Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Being a woman is never easy
Melalui banyak fase yang berakibat perubahan pada diri
Belum lagi siklus hormonal yang kadang bikin pusing sendiri
Mending jauh-jauh daripada kena usir

Being a woman is never easy
Masa muda harus benar-benar jaga diri
Kalau tak ingin masa itu terenggut dini

Being a woman is never easy
Setelah berbuntut dan menimang buah hati
Kesenangan pribadi harus rela tersisih

Being a woman is never easy
Menjaga yang tersayang kadang butuh otot besi
Namun penampilan tetap harus manis tak boleh basi

Ladies, mari saling mendukung
Berbagi cinta dan cerita untuk yang terkungkung
Tak perlu drama dan kelamaan merenung
Segera bangkit dan tegakkan punggung
Hitam putihnya dunia mari hadapi dengan senyum

Hitam putih challenge ini sungguh menarik. Melihat bagaimana kaum perempuan saling memdukung dan berbagi kekuatan satu sama lain. Melalui berbagi foto tanpa warna-warni.

Hanya hitam dan putih.

Ibarat hidup yang penuh dengan pasang surut. Kadang berpikir ia bahagia, ternyata hidupnya carut marut. Kadang menganggap ia menyebalkan, ternyata justru darinya didapat ilmu tentang kehidupan. Ahhh … sawang sinawangnya hidup.

The least we can do adalah berhenti memberi terlalu banyak komentar, terutama berbagi negativity. Karena terkadang di mata kita tampak hitam, ternyata ada putih di sana, pun sebaliknya. Berhati-hati dengan setiap ucapan, karena sejatinya pergumulan hidup setiap orang berbeda. We never know.

Pelukku untukmu semua yang sedang berjuang menghadapi kehidupan, dan berpacu menghadapi waktu. Berbahagialah menghadapi hiruk pikuknya. Karena ketika kita bahagia, tak akan ada waktu terbuang untuk membuat orang lain tidak bahagia.

Ladies, sisihkan waktu untuk menikmati hidupmu. Seruput hangat kopi di hadapan, agar senyum kembali terkembang di wajahmu.

Love, Rere

Hitam Putih


Hitam Putih

Hitam Putih
Karena hidup tak selalu berwarna bak pelangi
Kadang membosankan bahkan terlalu sepi
Menunggu bahagia, ia tak selalu datang sendiri

Wahai raga yang sedang tak berwarna
Sampai kapan jiwamu akan terpuruk merana?
Padahal banyak jalan mungkin terbuka
Jika netra berani melawan rasa

Duhai sukma yang sedang dirundung duka
Tataplah masa depan di hadapan
Tak perlu lagi menengok ke belakang
Jika hanya luka yang akan kau hirup aromanya

Beranikan diri menghadapi hari
Sampai hitam putihnya buana kau jalani
Hidup penuh warna pasti di ujung menanti
Tanpa perlu menunggu siapapun mengiringi

Bahagia itu adanya di hati
Bahagia itu tentang mencintai diri
Airmata segera sudahi
Bangkit dan segera maju sebelum mati

Mencintai diri sendiri itu butuh nyali
Berani melangkah itu bak pemantik api
Cintai jiwamu dengan sepenuh hati
Sirami dengan kasih agar ia senantiasa berseri

Life won’t sparkle unless you do!


Love, Rere

Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, can we talk?”

Sederet kalimat sakti yang datang dari 3 buah hati di rumah dan sanggup membuat saya berhenti dari segala kegiatan. Termasuk ketika sedang asyik bermain scrabble yang biasanya sanggup membuat mata saya memelototi layar gawai tanpa henti.

Saya memang sengaja menyediakan waktu dan telinga untuk mendengarkan apapun cerita mereka. Termasuk hal-hal receh nan sepele yang biasanya dibagi si bungsu.

Rayyan memang saat ini lebih cerewet dibanding 2 kakak perempuannya yang beranjak dewasa. Pada mereka berdua kadang saya yang harus rajin bertanya tentang apapun, walau tetap menahan diri untuk tidak menjadi terlalu cerewet dan rese. Saya berusaha berada di dalam sepatu mereka demi menyelami dunia remaja. Proses yang bukan dengan otomatis saya dapat, namun melalui sederetan kesalahan.

Beruntung Lara dan Lana tumbuh besar bersama dan melewati masa tumbuh kembangnya berdua. Bak sepasang anak kembar yang tak terpisahkan. Mereka begitu akur bahkan jarang sekali bertengkar. Keakraban yang seringkali berdampak pada perasaan tersingkirnya sang adik lelaki.

Rayyan kerap mengeluh dan bersedih karena merasa diabaikan sang kakak. Untuk itu lah saya hadir sebagai sahabat baginya. Bahkan saya juga masih menemaninya tidur sambil sesekali menepuk-nepuk punggungnya. Mungkin bagi ilmu parenting saya akan dianggap memanjakan. Bagi saya, anak lelaki atau perempuan wajib mendapat kasih sayang dan perlakuan sama.

Saya bahkan membiasakan Rayyan untuk mengungkapkan perasaan dan isi hatinya. Mengatakan cinta dan berbagi pelukan. Jika ia ingin menangis, saya tidak pernah menahan dan berkata, “boys can not cry.” Saya biarkan ia menangis dan memeluknya sambil berkata, “everything will be alright, you will be fine.”

Moms, tidak perlu ragu memeluk anak lelakimu dan berpikir bahwa ia akan tumbuh menjadi lelaki cengeng yang lemah. Saya justru percaya bahwa anak lelaki harus memiliki hati yang lembut dan penyayang. Tidak perlu mencegah airmata yang mengalir dan berpikir bahwa tangisan akan melemahkan. Menangis justru tanda bahwa kita kuat dan mampu menghadapi setiap bulir kesedihan yang muncul dari setiap rasa sakit. Rasa sakit yang bisa dihadapi siapapun, lelaki maupun perempuan.

Saya hanya berpikir, anak-anak yang dibesarkan tanpa cinta kasih akan tumbuh dewasa pun tanpa rasa cinta dalam hatinya. Karena mereka tidak terbiasa mengungkapkan semua rasa, lalu menguburnya dalam diam, dan menganggap diri baik-baik saja. Percayalah, suatu hari ia akan meledak dengan hebat tanpa bisa terbendung.

Harapan saya hanya semoga kelak Rayyan tumbuh dewasa menjadi lelaki penyayang yang akan bersikap lembut pada sekitar dan pasangannya kelak. Tentu saja dibarengi dengan ilmu tentang tanggung jawab dan disiplin yang semua dilakukan dengan cinta kasih. Semoga.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Nak.”
“I love you the most,
Bunda.”

Love … it will never be over.

Love, Rere.

Kenalan, yuk!


Kenalan, yuk!

“Suka baking ya, Bun?”

Melihat beberapa postingan saya tentang baking, seorang sahabat bertanya apakah saya memang hobi membuat kue atau roti.

“Sama sekali enggak,” demikian jawab saya padanya. Hahaha!

Jika dibandingan dengan membuat kue, memanggang roti, atau membuat makanan sejenis, saya lebih memilih untuk memasak. Tidak telaten rasanya jika harus mengaduk adonan lama-lama, atau menguleni hingga lengan pegal-pegal, atau membentuk satu demi satu penganan. Beda sekali dengan masakan. Satu kali masak, saya bisa menyediakan sekian banyak porsi tanpa harus lama-lama berdiri di dapur.

Namun tak suka bukan berarti saya menolak untuk mencoba. Justru karena keengganan itu saya jadi tertarik untuk belajar. Ya, pilihan saya jatuh untuk belajar di sebuah studio.

“Apa bedanya dengan belajar sendiri lewat internet? Malah gratis.”

Betul banget. Banyak sekali mereka yang dengan sukarela berbagi resep bahkan video tutorial langkah demi langkah membuat beragam masakan. Kadang saya juga dengan rajin mencari postingan seperti ini, lho. Mencatatnya, kemudian beberapa kali mencoba sendiri. Sebagian berhasil, meskipun banyak yang gagal dengan sukses. Hahaha!

Memutuskan untuk mengikuti kelas membuat kue dan roti di sebuah tempat tentu saja dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah tips dan trik dari mereka yang ahli di bidang ini. Satu hal yang tidak mudah saya dapat dari internet, karena beberapa tutorial hanya menyajikan hasil akhir yang cantik. Padahal sebelumnya mereka melakukan banyak trial and error di balik layar tanpa kita sadari.

Pertimbangan selanjutnya adalah keseruan memasak bersama para sahabat. Meskipun saya bukan orang yang terlalu suka bepergian, tapi bertemu mereka lalu memasak hingga tertawa bersama, adalah salah satu cara melepas penat dan rutinitas harian di rumah. Beda lho rasanya memasak sendiri dengan bersama teman. Seru!

Lambat laun saya makin cinta dengan perbakingan. Pupus sudah keyakinan bahwa saya dikutuk oleh semua oven di dunia ini. Ternyata saya hanya belum kenal, makanya belum cinta.

Jadi, keluar dari zona nyaman memasak itu ternyata seru juga, lho. Seseru hasil baking saya beberapa hari ini dengan mencoba beberapa resep kekinian dengan hasil yang kece berat. Burnt Cheese Cake, Volcano Garlic Bread, dan Camembert Noix it is, guys!

Wow! Your cake and breads are awesome, Bunda! So yummy!” dan ini yang membuat saya makin bersemangat mencoba banyak hal baru.

Jadi … masih mau bilang enggak suka bikin ini itu? Cobaaaa kenalan duluuu.

Love, Rere

Terlanjur Mencinta


Terlanjur Mencinta

“Mas, mau ke mana?”
Meeting. Enggak usah ditunggu. Aku pulang malam.”
“Hati-hati ya, Mas.”

Sebuah kecupan seadanya mendarat di dahi Ayumi. Datar. Tanpa gairah.

Dua puluh lima tahun usia pernikahan mereka, Ayumi merasa ada yang berubah pada diri Aldi, sang suami. Hambar. Sekedar melakukan kewajiban sebagai sepasang suami istri, terutama di hadapan 3 putri mereka yang beranjak dewasa. Si sulung, Alya, bahkan sebentar lagi akan naik pelaminan.

Aldi adalah sosok ayah idola bagi 3 putrinya.Tampan, bertanggung jawab, penyayang, dan setia. Persis seperti gambaran mereka tentang laki-laki idaman.

“Aku akan mencari calon suami seperti ayah. Harus seperti ayah,” begitu selalu mereka membayangkan sosok seorang suami. Seperti Aldi.

****

“Pagi, cantik. Sudah bangun?”
“Pagi, Mas. Sudah dong. Mas sedang apa?”
“Sedang berdiri di depan rumahmu. Makan siang, yuk.”
“Astaga! Kamu selalu memberi kejutan! Aku suka.”

***

Happy Anniversary Ibu dan Ayah. Semoga selalu mencinta hingga akhir hayat. Selamat menikmati pemandangan cantik dari hotel, tanda cinta kami bertiga. Love, Alya, Alina, Aulia.

