-masing tokoh, serta perannya di dalam cerita.

3. Alur

Sebuah cerita tentu saja membutuhkan alur atau dinamika yang membuatnya hidup. Beberapa jenis alur bisa menjadi pilihan. Misalnya alur maju, yang berarti cerita tentang hari ini hingga esok atau lusa, atau alur mundur yang bercerita tentang hal yang lampau atau sebuah kilas balik. Alur campuran juga bisa dijadikan pilihan yang merupakan kombinasi antara alur maju dan kilas balik, biasanya ditemui pada sebuah novel.

4. Sudut pandang

Penentuan sudut pandang juga memegang peranan penting dalam sebuah cerita. Jika ingin menceritakan tentang aku, maka sudut pandang orang pertama bisa menjadi pilihan. Namun jika penulis ingin menjadi tokoh utama sekaligus pencerita, maka bisa memilih sudut pandang orang kedua. Menjadi pengamat atau sutradara dalam cerita, berarti penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga.

5. Susastra

Susastra berarti semua hal yang berkaitan dengan karya sastra. Dalam hal ini berupa permainan bunyi atau rima, pengulangan kata menggunakan padanannya, atau dialog cantik antar tokoh di dalamnya. Penulis juga bisa menggunakan bahasa asing, kata-kata yang jarang dipakai, atau puisi untuk membuat jalan cerita lebih menarik. Penggunaan simbol sebagai penggambaran karakter juga bisa dijadikan salah satu bentuk susastra.

6. Judul

Setelah semua kerangka cerita didapat, pemilihan judul menjadi hal terpenting selanjutnya. Beberapa hal berikut ini bisa dijadikan cara penentuan. Pertama, judul harus menarik perhatian pembaca. Bisa dengan menggunakan kata-kata yang unik atau jarang digunakan. Nama tokoh utama dalam cerita juga bisa dijadikan alternatif. Kedua, judul tidak perlu terlalu panjang. Cukup satu kata asal mempesona, rasanya sudah membuat sebuah cerita menjadi magnet bagi pembaca.

Setelah semua hal tersebut didapat maka bagaimana cara penulis mengawali sebuah cerita pendek?

  1. Mulai dengan narasi atau deskripsi tokoh
  2. Mulai dengan percakapan

Setiap awal tentunya harus ada akhir, bukan? Setelah alur cerita selesai, bagaimana cara menentukan akhirnya? Berikut adalah 2 cara untuk menamatkan sebuah cerita, yaitu;

  1. Ending tertutup, berarti cerita berakhir dengan kebahagiaan atau kesedihan yang jelas.
  2. Ending terbuka, biasanya dipilih untuk sebuah cerita yang panjang karena penulis belum bisa menentukan akhirnya. Ending seperti ini membebaskan pembacanya untuk menentukan sendiri akhir konflik atau kisah di dalamnya. Keuntungan bagi penulis jika menggunakan ending ini adalah terbukanya kemungkinan untuk memunculkan cerita baru yang makin seru.

Jadi, masih berpikir bahwa menulis cerpen butuh mood dan bakat? Cobalah mulai mencari ilham tulisanmu. Jika tidak juga bertemu, silahkan mencarinya di pelatihan menulis yang lain bersama Ilham Alfafa, sang founder Rumedia Grup.

Sumber: Pelatihan Menulis “Sehari Bisa Menulis Buku” bersama Ilham Alfafa

Love, Rere

Menulis … Mulai Dari?


Menulis … Mulai Dari?

Banyak hal menarik saya dapat dari sesi pertama pelatihan menulis kemarin. Pelatihan? Ya. Saya memang anak bawang yang masih tertatih mengenal diri sendiri dan berusaha menuangkan isi kepala dalam deretan kata. Maka mengikuti pelatihan adalah cara saya menajamkan pena.

Pelatihan dimulai dengan mengenali beberapa karakter manusia dalam hubungannya dengan motivasi untuk menulis.

  1. Tipe yang membuat sesuatu terjadi.
  2. Tipe yang biasa melihat saja.
  3. Tipe yang hanya terkesima ketika melihat sesuatu.

Jika anda tipe yang terbiasa hanya melihat dan terkesima, cobalah untuk membuatnya menjadi sesuatu. Bagaimana cara mewujudkannya? Dengan menumbuhkan kepercayaan diri, asal jangan kelewat percaya diri. Hahaha!

If you think you can, then you will. If you think you can not, then you won’t.

Apakah dalam proses mewujudkan itu tidak akan ada rintangan? Tentu saja ada. Cara menghadapinya adalah dengan mencoba, dan terus mencoba tanpa kenal menyerah. Namun ada 2 hal yang perlu diingat seseorang ketika ingin mulai menajamkan pena menjadi seorang penulis.

Branding

Pilihlah sebuah nama yang akan menjadi ciri khas. Stick to it dan jangan melakukan banyak perubahan, sehingga gaungnya akan dengan mudah diingat oleh pembaca.

Spirit

Tidak ada siapa pun yang bisa menumbuhkan semangat dalam diri kecuali diri sendiri. Caranya dengan menguatkan tekad, menggelorakan semangat, serta fokus pada apa yang ada di hadapan. Membuka mata juga telinga adalah wajib, karena ilmu serta keahlian itu sangat luas. Percayalah, mempelajari sesuatu yang baru itu akan membuat hidup menjadi lebih indah.

Try, try again, try harder, try your best, and never give up!

Saya juga menemukan 5 resep menarik yang sangat berguna untuk mulai menulis, baik sebagai pemula atau juga menjadi pegangan seumur hidup untuk para penulis profesional.

1. Abaikan teori, and just start. Mulai lah menulis dari apa pun yang terlintas di benak, dan bagaimana pun jenis tulisanmu.

2. Terus berlatih, and never stop learning. Buka mata dan pikiran untuk menambah kosa kata serta wawasan, dan berlatih untuk terus mengasah ide yang muncul. Beberapa cara bisa dilakukan seperti mengikuti tantangan menulis atau bergabung dengan komunitas menulis. Jangan terlalu khawatir dengan hasil akhir karena semua butuh proses. Life is a never ending journey of learning and relearning, isn’t it?

3. Jika mendadak buntu, berhenti saja lah. Memaksa diri untuk menulis ketika otak sedang menolak diajak berpikir adalah hal yang harus dihindari. Istirahatkan ia untuk sementara dan benahi pikiran serta emosi agar bisa kembali konsentrasi. Memiliki bank naskah adalah salah satu solusi. Bagaimana caranya? Biasakan untuk menulis apapun yang terlintas di benak, kapan pun, di mana pun. Kemudian simpan naskah-naskah ini di sebuah folder yang sewaktu-waktu bisa kita edit lalu publish ketika otak sedang beku.

4. Mulai lah menulis hal yang begitu dekat dengan kehidupan kita dan tentunya dikuasai dengan baik. Saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk be true to yourself. Jujurlah pada semua hal, termasuk dalam tulisan. Tidak perlu muluk-muluk berangan ingin menulis tentang hal yang kekinian atau sedang bombastis dibicarakan. Tulis saja hal-hal sederhana yang menarik untuk dibaca sebagai permulaan.

5. Abaikan gaya menulis, tampilkan jati diri sebagai penulis. Membaca tulisan orang lain memang seringkali membuat ternganga atau terkagum bingung. Kok bisa ya dia menulis sekeren itu? Menjadikan seseorang sebagai obyek belajar adalah sesuatu yang baik. Namun berusaha keras menjadi seperti orang lain adalah hal yang harus dihindari ketika mulai menulis. Be yourself, you are you, you are unique. Karena menjadi berbeda itu seru!

Jadi, jika ingin menjadi penulis maka mulailah menulis. Nikmati segala prosesnya dengan menjadi diri sendiri dan bersikap jujur pada setiap goresan yang bersumber dari hati.

So, let’s start and just write!

Sumber: Pelatihan Menulis “Mencetak Generasi Berliterasi” Bersama Ilham Alfafa, Founder Rumah Media Grup

Si Kaset Rusak (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Si Kaset Rusak
(Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Lara, sudah sholat belum?”
“Lana, sapu rumah, Nak.”
“Rayyan, make up your bed!”
“Ayo, cepat makan. It’s 6.30 already!”
“Don’t forget your masks”
“Botol, lunch box dah bawa?”
“Your keys, don’t forget!”
“Go home straight away.”

Bla … bla … bla.

Begitulah setiap pagi keramaian di rumah kami. Asalnya hanya dari satu suara, sih. Saya. Sementara suara lain hanya berbunyi, “yes, Bunda,” atau “sudah, Bunda.” Hahaha!

Awalnya saya berpikir keributan ini hanya terjadi di rumah kami. Ternyata setelah berbincang dengan beberapa sahabat, sama juga hebohnya. Phew! Berarti saya tidak sendiri. Lega.

Bukan tidak pernah saya mengajukan keberatan karena harus berubah bak sebuah kaset rusak setiap pagi. Ya, setiap pagi. Beberapa cara pun pernah saya lakukan. Membuat jadwal harian mulai dari yang sederhana hingga berbagai bentuk dan gaya agar menarik. Tentu saja setiap saat harus berubah demi menyesuaikan jadwal dan usia anak-anak.

Kadang saya juga harus menahan diri setengah mati dengan tujuan untuk mendidik. Saya biarkan mereka gedubrakan karena terlambat bangun, hingga beberapa keperluan sekolahnya tertinggal. Ya, saya pun pernah juga begitu. Walaupun sebagai ibu dengan didikan disiplin tingkat tinggi di masa sekolah, ini adalah satu hal yang sangat menyiksa. Iya, tersiksa rasanya melihat ketidakaturan dan ketidaksiapan di depan mata.

Namun anak-anak harus belajar dari kesalahan. Sementara saya harus belajar untuk sedikit menutup mata dan mengurangi kebiasaan “serba harus dan tidak boleh salah”.

Saya tahu, mereka sebenarnya paham apa yang harus dilakukan. Mungkin mereka hanya terlalu suka dan selalu rindu mendengar suara nyanyian sang ibu yang berulang seumur hidup. Hingga melambatkan diri setiap pagi adalah salah satu cara untuk tetap menghidupkan bunyi sang kaset rusak.

Meski tiap pagi “bernyanyi” saya tidak marah. Saya tahu suatu hari nanti mereka akan rindu, seperti saya yang kerap merindukan kebawelan mama saat ini. Oleh karena itu setelah puas merepet bak petasan banting, saya tetap memeluk dan selalu mencium mereka dengan penuh cinta di depan pintu. Sambil mendoakan dalam hati agar Yang Kuasa melindungi mereka selama di luar rumah.

Toh setelah semua pergi, rumah jadi sepi. Saya bisa dengan tenang menyeruput secangkir kopi hangat sambil menonton acara televisi.

“Abaaang! Dah sholat belum? Cepat lah! Dah almost shuruk!”

Lamat saya dengar tetangga sebelah rumah yang dapurnya bersebelahan, sedang “bernyanyi” merdu pada sang putra yang berusia 40. Hahaha!

Motherhood … where silence is no longer golden.

Love, Rere.

Keliling Indonesia


Keliling Indonesia

Sebelas tahun usia saya ketika salah seorang adik mama mengajak saya keliling Indonesia. Tante cantik saya dulu adalah seorang penyanyi, dan waktu itu ia sedang bertugas di atas sebuah kapal penumpang.

Saya yang belum pernah melihat kapal laut, berdecak kagum dengan mulut ternganga. Besar sekali kapal penumpang ini, begitu saya bergumam. KM Kerinci namanya. Ia membawa saya mengarungi lautan luas dan menginjakkan kaki ke beberapa pulau di Indonesia selama sebulan penuh.

Bertolak dari pelabuhan Tanjung Priuk, saya memulai petualangan baru di usia yang masih belia. Beberapa kota besar di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi menjadi tempat kami berlabuh untuk mengambil dan mengantar penumpang.

Pengalaman paling menakjubkan adalah ketika melewati sebuah tempat yang belakangan baru saya tahu bernama Segitiga Masalembo. Salah satu perairan yang terangker di Indonesia, dimana banyak terjadi kecelakaan kapal laut maupun udara.

Sebut saja peristiwa tenggelamnya Kapal Tampomas pada tahun 1981. Seingat saya memang suasana agak berbeda ketika melewati perairan itu. Sunyi, mistis. Walau mungkin karena masih berusia sangat muda saya belum punya rasa takut, malah berusaha memandang ke lautan lepas dan berharap melihat “sesuatu”. Hahaha! Kalau sekarang mungkin saya sudah meringkuk di balik selimut.

Pengalaman luar biasa juga saya alami ketika kapal melewati kawasan Laut Cina Selatan. Ombak begitu besar mengayun-ayun kapal dengan ganas, hingga saya bahkan tidak bisa berdiri tegak karena terhuyung-huyung mengikuti alunannya. Dari jendela kamar saya bisa melihat ombak memukul-mukul jendela dengan dahsyat. Ngeri. Namun lagi-lagi sebagai bocah berusia 11, saya belum kenal rasa mual karena mabuk laut. Saya justru mondar-mandir mengantarkan obat pening kepada seluruh pemain musik. Hahaha!

Saya juga pernah dilanda kebingungan ketika kapal bersandar di tengah laut dan melihat para penumpang berpindah lalu menaiki kapal-kapal kecil untuk mencapai daratan. Baru saya tahu waktu itu bahwa ternyata ada daerah yang tidak memiliki pelabuhan, sehingga kapal sebesar Kerinci tidak bisa bersandar di sana.