“Terima kasih, Nak. Cantik sekali kartu, cake, dan bunganya. Terima kasih juga hadiah menginap di hotelnya. Pemandangannya indah sekali dari jendela kamar,” tulis Ayumi pada sebuah pesan singkat untuk ketiga putrinya.

Ya, ulang tahun pernikahan perak itu sangat luar biasa. Sebuah hotel dengan pemandangan menawan, buket bunga segar, dan sebuah cake cantik, hadiah dari ketiga putri kesayangannya.

Hadiah pernikahan perak yang dinikmatinya sendiri … tanpa Aldi di sisi.

Mata Ayumi menerawang jauh mengingat kejadian yang ia alami 2 minggu sebelumnya. Sebuah pesan singkat berisi foto Aldi sedang menggandeng mesra seorang perempuan cantik di suatu tempat, terkirim ke gawainya dari deretan nomor asing yang tidak bernama. Ayumi mengenali tempat di foto itu karena dulu ia dan Aldi sama-sama menimba ilmu di sana. Di sebuah kota tempat awal cinta mereka bersemi.

Perempuan itu, Soraya namanya, yang pesan singkat bernada mesranya juga terkirim bersama dengan beberapa foto mereka berdua dalam berbagai pose. Termasuk juga bukti pengiriman bunga, beberapa barang, nota restoran, dan hotel.

Hati Ayumi hancur. Tepat di hari ulang tahun pernikahan peraknya, ia harus ikhlas melepas Aldi yang lebih memilih menemui perempuan lain.

***

“Maafkan aku, Mas. Aku terlanjur mencinta dan tak mampu melupa. Semoga istrimu ikhlas melepasmu menjadi milikku.”

Senyum Soraya mengembang sambil jemari lentiknya mengirim pesan singkat ke sebuah nomor … milik Ayumi.

(Tamat)

Song: Maafkan Aku, Terlanjur Mencinta – Tiara Andini (cover)

Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Pagi tadi saya melihat sebuah status yang isinya kurang lebih menanyakan kenapa para lelaki harus mencari istri yang pandai memasak. Bukankah mereka sedang membangun rumah tangga, bukan rumah makan?

Hahaha! Saya ketawa sih membacanya. Kemudian berpikir sambil menghirup wanginya kopi hangat di hadapan saya.

Pernah kah saya berpikir bahwa saya dijadikan bak rumah makan di rumah? Hmm … sependek ingatan saya sih belum pernah. Selama ini saya menyukai seluruh kegiatan di dapur, bahkan sempat rajin menerima pesanan masakan dari beberapa pelanggan.

Terpaksa kah saya melakukan kegiatan masak memasak di rumah selama ini? Jawabannya adalah sama sekali tidak. Saya melakukannya dengan senang hati dan gembira, tanpa paksaan atau keterpaksaan. Bahkan dengan penuh semangat belajar banyak menu baru untuk disajikan di rumah.

Wahai para remaja putri atau teman-teman perempuan yang belum menikah. Percaya lah, kalian akan sangat bahagia ketika mendengar sang suami memuji masakan anda semua bahkan lebih memilih untuk makan di rumah, sesederhana apapun masakan anda. Bahkan dengan bangga membawanya ke tempat kerja, dalam sebuah kotak makan unyu, tanpa ragu dan malu.

Itu belum seberapa. Senyum anda juga pasti mengembang selebar-lebarnya ketika mendengar anak-anak mengatakan dengan bangga bahwa teman-teman sekolahnya menganggap anda “cool”. Hanya karena mereka mengagumi hasil buatan tangan anda di dalam kotak makan, yang selalu berbeda tiap hari hingga mereka selalu penasaran dengan isinya.

“Your Mom so cool! The food looks delicious and always nice to look at.”

Belum lagi pujian dari sahabat, teman, teman suami, atau keluarga yang berkesempatan makan di rumah anda dan dengan tulus mengatakan betapa lezatnya rasa masakan anda. Bahagianya mungkin lebih dari rasa lelah yang muncul setelah selesai memasak, dan melihat dapur bak kapal pecah.

Tapi eh tapi, ada nilai edukasi juga di rumah kami lho. Meski dengan suka hati saya memasak beragam menu, anak-anak juga harus belajar untuk tidak cerewet dan menjadi picky eater. Saya membiasakan mereka untuk being grateful, sesederhana apapun masakan yang saya buat. Mereka harus paham bahwa ada banyak sekali anak seusia mereka di luar sana yang tidak bisa menikmati makanan seperti mereka di rumah. Jadi, mereka tidak boleh banyak protes dan harus banyak bersyukur. Makan apapun yang ibunya masak, dan selalu berterima kasih atas segala anugerah yang didapat dari Sang Pencipta.

Saya juga mengajarkan mereka untuk terbiasa dan mengenal isi dapur. Ini adalah salah satu dari sekian banyak life skills yang saya wariskan untuk hidup mereka kelak. Jadi mereka tetap bisa survive di mana pun mereka tumbuh dewasa nanti. Saya toh tidak bisa selamanya memasak untuk mereka, kan?

Suatu hari nanti anak-anak harus hidup mandiri dan mampu bertahan sendiri. Jika memasak hal yang paling sederhana saja tidak mampu, bisa dibayangkan betapa tipisnya kantong mereka kelak, karena harus jajan setiap hari.

Jadi, masih mau menganggap kemampuan memasak ini sepele? Think again, ladies.

Jangan merendahkan diri dan menganggap bahwa kegiatan memasak akan menjadikan anda bak rumah makan di rumah sendiri. Tersenyum lah dengan bangga hati karena bisa berkata, “Gue dong, masak sendiri buat anak-anak dan suami.”

Love, Rere

Love Is … Being Responsible


Love Is … Being Responsible

“Enggak usah masak dan bikin cake lah, Bunda. Beli saja gampang, enggak capek.”

“Enggak mau, ah. Buat apa saya belajar bikin cake kalau masih beli juga?”

Suami saya yang sangat baik. Ia memang tidak mau saya terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Selalu khawatir saya akan jatuh sakit karena kelelahan. Hingga sang istri kerap diingatkan untuk istirahat dan banyak tidur. Ia tahu bahwa istrinya tipikal perempuan yang tidak bisa diam, pun tidak bisa dilarang alias keras kepala.

Well, sang istri hanya berusaha melakukan tugas dan kewajibannya sebagai seorang ibu dengan sepenuh hati. Baginya, ini hanya lah sebagian kecil dari bentuk tanggung jawabnya di rumah terhadap anak-anak. Mereka yang diamanahkan kepada sang istri untuk dijaga dengan baik. Hingga ia merasa bertanggung jawab dengan apapun yang masuk ke dalam tubuh mereka.

Meski ia bisa saja dengan gampang membeli apapun, tanpa harus susah memasak atau repot sendiri mempersiapkan makanan. Contohnya untuk hari spesial anak-anak seperti kemarin.

Tak jarang ia juga bertanya dalam hati, “Kenapa sih mau susah sendiri? Bukannya lebih gampang hanya keluar duit tapi tanpa keringat dan pegal sekujur badan, ya?”

Hmm … inilah cinta. Terdengar klise tapi begitulah kenyataannya.

Jika bukan atas nama cinta yang begitu besar, rasanya mudah saja baginya untuk meninggalkan segala tanggung jawab di belakang. Namun sang istri hanya ingin mewariskan kebiasaan baik bukan sekedar harta duniawi. Ia hanya berharap kelak mereka melakukan hal yang sama untuk keluarga masing-masing. Memberikan segenap cinta di setiap sentuhan tangan dan peluhnya tanpa syarat.

Pada saat yang sama sebagai seorang ibu, ia juga sedang mengajarkan arti tanggung jawab pada ketiga buah hatinya. Bahwa ketika telah berani memutuskan untuk membangun sebuah keluarga, ada tanggung jawab besar di sana. Bukan sekedar memenuhi kebutuhan materi namun juga ada kewajiban untuk selalu meningkatkan kemampuan diri.

Ibu … adalah awal seorang manusia mengenal dunia. Sejatinya semua pengalaman dan kesiapan untuk menghadapi juga matang dipikirkan. Karena hidup bukan sekedar bersenang-senang, namun ada tanggung jawab di dalamnya. Semua adalah bekal para penerus menghadapi dunia dengan segala dinamikanya.

Selamat menjalani hari-harimu Ibu, lakukan semua dengan bahagia dan cinta, hingga tak ada kata tak bisa.

Love, Rere

Menjaga Jiwa


Menjaga Jiwa

Untuk jiwa yang sedang gundah
Pada raga yang tengah goyah
Untuk jiwa yang sedang merana
Pada raga yang tengah lelah

Menyerah lah meski bukan kalah
Menyerah karena butuh pasrah
Pasrah pada keinginan raga dan jiwa
Mereka sedang butuh udara

Meski kadang raga berdiri tegak
Merasa kuat hingga pongah
Walau tertatih tetap menjejak
Tanpa sadar jiwa tengah gelisah

Wahai jiwa yang merasa tegar
Bahkan setengah mati menahan
Tetesan bulir bening di sudut netra
Luahkan! Tak perlu lagi kau tahan

Pahami ambunya yang tengah masygul
Jangan berpaling apalagi bingung
Biarkan jiwamu bergetar dengan jujur
Hirup wangi hidup yang tak selalu harum

Biarkan sumarah mengganti amarah
Biarkan harsa mengganti duka
Mencinta sang jiwa bukan melulu dunia
Menjaga sang raga bukan hanya mereka

Dirimu juga tanggung jawabmu
Jiwa yang tenang harusnya fokusmu
Raga yang ceria semestinya upayamu

Berhenti menguras habis karunia Nya untukmu
Berhenti berkorban demi mereka melulu
Berhenti berharap bahagia datang padamu
Berhenti tak perlu ragu

Bahagia … bahagiakan jiwamu
Sehat … sehatkan ragamu
Cinta … cintai dirimu utuh
Berharga itu … kamu juga jiwamu

Love, Rere

Maleficent … Well, Well


Maleficent … Well, Well

Siapa tak kenal dengan tokoh “evil” satu ini?

Maleficent.

Karakter jahat dalam sebuah film besutan sutradara Robert Stromberg. Dimainkan dengan sangat apik oleh Angelina Jolie.

Saya tidak selalu menyukai karakter antagonis dalam sebuah cerita. Seringnya gemas dan mengutuk betapa jahatnya seseorang can become. Walau karakter-karakter ini adalah kekuatan dari sebuah cerita.

Sang peri jahat yang bertanduk dan bersayap ini mungkin pengecualian. Saya menyukai karakternya. Ia jahat tapi karena ada sebab. Ia bisa menghancurkan segalanya tapi jika ia lebih dulu diserang. Di luar itu semua, hatinya ternyata lembut dan penyayang. “Kelemahan” yang berusaha ditutupinya dengan menjadi simbol kejahatan dan kekuatan.

Ia bahkan juga bisa sangat lucu dan konyol seperti ketika sedang menggoda Diaval, sang gagak yang disihirnya menjadi seorang manusia untuk mengawasi gerak gerik Aurora.

Aurora adalah cinta sejati Maleficent yang ditampilkan di cerita ini. Semua terungkap ketika true love kiss nya lah yang ternyata 2 kali menyelamatkan nyawa Aurora, bukan kecupan seorang raja atau pangeran mahkota, seperti di banyak cerita. Aurora adalah putri seorang raja yang dulu membuat Maleficent menderita. Sang raja ini lah yang mengubahnya menjadi seorang yang jahat dengan memotong sayap yang menjadi sumber kekuatannya.

Saya kemudian merenung. Betapa kita kadang ikut andil membentuk karakter seseorang tanpa sadar. Membunuh sifat asli orang lain dan membuatnya tampak jahat di mata semua, atas nama apapun. Mungkin kekuasaan, mungkin persahabatan, atau bahkan atas nama harta.

Menceritakan hal buruk tentang seseorang demi mendapat simpati yang dituju. Atau menyakiti seseorang yang tidak bersalah, bahkan selalu baik pada dirinya, demi mendapat dukungan untuk tujuan tertentu.

Ah … Maleficent. Ternyata kebaikan hatimu berusaha kau tutupi untuk menjadi pagar pembatas luka yang pernah kau alami. Luka dalam atas kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup hingga begitu menyiksa diri namun setengah mati kau hindari. Sampai tiba masanya hatimu terbuka untuk menerima kenyataan dan tetap mampu berdiri tegak sebagai seorang yang kuat.

Well well … biarkan cap jahat itu tetap tersemat untuk kesenangan mereka. Namun kebaikan hati adalah sesuatu yang datang sejak lahir dan akan tetap ada, meski ombak kuat menerjang dan kerikil tajam menghadang.

Maleficent … she is not a villain. She’s a strong character who refuse to give up on her miserable life. Ia adalah wujud kekuatan seorang perempuan yang menolak untuk menyerah pada kesakitan dan penderitaan.

Untukmu para perempuan, anyone can take away your wings, but never your power and heart. So keep standing tall and being strong no matter what.

Love, Rere

Thank You, Me


Thank You, Me

Hai, Moms!

Sudah membereskan rumah?
Sudah selesai melipat segunung baju?
Sudah memasukkan cucian kotor ke dalam mesin cuci?
Sudah masak untuk makan siang dan malam sekeluarga?

Mmm … dan untukmu sendiri bagaimana?

Sudah minum kopi pagi ini?
Sudah menyempatkan diri untuk menikmati me time?
Sudah melakukan olah tubuh dan berkeringat dengan gembira?
Sudah mengatakan cinta pada raga yang kerap kau buat bak kerja rodi seharian?

Kasihannya tubuh ini, yang kadang tanpa sadar terdzalimi.
Meski kadang begitu sakit hingga tak satu obat kimiawi menjadi remedy.

Lebih kasihan lagi jiwa ini, yang setengah mati mencoba untuk selalu tegak berdiri.
Bahkan ketika butiran bening jatuh pun, dengan segera terhapus tanpa menunggu siapapun datang dan berusaha mengusap.

Well Moms,
Ragamu yang semakin melemah tergerus usia, juga butuh perhatian.
Jiwamu yang selalu berusaha tegar juga butuh secangkir kopi untuk menghangatkan.
Cintai dirimu sama besarnya dengan cintamu pada sekitar.

Thank You, Me.
Thank you for standing tall and strong even on my weakest point in life.
Thank You, Me!
Thank you to never let anyone bring me down.
Thank You!

Hey, You! Love yourself and write down your own story!
-Rere

Piece By Piece


Piece By Piece

“Ayo Yah ke hospital.”

“Enggak usah lah, ke klinik seberang rumah saja.”

“Kalau berobat ke klinik itu, paling juga dikasihnya paracetamol, Yah. Sudah 2 hari sakit kepala gitu memang enggak mau check? Udah cepet siap-siap, kita pergi ke hospital!”

“Malas lah.”

Puasa hari ke 2 di tahun 2013 itu nyatanya menjadi hari terberat dalam hidup kami.

Jika saja saya tidak memaksanya pergi ke rumah sakit untuk MRI hari itu … entahlah. Salah satu dari sekian banyak keputusan terbaik dalam hidup yang pernah saya buat. Sekaligus hari dimana saya berada di titik nadir. Hari dimana dunia saya tumbling down. Sang belahan jiwa terdiagnosa menderita Brain Aneurysm. Pembuluh darah di kepalanya pecah hingga tekanan darahnya kala itu mencapai 198/98. Tinggi sekali.

Dalam keadaan bingung dan shock berat, saya harus membuat banyak keputusan cepat. Membagi isi kepala antara ia dan anak-anak. Saya pun memacu kendaraan menjemput si sulung dan adiknya yang sekolah berjauhan sambil terus berpikir bagaimana besok mereka berangkat sekolah.

Dengan ragu saya menghubungi supir bis sekolah putri kedua saya, yang ternyata bersedia membantu mengantar dan menjemput Lana dengan senang hati. Alhamdulillah. Kakak ipar yang sedang bekerja pun untuk sementara menolong saya mengurus si bungsu yang baru berusia 2 tahun. Secepatnya saya juga menghubungi orang tua di Jakarta untuk datang membantu mengurus ketiga anak kami.

Terbata-bata dengan nafas sesak saya sampai di sekolah dan menemui kepala sekolah untuk meminta ijin menjemput anak-anak sebelum waktunya pulang karena kondisi sang ayah yang di luar perkiraan. Beruntung mereka memahami keadaan saya dan mengijinkan anak-anak untuk tinggal di rumah hingga segala urusan bisa saya tangani dengan baik.

Sesampainya di rumah, saya menyiapkan segala perlengkapan untuk suami selama ia dirawat di rumah sakit nanti. Juga memastikan bahwa persediaan makan serta segala kebutuhan anak-anak selama di rumah cukup, dan entah apalagi. Sampai lupa bahwa saya juga butuh baju ganti selama di rumah sakit. Ah … rasanya itu tak lagi penting.

Berlinang airmata, saya meninggalkan rumah dan memacu kendaraan menuju rumah sakit Mount Elizabeth yang letaknya di mana pun saya tak pernah tahu. Mengandalkan jasa GPS yang kerap hilang sinyalnya hingga saya harus kesasar dan beberapa kali hilang arah. Seperti pikiran dan hati saya yang juga sedang hilang, melayang entah kemana.

Setelah sampai di rumah sakit dalam keadaan tidak mampu berpikir logis, saya kembali dihadapkan pada keputusan penting menyangkut pembayaran serta bentuk tindakan operasi. Pilihan yang sama-sama berat apalagi harus saya putuskan sendiri. Padahal selama ini, segala keputusan dalam hidup selalu saya bicarakan berdua dengan suami.

Saya merasa tidak berdaya dan ingin menangis, namun saya harus bangkit. Saya harus kuat. Saya tidak boleh lemah dan terpuruk. Saya harus bangkit. Harus!

Di tengah kebingungan yang melanda, saya bersyukur Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang luar biasa baik dan sangat membantu hari itu. Mulai dari supir bis sekolah Lana hingga akhirnya saya berjumpa dengan Dr. Ernest Wang. Ia yang dengan lembut menghampiri saya dan mengajak saya berdiskusi mengenai besaran biaya yang kelak harus saya hadapi jika tetap memilih rumah sakit ternama itu. Semua berurusan dengan asuransi kesehatan suami yang … ah nanti saja saya ceritakan detilnya sebagai pelajaran untuk semua.

Dokter Wang akhirnya membantu saya mengurus perpindahan dari Mount Elizabeth ke Rumah Sakit Tan Tock Seng yang hanya berjarak dekat namun berbeda jauh dalam masalah biaya.

Suami pun segera dimasukkan ke ruang ICCU dan bersiap menghadapi open surgery, yang menjadi pilihan saya dari 2 pilihan yang sama-sama berat. Dua pilihan yang semua hanya memberikannya kesempatan hidup 10% saja, karena 90% nya adalah kemungkinan koma, hilang ingatan, atau lumpuh seumur hidup.

Pilihan yang sangat berat hingga saya bersikeras menemaninya dalam ruang ICCU walau dengan resiko harus tidur di lantai tanpa alas dalam ruangan yang begitu dingin. Karena peraturan melarang pasien ICCU ditemani dalam ruangan. Tak peduli. Saya akan terus berada di sisinya dan tidak akan pernah meninggalkannya sedetik pun.

Tidak lagi saya pedulikan dinginnya lantai yang hanya beralas sajadah tipis tanpa selimut hangat bahkan bantal empuk. Dinginnya begitu menusuk hingga ke tulang dan membuat saya menggigil kedinginan. Saya sudah tidak peduli.

Keesokan harinya, operasi pembedahan kepala pun dimulai dan berlangsung sekitar 5 jam. Beruntung hari itu orang tua saya sudah datang dan menjadi support system terbesar yang saya butuhkan. Mama dengan cekatan mengambil alih semua urusan rumah dan anak-anak. Papa juga bersedia mengantar dan menjemput kedua cucunya dari sekolah. Terima kasih Ma, Pa.

Lima jam operasi, detik demi detiknya terasa begitu lambat. Hingga operasi selesai dan sesaat setelahnya, ia pun sadar dan mulai memberontak. Kepalan tangannya mulai meninju kiri dan kanan sambil mengeluh tangannya sakit. Ia heran kenapa kepalanya penuh dengan selang. Ketakutan akan kondisi pasca operasi yang beresiko hilang ingatan pun muncul dalam benak saya. Ia mulai berubah.

Kekasih hati yang biasanya begitu sabar, menjadi sangat pemarah. Ia yang juga selalu menciumku kemudian menjauhi, karena bau yang katanya asing. Ini lah 90% itu. Ingatannya hilang, Tuhan.

Sepuluh hari menjalani perawatan di rumah sakit benar-benar menguras tenaga dan jiwa. Setiap pagi setelah mengantar anak-anak sekolah, saya bergegas menuju ke rumah sakit dan mengurusinya hingga hampir tengah malam. Dalam keadaan lelah saya harus memacu kendaraan kembali ke rumah. Rasanya diri ini sudah berada di ujung lelah hingga ingin berteriak. Saya rindu pada anak-anak setelah berhari-hari tidak bisa bercengkrama seperti biasa.

Belum lagi lelah hati menghadapi kemarahannya setiap saat. Ia memang sudah berubah. Saya pun hampir menyerah, jika tidak ingat ia dan anak-anak butuh saya yang kuat. Saya harus bangkit dan berdiri tegak. Saya harus sabar. Harus.

Tahun demi tahun berlalu dan semua pun kembali normal. Sujud syukurku pada Sang Maha Pemilik Hidup dan Mati. Sang belahan hati kini sembuh total dan hanya menyisakan bekas operasi panjang di dahi kanan serta sebuah klip di dalam kepalanya untuk menutup pembuluh darah yang pecah. Namun ia kini telah kembali seperti dulu. Lelaki baik hati yang sabar dan penyayang seperti ketika pertama kali saya mengenalnya.