Jika melihat peta Indonesia tercinta, tiba-tiba saya sangat merindukan udara laut yang pernah begitu lama saya nikmati aromanya. Membayangkan keriangan setiap kali saya harus ikut berbaris untuk latihan pendaratan darurat. Melihat deretan sekoci diturunkan, memakai pelampung, dan mendengarkan aba-aba kapten kapal. Menjelajahi seluruh isinya, bahkan menikmati lezatnya sate bikinan sang kapten khusus untuk saya.

Jika semesta mengijinkan, ingin rasanya saya membawa suami dan anak-anak untuk mengelilingi ibu pertiwi. Melihat deretan kepulauan yang begitu luas, penuh dengan ragam budaya, dan adat istiadat yang memanjakan rasa dan mata.

Tujuh puluh lima tahun deretan pulau ini telah merdeka. Selama itu pula ia telah memberikan banyak nuansa. Tak selalu mulus dan melulu berbagi cinta. Pergulatan dan pertikaian memang selalu ada, karena banyaknya beda. Itu lah yang membuat Indonesia menjadi luar biasa.

Dirgahayu untukmu … Engkau kubanggakan.

Love, Rere

P A M I T


P A M I T

“Aku pergi dulu.”
“Eh, kemana Mas?”
“Hubungan ini enggak akan mulus. Harus diakhiri demi kebaikan kita berdua.”
“Mas …”

“Sum! Sum! Ngelamun! Ayo kerja!”

Bentakan Tuan Hadi membuyarkan lamunan Sumini. Ia kembali melanjutkan tugasnya mengepel lantai ruangan kantor megah itu.

Airmata mengalir dari sudut matanya. Betapa ia sangat merindukan aroma khas yang selalu datang dari tubuh sang suami, Manto. Sumanto, lelaki yang telah didampinginya selama 24 tahun masa pernikahan dengan segala pasang surutnya.

Dua puluh empat tahun lalu mereka mengikat janji dalam segala keterbatasan. Manto hanyalah pegawai kecil pada sebuah perusahaan percetakan. Gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari mereka berdua. Selama itu pun Sumini tidak pernah sama sekali mengeluhkan nasibnya. Walau hanya tinggal di sebuah rumah petak dan tidur di atas sebuah kasur sederhana.

Manto adalah lelaki baik hati yang selalu membuat Sumini merasa sangat beruntung meski hidup serba pas-pasan. Mereka sangat bahagia terutama setelah di tahun ke-10 pernikahan mereka, seorang bocah lelaki muncul sebagai cahaya yang semakin menyinari kehidupan. Damar, begitu nama yang mereka sematkan, berarti obor dalam bahasa Jawa. Ia memang terbukti menerangi kehidupan mereka setelah kelahirannya.

Sebagai pegawai rendahan, Sumanto sangat rajin dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Hingga ketika sang pemilik percetakan beranjak tua dan mulai lemah, ia mempercayakan laju perusahaan padanya. Keberuntungan memang nyata berpihak pada Sumanto, karena sang pemilik adalah seorang lelaki yang melajang hingga di renta usianya. Sumanto adalah satu-satunya orang yang dengan setia menemani hingga akhir hayatnya.

Kehidupan Sumini dan Sumanto pun berubah membaik di tahun ke 20 pernikahan. Mereka tidak lagi perlu menahan segala keinginan, dan bisa makan apapun yang mereka inginkan. Sang putra, Damar, kini duduk di bangku sekolah menengah dan menjadi salah satu murid terpandai dengan prestasi baik di kelasnya.

Namun, seiring dengan kemakmuran hidupnya, Sumini mulai merasakan perubahan pada diri Manto. Lelaki yang kini tampak semakin muda dengan tubuh terjaga dan wangi parfum yang semerbak itu terasa semakin jauh. Ia tidak lagi pernah bertanya ke mana dan sedang apa istrinya. Rapat di sana, rapat di sini, itu selalu jawaban yang didapat Sumini. Namun perasaan aneh itu kerap ditepis dan Sumini menyibukkan diri dengan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, demi menyenangkan sang suami.

Bulan depan adalah ulang tahun perkawinan perak Sumini dan Sumanto. Sederet rencana sudah disusun dengan matang oleh Sumini. Sebuah restoran megah dengan hiasan cantik akan menjadi tempat mereka makan malam berdua. Damar bahkan telah menyiapkan sebuah hadiah istimewa untuk kedua orang tuanya.

Hingga malam itu sebuah kejadian menghempas rencana indah Sumini dan Damar. Sang bapak memilih untuk pergi meninggalkan rumah dengan alasan pernikahan mereka adalah sebuah beban. Sumini terhenyak, ia tak kuasa menahan tangis. Damar tampak tegar dan memeluk sang ibu dengan tangan kecilnya, erat sekali.

Entah apa yang ada di benak Manto. Ia seperti lupa bagaimana sang istri dengan setia mendampinginya di kala susah, dan tanpa ragu menghempas ketika dirinya semakin bersinar terang. Sumini hanya mampu pasrah. Namun tidak demikian dengan Damar. Ia yang begitu mengagumi sang bapak seperti mendapat sebuah mimpi buruk. Murid terpandai itu jatuh terpuruk. Ia bahkan harus rela mengulang pelajaran di kelas sebelumnya karena tidak mampu mengerjakan ujian akhir dengan baik.

Sumini harus keluar dari rumah mewah mereka karena kalah di pengadilan agama. Tanpa disadarinya, sang suami tidak pernah meletakkan namanya di dokumen apapun selama ini. Ia hanya memberi Sumini sejumlah uang untuk bertahan hidup, walau berjanji akan bertanggung jawab pada biaya sekolah Damar.

Janji tinggal janji … Sumini memilih pergi.

Perjuangan hidup membawanya pada pekerjaan sebagai petugas kebersihan di sebuah kantor megah di pusat kota. Damar, sang putra tercinta, memilih untuk mengakhiri hidupnya karena depresi. Sumini menemukannya sedang meregang nyawa setelah sebotol cairan pembasmi serangga masuk ke dalam tenggorokannya.

“Sum! Melamun lagi! Cepat bikinkan minuman untuk Bapak dan 2 orang tamu!”
“Oh … baik Bu.”

Ibu Sisi, sang sekretaris cantik, kali ini yang membuyarkan lamunan Sumini akan Sumanto. Sepuluh tahun berlalu namun lelaki itu dengan aroma tubuh khasnya tetap dirindukan setiap saat. Meski ia telah menorehkan luka yang begitu dalam di hati Sumini.

“Permisi, Pak. Ini minumannya.”
“Letakkan saja di atas meja, Sum. Terima kasih.”

BRAKK!

Nampan berisi 3 cangkir minuman panas itu terjatuh bersamaan dengan terhuyungnya tubuh Sumini yang mendadak hilang kesadaran.

“Astaga! Sum!”
“Aduh! Massss! Bajuku basahhhh ketumpahan minuman! Aaaaaahhh! Gimana sih pembantumu Mas Hadi!”
“Aduh maaf Dik Sinta, Mas Anto. Maaf. Sum! Sum! Pak Satpam angkat ini si Sumini! Sum! Bangun!”

“Mas … Ma … Manto.”

Sumini … pergi dalam diam. Ia terkena serangan stroke setelah melihat Sumanto bersama seorang wanita bernama Sinta, istri barunya. Kekasih gelapnya sejak Sumini mengandung Damar … yang sinarnya telah redup lebih dulu dalam kesunyian.

Tamat.

“No matter what I say or do,
I’ll still feel you here ’till the moment I’m gone.”
(Sara Bareilles)

Gravity – Sara Bareilles (Cover)

Love, Rere

S T R E N G T H


S T R E N G T H

Lihat deh tanaman kecil ini. Ia tumbuh liar di dalam pot keramik cantik, berisi sebuah pohon bonsai mungil yang bunganya berwarna merah dan konon rasanya manis. Ketika kecil saya suka sekali menghisap bunganya dan beranggapan bahwa ia berisi madu.

Tanaman kecil ini tiba-tiba saja tumbuh di sana tanpa saya sadari. Mungkin akar kecilnya terbawa dalam tanah yang dipakai untuk membonsai si bunga madu atau Red Ixora nama cantiknya.

Saya baru menyadari ternyata sempat lupa menyirami hingga 2 hari. Saya memang lalai kemarin, hingga sang tanaman kecil pun kering dan merunduk layu. Sedih hati melihatnya. Saya lalu membawanya ke dapur dan tetap menyiraminya seperti biasa.

“Tumbuh lagi ya kamu si kecil. Jangan menyerah,” begitu bisik saya padanya. Sambil berharap ia akan kembali berdiri tegak dan menunjukkan cantiknya.

Kemudian setelah meletakkannya di tempat biasa, saya coba mengawasi sambil berharap cemas. Saya takut ia malah terkulai lemas dan mati karena merana. Ternyata, ia kembali tegak berdiri dengan warna hijaunya yang justru semakin cemerlang! Saya merasa ia sedang tersenyum seraya berkata, “I will survive.”

Lalu saya merenung tentang kehidupan, sambil memperhatikan setiap lembar daun yang menempel di batang kecil yang kurus itu. Inilah hidup. Rapuh, kadang jatuh, kadang harus tegak berdiri walau hanya bersandar pada dahan yang nampak lemah tak berdaya.

Betapa hidup ini bak sebuah episode drama. Bagaimana jalan ceritanya, semua kehendak sang sutradara. Pengatur segala lakon kehidupan di dunia. Jika Ia ingin membalik semua kesenangan menjadi ujian, be it. Pun begitu sebaliknya. Sang pemain hanya bisa mengikuti apa mauNya.

Pasrah, itu saja yang bisa kita lakukan. Berserah atas semua garis yang ditentukan Sang Pencipta. Pasrah dan menerima dengan ikhlas semua suratan. Namun pasrah tetap harus dengan usaha keras, karena Ia tidak akan mengubah nasib umatNya yang tidak mau berusaha hingga ke titik penghabisan.

Untukmu yang sedang dirundung duka karena drama kehidupan, bertahan lah. Sebagaimana tanaman kecil ini berusaha untuk tetap hidup walaupun sempat tertunduk lesu. Jika harus merunduk karena layu terima saja, namun jadikan itu sumber kekuatan. Yakin lah, sang Pemilik kehidupan tidak akan melupakan umatNya yang kuat dan memilih untuk tetap tegak bertahan menghadapi badai kehidupan. Pertolongan pasti akan datang di waktu yang tepat … menurutNya. Percayalah.

Terima kasih wahai tanaman kecil, untuk kekuatan dan pelajaran hidup yang kau tunjukkan padaku pagi ini.

What doesn’t kill you make you stronger. (Kelly Clarkson)

Love, Rere

(Secangkir Kopi Hangat Emak)

Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Being a woman is never easy
Melalui banyak fase yang berakibat perubahan pada diri
Belum lagi siklus hormonal yang kadang bikin pusing sendiri
Mending jauh-jauh daripada kena usir

Being a woman is never easy
Masa muda harus benar-benar jaga diri
Kalau tak ingin masa itu terenggut dini

Being a woman is never easy
Setelah berbuntut dan menimang buah hati
Kesenangan pribadi harus rela tersisih

Being a woman is never easy
Menjaga yang tersayang kadang butuh otot besi
Namun penampilan tetap harus manis tak boleh basi

Ladies, mari saling mendukung
Berbagi cinta dan cerita untuk yang terkungkung
Tak perlu drama dan kelamaan merenung
Segera bangkit dan tegakkan punggung
Hitam putihnya dunia mari hadapi dengan senyum

Hitam putih challenge ini sungguh menarik. Melihat bagaimana kaum perempuan saling memdukung dan berbagi kekuatan satu sama lain. Melalui berbagi foto tanpa warna-warni.

Hanya hitam dan putih.

Ibarat hidup yang penuh dengan pasang surut. Kadang berpikir ia bahagia, ternyata hidupnya carut marut. Kadang menganggap ia menyebalkan, ternyata justru darinya didapat ilmu tentang kehidupan. Ahhh … sawang sinawangnya hidup.

The least we can do adalah berhenti memberi terlalu banyak komentar, terutama berbagi negativity. Karena terkadang di mata kita tampak hitam, ternyata ada putih di sana, pun sebaliknya. Berhati-hati dengan setiap ucapan, karena sejatinya pergumulan hidup setiap orang berbeda. We never know.

Pelukku untukmu semua yang sedang berjuang menghadapi kehidupan, dan berpacu menghadapi waktu. Berbahagialah menghadapi hiruk pikuknya. Karena ketika kita bahagia, tak akan ada waktu terbuang untuk membuat orang lain tidak bahagia.

Ladies, sisihkan waktu untuk menikmati hidupmu. Seruput hangat kopi di hadapan, agar senyum kembali terkembang di wajahmu.

Love, Rere

Hitam Putih


Hitam Putih

Hitam Putih
Karena hidup tak selalu berwarna bak pelangi
Kadang membosankan bahkan terlalu sepi
Menunggu bahagia, ia tak selalu datang sendiri

Wahai raga yang sedang tak berwarna
Sampai kapan jiwamu akan terpuruk merana?
Padahal banyak jalan mungkin terbuka
Jika netra berani melawan rasa

Duhai sukma yang sedang dirundung duka
Tataplah masa depan di hadapan
Tak perlu lagi menengok ke belakang
Jika hanya luka yang akan kau hirup aromanya

Beranikan diri menghadapi hari
Sampai hitam putihnya buana kau jalani
Hidup penuh warna pasti di ujung menanti
Tanpa perlu menunggu siapapun mengiringi

Bahagia itu adanya di hati
Bahagia itu tentang mencintai diri
Airmata segera sudahi
Bangkit dan segera maju sebelum mati

Mencintai diri sendiri itu butuh nyali
Berani melangkah itu bak pemantik api
Cintai jiwamu dengan sepenuh hati
Sirami dengan kasih agar ia senantiasa berseri

Life won’t sparkle unless you do!