“Kenapa ya saya bisa selamat hari itu? Sampai dokter pun heran dan bilang betapa beruntungnya saya bisa selamat dari lubang kematian.”

“Mungkin bekalmu belum cukup untuk menghadapNya, Sayang. Allah memberikanmu kesempatan lagi untuk memperbaikinya sampai tiba saatnya nanti.”

Apa yang bisa diambil dari cerita saya ini?

1. Jangan abaikan sekecil apapun alarm tubuh. Cepat periksa ke dokter dan minta pemeriksaan melalui MRI atau CT Scan terutama yang berhubungan dengan sakit di bagian kepala. Bergerak cepat sebelum terlambat. Jangan abai, jangan lalai. Jangan juga berusaha menyembuhkan dengan pengobatan alternatif. Cari informasi secepatnya mengenai dokter bedah syaraf yang terbaik.

2. Asuransi yang begitu penuh dengan polemik terbukti sangat membantu. Ingat. Choose the best insurance untuk sang kepala rumah tangga. Suami saya yang begitu baik, memilihkan asuransi terbaik hanya untuk anak dan istrinya saja, bukan untuknya sendiri. Ia lupa bahwa ia lah sang pencari nafkah tunggal dalam keluarga. Jika ada suatu hal terjadi padanya, maka masalah biaya akan menjadi begitu runyam untuk saya istrinya. So, choose the best one. I mean it.

3. Buang jauh segala kebiasaan buruk demi kesehatan. Jauhi stress, beban pekerjaan yang menumpuk, kurang olahraga, dan makanan yang tidak terjaga. Kurangi juga konsumsi makanan yang mengandung pengawet.

4. Untukmu para istri jika hal seperti ini terjadi, tetap tenang dan berfikir sistematis akan sangat membantu dalam memutuskan sesuatu. Ingat selalu untuk banyak bersabar. Sabar manakala pasca operasi, pasangan akan banyak berubah. Selalu berdoa dan banyak berserah diri akan sangat membantu kesehatan juga hati.

Piece by Piece by Kelly Clarkson yang saya nyanyikan ini ditulis berdasarkan kesedihannya ditinggalkan sang ayah kala berusia 6 tahun. Sama halnya dengan usia si sulung yang baru menginjak 7 tahun, sementara sang adik berusia 6, dan 2 tahun, ketika sang ayah harus berjuang di meja operasi. Saya membayangkan kesedihan yang mungkin juga dirasakan anak-anak hari itu jika sang ayah tidak berhasil melalui operasinya, dan jika sang bunda memilih untuk menyerah.

Dalam lagu sendu ini, Kelly Clarkson akhirnya menemukan kembali semua yang hilang dalam hidupnya setelah bertemu sang suami dan memiliki anak. Seperti cerita saya 7 tahun yang lalu. Tentang asa yang masih ada di titik nadir perjalanan, dan tentang keberanian untuk akhirnya bangkit dari keterpurukan.

Be strong now because things will get better. It might start with stormy weather but it can’t rain forever.

Love, Reyn

Try. Try Hard. Try Harder


Try. Try Hard. Try Harder

Kalau dipikir-pikir, universe beserta Sang Pencipta kadang bercandanya seru, ya?

Beberapa bulan lepas kita masih pergi ke mana pun kaki melangkah dengan bebas. Setelah itu ia memutuskan untuk beristirahat dan membuat seluruh penghuni bumi dimasukkan dalam “sangkar” emas.

Berbulan-bulan hanya berdiam di rumah saja tentunya membawa banyak perubahan pada fisik dan mental. Biasanya aktif di luar rumah, sekarang harus menikmati detik demi detik kehidupan di dalam rumah saja. Bosan, jenuh, bete, hingga enggak tahu mau melakukan apa lagi.

Nah, apa yang bisa kita lakukan selama di rumah saja? Banyak! Salah satu contohnya adalah melakukan kegiatan yang disukai dan mencoba hobi baru setiap hari.

Bukankah a hobby a day will keep the boredom away? Jadi kenapa kita tidak berusaha mencoba banyak keahlian dan hobi?

“Ah, gue kan enggak berbakat kayak elu.”
“Elu mah megang apa aja jadi, Mak. Gue mah enggak bisa.”

Ih! Kalian tahu tak kalimat “tak kenal maka bisa utang … eh … maksudnya tak sayang”? Bagaimana sih kalian bisa tahu kalau tidak berbakat jika mencoba saja belum pernah. Padahal kegagalan itu masih lebih baik daripada keengganan. Mending gagal tapi pernah mencoba, daripada belum coba tapi sudah menyerah kalah.

Untuk itu, kalau kalian pikir saya bisa ini itu dari lahir, kalian salah. Sesungguhnya saya hanya punya semangat dan ketekunan. Semangat untuk selalu belajar hal baru, tekun mencari ilmu, serta rajin mencoba keahlian baru.

Tahukah kalian semua, jika semakin banyak hal saya temui dalam proses belajar ini, semakin saya paham bahwa sejatinya saya tidak tahu apa-apa. Untuk itu saya belajar membuka diri dan juga hati agar semua ilmu bisa saya pelajari tanpa ruangnya pernah saya batasi.

Setiap hari saya meluangkan waktu untuk melihat video cara pembuatan beragam kerajinan tangan di internet. Kemudian saya mulai mencoba dan melakukan eksperimen sendiri. Kadang gagal, tapi saya tidak menyerah. Terus mencoba, itulah prinsip hidup saya.

Jadi, apa yang kalian lihat postingannya selama ini di beranda pribadi saya, adalah hasil dari sebuah proses belajar, proses mencoba, dan juga proses melakukan banyak kesalahan.

Begitulah cara saya belajar. Hingga tercipta beberapa hasil karya berupa macrame, wire weaving, resin, dan juga beberapa tulisan yang menunggu untuk dibukukan. Percayalah, memakai hasil karya sendiri itu sensasinya beda teman.

Jadi, masih mau bilang enggak bisa dan enggak berbakat? Think again.

Making mistakes simply means you are trying harder than anyone else.

Love, R

Dirawat VS Diedit


Dirawat VS Diedit

“Cantik banget siiiihh kamu!”
“Hahaha! Editan itu. Filter maksimal, Cint.”
“Ah, gak diedit juga udah cantik.”
“Kata siapa? Cantik itu kudu dirawat Cint. Perawatan mahal jadi … edit aja. Gratis dan bikin bahagia!”

Hahaha!

Ini adalah kalimat yang biasa saya ucapkan ketika menerima pujian dari beberapa sahabat setelah mengunggah hasil swafoto di media sosial.

Ya, saya memang kadang menggunakan aplikasi untuk mendapat hasil foto yang bagus. Paling tidak membuat saya bahagia. Walaupun saya berusaha untuk tidak terlihat terlalu mulus dan flawless. Nanti yang bertemu langsung dengan saya bisa makjegagig kaget, karena ternyata aslinya tidak seindah tampilan di layar gawai.

Berbicara soal perawatan, siapa sih yang tidak ingin merawat tubuh dan kulitnya secara paripurna? Tahukah kalian semua, betapa kami para perempuan ini sebenarnya khawatir? Semakin menua, kulit kami tidak menjadi semakin mulus dan glowy. Semakin bertambah usia, yang tadinya kencang menjadi serba melorot. Mata yang tadinya berbinar indah, menjadi berkantung tebal dan kehilangan sinar.

Belum lagi bertambahnya babat dan timbunan lemak di banyak tempat. Padahal kami sudah berusaha menjaga pola makan dan menghindari beberapa jenis makanan. Tetap saja kami tidak bisa selangsing Sophia Latjuba dan secantik Putri Marino. Mereka sih rasanya tidak perlu repot melakukan diet ketat atau perawatan maksimal, bahkan rasanya mereka tidak pernah menggunakan aplikasi untuk mempercantik tampilan.

Uhari pernikahan saja pipi mereka tidak diteploki bedak dan shading setebal 2 mm kok. Coba kalau kita yang tidak full make up di hari pernikahan. Sudah pasti tampilan kita akan seperti orang yang baru bangun tidur. Bengkak dan kusam.

Perawatan yang saya lakukan di rumah juga terbilang lengkap. Tentu saja, bila mengingat mahalnya melakukan perawatan ke salon kecantikan di negara ini. Awalnya saya berpikir, daripada ke salon mendingan saya rawat sendiri di rumah. Karena jika dihitung akan jauh lebih murah dan hemat.

Bagaimana dengan suami saya? Apakah ia mendukung cara saya melakukan perawatan ini? Ya tentu saja jika ingin melihat saya tampil mendekati seperti 15 tahun yang lalu ketika ia pertama kali terpana melihat saya. Eeeaaaaaa!

Para suami tentu saja harus memberikan dukungan penuh jika menghendaki sang istri tampil menawan bak polesan aplikasi peluntur kekusaman. Jangan hanya menuntut kami ini bekerja di rumah seperti kuli dengan tampilan wajib bak gadis muda kinyis-kinyis, yang bahkan menyalakan kompor saja masih meringis.

Namun sebagai perempuan yang sudah menjadi ibu juga harus paham, bahwa ada banyak hal yang butuh perhatian lebih sekarang. Skala prioritas hidup harus sedikit diatur walau tidak melupakan kebutuhan pribadi.

Lihat kan regime perawatan muka saya? Semua ini tidak berharga murah memang. Tapi saya membelinya dari menyisihkan uang jatah jajan saya sendiri. Ya, saya menghadiahi diri sendiri uang jajan setiap bulan yang bisa dengan bebas saya pergunakan.

Nah, daripada saya menghabiskannya untuk nongkrong cantik atau arisan di resto mewah, saya menyisihkannya untuk membeli beberapa alat perawatan kulit dan wajah. Semacam investasi kecantikan.

Lantas, dipakai tidak? Yaaaaa kebanyakan sih setelah berakhirnya uforia, mereka akan teronggok di sudut lemari kaca. Lantas butuh suntikan semangat untuk menggunakannya kembali. Saya sih masih pakai kok sesekali. Sayang juga sudah mahal-mahal dibeli.

Segitu amat ya perawatannya? Sementara kebanyakan dari kita merasa, “Ah sudahlah. Begini juga sudah laku dan beranak pinak.” Betul tidaakkk? Padahal pikiran seperti itu yang sebenarnya lambat laun akan membuat kita makin malas merawat tubuh hingga kehilangan rasa cinta pada diri sendiri.

Saya sih juga seringnya malas melakukan perawatan sendiri. Namun biasanya dengan beberapa sahabat kami saling menyuntikkan semangat untuk rajin merawat diri. Kadang juga janjian menyeberang pulau untuk pergi ke salon kecantikan dengan harga yang jauh lebih murah daripada di sini.