Love, Rere

Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, can we talk?”

Sederet kalimat sakti yang datang dari 3 buah hati di rumah dan sanggup membuat saya berhenti dari segala kegiatan. Termasuk ketika sedang asyik bermain scrabble yang biasanya sanggup membuat mata saya memelototi layar gawai tanpa henti.

Saya memang sengaja menyediakan waktu dan telinga untuk mendengarkan apapun cerita mereka. Termasuk hal-hal receh nan sepele yang biasanya dibagi si bungsu.

Rayyan memang saat ini lebih cerewet dibanding 2 kakak perempuannya yang beranjak dewasa. Pada mereka berdua kadang saya yang harus rajin bertanya tentang apapun, walau tetap menahan diri untuk tidak menjadi terlalu cerewet dan rese. Saya berusaha berada di dalam sepatu mereka demi menyelami dunia remaja. Proses yang bukan dengan otomatis saya dapat, namun melalui sederetan kesalahan.

Beruntung Lara dan Lana tumbuh besar bersama dan melewati masa tumbuh kembangnya berdua. Bak sepasang anak kembar yang tak terpisahkan. Mereka begitu akur bahkan jarang sekali bertengkar. Keakraban yang seringkali berdampak pada perasaan tersingkirnya sang adik lelaki.

Rayyan kerap mengeluh dan bersedih karena merasa diabaikan sang kakak. Untuk itu lah saya hadir sebagai sahabat baginya. Bahkan saya juga masih menemaninya tidur sambil sesekali menepuk-nepuk punggungnya. Mungkin bagi ilmu parenting saya akan dianggap memanjakan. Bagi saya, anak lelaki atau perempuan wajib mendapat kasih sayang dan perlakuan sama.

Saya bahkan membiasakan Rayyan untuk mengungkapkan perasaan dan isi hatinya. Mengatakan cinta dan berbagi pelukan. Jika ia ingin menangis, saya tidak pernah menahan dan berkata, “boys can not cry.” Saya biarkan ia menangis dan memeluknya sambil berkata, “everything will be alright, you will be fine.”

Moms, tidak perlu ragu memeluk anak lelakimu dan berpikir bahwa ia akan tumbuh menjadi lelaki cengeng yang lemah. Saya justru percaya bahwa anak lelaki harus memiliki hati yang lembut dan penyayang. Tidak perlu mencegah airmata yang mengalir dan berpikir bahwa tangisan akan melemahkan. Menangis justru tanda bahwa kita kuat dan mampu menghadapi setiap bulir kesedihan yang muncul dari setiap rasa sakit. Rasa sakit yang bisa dihadapi siapapun, lelaki maupun perempuan.

Saya hanya berpikir, anak-anak yang dibesarkan tanpa cinta kasih akan tumbuh dewasa pun tanpa rasa cinta dalam hatinya. Karena mereka tidak terbiasa mengungkapkan semua rasa, lalu menguburnya dalam diam, dan menganggap diri baik-baik saja. Percayalah, suatu hari ia akan meledak dengan hebat tanpa bisa terbendung.

Harapan saya hanya semoga kelak Rayyan tumbuh dewasa menjadi lelaki penyayang yang akan bersikap lembut pada sekitar dan pasangannya kelak. Tentu saja dibarengi dengan ilmu tentang tanggung jawab dan disiplin yang semua dilakukan dengan cinta kasih. Semoga.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Nak.”
“I love you the most,
Bunda.”

Love … it will never be over.

Love, Rere.

Kenalan, yuk!


Kenalan, yuk!

“Suka baking ya, Bun?”

Melihat beberapa postingan saya tentang baking, seorang sahabat bertanya apakah saya memang hobi membuat kue atau roti.

“Sama sekali enggak,” demikian jawab saya padanya. Hahaha!

Jika dibandingan dengan membuat kue, memanggang roti, atau membuat makanan sejenis, saya lebih memilih untuk memasak. Tidak telaten rasanya jika harus mengaduk adonan lama-lama, atau menguleni hingga lengan pegal-pegal, atau membentuk satu demi satu penganan. Beda sekali dengan masakan. Satu kali masak, saya bisa menyediakan sekian banyak porsi tanpa harus lama-lama berdiri di dapur.

Namun tak suka bukan berarti saya menolak untuk mencoba. Justru karena keengganan itu saya jadi tertarik untuk belajar. Ya, pilihan saya jatuh untuk belajar di sebuah studio.

“Apa bedanya dengan belajar sendiri lewat internet? Malah gratis.”

Betul banget. Banyak sekali mereka yang dengan sukarela berbagi resep bahkan video tutorial langkah demi langkah membuat beragam masakan. Kadang saya juga dengan rajin mencari postingan seperti ini, lho. Mencatatnya, kemudian beberapa kali mencoba sendiri. Sebagian berhasil, meskipun banyak yang gagal dengan sukses. Hahaha!

Memutuskan untuk mengikuti kelas membuat kue dan roti di sebuah tempat tentu saja dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah tips dan trik dari mereka yang ahli di bidang ini. Satu hal yang tidak mudah saya dapat dari internet, karena beberapa tutorial hanya menyajikan hasil akhir yang cantik. Padahal sebelumnya mereka melakukan banyak trial and error di balik layar tanpa kita sadari.

Pertimbangan selanjutnya adalah keseruan memasak bersama para sahabat. Meskipun saya bukan orang yang terlalu suka bepergian, tapi bertemu mereka lalu memasak hingga tertawa bersama, adalah salah satu cara melepas penat dan rutinitas harian di rumah. Beda lho rasanya memasak sendiri dengan bersama teman. Seru!

Lambat laun saya makin cinta dengan perbakingan. Pupus sudah keyakinan bahwa saya dikutuk oleh semua oven di dunia ini. Ternyata saya hanya belum kenal, makanya belum cinta.

Jadi, keluar dari zona nyaman memasak itu ternyata seru juga, lho. Seseru hasil baking saya beberapa hari ini dengan mencoba beberapa resep kekinian dengan hasil yang kece berat. Burnt Cheese Cake, Volcano Garlic Bread, dan Camembert Noix it is, guys!

Wow! Your cake and breads are awesome, Bunda! So yummy!” dan ini yang membuat saya makin bersemangat mencoba banyak hal baru.

Jadi … masih mau bilang enggak suka bikin ini itu? Cobaaaa kenalan duluuu.

Love, Rere

Terlanjur Mencinta


Terlanjur Mencinta

“Mas, mau ke mana?”
Meeting. Enggak usah ditunggu. Aku pulang malam.”
“Hati-hati ya, Mas.”

Sebuah kecupan seadanya mendarat di dahi Ayumi. Datar. Tanpa gairah.

Dua puluh lima tahun usia pernikahan mereka, Ayumi merasa ada yang berubah pada diri Aldi, sang suami. Hambar. Sekedar melakukan kewajiban sebagai sepasang suami istri, terutama di hadapan 3 putri mereka yang beranjak dewasa. Si sulung, Alya, bahkan sebentar lagi akan naik pelaminan.

Aldi adalah sosok ayah idola bagi 3 putrinya.Tampan, bertanggung jawab, penyayang, dan setia. Persis seperti gambaran mereka tentang laki-laki idaman.

“Aku akan mencari calon suami seperti ayah. Harus seperti ayah,” begitu selalu mereka membayangkan sosok seorang suami. Seperti Aldi.

****

“Pagi, cantik. Sudah bangun?”
“Pagi, Mas. Sudah dong. Mas sedang apa?”
“Sedang berdiri di depan rumahmu. Makan siang, yuk.”
“Astaga! Kamu selalu memberi kejutan! Aku suka.”

***

Happy Anniversary Ibu dan Ayah. Semoga selalu mencinta hingga akhir hayat. Selamat menikmati pemandangan cantik dari hotel, tanda cinta kami bertiga. Love, Alya, Alina, Aulia.

“Terima kasih, Nak. Cantik sekali kartu, cake, dan bunganya. Terima kasih juga hadiah menginap di hotelnya. Pemandangannya indah sekali dari jendela kamar,” tulis Ayumi pada sebuah pesan singkat untuk ketiga putrinya.

Ya, ulang tahun pernikahan perak itu sangat luar biasa. Sebuah hotel dengan pemandangan menawan, buket bunga segar, dan sebuah cake cantik, hadiah dari ketiga putri kesayangannya.

Hadiah pernikahan perak yang dinikmatinya sendiri … tanpa Aldi di sisi.

Mata Ayumi menerawang jauh mengingat kejadian yang ia alami 2 minggu sebelumnya. Sebuah pesan singkat berisi foto Aldi sedang menggandeng mesra seorang perempuan cantik di suatu tempat, terkirim ke gawainya dari deretan nomor asing yang tidak bernama. Ayumi mengenali tempat di foto itu karena dulu ia dan Aldi sama-sama menimba ilmu di sana. Di sebuah kota tempat awal cinta mereka bersemi.

Perempuan itu, Soraya namanya, yang pesan singkat bernada mesranya juga terkirim bersama dengan beberapa foto mereka berdua dalam berbagai pose. Termasuk juga bukti pengiriman bunga, beberapa barang, nota restoran, dan hotel.

Hati Ayumi hancur. Tepat di hari ulang tahun pernikahan peraknya, ia harus ikhlas melepas Aldi yang lebih memilih menemui perempuan lain.

***

“Maafkan aku, Mas. Aku terlanjur mencinta dan tak mampu melupa. Semoga istrimu ikhlas melepasmu menjadi milikku.”

Senyum Soraya mengembang sambil jemari lentiknya mengirim pesan singkat ke sebuah nomor … milik Ayumi.

(Tamat)

Song: Maafkan Aku, Terlanjur Mencinta – Tiara Andini (cover)

Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Pagi tadi saya melihat sebuah status yang isinya kurang lebih menanyakan kenapa para lelaki harus mencari istri yang pandai memasak. Bukankah mereka sedang membangun rumah tangga, bukan rumah makan?

Hahaha! Saya ketawa sih membacanya. Kemudian berpikir sambil menghirup wanginya kopi hangat di hadapan saya.

Pernah kah saya berpikir bahwa saya dijadikan bak rumah makan di rumah? Hmm … sependek ingatan saya sih belum pernah. Selama ini saya menyukai seluruh kegiatan di dapur, bahkan sempat rajin menerima pesanan masakan dari beberapa pelanggan.

Terpaksa kah saya melakukan kegiatan masak memasak di rumah selama ini? Jawabannya adalah sama sekali tidak. Saya melakukannya dengan senang hati dan gembira, tanpa paksaan atau keterpaksaan. Bahkan dengan penuh semangat belajar banyak menu baru untuk disajikan di rumah.

Wahai para remaja putri atau teman-teman perempuan yang belum menikah. Percaya lah, kalian akan sangat bahagia ketika mendengar sang suami memuji masakan anda semua bahkan lebih memilih untuk makan di rumah, sesederhana apapun masakan anda. Bahkan dengan bangga membawanya ke tempat kerja, dalam sebuah kotak makan unyu, tanpa ragu dan malu.

Itu belum seberapa. Senyum anda juga pasti mengembang selebar-lebarnya ketika mendengar anak-anak mengatakan dengan bangga bahwa teman-teman sekolahnya menganggap anda “cool”. Hanya karena mereka mengagumi hasil buatan tangan anda di dalam kotak makan, yang selalu berbeda tiap hari hingga mereka selalu penasaran dengan isinya.

“Your Mom so cool! The food looks delicious and always nice to look at.”

Belum lagi pujian dari sahabat, teman, teman suami, atau keluarga yang berkesempatan makan di rumah anda dan dengan tulus mengatakan betapa lezatnya rasa masakan anda. Bahagianya mungkin lebih dari rasa lelah yang muncul setelah selesai memasak, dan melihat dapur bak kapal pecah.

Tapi eh tapi, ada nilai edukasi juga di rumah kami lho. Meski dengan suka hati saya memasak beragam menu, anak-anak juga harus belajar untuk tidak cerewet dan menjadi picky eater. Saya membiasakan mereka untuk being grateful, sesederhana apapun masakan yang saya buat. Mereka harus paham bahwa ada banyak sekali anak seusia mereka di luar sana yang tidak bisa menikmati makanan seperti mereka di rumah. Jadi, mereka tidak boleh banyak protes dan harus banyak bersyukur. Makan apapun yang ibunya masak, dan selalu berterima kasih atas segala anugerah yang didapat dari Sang Pencipta.

Saya juga mengajarkan mereka untuk terbiasa dan mengenal isi dapur. Ini adalah salah satu dari sekian banyak life skills yang saya wariskan untuk hidup mereka kelak. Jadi mereka tetap bisa survive di mana pun mereka tumbuh dewasa nanti. Saya toh tidak bisa selamanya memasak untuk mereka, kan?

Suatu hari nanti anak-anak harus hidup mandiri dan mampu bertahan sendiri. Jika memasak hal yang paling sederhana saja tidak mampu, bisa dibayangkan betapa tipisnya kantong mereka kelak, karena harus jajan setiap hari.

Jadi, masih mau menganggap kemampuan memasak ini sepele? Think again, ladies.

Jangan merendahkan diri dan menganggap bahwa kegiatan memasak akan menjadikan anda bak rumah makan di rumah sendiri. Tersenyum lah dengan bangga hati karena bisa berkata, “Gue dong, masak sendiri buat anak-anak dan suami.”

Love, Rere

Love Is … Being Responsible


Love Is … Being Responsible

“Enggak usah masak dan bikin cake lah, Bunda. Beli saja gampang, enggak capek.”

“Enggak mau, ah. Buat apa saya belajar bikin cake kalau masih beli juga?”

Suami saya yang sangat baik. Ia memang tidak mau saya terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Selalu khawatir saya akan jatuh sakit karena kelelahan. Hingga sang istri kerap diingatkan untuk istirahat dan banyak tidur. Ia tahu bahwa istrinya tipikal perempuan yang tidak bisa diam, pun tidak bisa dilarang alias keras kepala.

Well, sang istri hanya berusaha melakukan tugas dan kewajibannya sebagai seorang ibu dengan sepenuh hati. Baginya, ini hanya lah sebagian kecil dari bentuk tanggung jawabnya di rumah terhadap anak-anak. Mereka yang diamanahkan kepada sang istri untuk dijaga dengan baik. Hingga ia merasa bertanggung jawab dengan apapun yang masuk ke dalam tubuh mereka.

Meski ia bisa saja dengan gampang membeli apapun, tanpa harus susah memasak atau repot sendiri mempersiapkan makanan. Contohnya untuk hari spesial anak-anak seperti kemarin.

Tak jarang ia juga bertanya dalam hati, “Kenapa sih mau susah sendiri? Bukannya lebih gampang hanya keluar duit tapi tanpa keringat dan pegal sekujur badan, ya?”

Hmm … inilah cinta. Terdengar klise tapi begitulah kenyataannya.

Jika bukan atas nama cinta yang begitu besar, rasanya mudah saja baginya untuk meninggalkan segala tanggung jawab di belakang. Namun sang istri hanya ingin mewariskan kebiasaan baik bukan sekedar harta duniawi. Ia hanya berharap kelak mereka melakukan hal yang sama untuk keluarga masing-masing. Memberikan segenap cinta di setiap sentuhan tangan dan peluhnya tanpa syarat.

Pada saat yang sama sebagai seorang ibu, ia juga sedang mengajarkan arti tanggung jawab pada ketiga buah hatinya. Bahwa ketika telah berani memutuskan untuk membangun sebuah keluarga, ada tanggung jawab besar di sana. Bukan sekedar memenuhi kebutuhan materi namun juga ada kewajiban untuk selalu meningkatkan kemampuan diri.

Ibu … adalah awal seorang manusia mengenal dunia. Sejatinya semua pengalaman dan kesiapan untuk menghadapi juga matang dipikirkan. Karena hidup bukan sekedar bersenang-senang, namun ada tanggung jawab di dalamnya. Semua adalah bekal para penerus menghadapi dunia dengan segala dinamikanya.

Selamat menjalani hari-harimu Ibu, lakukan semua dengan bahagia dan cinta, hingga tak ada kata tak bisa.

Love, Rere

Menjaga Jiwa


Menjaga Jiwa

Untuk jiwa yang sedang gundah
Pada raga yang tengah goyah
Untuk jiwa yang sedang merana
Pada raga yang tengah lelah

Menyerah lah meski bukan kalah
Menyerah karena butuh pasrah
Pasrah pada keinginan raga dan jiwa
Mereka sedang butuh udara

Meski kadang raga berdiri tegak
Merasa kuat hingga pongah
Walau tertatih tetap menjejak
Tanpa sadar jiwa tengah gelisah

Wahai jiwa yang merasa tegar
Bahkan setengah mati menahan
Tetesan bulir bening di sudut netra
Luahkan! Tak perlu lagi kau tahan

Pahami ambunya yang tengah masygul
Jangan berpaling apalagi bingung
Biarkan jiwamu bergetar dengan jujur
Hirup wangi hidup yang tak selalu harum

Biarkan sumarah mengganti amarah
Biarkan harsa mengganti duka
Mencinta sang jiwa bukan melulu dunia
Menjaga sang raga bukan hanya mereka

Dirimu juga tanggung jawabmu
Jiwa yang tenang harusnya fokusmu
Raga yang ceria semestinya upayamu

Berhenti menguras habis karunia Nya untukmu
Berhenti berkorban demi mereka melulu
Berhenti berharap bahagia datang padamu
Berhenti tak perlu ragu

Bahagia … bahagiakan jiwamu
Sehat … sehatkan ragamu
Cinta … cintai dirimu utuh
Berharga itu … kamu juga jiwamu

Love, Rere

Maleficent … Well, Well


Maleficent … Well, Well

Siapa tak kenal dengan tokoh “evil” satu ini?

Maleficent.

Karakter jahat dalam sebuah film besutan sutradara Robert Stromberg. Dimainkan dengan sangat apik oleh Angelina Jolie.

Saya tidak selalu menyukai karakter antagonis dalam sebuah cerita. Seringnya gemas dan mengutuk betapa jahatnya seseorang can become. Walau karakter-karakter ini adalah kekuatan dari sebuah cerita.

Sang peri jahat yang bertanduk dan bersayap ini mungkin pengecualian. Saya menyukai karakternya. Ia jahat tapi karena ada sebab. Ia bisa menghancurkan segalanya tapi jika ia lebih dulu diserang. Di luar itu semua, hatinya ternyata lembut dan penyayang. “Kelemahan” yang berusaha ditutupinya dengan menjadi simbol kejahatan dan kekuatan.

Ia bahkan juga bisa sangat lucu dan konyol seperti ketika sedang menggoda Diaval, sang gagak yang disihirnya menjadi seorang manusia untuk mengawasi gerak gerik Aurora.

Aurora adalah cinta sejati Maleficent yang ditampilkan di cerita ini. Semua terungkap ketika true love kiss nya lah yang ternyata 2 kali menyelamatkan nyawa Aurora, bukan kecupan seorang raja atau pangeran mahkota, seperti di banyak cerita. Aurora adalah putri seorang raja yang dulu membuat Maleficent menderita. Sang raja ini lah yang mengubahnya menjadi seorang yang jahat dengan memotong sayap yang menjadi sumber kekuatannya.

Saya kemudian merenung. Betapa kita kadang ikut andil membentuk karakter seseorang tanpa sadar. Membunuh sifat asli orang lain dan membuatnya tampak jahat di mata semua, atas nama apapun. Mungkin kekuasaan, mungkin persahabatan, atau bahkan atas nama harta.

Menceritakan hal buruk tentang seseorang demi mendapat simpati yang dituju. Atau menyakiti seseorang yang tidak bersalah, bahkan selalu baik pada dirinya, demi mendapat dukungan untuk tujuan tertentu.

Ah … Maleficent. Ternyata kebaikan hatimu berusaha kau tutupi untuk menjadi pagar pembatas luka yang pernah kau alami. Luka dalam atas kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup hingga begitu menyiksa diri namun setengah mati kau hindari. Sampai tiba masanya hatimu terbuka untuk menerima kenyataan dan tetap mampu berdiri tegak sebagai seorang yang kuat.

Well well … biarkan cap jahat itu tetap tersemat untuk kesenangan mereka. Namun kebaikan hati adalah sesuatu yang datang sejak lahir dan akan tetap ada, meski ombak kuat menerjang dan kerikil tajam menghadang.

Maleficent … she is not a villain. She’s a strong character who refuse to give up on her miserable life. Ia adalah wujud kekuatan seorang perempuan yang menolak untuk menyerah pada kesakitan dan penderitaan.

Untukmu para perempuan, anyone can take away your wings, but never your power and heart. So keep standing tall and being strong no matter what.

Love, Rere

Thank You, Me


Thank You, Me

Hai, Moms!

Sudah membereskan rumah?
Sudah selesai melipat segunung baju?
Sudah memasukkan cucian kotor ke dalam mesin cuci?
Sudah masak untuk makan siang dan malam sekeluarga?

Mmm … dan untukmu sendiri bagaimana?

Sudah minum kopi pagi ini?
Sudah menyempatkan diri untuk menikmati me time?
Sudah melakukan olah tubuh dan berkeringat dengan gembira?
Sudah mengatakan cinta pada raga yang kerap kau buat bak kerja rodi seharian?

Kasihannya tubuh ini, yang kadang tanpa sadar terdzalimi.
Meski kadang begitu sakit hingga tak satu obat kimiawi menjadi remedy.

Lebih kasihan lagi jiwa ini, yang setengah mati mencoba untuk selalu tegak berdiri.
Bahkan ketika butiran bening jatuh pun, dengan segera terhapus tanpa menunggu siapapun datang dan berusaha mengusap.

Well Moms,
Ragamu yang semakin melemah tergerus usia, juga butuh perhatian.
Jiwamu yang selalu berusaha tegar juga butuh secangkir kopi untuk menghangatkan.
Cintai dirimu sama besarnya dengan cintamu pada sekitar.

Thank You, Me.
Thank you for standing tall and strong even on my weakest point in life.
Thank You, Me!
Thank you to never let anyone bring me down.
Thank You!

Hey, You! Love yourself and write down your own story!
-Rere

Piece By Piece


Piece By Piece

“Ayo Yah ke hospital.”

“Enggak usah lah, ke klinik seberang rumah saja.”

“Kalau berobat ke klinik itu, paling juga dikasihnya paracetamol, Yah. Sudah 2 hari sakit kepala gitu memang enggak mau check? Udah cepet siap-siap, kita pergi ke hospital!”

“Malas lah.”

Puasa hari ke 2 di tahun 2013 itu nyatanya menjadi hari terberat dalam hidup kami.

Jika saja saya tidak memaksanya pergi ke rumah sakit untuk MRI hari itu … entahlah. Salah satu dari sekian banyak keputusan terbaik dalam hidup yang pernah saya buat. Sekaligus hari dimana saya berada di titik nadir. Hari dimana dunia saya tumbling down. Sang belahan jiwa terdiagnosa menderita Brain Aneurysm. Pembuluh darah di kepalanya pecah hingga tekanan darahnya kala itu mencapai 198/98. Tinggi sekali.

Dalam keadaan bingung dan shock berat, saya harus membuat banyak keputusan cepat. Membagi isi kepala antara ia dan anak-anak. Saya pun memacu kendaraan menjemput si sulung dan adiknya yang sekolah berjauhan sambil terus berpikir bagaimana besok mereka berangkat sekolah.

Dengan ragu saya menghubungi supir bis sekolah putri kedua saya, yang ternyata bersedia membantu mengantar dan menjemput Lana dengan senang hati. Alhamdulillah. Kakak ipar yang sedang bekerja pun untuk sementara menolong saya mengurus si bungsu yang baru berusia 2 tahun. Secepatnya saya juga menghubungi orang tua di Jakarta untuk datang membantu mengurus ketiga anak kami.

Terbata-bata dengan nafas sesak saya sampai di sekolah dan menemui kepala sekolah untuk meminta ijin menjemput anak-anak sebelum waktunya pulang karena kondisi sang ayah yang di luar perkiraan. Beruntung mereka memahami keadaan saya dan mengijinkan anak-anak untuk tinggal di rumah hingga segala urusan bisa saya tangani dengan baik.

Sesampainya di rumah, saya menyiapkan segala perlengkapan untuk suami selama ia dirawat di rumah sakit nanti. Juga memastikan bahwa persediaan makan serta segala kebutuhan anak-anak selama di rumah cukup, dan entah apalagi. Sampai lupa bahwa saya juga butuh baju ganti selama di rumah sakit. Ah … rasanya itu tak lagi penting.

Berlinang airmata, saya meninggalkan rumah dan memacu kendaraan menuju rumah sakit Mount Elizabeth yang letaknya di mana pun saya tak pernah tahu. Mengandalkan jasa GPS yang kerap hilang sinyalnya hingga saya harus kesasar dan beberapa kali hilang arah. Seperti pikiran dan hati saya yang juga sedang hilang, melayang entah kemana.

Setelah sampai di rumah sakit dalam keadaan tidak mampu berpikir logis, saya kembali dihadapkan pada keputusan penting menyangkut pembayaran serta bentuk tindakan operasi. Pilihan yang sama-sama berat apalagi harus saya putuskan sendiri. Padahal selama ini, segala keputusan dalam hidup selalu saya bicarakan berdua dengan suami.

Saya merasa tidak berdaya dan ingin menangis, namun saya harus bangkit. Saya harus kuat. Saya tidak boleh lemah dan terpuruk. Saya harus bangkit. Harus!

Di tengah kebingungan yang melanda, saya bersyukur Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang luar biasa baik dan sangat membantu hari itu. Mulai dari supir bis sekolah Lana hingga akhirnya saya berjumpa dengan Dr. Ernest Wang. Ia yang dengan lembut menghampiri saya dan mengajak saya berdiskusi mengenai besaran biaya yang kelak harus saya hadapi jika tetap memilih rumah sakit ternama itu. Semua berurusan dengan asuransi kesehatan suami yang … ah nanti saja saya ceritakan detilnya sebagai pelajaran untuk semua.

Dokter Wang akhirnya membantu saya mengurus perpindahan dari Mount Elizabeth ke Rumah Sakit Tan Tock Seng yang hanya berjarak dekat namun berbeda jauh dalam masalah biaya.

Suami pun segera dimasukkan ke ruang ICCU dan bersiap menghadapi open surgery, yang menjadi pilihan saya dari 2 pilihan yang sama-sama berat. Dua pilihan yang semua hanya memberikannya kesempatan hidup 10% saja, karena 90% nya adalah kemungkinan koma, hilang ingatan, atau lumpuh seumur hidup.