Jadi, perlu kah kita merawat diri hingga tak lagi butuh sekedar mengedit dengan aplikasi? Jika dengan aplikasi saja kita sudah bahagia, ya lakukan saja. Bebas. Yang penting mencintai dan menyayangi diri sendiri itu juga wajib.

Eyow para suami, bantu istri-istrimu di rumah. Jika tidak menghendaki mereka menghabiskan uang untuk melakukan perawatan, setidaknya berikan dukungan secara verbal bukan melulu perundungan.

“Gendut amat sih, Ma?”
“Kusem amat tu muka, Bun!”
“Lihat deh ini Yuni Shara umur 50 tahun masih kinclong enggak kayak kamu, Mi!”

Oy! Percayalah, ini semua dilakukan para perempuan untuk membahagiakan anda semua. Jadi berikan dukungan, modali istrimu untuk sesekali pergi ke salon kecantikan, dan berikan waktu untuk menghibur diri sejenak dari rutinitas harian. Above all, watch your words! Karena tajamnya bisa menusuk lebih daripada pedang.

Trust me, being a woman is never easy. We have to think like a man, work like a horse, and look like a young girl.

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak

MIMPI


MIMPI

“Pah, pinjam mesin tik nya ya.”
“Buat apa? Memang tahu cara pakainya?”
Tau dong. Mau nulis buat mading.”
“Nulis apa?”
“Enggak tahu. Hehe.”

Mesin tik bersejarah itu awal saya berkenalan dengan dunia tulis menulis di tahun 1991, ketika duduk di bangku SMA.

Satu persatu huruf di mesin tik tua itu saya kenali dan berusaha keras mengakrabkan diri. Lembar demi lembar tulisan yang saya buat darinya akhirnya bertengger di majalah dinding sekolah kami. Tentu saja dengan nama samaran karena saya belum lagi percaya diri.

Berkenalan dengan grup para penulis keren awal tahun lalu, membuat saya kembali tertarik menuangkan keluh kesah dan pengalaman hidup. Ya. Hampir semua tulisan yang saya buat memang berdasarkan apa yang saya lalui selama ini. Tidak selalu manis dan indah, bahkan sarat dengan kisah sedih dan airmata.

Tulisan pertama saya bahkan juga menghadiahi diri ini piala pertama dalam hidup. Hahaha!

Kini, dua di antara beberapa antologi yang telah saya tulis juga menempatkan saya di deretan terbaik . Melalui antologi Seni Menyikapi Ketelanjuran dan Ketika Jiwa Terlahir Kembali.

https://parapecintaliterasi.com/5-naskah-terbaik-dalam-event-spesial-milad-ma-nubar-sumatera/

https://parapecintaliterasi.com/siapakah-terbaik-dalam-event-terdahsyat-nubar-sumatera-bertemakan-hijrah/

Percayalah, ini adalah wujud dari semua mimpi yang pernah saya rajut sejak di hari saya menekan tombol-tombol huruf di mesin tik tua milik papa. Tidak pernah muluk-muluk berpikir untuk melihat tulisan saya kelak nangkring di toko buku ternama. Cukup dengan membuat banyak mata membaca kemudian mengambil pelajaran dari semua kisah yang saya bagikan. Itu saja.

Mimpi, jangan takut dipunyai. Karena mimpi yang memberi warna hidup ini. Gelap bisa berubah terang, terang bisa semakin bersinar.

Follow your dream, believe in yourself, and never give up.

Love, R

Hari Raya 2020


Hari Raya 2020

Walau tahun ini enggak bisa mudik
Yang penting suasana hati harus tetap asyik
Walau enggak bisa berjabat tangan dengan kakak adik
Yang penting pagi ini tetap dandan cantik

Corona memang mengubah segalanya
Termasuk hari raya yang dinanti Muslim semua
Jangan sedih jangan gulana
Tetap semangat dan banyak berdoa

Selamat hari raya untukmu semua
Semoga Yang Kuasa menerima segala ibadah kita
Lebarannya di rumah saja
Kukis dan lontongnya dimakan sendiri juga
Mau dikirim ke rumah sih juga saya terima

Ihik!

Love,
Rere & Family

Enggak Mudik Enggak Apa-Apa Ya, Eyang?


Enggak Mudik Enggak Apa-Apa Ya, Eyang?

Perantau seperti saya dan beberapa teman, memang harus rela berkorban. Dengan atau tanpa adanya pandemi, kami kadang harus rela berjauhan diri. Dengan keluarga dan kampung sendiri.

Menjalani puasa dengan keterbatasan, bahkan lebaran kali ini tidak bisa mudik seperti biasa. Yah, apa mau dikata? Lebih baik menurut aturan saja.

Lebaran yang dinanti-nanti karena ingin saling mengucap maaf atas khilaf diri. Setahun hanya sekali. Itupun tidak bisa juga kali ini.

Jangan sedih ya, Eyang. Kita masih bisa bertatap muka melalui layar untuk mengatakan sayang. Nanti kalau situasi sudah reda, kami siap berlayar. Untuk mencium tanganmu dan meminta restu demi menjalani kehidupan dengan tegar.

Susah, Eyang.

Susah hati berjauhan seperti ini. Begitu lama rasanya menanti, untuk bisa berkumpul kembali. Karena sejak kuliah sudah memilih pergi, hingga berkeluarga kita tetap tak bisa berdekatan setiap hari.

Duhai ayah bunda, ampunkan ananda tak dapat beraya bersama. Jauh dari mata dekat dalam jiwa, teduh kasihku tidak berubah.

Berbahagia jika kalian selalu bisa berdekatan. Dengan orang tua di kampung halaman. Karena rasanya sangat berbeda kala berjauhan.

Sayangi mereka, hormati senantiasa. Karena padanya ada keberkahan yang akan selalu terbawa. Percayalah, hidup ini akan hampa tanpa doa dan restu mereka.

Sayu, hati ini makin sayu. Rindu, padamu dan rumah sederhanamu … selalu.

Taqobalallahu minna wa minkum.
Selamat merayakan kebahagiaan bersama keluarga tercinta … di rumah saja.

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis #ReReynilda

H I D U P


H I D U P

Memang tak selalu lurus apalagi mulus
Kadang di tengah jalan bertemu kerikil dan batu
Mungkin juga berhadapan dengan jalan berliku
Namanya juga hidup, bisa bertahan kah kamu?

Pernah punya duit cuma sepuluh dollar
Dengan sebiji telur penahan lapar
Untung bayi kecil gak ikut nangis menggelegar
Namanya juga hidup, tak selamanya bak bunga mekar

Pernah juga tertimpa masalah besar
Sampai harus kabur-kaburan
Bahkan mobil sampai tabrakan
Namanya hidup, kadang ada ujian sabar

Ujian terus, kapan lulusnya?
Masak hidup enggak lurus terus jalannya?
Kan sabar ada batasnya?
Namanya juga hidup, kita tak pernah tahu ujungnya

Merasakan roller coasternya kehidupan
Membuat saya punya pertahanan
Walau kadang ada pasang surutnya
Tapi saya sadar, banyak orang lebih susah hidupnya

Dari itu semua, apa yang saya dapat?
Selain keyakinan untuk bisa menjalani dengan selamat?
Saya belajar artinya kekuatan
Yang tidak pernah saya tahu adanya di badan

Sekarang jalan saya terasa lebih lapang
Lupakan yang lewat dan maafkan segala kesalahan
Tugas saya sekarang berbagi pelajaran
Bahwa setelah gelap pasti ada terang

Life’s short, spend it wisely.

Change the way you look at things.

Love, R

#WCR #RumahMediaGrup #TantanganMenulis

Miracle In Cell No. 7


Miracle In Cell No. 7

Film berbahasa Turki ini adalah adaptasi dari sebuah film Korea yang dirilis pada tahun 2013. Sang sutradara, Mehmet Ada Öztekin merilisnya kembali di tahun 2019.

Bertema keluarga, film ini menceritakan kisah seorang anak perempuan bernama Ova dan sang ayah yang memiliki keterbelakangan mental bernama Memo. Mereka tinggal bersama sang nenek, Fatma, yang telah berusia lanjut di sebuah desa di atas bukit. Memo adalah seorang penggembala kambing.

Keterbelakangan mental Memo kerap dijadikan olok-olok oleh sekitarnya. Hingga Ova sang putri juga kerap menerima perundungan di sekolahnya. Namun ia sangat menyayangi sang ayah dan menganggap Memo seperti layaknya seseorang yang normal.

Pada suatu hari, Ova menginginkan sebuah tas bergambar karakter animasi yang sedang populer di sana. Memo pun berusaha keras untuk mampu membelikan putrinya tas berharga mahal berwarna merah muda itu. Tas mungil yang kemudian menjadi awal petaka kehidupan mereka.

Ya, ia didakwa membunuh putri seorang Letnan yang pernah memukulnya karena Memo berusaha meraih tas impian Ova yang dibeli dan dipakai oleh gadis kecil itu. Memo marah dan kecewa karena ia telah berusaha keras mengumpulkan uang untuk membeli tas itu.

Memo lalu ditangkap, kemudian dipukuli dengan bengis, dan dipaksa mengaku telah membunuh putri sang Letnan. Padahal sang gadis kecil terjatuh ke dalam sungai ketika ia mengajak Memo bermain dengan iming-iming akan diberi tas impian Ova. Memo lalu ditahan dan harus menghadapi dakwaan pembunuhan yang berakibat ia akan menerima hukuman gantung.

Kemudian ia dimasukkan ke sel nomor 7 dengan hadiah pukulan bertubi dari para penghuni sel yang melihatnya sebagai seorang pembunuh anak kecil. Namun kemudian keajaiban justru terjadi di dalam sel sejak kehadiran Memo dan pada hari ketika Ova diselundupkan masuk ke dalam sel oleh teman-teman Memo. Di sini lah cerita bergulir tentang bagaimana para penghuni sel bisa berada di dalamnya.

Ova berhasil membuka cerita tentang mereka melalui pertanyaan sakit apakah mereka semua, karena berpikir sang ayah sedang dirawat di sebuah rumah sakit, bukan di dalam penjara. Di dalam sel itu Ova menemui seorang pembunuh, penipu, penculik, bahkan seorang lelaki paruh baya yang kerap menatap lekat sebuah keratan di dinding. Hanya Ova yang bisa melihat bahwa keratan di dinding itu berbentuk sebuah pohon.

Ya, lelaki itu menguburkan putrinya hidup-hidup di bawah sebuah pohon besar di hari pernikahannya karena ego nya sebagai seorang lelaki. Kelak pria berwajah sedih ini yang akan menolong Memo dan Ova keluar dari penderitaannya.

Malangnya, di saat Memo dan Ova menjadi sepasang keajaiban di dalam sel, sang nenek justru pergi meninggalkan mereka berdua karena serangan jantung ketika mendapati Ova pergi tanpa pamit untuk menemui sang ayah dengan cara diselundupkan hari itu.