Pilihan yang sangat berat hingga saya bersikeras menemaninya dalam ruang ICCU walau dengan resiko harus tidur di lantai tanpa alas dalam ruangan yang begitu dingin. Karena peraturan melarang pasien ICCU ditemani dalam ruangan. Tak peduli. Saya akan terus berada di sisinya dan tidak akan pernah meninggalkannya sedetik pun.

Tidak lagi saya pedulikan dinginnya lantai yang hanya beralas sajadah tipis tanpa selimut hangat bahkan bantal empuk. Dinginnya begitu menusuk hingga ke tulang dan membuat saya menggigil kedinginan. Saya sudah tidak peduli.

Keesokan harinya, operasi pembedahan kepala pun dimulai dan berlangsung sekitar 5 jam. Beruntung hari itu orang tua saya sudah datang dan menjadi support system terbesar yang saya butuhkan. Mama dengan cekatan mengambil alih semua urusan rumah dan anak-anak. Papa juga bersedia mengantar dan menjemput kedua cucunya dari sekolah. Terima kasih Ma, Pa.

Lima jam operasi, detik demi detiknya terasa begitu lambat. Hingga operasi selesai dan sesaat setelahnya, ia pun sadar dan mulai memberontak. Kepalan tangannya mulai meninju kiri dan kanan sambil mengeluh tangannya sakit. Ia heran kenapa kepalanya penuh dengan selang. Ketakutan akan kondisi pasca operasi yang beresiko hilang ingatan pun muncul dalam benak saya. Ia mulai berubah.

Kekasih hati yang biasanya begitu sabar, menjadi sangat pemarah. Ia yang juga selalu menciumku kemudian menjauhi, karena bau yang katanya asing. Ini lah 90% itu. Ingatannya hilang, Tuhan.

Sepuluh hari menjalani perawatan di rumah sakit benar-benar menguras tenaga dan jiwa. Setiap pagi setelah mengantar anak-anak sekolah, saya bergegas menuju ke rumah sakit dan mengurusinya hingga hampir tengah malam. Dalam keadaan lelah saya harus memacu kendaraan kembali ke rumah. Rasanya diri ini sudah berada di ujung lelah hingga ingin berteriak. Saya rindu pada anak-anak setelah berhari-hari tidak bisa bercengkrama seperti biasa.

Belum lagi lelah hati menghadapi kemarahannya setiap saat. Ia memang sudah berubah. Saya pun hampir menyerah, jika tidak ingat ia dan anak-anak butuh saya yang kuat. Saya harus bangkit dan berdiri tegak. Saya harus sabar. Harus.

Tahun demi tahun berlalu dan semua pun kembali normal. Sujud syukurku pada Sang Maha Pemilik Hidup dan Mati. Sang belahan hati kini sembuh total dan hanya menyisakan bekas operasi panjang di dahi kanan serta sebuah klip di dalam kepalanya untuk menutup pembuluh darah yang pecah. Namun ia kini telah kembali seperti dulu. Lelaki baik hati yang sabar dan penyayang seperti ketika pertama kali saya mengenalnya.

“Kenapa ya saya bisa selamat hari itu? Sampai dokter pun heran dan bilang betapa beruntungnya saya bisa selamat dari lubang kematian.”

“Mungkin bekalmu belum cukup untuk menghadapNya, Sayang. Allah memberikanmu kesempatan lagi untuk memperbaikinya sampai tiba saatnya nanti.”

Apa yang bisa diambil dari cerita saya ini?

1. Jangan abaikan sekecil apapun alarm tubuh. Cepat periksa ke dokter dan minta pemeriksaan melalui MRI atau CT Scan terutama yang berhubungan dengan sakit di bagian kepala. Bergerak cepat sebelum terlambat. Jangan abai, jangan lalai. Jangan juga berusaha menyembuhkan dengan pengobatan alternatif. Cari informasi secepatnya mengenai dokter bedah syaraf yang terbaik.

2. Asuransi yang begitu penuh dengan polemik terbukti sangat membantu. Ingat. Choose the best insurance untuk sang kepala rumah tangga. Suami saya yang begitu baik, memilihkan asuransi terbaik hanya untuk anak dan istrinya saja, bukan untuknya sendiri. Ia lupa bahwa ia lah sang pencari nafkah tunggal dalam keluarga. Jika ada suatu hal terjadi padanya, maka masalah biaya akan menjadi begitu runyam untuk saya istrinya. So, choose the best one. I mean it.

3. Buang jauh segala kebiasaan buruk demi kesehatan. Jauhi stress, beban pekerjaan yang menumpuk, kurang olahraga, dan makanan yang tidak terjaga. Kurangi juga konsumsi makanan yang mengandung pengawet.

4. Untukmu para istri jika hal seperti ini terjadi, tetap tenang dan berfikir sistematis akan sangat membantu dalam memutuskan sesuatu. Ingat selalu untuk banyak bersabar. Sabar manakala pasca operasi, pasangan akan banyak berubah. Selalu berdoa dan banyak berserah diri akan sangat membantu kesehatan juga hati.

Piece by Piece by Kelly Clarkson yang saya nyanyikan ini ditulis berdasarkan kesedihannya ditinggalkan sang ayah kala berusia 6 tahun. Sama halnya dengan usia si sulung yang baru menginjak 7 tahun, sementara sang adik berusia 6, dan 2 tahun, ketika sang ayah harus berjuang di meja operasi. Saya membayangkan kesedihan yang mungkin juga dirasakan anak-anak hari itu jika sang ayah tidak berhasil melalui operasinya, dan jika sang bunda memilih untuk menyerah.

Dalam lagu sendu ini, Kelly Clarkson akhirnya menemukan kembali semua yang hilang dalam hidupnya setelah bertemu sang suami dan memiliki anak. Seperti cerita saya 7 tahun yang lalu. Tentang asa yang masih ada di titik nadir perjalanan, dan tentang keberanian untuk akhirnya bangkit dari keterpurukan.

Be strong now because things will get better. It might start with stormy weather but it can’t rain forever.

Love, Reyn

Try. Try Hard. Try Harder


Try. Try Hard. Try Harder

Kalau dipikir-pikir, universe beserta Sang Pencipta kadang bercandanya seru, ya?

Beberapa bulan lepas kita masih pergi ke mana pun kaki melangkah dengan bebas. Setelah itu ia memutuskan untuk beristirahat dan membuat seluruh penghuni bumi dimasukkan dalam “sangkar” emas.

Berbulan-bulan hanya berdiam di rumah saja tentunya membawa banyak perubahan pada fisik dan mental. Biasanya aktif di luar rumah, sekarang harus menikmati detik demi detik kehidupan di dalam rumah saja. Bosan, jenuh, bete, hingga enggak tahu mau melakukan apa lagi.

Nah, apa yang bisa kita lakukan selama di rumah saja? Banyak! Salah satu contohnya adalah melakukan kegiatan yang disukai dan mencoba hobi baru setiap hari.

Bukankah a hobby a day will keep the boredom away? Jadi kenapa kita tidak berusaha mencoba banyak keahlian dan hobi?

“Ah, gue kan enggak berbakat kayak elu.”
“Elu mah megang apa aja jadi, Mak. Gue mah enggak bisa.”

Ih! Kalian tahu tak kalimat “tak kenal maka bisa utang … eh … maksudnya tak sayang”? Bagaimana sih kalian bisa tahu kalau tidak berbakat jika mencoba saja belum pernah. Padahal kegagalan itu masih lebih baik daripada keengganan. Mending gagal tapi pernah mencoba, daripada belum coba tapi sudah menyerah kalah.

Untuk itu, kalau kalian pikir saya bisa ini itu dari lahir, kalian salah. Sesungguhnya saya hanya punya semangat dan ketekunan. Semangat untuk selalu belajar hal baru, tekun mencari ilmu, serta rajin mencoba keahlian baru.

Tahukah kalian semua, jika semakin banyak hal saya temui dalam proses belajar ini, semakin saya paham bahwa sejatinya saya tidak tahu apa-apa. Untuk itu saya belajar membuka diri dan juga hati agar semua ilmu bisa saya pelajari tanpa ruangnya pernah saya batasi.

Setiap hari saya meluangkan waktu untuk melihat video cara pembuatan beragam kerajinan tangan di internet. Kemudian saya mulai mencoba dan melakukan eksperimen sendiri. Kadang gagal, tapi saya tidak menyerah. Terus mencoba, itulah prinsip hidup saya.

Jadi, apa yang kalian lihat postingannya selama ini di beranda pribadi saya, adalah hasil dari sebuah proses belajar, proses mencoba, dan juga proses melakukan banyak kesalahan.

Begitulah cara saya belajar. Hingga tercipta beberapa hasil karya berupa macrame, wire weaving, resin, dan juga beberapa tulisan yang menunggu untuk dibukukan. Percayalah, memakai hasil karya sendiri itu sensasinya beda teman.

Jadi, masih mau bilang enggak bisa dan enggak berbakat? Think again.

Making mistakes simply means you are trying harder than anyone else.

Love, R

Dirawat VS Diedit


Dirawat VS Diedit

“Cantik banget siiiihh kamu!”
“Hahaha! Editan itu. Filter maksimal, Cint.”
“Ah, gak diedit juga udah cantik.”
“Kata siapa? Cantik itu kudu dirawat Cint. Perawatan mahal jadi … edit aja. Gratis dan bikin bahagia!”

Hahaha!

Ini adalah kalimat yang biasa saya ucapkan ketika menerima pujian dari beberapa sahabat setelah mengunggah hasil swafoto di media sosial.

Ya, saya memang kadang menggunakan aplikasi untuk mendapat hasil foto yang bagus. Paling tidak membuat saya bahagia. Walaupun saya berusaha untuk tidak terlihat terlalu mulus dan flawless. Nanti yang bertemu langsung dengan saya bisa makjegagig kaget, karena ternyata aslinya tidak seindah tampilan di layar gawai.

Berbicara soal perawatan, siapa sih yang tidak ingin merawat tubuh dan kulitnya secara paripurna? Tahukah kalian semua, betapa kami para perempuan ini sebenarnya khawatir? Semakin menua, kulit kami tidak menjadi semakin mulus dan glowy. Semakin bertambah usia, yang tadinya kencang menjadi serba melorot. Mata yang tadinya berbinar indah, menjadi berkantung tebal dan kehilangan sinar.

Belum lagi bertambahnya babat dan timbunan lemak di banyak tempat. Padahal kami sudah berusaha menjaga pola makan dan menghindari beberapa jenis makanan. Tetap saja kami tidak bisa selangsing Sophia Latjuba dan secantik Putri Marino. Mereka sih rasanya tidak perlu repot melakukan diet ketat atau perawatan maksimal, bahkan rasanya mereka tidak pernah menggunakan aplikasi untuk mempercantik tampilan.

Uhari pernikahan saja pipi mereka tidak diteploki bedak dan shading setebal 2 mm kok. Coba kalau kita yang tidak full make up di hari pernikahan. Sudah pasti tampilan kita akan seperti orang yang baru bangun tidur. Bengkak dan kusam.

Perawatan yang saya lakukan di rumah juga terbilang lengkap. Tentu saja, bila mengingat mahalnya melakukan perawatan ke salon kecantikan di negara ini. Awalnya saya berpikir, daripada ke salon mendingan saya rawat sendiri di rumah. Karena jika dihitung akan jauh lebih murah dan hemat.

Bagaimana dengan suami saya? Apakah ia mendukung cara saya melakukan perawatan ini? Ya tentu saja jika ingin melihat saya tampil mendekati seperti 15 tahun yang lalu ketika ia pertama kali terpana melihat saya. Eeeaaaaaa!

Para suami tentu saja harus memberikan dukungan penuh jika menghendaki sang istri tampil menawan bak polesan aplikasi peluntur kekusaman. Jangan hanya menuntut kami ini bekerja di rumah seperti kuli dengan tampilan wajib bak gadis muda kinyis-kinyis, yang bahkan menyalakan kompor saja masih meringis.

Namun sebagai perempuan yang sudah menjadi ibu juga harus paham, bahwa ada banyak hal yang butuh perhatian lebih sekarang. Skala prioritas hidup harus sedikit diatur walau tidak melupakan kebutuhan pribadi.

Lihat kan regime perawatan muka saya? Semua ini tidak berharga murah memang. Tapi saya membelinya dari menyisihkan uang jatah jajan saya sendiri. Ya, saya menghadiahi diri sendiri uang jajan setiap bulan yang bisa dengan bebas saya pergunakan.

Nah, daripada saya menghabiskannya untuk nongkrong cantik atau arisan di resto mewah, saya menyisihkannya untuk membeli beberapa alat perawatan kulit dan wajah. Semacam investasi kecantikan.

Lantas, dipakai tidak? Yaaaaa kebanyakan sih setelah berakhirnya uforia, mereka akan teronggok di sudut lemari kaca. Lantas butuh suntikan semangat untuk menggunakannya kembali. Saya sih masih pakai kok sesekali. Sayang juga sudah mahal-mahal dibeli.

Segitu amat ya perawatannya? Sementara kebanyakan dari kita merasa, “Ah sudahlah. Begini juga sudah laku dan beranak pinak.” Betul tidaakkk? Padahal pikiran seperti itu yang sebenarnya lambat laun akan membuat kita makin malas merawat tubuh hingga kehilangan rasa cinta pada diri sendiri.

Saya sih juga seringnya malas melakukan perawatan sendiri. Namun biasanya dengan beberapa sahabat kami saling menyuntikkan semangat untuk rajin merawat diri. Kadang juga janjian menyeberang pulau untuk pergi ke salon kecantikan dengan harga yang jauh lebih murah daripada di sini.