Ova kini sebatang kara, karena sang nenek yang selama ini melindunginya sudah pergi ke alam baka, sementara sang ayah tengah menghitung hari menghadapi kematiaannya di tiang gantungan yang bak neraka.

Berurai airmata dan dada sesak, itu yang saya rasakan melihat film ini. Aahhh … kalian harus nonton! Saya tidak sanggup menceritakannya dengan detil. Bahkan hingga akhir dari film ini, saya tetap dibuat terpana dan terkejut karena tidak mengira sama sekali ujung dari cerita Memo dan Ova.

Selesai menonton film yang menyesakkan dada ini saya jadi berpikir tentang kehidupan. Apa sih esensi hidup itu? Apa sih yang kita cari dan kejar dalam hidup? Hidup ini untuk apa dan untuk siapa?

Saya jadi bersyukur walau dalam hidup tidak selalu bertemu jalan lurus. Kadang terjal dan berliku, penuh airmata dan juga kesedihan. Jika Memo dengan keterbatasannya masih mampu tersenyum dan menjadi keajaiban untuk sekitar, bagaimana hal nya dengan kita yang dianugerahi raga yang sempurna ini?

Dari Memo saya belajar untuk selalu berbaik hati pada sekitar, karena kita tidak pernah tahu apa yang orang lain lalui dalam hidupnya. Kebaikan itu sifatnya menular. Seperti Memo yang selalu menganggap semua orang baik hingga ia mendapat balasan dalam hidup yang juga baik.

Be kind. Walau hidup kadang nampak tak adil dan berat sebelah bagi sebagian. Semoga hidup yang saya jalani ini bisa bermanfaat untuk sekitar walau dengan segala keterbatasan. Seperti Memo dan Ova yang mengajarkan tentang banyak sekali kebaikan di tengah kesusahan.

Life … the struggle we are in today, will be our strength tomorrow.

Sumber foto: http://www.bing.com

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda

Disiplin & Tanggung Jawab, Untuk Siapa?


Disiplin & Tanggung Jawab, Untuk Siapa?

“Bunda …”
“Yes?”
“I left my lunch box and bottle at home.”
“So?”
“Can you send it to me?”
“No, I can’t.”
“But I’m hungry,
Bunda.”

Begitulah pesan singkat yang saya terima dari putri sulung saya. Ketika sedang menikmati secangkir kopi hangat pagi itu. Kotak makan, dan botol minumnya memang tertinggal di rumah. Saya menemukannya tergeletak di depan pintu. setelah ia pamit berangkat sekolah.

Ia memang nampak terburu-buru hari itu. Ada tugas Student Council, katanya. Semacam OSIS di sekolah Indonesia. Dengan singkat saya membalas pesannya, “Learn from this lesson.”

Kejam kah saya? Bagaimana dengan Anda para ibu? Jika anda menjadi saya, apakah anda akan mengambil langkah yang sama dengan saya yaitu menolak mengantar barang yang tertinggal sebagai pembelajaran? Atau justru tergopoh-gopoh pergi ke sekolah untuk mengantar barang mereka karena kasihan?

I might sound mean to many. Ibu yang kejam. Sekolah sebelah rumah saja tidak mau mengeluarkan sedikit effort untuk mengantar keperluan bocah yang tertinggal.

Ya. Begitulah cara saya mendidik anak-anak di rumah. Disiplin dan tanggung jawab adalah hal yang utama di keluarga kami. Jangan heran jika berkunjung ke rumah saya, anda akan melihat saya tidak segan memerintahkan anak-anak untuk melakukan banyak hal, bahkan sejak usia mereka masih sangat muda.

Memasak, membersihkan rumah, membereskan kamar, membuang sampah, pendeknya semua harus mampu mengerjakan pekerjaan rumah. Semua. Tanpa kecuali.

Bahkan putra bungsu saya yang baru berusia 9 tahun, sudah terampil mempersiapkan menu sahur sederhananya sendiri, lho. Apalagi kedua kakaknya. Merekalah yang sekarang ini bertanggung jawab atas banyak hal di rumah kami.

Bagaimana saya melakukan semuanya?

It takes two to tango.

Kami melakukannya bersama-sama. Berproses sedari kecil, dan belajar dari semua kesalahan selama proses berlangsung. Seperti yang saya ceritakan dalam buku antologi Tips Mengoptimalkan Kemampuan Belajar Anak Jilid 1 https://curhatanaksekarang.com/tips-mengoptimalkan-kemampuan-belajar-anak/

Belajar bukan hanya di ruang kelas dan membuka buku. Belajar hidup disiplin dan mengenal arti tanggung jawab, juga termasuk ilmu tentang kehidupan yang akan berguna seumur hidup. Ini yang tanpa lelah saya tanamkan di diri putra dan kedua putri saya.

Untuk siapa semua life skills ini? Untuk mereka. Agar kelak mereka bertiga tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang disiplin, berani bertanggung jawab, dan tidak pernah menyusahkan orang lain.

Mau membaca tulisan kami semua dan menyerap manfaatnya? Mari belajar bersama.

Love, Reyn.

Susah? Senengin Aja!


Susah? Senengin Aja!

Cerita tentang sang mantan … teman sekamar kemarin memunculkan beberapa opini dari banyak sisi. Terima kasih ya teman-teman. Jangan khawatir, saya tidak berteman dengannya di sosial media. Rasanya juga ia tidak memiliki aktifitas apapun di dunia maya.

Amaaan. Eh!

Mungkin salah satu yang membuat gemas adalah cerita tentang kontradiktifnya ia, ketika marah mendengar suara derit pintu tapi memutar musik dengan keras, ketika saya sedang melaksanakan ibadah, tanpa ragu. Kenapa saya bisa sesabar itu? Kalau orang lain mungkin sudah marah karena merasa terganggu. Mungkin juga beberapa merasa saya terlalu mengalah dan lugu. Ah … senangnya punya teman yang begitu peduli, aylapyu!

Waktu itu saya tidak marah padanya, tidak juga menegurnya. Kenapa? Saya merasa, sholat saya seharusnya bisa khusyuk bagaimanapun keadaan di sekitar saya. Be it musik yang berdentum keras, orang yang mondar-mandir di hadapan, atau mungkin suara mereka yang sedang bercakap-cakap dengan volume tinggi.

Ya, memang sesederhana itu saja alasan saya.

Sama hal nya ketika sedang berpuasa, saya juga tidak lebay meminta orang lain paham dan bertenggang rasa. Yang puasa saya, kenapa orang lain harus ikut menanggungnya? Ini juga yang saya ajarkan pada anak-anak yang pernah bercerita tentang bagaimana mereka melihat teman lain, yang tidak berpuasa, meneguk minuman dingin di hadapan mereka yang sedang berpuasa.

Saya sedang mengajarkan anak-anak untuk tidak jadi manusia yang rese, mengharap orang lain selalu memahami situasi mereka, dan menjadi marah ketika sekitar tidak menunjukkan dukungan.

Hidup itu jadi sulit ketika kita memperlakukannya dengan sulit.
Hidup akan menjadi susah ketika kita menyusahkan sekitar, atau susah ketika melihat orang lain tidak susah.

Bersamaan dengan cara saya membuang semua hal yang negatif, saya juga belajar buat lebih mendengar dari banyak sisi. Seperti bagaimana saya mendengar segala keluh kesah Salwa tentang roomate nya dulu. Saya bahkan juga membuka diri dan telinga dengan segala aturan darinya sebagai pemilik kamar terdahulu. Tanpa perlu menyusahkan diri untuk berdebat, saya mengambil percakapan itu untuk kemudian menganalisa dan mengambil kesimpulan, bagaimana harus menghadapi seseorang yang lumayan ajaib sepertinya.

Susah? Senengin aja!

Saya hanya ingin kehidupan yang damai, demi kesehatan mental saya sendiri. Pekerjaan saya dulu yang mengharuskan interaksi dengan banyak pribadi ajaib bahkan menyebalkan, rasanya sudah cukup membuat saya banyak emosi.

Percayalah, hidup akan jauh lebih menyenangkan ketika kita fokus pada perbaikan diri, dengan membuka telinga lebar agar hati tak sampai mati. Bayangkan susahnya hidup mereka yang berpikir semua orang salah, cuma gue yang bener dan baik hati. Capek, ih!

Love, R

#WCR #tantanganmenulis #rumahmediagrup #rereynilda

Teror part 1 Oleh Deesa Rahma


Teror
Part 1
Deesa Rahma

Khusus kos putri. Tulisan itu tercetak jelas di gerbang rumah berlantai dua. Terlihat sedikit seram. Dengan halaman besar dan taman kecil yang ditumbuhi pohon mangga beserta bunga rumput warna warni.

Sore ini aku pindah kos. Kerena esok hari pertama aku mulai bekerja di rumah sakit baru. Jarak kosku yang lama jauh dari tempat kerja baruku. Jadi, dengan sangat terpaksa, aku mencari tempat kos baru.

“Ini kunci kamar kosmu. Sudah bisa ditempati, karena sudah dibersihkan oleh Bibi. Kalo mau dipel lagi, silakan. Maaf mungkin agak lembab, karena sudah dua tahun tak berpenghuni,” ujar Ibu kos panjang lebar. Aku hanya mengangguk sambil menerima kunci yang disodorkannya.

“Oh, iya, peraturan di sini sangat ketat. Setiap penghuni kos, wajib jaga kebersihan kamar kos dan lingkungan kos. Pulang malam paling telat jam sepuluh. Jika memang harus pulang larut, beritahu saya atau Bibi. Tidak boleh bawa laki-laki ke kos ini, kalo diantar cukup sampai depan gerbang aja. Ketahuan bawa laki-laki masuk, saya usir kamu,” lanjutnya.

“Baik, Bu.”

“Oke saya pergi. Oh ya, untuk uang kos, kamu bayar nanti aja setelah kamu menempati kamarnya selama seminggu. Dirasa betah silakan lanjut, kalau gak betah silakan pergi dan tak usah bayar.”

Aku sedikit terkejut. Karena baru kali ini ada kos-kosan yang bisa uji coba dulu. Di sini ada 20 kamar, hampir semua terisi. Tersisa kamar yang akan aku tempati. Kamar nomer tiga belas.

Ada apa dengan kamar ini, sampai tak ada yang ingin menempati?

Bersambung ….

#rumahmediagrup #tantanganmenulis #deesarahma #wcr

Waktu Yang Salah


Waktu Yang Salah

Happy anniversary, Sayang.”

Senyum mengembang di wajah Nada melihat Bian datang mengecup dahinya seraya memberikan seikat bunga cantik berwarna oranye. Warna kesukaan Nada.

Setiap tanggal pernikahan mereka datang, Bian tak pernah lupa memberikan seikat bunga dan sebuah hadiah manis untuk sang istri. Nada merasa sangat beruntung memiliki Bian.

Namun pagi itu Bian nampak berbeda. Wajahnya pucat dan nampak murung. Nada merasakan sesuatu yang berbeda dari sang suami yang telah mendampinginya selama 2 tahun pernikahan.

“Pucat sekali wajahmu, Mas? Kamu sakit ya?”
“Enggak, Sayang. Masak sih pucat? Aku enggak apa-apa kok. Bagaimana keadaanmu?”
“Aku baik saja, Mas. Terima kasih ya bunganya. Aku suka.”

Bian menatap mata Nada, lama sekali seperti mencari sesuatu di sana.

“Nada, jika suatu hari nanti aku pergi, sanggupkah dirimu menjalani hari?”
“Maaaassss. Jangan ngomong itu dong. Ini hari ulang tahun pernikahan kita. Aku enggak mau dengar yang sedih-sedih. Aku ingin bersamamu hingga kita tua dan keriput nanti, Mas.”
“Tapi aku kan tak bisa menemanimu selamanya, Sayang. Jika waktu itu tiba, kuatkah dirimu?”
“Jangan tinggalkan aku, Mas. Aku tak sanggup kehilangan dirimu.”

Nada menggenggam erat tangan Bian. Sahabat masa kecil yang kemudian menjadi belahan jiwanya. Ia tak pernah mampu membayangkan bagaimana kelak ia akan menjalani hari tanpa Bian di sisi. Cintanya pada Bian begitu besar, hingga ia rela meninggalkan keluarganya yang tidak pernah merestui pernikahan mereka.

“Nada … Nada? Bangun, Nak. Ini Mama.”
“Ma … ma? Bian mana? Bunga oranye? Mana Ma? Bian … kenapa aku ada di sini?”

Dahi Nada mengernyit ketika perlahan ia membuka matanya dan merasakan aroma yang begitu menyengat hidungnya. Matanya berputar mencari sosok Bian. Namun yang tampak hanya wajah sang mama dan beberapa orang berpakaian putih yang tak dikenalnya.

“Bagaimana kondisi putri saya, Dok?”
“Ia mulai membaik. Hanya perlu diawasi dengan lebih ketat untuk menghindari kejadian ini lagi. Saya hanya bisa menyarankan agar bapak menyingkirkan semua benda tajam di rumah, agar Nada tidak lagi berusaha untuk …”

Lamat Nada mendengar seseorang berbicara. Ia berpikir dengan keras bagaimana ia bisa ada di ruangan ini. Padahal tadi ia sedang bersama Bian merayakan hari pernikahan mereka.

“Ma, mana Bian? Nada mau lihat Bian.”
“Nada … anakku.”

Bulir bening jatuh dari pipi perempuan yang ia panggil mama itu. Nada semakin heran. Ia ingin bertanya lagi, namun kepalanya terasa sangat sakit hingga perlahan ia memejamkan mata. Nada merasa lelah sekali.

“Nada, anakku. Sampai kapan kau akan memikirkan lelaki itu, Nak? Ia sudah lama pergi. Sadarlah, Nak. Berhenti menyakiti dirimu sendiri dan terimalah kenyataan bahwa Bian telah pergi. Nada … bisakah kau dengar suara mama?”

Bian … pergi?

Seketika potongan beberapa kejadian tergambar jelas di mata Nada. Hari pernikahan … potongan kue … suara tembakan … gundukan tanah merah … genangan darah di lantai kamar mandi … pisau lipat.

“Biaaannnn! Jangan tinggalkan aku!”

Nada berteriak histeris setelah menyadari sang belahan jiwa pergi untuk selamanya, tepat di hari pernikahan mereka. Nada tidak pernah mampu menerima kenyataan pahit, kehilangan sang kekasih dengan cara yang tragis.

Tangannya gemetar mengingat Bian yang terkulai lemas di dalam pelukannya. Gaun pengantin putihnya pun berganti warna menjadi merah darah.

Bian tergeletak jatuh setelah dihujani peluru yang ditembakkan seorang wanita, tepat di jantungnya. Wanita itu … istri sah Bian.

(Tamat)

“You’re everywhere except right here … and it hurts.” (ReReynilda)

Rumah Ke-2


Rumah Ke-2

Empat belas tahun sudah saya turut merasakan gegap gempitanya warna merah putih berkibar di negara ini. Merah putih yang berhias bulan dan bintang.

Empat belas tahun yang tanpa terasa saya lalui di negara sejuta denda ini dengan segala pasang surutnya yang bak roller coaster nya kehidupan. Seru dan selalu menantang.

Jika ditanya apakah saya menikmati setiap detik yang saya lewati selama ini, jawaban saya tentu saja ya. Singapura adalah rumah kedua saya. Tempat dimana saya membangun keluarga kecil dan mengajarkan anak-anak segala hal tentang kebaikan, kepekaan sosial, keberagaman, kesetaraan, tanggung jawab, dan tentu saja disiplin.

Singapura memang menyenangkan. Bersih, teratur, tertib, patuh, tenang, nyaman, aman. Walau aman bukan berarti tanpa kewaspadaan. Low crime doesn’t mean no crime, begitu ujar suami saya yang kerap mengingatkan kami semua untuk tidak terlena dan lengah.

Beragam budaya, bahasa, ras hingga agama, tumbuh bersama dan saling berdampingan di negara ini. Tanpa saling caci, hujat, maupun mengecilkan satu sama lain.

“We, the citizens of Singapore, pledge ourselves as one united people regardless of race, language or religion, to build a democratic society based on justice and equality so as to achieve happiness, prosperity and progress for our nation.”

Pledge yang setiap pagi wajib dibaca semua murid di sekolah ini benar-benar menunjukkan, betapa semua warganya harus hidup rukun dan saling menghargai. Jika ingin ketenangan dan kenyamanan hidup betul-betul tercapai.

Meski hanya sebuah titik kecil di peta dunia, Singapura memang luar biasa. Hingga tenang rasanya hati menjadikannya rumah kedua.

Selamat 55 tahun Singapura! Semoga makin luar biasa dan menjadi satu titik kecil yang terus bersinar terang di peta dunia.

Love, Rere

Singapore National Day 9 August 1965 – 9 August 2020

FOKUS


FOKUS

Pagi tadi Rayyan memberikan hasil ujian pelajaran Bahasa Melayunya pada saya dengan sedikit ragu. Saya tahu, pasti ada sesuatu.

Minggu lalu memang anak-anak Sekolah Dasar di Singapura baru melaksanakan ujian tengah semester. Rayyan dengan percaya dirinya selalu bilang, “so easy. I can do it, Bunda,” setiap kali saya bertanya bagaimana ujiannya, sepulangnya dari sekolah.

Benar saja. Nilai ujian Bahasa Melayunya rendah sekali bahkan berbuah catatan dari sang guru yang menegurnya agar lebih fokus mengerjakan soal. Saya pun mengajaknya bicara pagi tadi.

“Do you understand this note from your teacher?’
“No I don’t,
Bunda.”
Lah? Read please.”
“But …”
“Just read. We will discuss about it.”

Dengan terbata-bata Rayyan membaca tulisan bertinta merah yang tertera di kertas ujiannya itu.

“What’s menggencewakhan, Bunda?”
“Mengecewakan. Meaning your cikgu is dissapointed at you because you took this exam lightly and didn’t focus on your paper.”
“But I didn’t take this lightly. I just don’t understand,
Bunda. I’m sorry.”
“I understand that you struggle hard for this subject. It’s part of my mistakes too. But when you don’t understand something, you must work harder to understand more and we will work this thing out together, okay? But I want you to try harder too.”
“Okay,
Bunda. I’m sorry. But some of my friends got low marks too.”
Rayyan, please focus on yourself for now and don’t think about others. Understand?”
“Sorry,
Bunda.”

Saya dapat melihat penyesalan di wajahnya karena saya tahu ia memang bekerja keras untuk menyelesaikan semua ujiannya minggu lalu. Nilai matematikanya bahkan naik dan menjadi 3 besar peraih nilai tertinggi di kelasnya. Saya merasa ikut bersalah karena tidak membiasakannya lebih sering berbicara dalam bahasa Melayu di rumah.

Lha saya sendiri bahkan sang ayah yang asli Melayu juga bingung, kok.

Saya menekankan padanya untuk fokus memperbaiki diri sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain. Anggap saja catatan dari sang guru adalah teguran pada kami berdua untuk lebih giat dan tekun belajar sesuatu yang tidak kami kuasai dengan baik.

Setelah berdiskusi dengan mata berkaca-kaca ia memeluk saya lalu meminta maaf karena merasa mengecewakan saya dan gurunya di sekolah. Saya memeluknya sekaligus mengatakan betapa bangga melihatnya banyak berubah. Ia sekarang lebih rajin, lebih teratur hingga isi tasnya pun tersusun rapi tidak lagi amburadul seperti sebelumnya. Saya juga senang ia bahagia pergi ke sekolah bahkan menganggap pelajaran matematika sebagai sesuatu yang menyenangkan. Yayy!

Ingat ya, Nak. Fokus saja sama dirimu sendiri dulu, tak perlu sibuk dengan apa adanya orang lain. Habiskan saja waktu untuk selalu memperbaiki diri sendiri. Ini saja seharusnya sudah cukup menyita waktu kita hingga akhir masa nanti.

Diskusi pagi kami pun ditutup dengan pelukan hangat dan kata cinta seperti biasa. Saya tahu ia sangat menyesal. Saya memintanya menemui sang guru untuk mengatakan penyesalannya sekaligus berjanji untuk memperbaiki diri dan lebih berkonsentrasi di kelas.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Rayyan.”

Love, Rere

A Wish


A Wish

“Dasar anak set …”

BRAK!

Suara bantingan pintu itu begitu keras, hingga ruangan di rumah megah milik Tatiana Wijaya, sang sosialita ternama ibukota, bergetar siang itu.

Pertengkaran yang kerap terjadi antara dirinya dan sang putra tunggal, yang selalu berakhir dengan sumpah serapah keluar dari bibir merahnya.

Anak durhaka, anak tidak tahu diri, bocah kurang ajar, anak setan, dasar bodoh, dan segala makian yang tertuju pada Adrian. Remaja berusia 17, dengan sekujur tubuh penuh tato, telinga berhias sebuah anting, dan kerap ditemui sang ibu dalam kondisi mabuk berat.

Hari itu, sebelum Tatiana meneruskan makiannya, Adrian bergegas keluar dari rumah dengan menenteng sebuah tas lusuh berwarna hitam. Ia berjalan keluar sambil membanting pintu dan tidak pernah lagi menengok ke belakang.

Itu lah hari terakhir Tatiana bertemu dengan putra semata wayangnya. Tak sempat dilihatnya bulir bening yang jatuh dari sudut mata Adrian. Remaja yang nampak begitu garang, namun sebenarnya sangat rapuh dan butuh pertolongan.

Tatiana jatuh terduduk dan menangis tersedu. Ia seperti sedang mengulang sebuah skenario yang terjadi 18 tahun yang lalu. Ketika untuk pertama kalinya ia merasakan panasnya pipi yang tertampar.