Jadi, perlu kah kita merawat diri hingga tak lagi butuh sekedar mengedit dengan aplikasi? Jika dengan aplikasi saja kita sudah bahagia, ya lakukan saja. Bebas. Yang penting mencintai dan menyayangi diri sendiri itu juga wajib.

Eyow para suami, bantu istri-istrimu di rumah. Jika tidak menghendaki mereka menghabiskan uang untuk melakukan perawatan, setidaknya berikan dukungan secara verbal bukan melulu perundungan.

“Gendut amat sih, Ma?”
“Kusem amat tu muka, Bun!”
“Lihat deh ini Yuni Shara umur 50 tahun masih kinclong enggak kayak kamu, Mi!”

Oy! Percayalah, ini semua dilakukan para perempuan untuk membahagiakan anda semua. Jadi berikan dukungan, modali istrimu untuk sesekali pergi ke salon kecantikan, dan berikan waktu untuk menghibur diri sejenak dari rutinitas harian. Above all, watch your words! Karena tajamnya bisa menusuk lebih daripada pedang.

Trust me, being a woman is never easy. We have to think like a man, work like a horse, and look like a young girl.

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak

MIMPI


MIMPI

“Pah, pinjam mesin tik nya ya.”
“Buat apa? Memang tahu cara pakainya?”
Tau dong. Mau nulis buat mading.”
“Nulis apa?”
“Enggak tahu. Hehe.”

Mesin tik bersejarah itu awal saya berkenalan dengan dunia tulis menulis di tahun 1991, ketika duduk di bangku SMA.

Satu persatu huruf di mesin tik tua itu saya kenali dan berusaha keras mengakrabkan diri. Lembar demi lembar tulisan yang saya buat darinya akhirnya bertengger di majalah dinding sekolah kami. Tentu saja dengan nama samaran karena saya belum lagi percaya diri.

Berkenalan dengan grup para penulis keren awal tahun lalu, membuat saya kembali tertarik menuangkan keluh kesah dan pengalaman hidup. Ya. Hampir semua tulisan yang saya buat memang berdasarkan apa yang saya lalui selama ini. Tidak selalu manis dan indah, bahkan sarat dengan kisah sedih dan airmata.

Tulisan pertama saya bahkan juga menghadiahi diri ini piala pertama dalam hidup. Hahaha!

Kini, dua di antara beberapa antologi yang telah saya tulis juga menempatkan saya di deretan terbaik . Melalui antologi Seni Menyikapi Ketelanjuran dan Ketika Jiwa Terlahir Kembali.

https://parapecintaliterasi.com/5-naskah-terbaik-dalam-event-spesial-milad-ma-nubar-sumatera/

https://parapecintaliterasi.com/siapakah-terbaik-dalam-event-terdahsyat-nubar-sumatera-bertemakan-hijrah/

Percayalah, ini adalah wujud dari semua mimpi yang pernah saya rajut sejak di hari saya menekan tombol-tombol huruf di mesin tik tua milik papa. Tidak pernah muluk-muluk berpikir untuk melihat tulisan saya kelak nangkring di toko buku ternama. Cukup dengan membuat banyak mata membaca kemudian mengambil pelajaran dari semua kisah yang saya bagikan. Itu saja.

Mimpi, jangan takut dipunyai. Karena mimpi yang memberi warna hidup ini. Gelap bisa berubah terang, terang bisa semakin bersinar.

Follow your dream, believe in yourself, and never give up.

Love, R

Hari Raya 2020


Hari Raya 2020

Walau tahun ini enggak bisa mudik
Yang penting suasana hati harus tetap asyik
Walau enggak bisa berjabat tangan dengan kakak adik
Yang penting pagi ini tetap dandan cantik

Corona memang mengubah segalanya
Termasuk hari raya yang dinanti Muslim semua
Jangan sedih jangan gulana
Tetap semangat dan banyak berdoa

Selamat hari raya untukmu semua
Semoga Yang Kuasa menerima segala ibadah kita
Lebarannya di rumah saja
Kukis dan lontongnya dimakan sendiri juga
Mau dikirim ke rumah sih juga saya terima

Ihik!

Love,
Rere & Family

Enggak Mudik Enggak Apa-Apa Ya, Eyang?


Enggak Mudik Enggak Apa-Apa Ya, Eyang?

Perantau seperti saya dan beberapa teman, memang harus rela berkorban. Dengan atau tanpa adanya pandemi, kami kadang harus rela berjauhan diri. Dengan keluarga dan kampung sendiri.

Menjalani puasa dengan keterbatasan, bahkan lebaran kali ini tidak bisa mudik seperti biasa. Yah, apa mau dikata? Lebih baik menurut aturan saja.

Lebaran yang dinanti-nanti karena ingin saling mengucap maaf atas khilaf diri. Setahun hanya sekali. Itupun tidak bisa juga kali ini.

Jangan sedih ya, Eyang. Kita masih bisa bertatap muka melalui layar untuk mengatakan sayang. Nanti kalau situasi sudah reda, kami siap berlayar. Untuk mencium tanganmu dan meminta restu demi menjalani kehidupan dengan tegar.

Susah, Eyang.

Susah hati berjauhan seperti ini. Begitu lama rasanya menanti, untuk bisa berkumpul kembali. Karena sejak kuliah sudah memilih pergi, hingga berkeluarga kita tetap tak bisa berdekatan setiap hari.

Duhai ayah bunda, ampunkan ananda tak dapat beraya bersama. Jauh dari mata dekat dalam jiwa, teduh kasihku tidak berubah.

Berbahagia jika kalian selalu bisa berdekatan. Dengan orang tua di kampung halaman. Karena rasanya sangat berbeda kala berjauhan.

Sayangi mereka, hormati senantiasa. Karena padanya ada keberkahan yang akan selalu terbawa. Percayalah, hidup ini akan hampa tanpa doa dan restu mereka.

Sayu, hati ini makin sayu. Rindu, padamu dan rumah sederhanamu … selalu.

Taqobalallahu minna wa minkum.
Selamat merayakan kebahagiaan bersama keluarga tercinta … di rumah saja.

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #ReReynilda

H I D U P


H I D U P

Memang tak selalu lurus apalagi mulus
Kadang di tengah jalan bertemu kerikil dan batu
Mungkin juga berhadapan dengan jalan berliku
Namanya juga hidup, bisa bertahan kah kamu?

Pernah punya duit cuma sepuluh dollar
Dengan sebiji telur penahan lapar
Untung bayi kecil gak ikut nangis menggelegar
Namanya juga hidup, tak selamanya bak bunga mekar

Pernah juga tertimpa masalah besar
Sampai harus kabur-kaburan
Bahkan mobil sampai tabrakan
Namanya hidup, kadang ada ujian sabar

Ujian terus, kapan lulusnya?
Masak hidup enggak lurus terus jalannya?
Kan sabar ada batasnya?
Namanya juga hidup, kita tak pernah tahu ujungnya

Merasakan roller coasternya kehidupan
Membuat saya punya pertahanan
Walau kadang ada pasang surutnya
Tapi saya sadar, banyak orang lebih susah hidupnya

Dari itu semua, apa yang saya dapat?
Selain keyakinan untuk bisa menjalani dengan selamat?
Saya belajar artinya kekuatan
Yang tidak pernah saya tahu adanya di badan

Sekarang jalan saya terasa lebih lapang
Lupakan yang lewat dan maafkan segala kesalahan
Tugas saya sekarang berbagi pelajaran
Bahwa setelah gelap pasti ada terang

Life’s short, spend it wisely.

Change the way you look at things.

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis

Miracle In Cell No. 7


Miracle In Cell No. 7

Film berbahasa Turki ini adalah adaptasi dari sebuah film Korea yang dirilis pada tahun 2013. Sang sutradara, Mehmet Ada Öztekin merilisnya kembali di tahun 2019.

Bertema keluarga, film ini menceritakan kisah seorang anak perempuan bernama Ova dan sang ayah yang memiliki keterbelakangan mental bernama Memo. Mereka tinggal bersama sang nenek, Fatma, yang telah berusia lanjut di sebuah desa di atas bukit. Memo adalah seorang penggembala kambing.

Keterbelakangan mental Memo kerap dijadikan olok-olok oleh sekitarnya. Hingga Ova sang putri juga kerap menerima perundungan di sekolahnya. Namun ia sangat menyayangi sang ayah dan menganggap Memo seperti layaknya seseorang yang normal.

Pada suatu hari, Ova menginginkan sebuah tas bergambar karakter animasi yang sedang populer di sana. Memo pun berusaha keras untuk mampu membelikan putrinya tas berharga mahal berwarna merah muda itu. Tas mungil yang kemudian menjadi awal petaka kehidupan mereka.

Ya, ia didakwa membunuh putri seorang Letnan yang pernah memukulnya karena Memo berusaha meraih tas impian Ova yang dibeli dan dipakai oleh gadis kecil itu. Memo marah dan kecewa karena ia telah berusaha keras mengumpulkan uang untuk membeli tas itu.

Memo lalu ditangkap, kemudian dipukuli dengan bengis, dan dipaksa mengaku telah membunuh putri sang Letnan. Padahal sang gadis kecil terjatuh ke dalam sungai ketika ia mengajak Memo bermain dengan iming-iming akan diberi tas impian Ova. Memo lalu ditahan dan harus menghadapi dakwaan pembunuhan yang berakibat ia akan menerima hukuman gantung.

Kemudian ia dimasukkan ke sel nomor 7 dengan hadiah pukulan bertubi dari para penghuni sel yang melihatnya sebagai seorang pembunuh anak kecil. Namun kemudian keajaiban justru terjadi di dalam sel sejak kehadiran Memo dan pada hari ketika Ova diselundupkan masuk ke dalam sel oleh teman-teman Memo. Di sini lah cerita bergulir tentang bagaimana para penghuni sel bisa berada di dalamnya.

Ova berhasil membuka cerita tentang mereka melalui pertanyaan sakit apakah mereka semua, karena berpikir sang ayah sedang dirawat di sebuah rumah sakit, bukan di dalam penjara. Di dalam sel itu Ova menemui seorang pembunuh, penipu, penculik, bahkan seorang lelaki paruh baya yang kerap menatap lekat sebuah keratan di dinding. Hanya Ova yang bisa melihat bahwa keratan di dinding itu berbentuk sebuah pohon.

Ya, lelaki itu menguburkan putrinya hidup-hidup di bawah sebuah pohon besar di hari pernikahannya karena ego nya sebagai seorang lelaki. Kelak pria berwajah sedih ini yang akan menolong Memo dan Ova keluar dari penderitaannya.

Malangnya, di saat Memo dan Ova menjadi sepasang keajaiban di dalam sel, sang nenek justru pergi meninggalkan mereka berdua karena serangan jantung ketika mendapati Ova pergi tanpa pamit untuk menemui sang ayah dengan cara diselundupkan hari itu.

Ova kini sebatang kara, karena sang nenek yang selama ini melindunginya sudah pergi ke alam baka, sementara sang ayah tengah menghitung hari menghadapi kematiaannya di tiang gantungan yang bak neraka.

Berurai airmata dan dada sesak, itu yang saya rasakan melihat film ini. Aahhh … kalian harus nonton! Saya tidak sanggup menceritakannya dengan detil. Bahkan hingga akhir dari film ini, saya tetap dibuat terpana dan terkejut karena tidak mengira sama sekali ujung dari cerita Memo dan Ova.

Selesai menonton film yang menyesakkan dada ini saya jadi berpikir tentang kehidupan. Apa sih esensi hidup itu? Apa sih yang kita cari dan kejar dalam hidup? Hidup ini untuk apa dan untuk siapa?

Saya jadi bersyukur walau dalam hidup tidak selalu bertemu jalan lurus. Kadang terjal dan berliku, penuh airmata dan juga kesedihan. Jika Memo dengan keterbatasannya masih mampu tersenyum dan menjadi keajaiban untuk sekitar, bagaimana hal nya dengan kita yang dianugerahi raga yang sempurna ini?

Dari Memo saya belajar untuk selalu berbaik hati pada sekitar, karena kita tidak pernah tahu apa yang orang lain lalui dalam hidupnya. Kebaikan itu sifatnya menular. Seperti Memo yang selalu menganggap semua orang baik hingga ia mendapat balasan dalam hidup yang juga baik.

Be kind. Walau hidup kadang nampak tak adil dan berat sebelah bagi sebagian. Semoga hidup yang saya jalani ini bisa bermanfaat untuk sekitar walau dengan segala keterbatasan. Seperti Memo dan Ova yang mengajarkan tentang banyak sekali kebaikan di tengah kesusahan.

Life … the struggle we are in today, will be our strength tomorrow.

Sumber foto: http://www.bing.com

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda

Disiplin & Tanggung Jawab, Untuk Siapa?


Disiplin & Tanggung Jawab, Untuk Siapa?

“Bunda …”
“Yes?”
“I left my lunch box and bottle at home.”
“So?”
“Can you send it to me?”
“No, I can’t.”
“But I’m hungry,
Bunda.”

Begitulah pesan singkat yang saya terima dari putri sulung saya. Ketika sedang menikmati secangkir kopi hangat pagi itu. Kotak makan, dan botol minumnya memang tertinggal di rumah. Saya menemukannya tergeletak di depan pintu. setelah ia pamit berangkat sekolah.

Ia memang nampak terburu-buru hari itu. Ada tugas Student Council, katanya. Semacam OSIS di sekolah Indonesia. Dengan singkat saya membalas pesannya, “Learn from this lesson.”