“Dasar anak kurang ajar! Kau torehkan kotoran di wajah ayah dan ibumu! Sadarkah kau Tatiana? Pergi kau dari sini! Aku tak sanggup melihatmu dan anak haram itu di rumah ini. Pergi kau anak durhaka! Kau bukan anakku lagi! Bawa pergi anak setanmu itu!l

Anak setan yang kau doakan dulu, betul-betul menjelma menjadi setan, Yah. Anak yang dengan susah payah kubesarkan sendiri. Kulimpahi dengan cinta kasih dan pendidikan yang cukup, berharap ia tumbuh menjadi seorang lelaki yang baik. Ia kini tumbuh besar seperti harapanmu, Yah. Seperti doamu dulu.

Tatiana memang membesarkan Adrian seorang diri. Sang kekasih yang seharusnya bertanggung jawab atas semua yang terjadi, seperti hilang ditelan bumi. Sejauh apapun ia mencari, lelaki itu tak mampu ditemuinya lagi. Tatiana harus rela menjadi perempuan simpanan seorang pejabat negeri demi menghidupi sang putra terkasih. Putra satu-satunya yang kini juga telah meninggalkannya pergi.

Adrian berjalan dengan gontai. Tujuannya hanya satu, mencari ketenangan bersama teman-teman dan Boss Bhanu. Lelaki paruh baya yang pertama kali mengenalkannya pada kenikmatan dunia.

Bhanu, mantan penghuni hotel prodeo yang bolak balik berada di balik terali besi dengan sederet tindak kriminal yang seperti tidak mengenal jera. Lelaki dengan pekerjaan tidak jelas, bandar obat-obatan terlarang dengan jaringan internasional. Ia selalu bisa lolos dan berhasil keluar dari penjara dengan dukungan seseorang. Entah siapa.

Begitulah hukum mampu dibelinya.

Hingga pada suatu hari, rumah yang dijadikan tempat transaksi haram bahkan praktek perdagangan manusia illegal, digrebek polisi. Dengan sederet bukti, kali ini Bhanu tak mampu berkutik.

Adrian meraung, menangis bak bocah kecil melihat Bhanu dengan tangan terkunci borgol. Polisi juga membawanya beserta beberapa remaja lelaki dan perempuan yang akan dijualnya pada lelaki hidung belang.

Tatiana yang menerima telepon dari kantor polisi, bergegas mendatangi sang putra yang masih sangat dikasihinya. Ia berharap kali ini Adrian jera. Ia pun telah berjanji untuk memperbaiki diri dan hubungan mereka, karena merasa apa yang terjadi pada Adrian adalah juga kesalahannya.

Perih hati Tatiana menatap kondisi Adrian yang kurus, lusuh, setelah berbulan-bulan meninggalkan rumah. Adrian menangis tergugu melihat sang ibu kemudian memeluknya dengan erat. Hati Tatiana semakin hancur mengetahui Adrian juga menjadi korban pelecehan seksual sang induk semang.

“Maafkan aku, Ma. Rasanya aku lebih baik mati saja.”
“Kita mulai lagi semua dari awal ya, Nak. Mama berjanji akan lebih memperhatikan dirimu. Tidak ada kata terlambat, Adrian.”
“Aku anak durhaka, Ma. Anak setan.”
“Sshhh. Kamu anakku. Anak yang kusayangi hingga akhir nafasku, bagaimana pun keadaanmu.”

Mereka pun saling berpelukan dengan penuh kerinduan.

Sejurus kemudian Tatiana berteriak histeris hingga mengagetkan semua orang.

“Bhanu! Kau kah itu? Bhanu! Lelaki keparat! Kemana saja kau selama ini? Lihat anakmu di sini! Ingatkah kau padaku Bhanu? Perempuan yang kau tinggal pergi dalam keadaan mengandung dulu?”
“Ma … dia … dia ayahku?”
“Maafkan Mama, Nak. Ya. Dia ayahmu, yang meninggalkan Mama ketika mengandung dulu.”

Terhuyung-huyung Adrian merasakan tubuhnya ringan dengan perut mual. Tangannya serta merta meraih sebuah pistol yang ada di pinggang seorang petugas. Dengan cepat ia segera menarik pelatuknya ke arah Bhanu yang sedang melintas menuju sebuah ruangan dengan kawalan beberapa orang petugas.

Bhanu pun jatuh terkapar, dan sebelum Tatiana mampu berbuat banyak, Adrian pun jatuh bersimbah darah setelah menembak dirinya sendiri.

“Ma … af … kan aku, Ma. Lelaki itu yang … menghancurkan hidupku.”

Be Careful With What You Wish For (ReRe)

(Tamat)

Bila Tak Ada Lagi Esok (Untukmu, Anakku)


Bila Tak Ada Lagi Esok
(Untukmu, Anakku)

Hidup
Sesungguhnya sebuah misteri
Serba rahasia dan sangat tertutup
Tak ada seorang pun tahu ujung cerita ini

Hidup
Akan seperti apa kita semua akhiri?
Serba samar dan sayup
Entah bagaimana akhir masing-masing kisah ini

Hidup
Sesungguhnya mengerikan untukku
Penuh dengan aroma semu
Dalam langkah yang serba ujian melulu

Hidup
Tiba-tiba bisa direnggut oleh-Nya, Sang Empunya
Kita ini lalu bisa apa?
Hanya mampu pasrah tertelungkup kelu

Hidup
Mengajarkanku banyak hal baru
Tentang arti bergaul juga berseteru
Kuncinya ada pada dirimu
Mau ikut atau segera berlalu

Hidup
Yang terlewati dengan banyak ujian dan pelajaran
Memberiku banyak peringatan
Tentang segala yang tersurat, tersirat, juga tersiar
Penuh godaan yang erat mencengkeram

Hidup
Bagaimana kelak akan kita akhiri?
Penuh doa pada semua atau semata caci maki?
Yang hingga akhir tercurah dari lisan hingga jari
Ngeri

Nak, hidup ini bukan kekal
Serba singkat bahkan hanya sekedip mata saja
Jika IA berkehendak, kita bisa apa?
Tiba-tiba segala kenikmatan musnah di hadapan
Tanpa bisa protes maupun banyak tuntutan

Nak, di tanganmu pena dan penghapus itu tergenggam
Bagaimana caramu mengisi putihnya setiap lembaran
Mungkin sesekali butuh menghapus lisan dan tulisan
Karena dosa dan kesalahan sejatinya berjalan beriringan
Hanya butuh luasnya hati untuk menyadari kesalahan

Nak, kejahatan tak perlu berbalas yang sama
Singkatnya hidup, jalani saja dengan kedamaian
Sebelum terlambat sadar dan semua terenggut tanpa peringatan
Doakan saja mereka yang memancing amarah dan kesedihan
Mungkin suatu saat dari mereka kau dapat pertolongan
Jika bukan perlakuan, mungkin doa yang menyelamatkan

Nak, ketika esok tak ada lagi di hadapan
Berharap lah matamu terpejam dalam kenyamanan
Karena tak ada hati yang tersakiti atau jiwa yang merintih perih
Memintamu untuk menjahit setiap sisi yang tanpa sadar kau iris

Nak, mulailah memahat setiap sisi kehidupan dengan ukiran indah
Menulis setiap laku dan lakon dengan sebaik-baiknya
Karena hidup tak selalu berujung megah

Bila tak ada lagi esok untukmu melangkah

Love, Rere

TTM Yang Manis


TTM Yang Manis

Sudah ada yang nonton “Teman Tapi Menikah” 1 dan 2?

Film yang diangkat dari buku milik Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion ini buat saya lumayan menghibur. Bagian 1 menceritakan bagaimana mereka bertemu di bangku SMA dan bertahun-tahun berada di friendzone hingga menyadari ternyata ada cinta di sana. Hmm … berapa banyak sih dari kita yang berawal dari teman sekolah lalu berakhir menjadi pasangan hidup karena menikah?

Well, walau harus saya akui cerita film ini sebenarnya biasa saja. Namun tanpa diduga, sequelnya ternyata lumayan menyentuh, hingga saya sempat meneteskan airmata. Ya, di bagian ke-2 film ini, Ayu dan Ditto akhirnya menikah. Namun tak seindah ketika bersahabat, konflik di antara mereka justru muncul ketika Ayu mulai berbadan dua.

Bagian ini saya tonton bersama suami, lalu kami sedikit flashback mengenang masa-masa ketika saya hamil pertama kali dulu. Tiga kehamilan yang masing-masing membawa cerita berbeda. Beruntung saya tidak mengalami perubahan yang terlalu parah seperti Ayu yang menjadi sangat emosional, hingga sempat membuat Ditto kelabakan.

Perubahan emosi Ayu semakin menjadi setiap kali ia bertemu dengan para sahabat yang masih lajang. Tubuh langsing, dandanan cantik, sepatu berhak tinggi yang tidak lagi dimiliki Ayu, membuatnya kehilangan kepercayaan diri di hadapan mereka.

“Nikmati masa-masa single lo karena itu enggak bakal balik lagi. Maksimalin. Main, kerja, jalan-jalan, jatuh cinta, karena kalau badan lo udah kayak gue nih, gerak aja usaha. Kalian bisa lihat kaki gue kan? Gue udah berbulan-bulan enggak bisa lihat,” ucapnya dengan sedih di hadapan para sahabatnya yang masih lajang.

Ayu … memang masih muda ketika menyadari telah berbadan dua pasca menikah. Padahal ia bermimpi ingin keliling dunia berdua Ditto dan sempat merasa kehamilannya menjadi penghalang.

Hehe. Yu, saya dulu juga begitu. Bulan madu berdua saja bahkan tak sempat kami lakukan. Keburu hamil, lalu hamil lagi, lalu hamil lagi. Tubuh yang sebelumnya cantik dan langsing jadi membengkak, lalu susut, lalu bengkak lagi, susut lagi, bengkak lagi, susut dikit … dikiiit sekali hingga hari ini, dan tak bisa kembali langsing seperti ketika masa muda.

Saya juga sempat merasa tidak percaya diri bertemu teman-teman kerja dulu. Melihat betapa chic dan cantiknya mereka, sementara saya kesana-kemari membawa gembolan dengan baju longgar dan muka pucat tanpa polesan make up. Kalau tidak sedang hamil, gembolan saya berubah menjadi botol susu, popok, dan segala printilan bayi.

Ah, sungguh masa-masa peralihan yang tidak mudah. Berubah dari lajang menjadi calon ibu, mengganti semua hal tentang aku menjadi tentangmu, kamu, dan kamu.

Namun sembilan bulan kesakitan itu nyatanya berbuah cinta hingga seumur hidup. Dengan tambahan gurat pelangi di setiap sudut. Dunia juga jadi lebih berwarna tak lagi pucat, indah tak lagi gundah, seru tak lagi beku.

Terima kasih untuk-Mu yang sudah menyempurnakan hidup ini dengan lika-liku, meski tak mudah tapi tetap indah. Seindah kisah Ayu dan Ditto yang menutup cerita dengan manis. Semanis senyum sang bayi, Dia Sekala Bumi.

Love, Rere