Kejam kah saya? Bagaimana dengan Anda para ibu? Jika anda menjadi saya, apakah anda akan mengambil langkah yang sama dengan saya yaitu menolak mengantar barang yang tertinggal sebagai pembelajaran? Atau justru tergopoh-gopoh pergi ke sekolah untuk mengantar barang mereka karena kasihan?

I might sound mean to many. Ibu yang kejam. Sekolah sebelah rumah saja tidak mau mengeluarkan sedikit effort untuk mengantar keperluan bocah yang tertinggal.

Ya. Begitulah cara saya mendidik anak-anak di rumah. Disiplin dan tanggung jawab adalah hal yang utama di keluarga kami. Jangan heran jika berkunjung ke rumah saya, anda akan melihat saya tidak segan memerintahkan anak-anak untuk melakukan banyak hal, bahkan sejak usia mereka masih sangat muda.

Memasak, membersihkan rumah, membereskan kamar, membuang sampah, pendeknya semua harus mampu mengerjakan pekerjaan rumah. Semua. Tanpa kecuali.

Bahkan putra bungsu saya yang baru berusia 9 tahun, sudah terampil mempersiapkan menu sahur sederhananya sendiri, lho. Apalagi kedua kakaknya. Merekalah yang sekarang ini bertanggung jawab atas banyak hal di rumah kami.

Bagaimana saya melakukan semuanya?

It takes two to tango.

Kami melakukannya bersama-sama. Berproses sedari kecil, dan belajar dari semua kesalahan selama proses berlangsung. Seperti yang saya ceritakan dalam buku antologi Tips Mengoptimalkan Kemampuan Belajar Anak Jilid 1 https://curhatanaksekarang.com/tips-mengoptimalkan-kemampuan-belajar-anak/

Belajar bukan hanya di ruang kelas dan membuka buku. Belajar hidup disiplin dan mengenal arti tanggung jawab, juga termasuk ilmu tentang kehidupan yang akan berguna seumur hidup. Ini yang tanpa lelah saya tanamkan di diri putra dan kedua putri saya.

Untuk siapa semua life skills ini? Untuk mereka. Agar kelak mereka bertiga tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang disiplin, berani bertanggung jawab, dan tidak pernah menyusahkan orang lain.

Mau membaca tulisan kami semua dan menyerap manfaatnya? Mari belajar bersama.

Love, Reyn.

Susah? Senengin Aja!


Susah? Senengin Aja!

Cerita tentang sang mantan … teman sekamar kemarin memunculkan beberapa opini dari banyak sisi. Terima kasih ya teman-teman. Jangan khawatir, saya tidak berteman dengannya di sosial media. Rasanya juga ia tidak memiliki aktifitas apapun di dunia maya.

Amaaan. Eh!

Mungkin salah satu yang membuat gemas adalah cerita tentang kontradiktifnya ia, ketika marah mendengar suara derit pintu tapi memutar musik dengan keras, ketika saya sedang melaksanakan ibadah, tanpa ragu. Kenapa saya bisa sesabar itu? Kalau orang lain mungkin sudah marah karena merasa terganggu. Mungkin juga beberapa merasa saya terlalu mengalah dan lugu. Ah … senangnya punya teman yang begitu peduli, aylapyu!

Waktu itu saya tidak marah padanya, tidak juga menegurnya. Kenapa? Saya merasa, sholat saya seharusnya bisa khusyuk bagaimanapun keadaan di sekitar saya. Be it musik yang berdentum keras, orang yang mondar-mandir di hadapan, atau mungkin suara mereka yang sedang bercakap-cakap dengan volume tinggi.

Ya, memang sesederhana itu saja alasan saya.

Sama hal nya ketika sedang berpuasa, saya juga tidak lebay meminta orang lain paham dan bertenggang rasa. Yang puasa saya, kenapa orang lain harus ikut menanggungnya? Ini juga yang saya ajarkan pada anak-anak yang pernah bercerita tentang bagaimana mereka melihat teman lain, yang tidak berpuasa, meneguk minuman dingin di hadapan mereka yang sedang berpuasa.

Saya sedang mengajarkan anak-anak untuk tidak jadi manusia yang rese, mengharap orang lain selalu memahami situasi mereka, dan menjadi marah ketika sekitar tidak menunjukkan dukungan.

Hidup itu jadi sulit ketika kita memperlakukannya dengan sulit.
Hidup akan menjadi susah ketika kita menyusahkan sekitar, atau susah ketika melihat orang lain tidak susah.

Bersamaan dengan cara saya membuang semua hal yang negatif, saya juga belajar buat lebih mendengar dari banyak sisi. Seperti bagaimana saya mendengar segala keluh kesah Salwa tentang roomate nya dulu. Saya bahkan juga membuka diri dan telinga dengan segala aturan darinya sebagai pemilik kamar terdahulu. Tanpa perlu menyusahkan diri untuk berdebat, saya mengambil percakapan itu untuk kemudian menganalisa dan mengambil kesimpulan, bagaimana harus menghadapi seseorang yang lumayan ajaib sepertinya.

Susah? Senengin aja!

Saya hanya ingin kehidupan yang damai, demi kesehatan mental saya sendiri. Pekerjaan saya dulu yang mengharuskan interaksi dengan banyak pribadi ajaib bahkan menyebalkan, rasanya sudah cukup membuat saya banyak emosi.

Percayalah, hidup akan jauh lebih menyenangkan ketika kita fokus pada perbaikan diri, dengan membuka telinga lebar agar hati tak sampai mati. Bayangkan susahnya hidup mereka yang berpikir semua orang salah, cuma gue yang bener dan baik hati. Capek, ih!

Love, R

#WCR #tantanganmenulis #rumahmediagrup #rereynilda

Teror part 1 Oleh Deesa Rahma


Teror
Part 1
Deesa Rahma

Khusus kos putri. Tulisan itu tercetak jelas di gerbang rumah berlantai dua. Terlihat sedikit seram. Dengan halaman besar dan taman kecil yang ditumbuhi pohon mangga beserta bunga rumput warna warni.

Sore ini aku pindah kos. Kerena esok hari pertama aku mulai bekerja di rumah sakit baru. Jarak kosku yang lama jauh dari tempat kerja baruku. Jadi, dengan sangat terpaksa, aku mencari tempat kos baru.

“Ini kunci kamar kosmu. Sudah bisa ditempati, karena sudah dibersihkan oleh Bibi. Kalo mau dipel lagi, silakan. Maaf mungkin agak lembab, karena sudah dua tahun tak berpenghuni,” ujar Ibu kos panjang lebar. Aku hanya mengangguk sambil menerima kunci yang disodorkannya.

“Oh, iya, peraturan di sini sangat ketat. Setiap penghuni kos, wajib jaga kebersihan kamar kos dan lingkungan kos. Pulang malam paling telat jam sepuluh. Jika memang harus pulang larut, beritahu saya atau Bibi. Tidak boleh bawa laki-laki ke kos ini, kalo diantar cukup sampai depan gerbang aja. Ketahuan bawa laki-laki masuk, saya usir kamu,” lanjutnya.

“Baik, Bu.”

“Oke saya pergi. Oh ya, untuk uang kos, kamu bayar nanti aja setelah kamu menempati kamarnya selama seminggu. Dirasa betah silakan lanjut, kalau gak betah silakan pergi dan tak usah bayar.”

Aku sedikit terkejut. Karena baru kali ini ada kos-kosan yang bisa uji coba dulu. Di sini ada 20 kamar, hampir semua terisi. Tersisa kamar yang akan aku tempati. Kamar nomer tiga belas.

Ada apa dengan kamar ini, sampai tak ada yang ingin menempati?

Bersambung ….

#rumahmediagrup #tantanganmenulis #deesarahma #wcr

Liana – Hitam Putih Perempuan


Liana – Hitam Putih Perempuan

“Li, Dena masuk ICU! Gue tunggu di rumah sakit sekarang!”

Dena … Liana tersentak membaca sebaris pesan singkat yang baru saja dikirim Dira, sahabatnya. Dena? ICU?

Jantung Liana seketika berdebar sangat kencang, lututnya lemas, pandangannya gelap. Mimpi buruk itu kembali lagi.

“Li, Dio masuk ICU! Dia tiba-tiba jatuh waktu sedang mimpin rapat. Gue di rumah sakit sekarang. Kalau bisa cari flight ke Jakarta secepatnya!”

Liana tak ingat lagi kalimat apa yang dibacanya setelah itu. Tiba-tiba saja ia sudah terbaring di sebuah ruangan, dikelilingi beberapa teman yang pergi berlibur ke Bali dengannya waktu itu. Liburan yang seharusnya menyenangkan sebelum ia mengambil cuti hamil panjang.

Dio memang mengijinkan Liana yang tengah hamil untuk menikmati liburan bersama beberapa teman perempuannya. Liana sebenarnya tidak ingin pergi, namun Dio yang justru memintanya berangkat agar Liana bisa beristirahat dari kesibukan kerjanya. Ia meminta maaf karena tidak bisa mendampingi sang istri. Kesibukannya di kantor sangat menyita waktu.

Janin di perut Liana adalah hadiah pernikahan ke 12 tahun mereka. Ya, selama 12 tahun segala daya upaya dilakukan Dio dan Liana untuk memperoleh keturunan. Tak sedikit suara sumbang dan nada sinis didengar Liana. Sang ibu mertua bahkan terang-terangan menyuruh Dio untuk mencari istri ke-dua. Rencana yang ditolak mentah-mentah oleh Dio.

Liana mengalami depresi hingga kesehatan rahimnya makin terganggu. Mereka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kota kelahiran Dio dan mencari pekerjaan di Jakarta. Nasib baik memang mengiringi mereka berdua karena Dio dan Liana akhirnya bisa menduduki jabatan tinggi di tempat kerjanya masing-masing. Hingga memiliki keturunan sudah tidak lagi menjadi mimpi mereka berdua.

Meski begitu, Dio adalah lelaki baik yang sangat mencintai sang istri. Meski tidak seorang bayi pun dipersembahkan Liana dalam kehidupan mereka. Liana sangat bersyukur memiliki Dio sebagai pasangan hidup. Hingga tanpa disadari menginjak tahun ke 12 pernikahan mereka, Liana hamil. Berita yang tentu saja membuat Dio sangat bahagia.

Bulan depan adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ke 12. Rencananya Dio akan menyusul Liana, kemudian berada di Bali hingga tiba saatnya ia melahirkan. Namun sebaris pesan singkat yang dikirim seorang sahabat menjadi awal mimpi buruk Liana.

Setelah siuman dan merasa kuat Liana mengambil penerbangan terakhir ke Jakarta. Airmata tak henti mengalir sepanjang perjalanan yang dirasanya begitu lama. Perasaannya tidak enak, jantungnya berdebar, dan di satu saat ia merasa ada yang hilang.

Setibanya di rumah sakit, seluruh keluarga telah berkumpul dan sang ibu mertua dilihatnya menangis histeris. Melihat kedatangan Liana, matanya memerah lalu ia menghampiri dan menampar pipinya.

“Istri macam apa kau ini? Suamimu bekerja keras di Jakarta, kau asik-asikan liburan di Bali! Sekarang lihat! Lihat! Anakku mati! Mati!”

Tak dirasakannya perih pipi yang tertampar, mata Liana mencari-cari keberadaan Dio. Suami terkasih yang ditemuinya sudah dalam keadaan tak bernyawa. Liana menjerit lalu tergeletak jatuh ke lantai.

Hari itu juga, dokter terpaksa melakukan operasi Caesar karena air ketuban Liana pecah sebelum waktunya. Dio pergi tanpa sempat melihat sang putra tampan yang oleh Liana diberi nama Al Dio, Anak Lelaki Dio.

Bocah tampan yang kini telah beranjak dewasa dan menjadi pelindung bagi sang ibu sepeninggal ayah, yang tidak pernah dilihat wajahnya. Liana memutuskan untuk tidak mencari pengganti Dio sampai kapanpun. Ia membesarkan Dio kecil seorang diri dan bekerja keras demi menghidupi mereka berdua. Sementara seluruh harta benda yang ditinggalkan sang suami, habis dikuras sang ibu mertua.

“Dena … astaga! Apa yang kamu lakukan? Raka! Apa yang terjadi?”
“Dena … Dena berusaha bunuh diri, Li. Aku … aku enggak tahu kenapa.”
“Kamu suaminya, sialan! Bagaimana mungkin kamu tak tahu apa yang terjadi pada istrimu sendiri!”
“Aku … aku …”
“Ah! Diem lu! Dena … Dena … Dira, apa yang terjadi?”

Dira menatap Liana dengan pandangan kosong. Di bawah matanya tampak bekas lebam berwarna kebiruan.

Hitam Putih Perempuan
ReReynilda

Dua Belas Tahun Terindah – BCL (Cover)

(Bukan) Orang Ketiga


PROLOG

Dimar Wisaka Brawijaya, nama yang terpatri begitu dalam di hatiku. Hidupku jadi lebih berwarna saat mengenal dia. Semua beban yang berada di pundakku seakan luruh ketika kami saling bercerita. Masalah keluargaku sangat pelik, tapi dia tetap memilih untuk bertahan disampingku. Dia yang selalu menghiburku ketika sedih. Dia juga yang selalu mengobati luka lebam yang ditorehkan oleh ayahku. Dia, hanya dia aku bisa bebas melepas semua beban yang terus menghimpit hatiku.

Hari ini tepat dua tahun kami—aku dan Dimar—menjalin hubungan. Lelakiku mengajak bertemu selepas jam kuliahku berakhir di sebuah Coffeeshop. Mungkin dia ingin merayakan hari jadi kami.

Harum Manis Coffeeshop merupakan tempat pilihannya sekaligus tempat bersejarah untuk kami. Di sini dia menyatakan isi hatinya. Aku datang sepuluh menit lebih cepat. Lalu aku memesan minuman kesukaannya dan minuman untukku. Selang lima menit kemudian, lelaki jangkung berbadan tegap itu datang dan langsung duduk di hadapanku. Tak lupa senyum manis dia sunggingkan di bibirnya.

Seperti orang kasmaran pada umumnya, kami saling pandang dan berpegangan tangan. Aksi saling pandang dan pegangan tangan kami terputus ketika seorang waiter mengantarkan pesananku. Dia berdeham untuk menghilangkan rasa malunya, sedangkan aku melempar pandangan ke sembarang tempat. Sepeninggal waiter itu, kami masih bungkam. Tak ada yang ingin membuka percakapan lebih dulu. Kulihat dia mulai menyesap coffee americano-nya dan aku hanya mengaduk-ngaduk minumanku dengan sedotan.

“Kita putus aja, ya,” ucapnya memecah kehingan di antara kami.

Aku menghentikkan kegiatan mengaduk-aduk minuman, lalu reflek mendongak. Aku menatap dalam kedua manik matanya. Daritadi tak ada perkataan apapun, tapi kenapa tiba-tiba yang keluar kata putus? Aneh. Rasanya aku ingin menangis, tapi air mata tak bisa keluar. Kurasa kedua mataku telah memerah.

“Putus?” tanyaku lirih untuk memastikan jika aku tak salah dengar.

Dimar mengangguk. “ Aku pikir ini yang terbaik untuk kita.”

Shit!

Aku hanya tersenyum sisnis menanggapi ucapannya. Tentu saja baik untuknya, tapi tidak untukku. Mungkin dia sudah muak dengan semua masalah pelikku, atau dia tak mau telibat lebih jauh dengan semua masalahku. Merasa tak ada yang harus dibahas lagi, aku mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan meletakkan di atas meja. Kemudian bangkir dari kursi

“Oke kita putus!” kataku sebelum meninggalkannya sendirian. Namun, baru beberapa langkah, aku berbalik kembali menghampirinya. “Dapet salam dari jari tengah,” bisikku di telinganya dengan penuh penekanan di setiap kata.

Selamat datang masalah baru. Selamat bergabung dengan masalah-masalah lamaku. Semoga kalian bisa bekerjasama untuk membunuhku pelan-pelan. Allah ... jika boleh meminta, aku ingin Kau ambil nyawaku.

Aku ... lelah.

IGNORE. BE HAPPY


IGNORE. BE HAPPY

“Hmmm … I’ll ignore school to be intelligent.”
“Don’t you dare!”

Hahaha! Begitulah tanggapan krucil melihat saya mengunggah status tentang IGNORANCE kemarin.

Berani-berani ignore school bisa kena jitak nanti!

Status kemarin muncul setelah saya menonton podcast seorang public figure yang sebenarnya bukan idola saya karena orangnya cenderung tengil dan sengak. Tapi saya tonton juga sih karena materinya lumayan lebih berbobot dibanding podcast seleb yang lain.

Nah, kemarin saya full nonton talk shownya dengan seorang pemuka agama yang baru saja mengalami musibah, ditusuk seseorang. Kata demi kata saya dengarkan, tak seperti biasanya. Kali ini saya benar-benar in awe. Ternganga. Kok bisa ya?

Bagaimana bisa seseorang memiliki sifat welas asih, sabar, dan gak suka ribut seperti itu? Sifat yang saya tahu hanya dimiliki seorang “manusia pilihan” Sang Pencipta.

Dari ucapan demi ucapan sang pemuka agama, saya belajar banyak sekali. Salah satunya tentang ignorance, dalam arti positif.

“Apa yang Syekh pikirkan ketika melihat si penusuk?”
“Enggak ada pikir apa-apa. Ya sudah saja, gak saya pikir lagi. Ndak pikir siapa, apa motifnya, apa alasannya, saya pikir ini takdir dari Allah. Alhamdulillah. Saya tidak mau dikaitkan dengan apapun.”

Jangankan sang host, saya saja yang mendengar sampe jaw dropped. Tak percaya. Padahal di luar sana, lisan dan tulisan, ribut tak terkendali, saling menyalahkan serta menyindir padahal belum juga paham cerita sebenarnya. Menggelikan.

Kalian belum nonton? Tonton deh. Wajib. Ini linknya https://youtu.be/6OTBeW-SIh8

Dari beliau saya akhirnya benar-benar paham, kapan kita harus bersikap acuh pada sesuatu. Terutama yang bukan menjadi urusan dan keahlian kita untuk berkomentar. Termasuk menanggapi segala jenis keributan remeh yang bisa diselesaikan dengan tanpa membesar-besarkan.

Masalah besar, kecilkan. Masalah kecil, hilangkan. Tak ada masalah? Jangan ikutan orang mengipasi masalah.

Walau rasanya masih jauh panggang dari api, paling tidak podcast sang Syekh memberi saya sudut pandang baru tentang ignorance.

Tak semua hal butuh campur tangan dan komentar kita, karena tak semua hal kita pahami dengan benar. Jadi, diam dan mengamati untuk belajar, masih jauh lebih berguna. Percayalah, banyak ribut itu tak ada gunanya kecuali ini menjadi katalisator kurangnya sesuatu dalam hidupmu. Kurang bahagia mungkin? Hingga senang melihat orang lain ribut dan ribut melihat orang lain senang menjadi pelampiasan.

Be happy … not because everything is good, but because you can see the good side of everything.

Love, Rere.

Mawar Untuk Ibu


Mawar Untuk Ibu

“Bapakmu mana, Nduk?”
“Bapak di rumah sakit Tentara, Bu. Di sana peralatannya lebih lengkap.”
“Ibu mau ketemu Bapak, Nduk.”

Lirih, ibu memintaku mengantarnya ke rumah sakit tempat bapak dirawat. Ibu, juga sedang dirawat di sebuah rumah sakit khusus penderita jantung. Mereka terpaksa dirawat berjauhan karena kondisi bapak yang semakin menurun, setelah terserang penyakit liver. Pagi itu, ibu bersikeras bangun dari tempat tidurnya dan ingin menemui bapak.

Ya, ia memaksa kami untuk mengajaknya pergi dan menjenguk sang suami. Suami yang selama 40 tahun lebih didampinginya keluar masuk hutan, berpindah tempat penugasan. Hingga 9 anaknya lahir di daerah yang berbeda-beda.

Bapak adalah sosok suami ideal di mataku. Berperawakan tinggi besar dan kulit kecoklatan, sekilas ia tampak garang. Namun, belum pernah sekalipun ia marah atau bersikap kasar pada 9 putrinya. Tutur katanya begitu santun, lembut, dan penuh cinta.

Kharismanya begitu luar biasa, hingga pada suatu hari, muncul seorang wanita sambil menggendong seorang bayi lelaki, yang tangannya juga menuntun seorang bocah lelaki mungil. Ia mengaku istri Bapak.

Ibu begitu terkejut, dan sempat pingsan tak sadarkan diri. Ia tak pernah mengira, lelaki yang sangat dicintainya dan nampak begitu sempurna sebagai seorang suami dan ayah itu, tega mengkhianatinya.

Ibu begitu terluka. Sejak hari itu, ia menolak tidur sekamar dengan bapak. “Aku jijik,” katanya. Kami semua begitu marah pada bapak, tapi segala kebencian dan amarah luluh kala ia memohon maaf atas kesalahannya sambil berurai airmata.

Meskipun begitu, ibu tidak pernah mengucapkan keinginan untuk berpisah. Tidak satu kata pun. Sementara bapak juga tidak mengurangi rasa sayang, cinta, dan tanggung jawabnya pada kami semua. Ibu bertahan dalam pernikahan semu demi kami, 9 putrinya yang tengah beranjak dewasa.

Pagi itu, kondisi ibu semakin melemah. Ia memang menderita penyakit jantung, dan sedang dirawat secara intensif. Bapak menempatkan ibu di sebuah rumah sakit khusus dengan pengawasan penuh. Sementara ia sendiri yang keadaannya juga semakin melemah, segera dilarikan ke rumah sakit tentara keesokan harinya. Keadaannya yang semakin mengkhawatirkan, membuat kami harus berbagi tugas. Kakak sulung hingga ke-4 bertugas menjaga bapak secara bergantian.

Aku, si bungsu dan kakak ke-5 dan 6, bertugas menjaga Ibu. Kakak ke-7 dan 8 ku berada di luar negeri, dan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah kami.

“Dira, cepat datang. Kondisi Bapak semakin parah. Dokter bilang, tidak ada lagi harapan.”

Vira kakak sulungku, baru saja menghubungi sambil menangis. Ia memintaku segera datang menemui bapak. Dengan suara parau karena sekuat tenaga menahan tangis, aku meminta ijin pada ibu untuk keluar sebentar.

“Bu, Dira mau pulang dan mandi dulu, ya? Lapar juga, nih.”
“Kamu mau menemui bapakmu ya, Nak?”
“Ha? Oh, eh, bukan, Bu. Dira mau pulang sebentar saja. Belum mandi dari semalam, dan perut Dira keroncongan. Ibu nanti ditemani Suster Ani dulu, ya?”
“Bawa Ibu menemui bapak, Nak.”
“Tunggu Ibu kuat dulu, ya. Dira pamit, Bu.”

Ibu menggenggam erat tanganku. Ia bersikeras untuk ikut tak seperti biasanya. Sejak hari ia mengetahui pengkhianatan bapak, ibu memang bersikap dingin karena luka hati yang begitu dalam. Namun hari itu, ia terus menangis karena ingin bertemu bapak. Hatiku tak karuan rasanya. Perasaanku tidak enak.

“Maaf, saya dan tim sudah berusaha semampu kami. Tapi bapak sudah tidak tertolong. Maafkan, kami. Kami turut berduka cita.”

Duniaku seketika gelap dan runtuh. Bapak pergi meninggalkan kami, tanpa sempat mengucapkan sepatah kata perpisahan, maupun cinta. Tanpa sempat bertemu ibu, istri yang mendampinginya dengan setia, meski sudah diduakan hatinya.

Bingung dan kalut kami semua, tak tahu bagaimana harus menyampaikan kabar ini pada ibu. Sakit jantung yang dideritanya, membuat kami sepakat untuk menyembunyikan kabar duka ini darinya.

“Bapakmu sudah pergi ya, Nak?”

Aku menemui ibu sedang menangis tergugu sambil menggenggam secarik kertas berwarna biru. Di sampingnya, nampak seikat bunga mawar merah, kesukaannya sejak muda dulu. Gemetar, aku mengusap lembut tangan kurus ibu, seraya mengambil kertas itu dari genggamannya.

Noora, Istriku.
Maafkan segala salah dan khilafku padamu.
Aku benar-benar menyesal telah mengkhianatimu.
Cinta suci dan pengorbananmu telah kusia-siakan tanpa ragu.
Sembilan putri cantik hadiah darimu, tak juga membuat lengkap hidupku.
Aku ingin memiliki seorang putra sebagai penerus.
Namun ternyata kebahagiaan yang kuharap itu semu.
Aku kehilanganmu … cahaya hidupku.
Meski cintaku padamu tak sedikitpun berkurang karena itu.
Cinta yang akan kubawa hingga ujung waktuku.
Cinta yang ada di setiap merah kelopak mawar kesukaanmu.
Maafkan aku, Istriku.
Aku mencintaimu.
Aku hanya mencintaimu.

Bapak.

(Tamat)

Love, Rere

Si Susah Sebut – Road To The Crystal Year


Si Susah Sebut – Road To The Crystal Year

Desember 2003

“Nama kamu gimana sih bacanya? Siyed? Said?”
“Bukan. Spelled as Saeed.”
“Susah banget, sih.”
“Panggil Bull saja. Tak susah, kan?”
“Kok, Bull? Kenapa kamu dipanggil, Bull?”
“Kata teman-teman, dulu sewaktu saya main sepakbola, saya hantam orang macam bulldozer.”
“Ha? Serem amat! Ya udah, Bull aja. Nggak susah sebut.”
“Kalau full name kamu?”
“Beuh. Full banget. Kamu nggak bakal inget, deh!”
“Siapa coba?”
“Susah pasti buat kamu.”
“Try me.”

Dengan pelan, kueja nama panjangku, yang dulu kerap ditertawakan teman-teman, saking panjangnya. Bahkan setiap kali mengisi formulir pengisian data diri dengan kotak-kotak per huruf itu, namaku nggak pernah cukup. Belum kalau harus ditambah Binti nama bapakku.

Apes betul laki-laki yang kelak menikahiku. Terbayang sulitnya mereka mengucapkan akad nikah dengan menyebut nama panjangku, ditambah binti nama bapakku. Ya, namanya sendiri tak kalah panjang bak deretan gerbong kereta api. Hahahaha!

Sayangnya, sambungan telepon Singapura – Jeddah itu tidak mampu merekam ekspresi wajah lelaki si susah sebut itu. Ah, belum tentu juga ia ingat namaku yang lebih susah sebut ini.

September 2005

Sembilan September 2005, di dalam sebuah kamar hotel Sari Pan Pacific, Jakarta. Lelaki bernama susah sebut itu, mondar mandir dengan muka tegang. Mulutnya terlihat komat kamit menghafalkan sesuatu.

Ia tidak memejamkan mata semalaman. Tegang, katanya. Ia juga mendadak kehilangan selera makan.

“Semoga esok lancar, dan semoga aku bisa mengingat nama panjang si kurus … yang susah sebut ini.”

Love, Rere